Malam Minggu Pertama
Malam Minggu Pertama
Cerita ini bermula lima tahun yang lalu, saat aku masih semester dua dan berpacaran dengan seorang gadis bernama Nanda. Baru dua minggu sebelumnya aku menyatakan cinta padanya, di kantin kampus, saat kami sedang asyik mengobrol. Pada satu momen yang kurasa tepat, aku berkata, "Nda, aku sayang sama kamu. Aku mau kamu jadi pacarku mulai sekarang." Dengan tertunduk malu dan semburat merah di kedua pipinya, dia tersenyum manis lalu berkata, "Aku juga sayang sama kamu, tapi aku nggak mau kecewa." Sore hari di kantin kampus itu terasa begitu indah hingga aku malu sendiri di hadapannya karena kegiranganku.
Nanda adalah gadis yang periang, dengan postur tubuh yang sangat ideal. Tingginya sekitar 165 cm, rambutnya hitam berkilau sepundak, kulitnya putih bersih tanpa cela. Ukuran branya 36B โ aku tahu itu saat aku tanyakan padanya di malam minggu pertama ketika aku datang bertamu ke rumahnya. Tubuhnya yang tegak saat berjalan, dengan dagu sedikit terangkat, menambah keanggunannya. Wajahnya elok, bibirnya selalu tersenyum, dan matanya yang indah selalu mencerminkan semua emosi yang dirasakannya. Sungguh, ia adalah gadis terindah yang pernah aku miliki.
Malam minggu pertama itu, aku datang dan kami mengobrol di teras samping rumahnya. Dia begitu cantik dengan mengenakan rok terusan bermotif bunga dengan seutas tali mengait di pundaknya, memperlihatkan keelokan bahu dan kulit tangannya. "Papa sama Mama baru aja pergi, katanya mau kondangan," jawabnya saat aku menanyakan kedua orang tuanya. "Wah, kita bisa bebas dong, Sayang?" godaku, yang disambut dengan rebahan tubuhnya di pangkuanku.
Setelah obrolan kecil diselingi canda ringan, aku memberanikan diri mencium bibirnya yang merah menggoda. Kami pun berciuman โ begitu lembut bibirnya, sedikit basah. Setelah sekitar lima belas menit, aku beranikan tanganku untuk meraba dadanya. Sempat beberapa kali dia menepis tanganku, tapi aku terus mencoba, dan akhirnya dia membiarkan tanganku menyentuh pangkal payudaranya. Ternyata aku terhalang branya. Tanpa menyerah, aku terus mencari letak putingnya hingga kutemukan dan kuraba-raba dengan jari-jariku. Napas kami mulai memburu.
Lalu dia melepas ciuman panjang kami dan menatap tanganku yang masih sibuk. "Susah ya? Aku ke dalam dulu, mau buka bra biar kamu nggak susah," bisiknya sambil menatapku sayu dan tersenyum. Aku mengangguk. Saat dia berlalu, aku yang kegirangan segera meluruskan posisi penisku yang terangsang hebat.
Tak lama kemudian dia datang dan langsung duduk di pangkuanku, saling berhadapan, tangannya melingkar di leherku. Tatapannya tajam ke arahku, lalu dia berbisik, "Tangan kamu nakal, Sayang." Aku balas tersenyum. "Kamu suka?" Dia tersenyum malu sambil menunduk, lalu kembali menciumku. Kami berpagutan lagi, dan tanganku langsung menuju sasaran: kedua payudaranya. Darahku terasa semakin berpacu karena betapa halus dan kencangnya kulit payudaranya. Saat kusentuh putingnya, ada napas tertahan dari Nanda di tengah keasyikannya melumat bibir dan lidahku. Napasnya semakin terengah-engah, lalu kurasakan dia menggodaku dengan menggoyang-goyangkan pantatnya di atas pangkuanku.
Dia melepas ciumannya dan menatapku dengan senyum nakal, pinggulnya masih bergoyang pelan. "Aduh, Sayang, kamu nakal amat sih," kataku. "Abis kamu duluan," jawabnya. "Punya kamu keras amat, Sayang. Kasihan aku sama kamu. Mau aku keluarin?" tanyanya. Aku mengangguk.
Dia pun beranjak dari pangkuanku dan berlutut di hadapanku. Dengan sabar dia menurunkan resleting jeansku, melepas ikat pinggangku, dan menurunkan celana dalamku. Sejenak dia tersenyum menatapku, lalu menatap penisku. "Punya kamu gede banget sih, Sayang." Sebenarnya aku masih merasa malu karena baru tiga hari kami jadian, tapi penisku sudah berhadapan dengan wajah cantiknya itu.
Perlahan dia menunduk, menyentuh ujung penisku dengan hati-hati, lalu mengecupnya beberapa kali. Oh, sungguh pemandangan yang luar biasa indah.
"Sayang, aku keluarin ya โ tapi nanti kalau udah mau keluar, bilangin aku. Kamu juga liat-liatin ke dalam ya, aku takut Bi Inah, pembantuku, nanti keluar, bisa diaduin aku sama Mama Papa," bisiknya. "Iya," jawabku.
Dia mengulum lembut kepala penisku sambil memainkan lidahnya di dalam kulumannya. Aku menikmati setiap sentuhan bibir dan lidahnya di permukaan penisku. "Oh, Sayang..." Saat dia melepas kulumannya, dia menatapku dengan tatapan manja dan senyum yang menggoda, lalu kembali mengulum penisku sambil tangannya mengocok perlahan.
Tak beberapa lama aku merasakan dorongan yang begitu kuat di kedua pelirku. Rasa itu semakin kuat. "Sayang, aku mau keluar...!" bisikku tertahan.
Dia melepaskan kulumannya dan mengocok semakin cepat di batang penisku, tatapannya tak lepas dari raut mukaku seakan menikmati setiap hentakan tangannya, sesekali lidahnya menjilat-jilat ujung penisku. Dan akhirnya, "Aaachh, Sayang!" โ aku keluar, menyemburkan cairan putih kentalku berkali-kali. Kulihat dia tak beranjak dari posisinya; bahkan dia membuka mulutnya seakan menampung setiap semprotan spermaku. Oh, sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan. "Oh, Sayang, enak banget!"