18px

Malam Panas di Rental VCD

Malam Panas di Rental VCD

Cerita ini diawali pada saat saya sedang menjaga rental VCD punya teman. Saat itu saya bertiga—saya dan dua orang teman cewek. Jam menunjukkan pukul 23.50 WIB. Karena setengah jam lagi akan tutup, kedua teman saya pamit pulang. Saya tidak ikut karena tempat itu sekaligus juga rumah saya.

Beberapa menit setelah teman saya pulang, ada mobil berhenti di depan rental. Samar-samar saya melihat di dalam mobil ada dua orang cewek.

"Mungkin dia mau pinjam, kali," pikir saya saat itu.

Setelah itu pintu mobil terbuka, dan terlihatlah kaki putih mulus nan indah. Ketika kaki itu mendarat di tanah, cewek itu menurunkan roknya yang panjang—lho, kok bisa sih? Ternyata tadi ketika dia mau turun dari mobil, kakinya yang putih itu kelihatan. Saya curiga, pasti ada yang tidak beres. Tapi masa bodoh, deh.

Pintu yang satunya terbuka, dan munculah cewek satu lagi. Dia menggunakan celana dan kaos ketat, sehingga payudaranya yang lumayan besar—termasuk putingnya yang panjang—kelihatan. Dua cewek yang kira-kira sudah berstatus ibu-ibu ini mulai memasuki rental. Mereka lihat sana, lihat sini; kelihatannya bingung memilih.

Ketika sedang memilih itulah awal dari kisah seru ini. Tante yang pakai celana ketat itu sedang melihat CD yang letaknya agak ke tengah, jadi dia harus menungging kalau mau melihatnya. Ketika dia menungging, oh—begitu indah lekuk tubuhnya, dan itu... oh... belahan kemaluannya tergambar jelas di celana ketatnya. Batang kejantananku langsung saja tegang... tegang... dan tegang.

Karena saya sedang asyik memperhatikan tante yang bercelana ketat, saya tidak tahu kalau tante yang satunya mengawasi saya. Tiba-tiba saya terkejut karena ada suara CD jatuh di sebelah kanan. Langsung saja saya menoleh—dan... mimpi kali ya? Saya seperti tidak berada dalam alam sadar. Tante yang memakai rok tadi, ketika mengambil CD yang jatuh itu, roknya tersingkap ke atas, dan... belahan pantatnya yang putih mulus—dan tentu saja kemaluannya yang gemuk—kelihatan jelas. Vagina itu tampak nyata karena bulu kemaluannya sepertinya sudah dicukur habis. Benar-benar malam yang berkesan bagiku.

"Mas, lagi lihat apa sih? Kok matanya sampai melotot gitu?"

Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan. Ternyata tante yang bercelana ketat itu sudah berada di depan saya. Oh, begitu cantik dan harum sekali; body-nya yang memukau membuat saya termenung lagi.

"Ihh, Mas ini nakal deh. Ditanya kok malah melototin saya. Naksir ya?" katanya.

Saya tersadar dan seakan tidak percaya dia berkata seperti itu.

"Saya harus memanggil apa nih—Ibu, Tante, Mbak, atau Nona-Nona?" kataku.

"Ehh, darimana Mas tahu kalau saya sudah menikah?" katanya.

Sebelum menjawab, saya penasaran ingin melihat ke tante yang tadi. Saya melirik sedikit ke kanan—eh, dia sudah tidak ada. Gila, cepat benar cewek itu menghilangnya.

"Begini, saya tahu karena di jari manis Ibu... ee... Tante... ee... Mbak... ada cincinnya," kataku.

"Mas pintar juga ya. Boleh panggil Tante atau Mbak," katanya sambil tersenyum. Tambah cantik saja nih tante genit.

"Tante mau pinjam film apa? Kok kelihatannya dari tadi bingung milihnya—biar nanti saya yang nyariin, mungkin ketemu," kataku berlagak sok pahlawan.

"Mas namanya siapa, kalau boleh Tante tahu?" katanya.

"Sony, Tante," kata saya.

"Aduh, kalau begitu Mas sudah lama kenal dengan Tante," katanya.

"Masak sih, Tante? Rasanya kita baru saja ketemu deh," kataku penasaran.

"Sony sudah lama kenal dengan Tante. Tiap pagi kalau pas Tante lagi mandi, Sony selalu ngintip Tante dari dalam bak cucian. Pas Tante lagi buang air, Tante jadi malu—terpaksa Tante tutup anu Tante pakai tangan biar nggak dilihat Sony. Terus pas Tante lagi bersihin anu Tante... ya khan? Sony ngaku aja deh!" katanya manja.

"Sony ngintip Tante mandi dari bak cucian? Mana cukup badan Sony yang besar begini ngumpet di bak cucian? Ahh, Tante bercanda ya?" kata saya bingung.

"Nggak kok, Son. Tante memang bercanda. Yang Tante maksud itu sebetulnya celana dalam suami Tante yang merknya Sony—sorry ya," katanya.

"Nggak apa-apa. Tapi boleh nggak Sony ngintip Tante mandi beneran?" kata saya menggoda.

"Ahh, Sony! Kamu nakal ya! Emangnya kamu nggak pernah ngintip cewek kamu pas mandi?" katanya.

"Sony belum punya pacar, Tante. Masih single, gitu," kata saya.

"Jadi kamu bebas dong kencan dengan siapa aja," katanya.

"Ya... ya... ya..." kata saya girang.

"Oh ya, Tante—nama Tante siapa? Dan teman Tante yang satu lagi tadi?" kata saya.

"Juliet. Dan teman Tante tadi... mana dia ya? Min! Min! Kesini deh!" teriaknya.

Lalu tante yang tadi membuat saya kelabakan mendatangi kami. Dan, uhui—dia juga cantik. Wajahnya sungguh manis, mirip boneka, padahal dia sudah menikah.

"Min, kenalin—ini Sony. Son, ini Mini, teman Tante. Cantik ya?" katanya.

"Sony," kata saya sambil melihat wajahnya yang manis.

"Mini. Son, kamu ganteng juga ya. Ya nggak, Yul?" katanya sambil menyubit tangan Tante Juliet.

"Ya, lho, Son. Kamu ganteng sekali!" katanya.

"Akh, Tante ini ada-ada saja. Oh ya, Tante jadi nggak pinjam CD-nya?" kataku.

"Ha? Pinjam CD? Akhh, kamu nakal deh! Tante kan udah pakai CD sendiri," kata Tante Mini.

"Akhh, Tante bercanda lagi. Tapi tadi Sony lihat Tante Mini tidak pakai CD," kata saya.

"Eee, kamu nakal ya! Kamu ngintip ya? Kamu jahat deh!" katanya.

"Sorry deh, Tante. Sony nggak sengaja tadi," kata saya meminta maaf.

"Udah ah, kalian berdua bercanda aja. Son, Tante mau pinjam film esek-esek—ada nggak?" katanya.

"Eee, tapi kuncinya dibawa teman saya, Tante. Jadi nggak bisa masuk ke kamar XX," kata saya mencoba menjelaskan.

"Apa sih kamar XX itu, Son?" tanya Tante Mini.

"Kamar penyimpanan VCD bokep, Tante. Takut kalau ada penggeledahan," kata saya.

"Emangnya kamu nggak bawa kunci serepnya, Son?" tanya Tante Juliet.

"Itu bukan sembarang kunci, Tante. Begini—Sony akan jelaskan. Pintu kamar itu terbuat dari baja buatan Amerika, Tante. Jadi meskipun dirudal pakai bom apapun, pintu itu tidak akan bisa jebol. Terus di depan pintu itu ada... aduh, nggak enak nih," kata saya agak ragu.

"Kamu nggak usah ragu-ragu deh!" kata Tante Juliet.

"Di depan pintu itu bukan lubang kunci, tapi ada benda berbentuk anu cowok, terbuat dari bahan yang elastis. Kalau kita mau masuk, teman cewek Sony harus 'main' dulu sama mainan itu. Pas teman Sony sudah klimaks, cairannya nyemprot ke dalam alat itu—lalu cairan itu diperiksa, bila cocok dengan sampel di dalam, pintu itu akan terbuka. Jadi bukan sembarang orang bisa masuk ke kamar itu, meskipun cewek cantik seperti Tante berdua," kata saya.

"Wow, canggih juga! Terus gimana dong? Tante udah nggak tahan nih!" kata Tante Mini sambil menggaruk daerah bawahnya.

Aduh, gila benar nih cewek. Saya ingin menguji Tante Mini—apakah dia seliar tingkah lakunya. Tapi... mimpi kali ya?

"Son, bisa nggak Tante berdua minta tolong? Kamu bisa khan muasin nafsu Tante yang sedang kesepian ini, ya sayang?" kata Tante Mini manja.

"Aduh, gimana ya Tante? Nanti kalau pacar dan keluarga Sony tahu, gimana dong jadinya?" kata saya ragu sekaligus girang.

"Sony sayang, semalam aja kok. Mau ya? Masak sih kamu nolak tubuh sesintal ini?" kata Tante Juliet sambil berbalik, lalu menungging dan menggoyang pantatnya naik-turun.

Melihat pemandangan indah itu, batang kejantanan saya naik 100%.

"Iya lho, Son. Masa sih kamu nolak kami? Dan kamu nggak usah khawatir soal uang—kami akan ngasih berapapun yang kamu mau. Ya sayang? Puasin Tante ya?" kata Tante Mini sambil mendekat ke arah saya.

Lalu dia berbalik arah juga, mengangkat roknya ke atas, dan—mana tahan—vaginanya yang merah delima itu kelihatannya sudah setengah basah dan merekah.

"Iya deh, Tante. Tapi Sony tutup rental dulu ya?" kata saya sambil berdiri dari kursi.

Alangkah terkejutnya saya—batang kejantanan saya telah merobek resleting celana. Saya ingat tadi tidak memakai celana dalam, jadi sekarang batang kemaluan saya menyumbul keluar.

"Aduh, Sony sayang, batangmu besar lho! Aduh, Tante nggak bisa membayangkan gimana rasanya nanti kalau itu masuk ke memek Tante yang masih sempit ini. Pasti nikmat sekali ya?" kata Tante Mini sambil memegang dan mengelus batang kejantanan saya.

"Wow, Son. Punya kamu besar ya! Tante kayaknya udah nggak tahan pingin ngerasain. Hii, lucu ya kepalanya mirip helm NAZI. Memek Tante bisa robek nih!" kata Tante Juliet sambil ikut mengelus batang kemaluan saya.

"Sabar dong, Tante. Sony mau nutup rental dulu. Tante masuk ke ruangan sebelah dulu ya! Nanti Sony nyusul," kata saya.

"Jangan lama-lama ya, sayang. Tante udah nggak tahan nih!" kata Tante Mini.

Lalu saya bergegas menutup rental, setelah itu masuk ke ruangan di mana kedua tante itu berada.

"Oh ya, Tante-Tante mau minum apa?"

"Softdrink yang dingin ya, Son," kata Tante Juliet.

Sementara itu, Tante Mini sepertinya agak kurang sabar—dia terus mengobok-obok vaginanya. Saya mengambilkan tiga coke dari dalam kulkas dan kusodorkan pada kedua tante itu. Setelah mereguk coke sekaleng, Tante Mini yang dari tadi tidak sabar langsung saja pindah ke pangkuan saya dan mulai menciumi bibir saya tanpa basa-basi. Kubalas ciuman Tante Mini sementara tangan saya mengelus punggungnya, terus menuju pinggulnya. Sementara itu Tante Juliet hanya menonton adegan kami berdua. Tangan Tante Mini tidak kalah gesitnya—mulai membuka pakaianku dan meraba-raba dada serta puting saya sambil bibirnya yang sensual terus melumat bibir saya.

Saya pun segera membuka baju Tante Mini dan BH-nya; terlihatlah dua buah gunung Himalaya dengan putingnya yang mancung. Mula-mula kuciumi dan kulumat serta kumainkan putingnya yang sudah super menegang itu.

"Akhh... sshh... Sony sayang, kamu pintar sekali. Ohh... yes... terus, Son... ohh..." katanya sambil tangannya meremas rambut saya.

Setelah itu saya mulai merayap ke selangkangannya. Kugosok-gosok klitorisnya dengan tangan kiri saya dan saya masukkan dua jari tangan kanan saya ke vaginanya. Uhh, benar-benar sempit.

"Ohh... yes, Son... terus... sshh... yes... fuck me with your hands... ohh..." desah Tante Mini.

Sementara itu, Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu per satu. Saya memperhatikannya meski sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya. Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini—kugesek-gesek dengan perlahan dan kupuntir ke kiri dan ke kanan.

"Ohh... terus, Son... ohh, yes!" kata Tante Juliet.

Tante Juliet terus memainkan batang kejantanan saya dengan memijat-mijat; lalu kepalanya mulai didekatkan ke sana dan—srup!—masuklah batang kejantanan saya ke mulut yang sensual itu. Dihisap, dikocok, dihisap, dikocok, dihisap. Wuihh, sedap.

Sementara itu Tante Mini yang sudah tidak tahan langsung mendesah, "Sshh... aahh... Son... ohh, yes!" sambil tangannya meremas rambut saya dengan kerasnya.

Sepertinya dia akan keluar—otot dindingnya mengencang, dan "Ahh, yes... aahh!" desahnya. Tangannya mendorong dan menarik kepala Tante Juliet agar batang kejantanan saya dapat lebih masuk ke mulutnya. Rupanya Tante Mini telah klimaks. Kemudian jari kiri saya terus kukocok-kocok dalam vaginanya secara cepat.

"Ahh... hmm... sshh... yes!" Dia menegang dan mulai menghentikan gerakannya secara perlahan.

"Ohh, yes. Sony sayang, kamu pintar sekali! Ohh, yes!" katanya sambil mengelus kepala saya.

Lalu saya mengubah posisi. Saya berbaring di bawah dengan tubuh yang mulai penuh keringat.

Lalu Tante Mini mulai menaiki tubuh saya, tangannya meraih batang kejantanan saya untuk diarahkan ke vaginanya yang sudah mulai agak kering. Digosok-gosok sebentar batang kejantanan saya ke vaginanya yang sudah merekah itu. Lalu dengan perlahan dia menurunkan pantatnya.

"Ohh, Son... nikmat sekali... ohh!" desahnya sambil terus menaik-turunkan pantatnya yang bulat itu, melahap batang saya dalam vaginanya.

"Ohh, yes... terus, Tante!" Saya mulai terangsang karena jepitan vaginanya.

Sementara itu, Tante Juliet mulai mendekati saya dan mengangkang tepat di atas wajah saya, lalu mulai menurunkan pantatnya.

"Ayo, Son. Jilatin punya Tante!" katanya sambil terus menurunkan dan menggoyangkan liang senggamanya ke arah wajah saya.

Karena lebatnya bulu kemaluannya, saya hampir bersin dibuatnya. Lalu saya jilati dengan perlahan klitorisnya hingga dinding lubang vaginanya mulai meneteskan cairan.

"Sss... hmm... aakkhh... yes... terus, Son!" desahnya.

Sementara itu Tante Mini terus naik-turun hingga terdengar decak antara saya dan dia.

Beberapa saat kemudian, "Ohh, Son, Tante mau keluar... ohh, yes!" desahnya. Karena saya sedang sibuk, saya tidak dapat bicara apa-apa.

Dan—crett, crott, critt!—muncratlah cairan Tante Mini.

"Ohh, yes! Son, kamu sungguh hebat, sayang!" katanya sambil mencabut batang kejantanan saya dari liang senggamanya, lalu menjilatinya yang masih basah itu.

Lalu saya suruh Tante Juliet untuk merebahkan badannya di bawah dan melebarkan kakinya yang putih mulus dan indah itu. Karena sekarang dia mengangkang lebih lebar, vaginanya yang merah kehitaman pun terlihat. Saya lalu mengarahkan batang kejantanan saya ke sana dan perlahan mendorongnya masuk seluruhnya.

"Akhh, yes! Fuck me, darling! Ohh!" desahnya.

Sementara Tante Mini tertidur, saya terus menggoyang tubuh saya maju-mundur. Hebatnya, Tante Juliet juga ikut menggoyang pinggulnya mengikuti irama. Batang kejantanan saya terasa dipelintir, tetapi makin asyik saja. Kutambah "gigi" hingga gerakanku menjadi lebih dahsyat. Dengan kecepatan penuh saya menggoyang terus hingga terdengar kecipak-kecipak. Karena seranganku, Tante Juliet jadi meram-melek matanya menikmati keluar-masuknya batang penis saya.

"Akhh, Son... yes!" desahnya sambil jarinya mencengkram tangan saya dan kukunya menancap ke kulit saya.

Tubuhnya mengejang sesaat lalu melemas, tapi saya masih asyik menikmati vaginanya dengan terus memasukkan penis saya ke dalamnya yang sudah banjir.

"Akhh, yes... Tante keluar, Son!" sambil menancapkan dalam-dalam vaginanya ke batang kejantanan saya.

Saya yang merasa belum keluar terus saja menggenjot gerakanku. Dan tidak lama kemudian saya akhirnya keluar juga. Saya mencabut batang kejantanan saya dari vagina Tante Juliet dan merebahkan tubuh di sampingnya. Tangan Tante Mini dan Juliet secara bergantian membelai batang kejantanan saya.

"Sony sayang, terima kasih ya. Kamu telah membuat kami melayang ke langit ketujuh," kata Tante Juliet sambil terus membelai.

Lalu kami bertiga terkulai lemas—saya di tengah, dan kedua cewek cantik itu di samping saya. Saya pun tertidur hingga pagi.

Ketika saya bangun, saya masih dalam keadaan telanjang. Tetapi anehnya, kedua tante itu sudah tidak ada. Mata saya tertuju pada setumpuk uang di samping saya—pasti dari tante-tante itu. Setelah itu, saya masukkan beberapa lembar ke kas rental dan sisanya ke kantong saya. Lalu saya mandi, membersihkan bekas-bekas tadi malam, dan kemudian membuka rental. Saya lihat di depan, koran sudah datang.

Saya ambil koran dan melihat halaman depannya.

"Copot... copot jantungku..." gumam saya dalam hati.

Serasa tidak percaya, di situ tertulis: MOBIL MENABRAK POHON ASEM, 2 CEWEK TEWAS. Dan di situ disebutkan bahwa nama kedua cewek itu adalah Juliet dan Mini.

Ya Tuhan—jadi tadi malam saya bercinta dengan hantu. Saya hampir saja muntah gara-gara berita itu. Lalu saya bergegas mengambil uang dari kedua tante itu dari kantong baju saya. Syukurlah—uangnya masih tetap ada.

Benar-benar peristiwa yang tidak masuk akal.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya