Bab 1
Malam Terakhir Bersama Yuni
Setelah aku tahu dia sudah terangsang hebat, kutindih dia dan kulumat lagi bibirnya. Kupegang kedua tangannya dan aku berusaha menusukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. Yuni meronta sambil merapatkan kedua pahanya sehingga batang kemaluanku tidak berhasil menembusnya.
"Kita main seperti dahulu saja, Mas," bisiknya.
Dengan terpaksa kulepaskan kedua tangannya dan aku mengambil gaya seperti dulu, yaitu gaya 69, kali ini dengan dia di atasku.
Saat dia berada di atasku, kulihat daerah liang kewanitaannya merekah dengan bibir berwarna merah hati dan lubang kemaluannya berwarna merah muda. Tanpa pikir panjang kusapukan lidahku ke arah klitorisnya sambil kuhisap pelan. Aku merasakan dia mulai mengulum batang kemaluanku dengan lembut — saat masuk ke dalam mulutnya, terasa sangat hangat dan nikmat. Aku terus menghisap klitorisnya, kemudian sapuan lidahku bergeser ke liang kewanitaannya. Kuhisap cairan bening yang keluar dari sana, lalu kusapukan lidahku maju-mundur dari liang senggamanya menuju ke duburnya.
Selanjutnya kumasukkan ujung lidahku pada lubang kemaluannya sambil kupermainkan. Yuni menggeliat dan menggoyangkan pinggulnya maju-mundur dengan sedikit tekanan ke bawah. Ia mempercepat kulumannya pada batang kemaluanku — sepertinya Yuni akan mencapai orgasme. Aku semakin mempercepat gerakan ujung lidahku. Beberapa saat kemudian kedua kakinya menegang dan dia menghisap batang kemaluanku dengan cukup keras, lalu aku merasakan cairan gurih menetes ke lidahku. Aku terus melanjutkan gerakan lidahku sampai kedua pahanya berhenti menegang. Yuni melepaskan hisapannya dan terkulai di paha kiriku, sementara lidahku terus menyapu bagian dalam liang kewanitaannya hingga cairan yang keluar habis.
Beberapa saat kemudian aku bangun dan duduk bersandar pada papan tempat tidur. Yuni kelelahan, tidur tengkurap, dan titik-titik air di tubuhnya kini berganti titik-titik keringat yang terlihat pada pantatnya yang putih dan kencang. Kemudian Yuni duduk di sampingku sambil tersenyum, tangan kirinya mengusap batang kemaluanku yang telah berdiri tegak. Dia mencium bibirku, lalu mencium leherku sambil tangan kirinya terus mempermainkan batang kemaluanku.
Selesai mencium leherku, mulutnya mulai mendekati batang kemaluanku. Dia memulai sapuan lidahnya pada prostatku, kemudian secara sangat perlahan naik menuju ujung batang kemaluanku — agak geli, tapi sungguh sangat nikmat. Gerakan itu dilakukannya berulang-ulang hingga sekitar lima menit.
Selanjutnya dia mulai mengulum ujung batang kemaluanku, lalu melepaskannya untuk menyapukan lidahnya di seputar kulitnya. Gerakan itu juga dilakukannya berulang-ulang. Beberapa menit kemudian kutekan kepalanya agar batang kemaluanku dapat masuk lebih dalam ke dalam mulutnya, kemudian kuangkat dan kubenamkan lagi sampai ujungnya mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Tanpa kusuruh, dia masih terus mengulum dan menggerakkan mulutnya naik-turun. Kuspermaku menetes menuju prostatku — mungkin karena gerakan itu Yuni tidak dapat menghisap spermaku. Setelah sperma yang keluar cukup banyak, dia melepaskan kulumannya dan menyapukan lidahnya membersihkan sperma yang tercecer di sekitar prostatku dan yang mengalir ke anus. Yuni terus mencari-cari cecerannya dengan lidah, lalu ditelannya.
Setelah selesai, dia melanjutkan dengan mengulum batang kemaluanku yang masih setengah tegang. Aku biarkan dia terus mengulumnya meski sudah lunglai. Kulihat kepalanya disandarkan pada perutku sementara mulutnya masih mengulum — hingga aku sadar dia telah tertidur dengan mulutnya masih di sana. Karena aku capek duduk, perlahan kulepaskan batang kemaluanku dari mulutnya. Dia menggeliat namun matanya tetap tertutup, sepertinya sangat kelelahan. Aku pindahkan posisi tidurnya ke tengah tempat tidur, dari tengkurap menjadi telentang, lalu aku pun tertidur di sisinya sambil memeluknya.
Beberapa jam kemudian aku terbangun karena kerongkongan sangat kering. Aku langsung menuju dispenser di sudut ruangan dan meminum beberapa teguk air dingin, lalu kembali ke tempat tidur.
Saat akan kembali berbaring, aku melihat tubuh Yuni yang telanjang tidur telentang. Dengan rambut sedikit acak-acakan, wajahnya yang sangat manis masih terlelap. Aku terus memandangi tubuhnya yang indah — payudaranya tidak terlalu besar tapi sangat kencang dengan puting berwarna coklat muda, perut dan pinggulnya serasi dibalut kulit putih mulus. Kaki kanannya lurus, kaki kirinya ditekuk sehingga liang kewanitaannya yang ditutupi bulu-bulu halus terlihat jelas. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Hampir lima belas menit aku terpana memandang tubuhnya hingga adik kecilku mulai bangun dan ingin dibelai.
Kudekati Yuni yang masih terlelap dan kusapukan lidahku pada bibirnya yang mungil dengan sangat perlahan. Yuni membuka matanya yang masih memerah.
"Ah, kenapa, Mas? Aku capek sekali. Besok pagi saja, Mas," kata Yuni pelan.
"Maaf, Yun, kalau aku ganggu. Kamu tidur lagi saja — aku bisa sendiri, tapi boleh kan aku sentuh kamu?" kataku.
Kulihat Yuni mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu membuka lebar kedua pahanya hingga liang kewanitaannya tampak lebih jelas. Begitu melihatnya yang merekah, aku langsung menyapukan ujung lidahku pada klitorisnya dan kulanjutkan pada liang kewanitaannya. Yuni sama sekali tidak bereaksi — tampaknya dia sangat capek hingga tertidur lagi. Aku terus mempermainkan liang kewanitaannya dengan lidahku.
Sepuluh menit kemudian aku bangun dan kucium bibirnya. Yuni menarik napas panjang. Kupegang kedua tangannya di atas kepala, lalu langsung kutindih tubuhnya. Karena kedua pahanya masih terbuka lebar, aku berhasil menyelipkan pinggulku di antaranya. Saat itu kulihat Yuni terkejut dan membuka kedua matanya.
"Mas, Mas mau apa?" katanya sedikit keras namun tertahan.
Aku tidak mempedulikannya. Berusaha mencium bibirnya, tapi dia meronta — ciumanku pun kualihkan ke lehernya yang putih. Dia semakin meronta dan tanganku semakin erat memegang kedua tangannya. Yuni terus meronta dengan menggerak-gerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, tapi percuma — aku jauh lebih kuat. Sampai akhirnya dia pasrah. Begitu gerakannya melemah, aku berusaha memasukkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya. Cukup sulit, tapi sekitar lima menit kemudian aku berhasil menemukan lubang kenikmatannya.
Kumasukkan batang kemaluanku secara perlahan. Saat memasukkannya, dia meronta lagi dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, tapi ujung batang kemaluanku telah masuk cukup dalam hingga menembus sesuatu yang sangat kecil. Aku terus memasukkannya lebih dalam sampai semua batang kemaluanku tenggelam. Saat itu Yuni memejamkan mata dan menggigit bibirnya yang bawah dengan giginya yang putih berjajar rapi. Aku terus menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur keluar-masuk liang kewanitaannya, sementara mulutku menghisap payudaranya bergantian. Aku merasakan seluruh batang kemaluanku seperti ditekan-tekan, hangat sekali.
Sekitar sepuluh menit kemudian kukeluarkan sperma yang sejak tadi kutahan. Kulihat spermaku keluar dari liang kewanitaannya bercampur bercak-bercak darah — tidak terlalu banyak, berbeda dengan Novi, pacarku, yang saat itu sangat banyak darahnya.
Setelah itu aku lunglai di atas tubuh Yuni yang telah diam tak bergerak, kepalaku berada di sisi kepalanya. Beberapa menit kemudian aku merasakan setitik air membasahi telingaku. Aku terbangun dan kulihat setitik air keluar dari sisi kedua matanya yang masih terpejam. Baru saat itu aku sadar — Yuni menangis, sambil menggigit bibirnya.
Aku langsung merangkul tubuhnya dengan erat dan berulang kali mengucapkan kata maaf.
"Kenapa... kenapa kamu melakukan ini?" Yuni berkata sambil menangis.
Aku terus merangkulnya sambil terus memohon maaf, tapi Yuni tidak mempedulikannya — dia terus menangis dan berusaha melepaskan pelukanku.
Setelah aku melepaskan pelukanku, dia langsung tidur tengkurap, dan sesekali masih kudengar isakan tangisnya. Kudekati dan kubelai rambutnya.
"Maaf, Yun. Aku lepas kontrol. Sungguh aku tidak menduga kamu begitu terpukul. Kamu boleh memaki aku, kamu boleh memukul aku, tapi tolong jangan menangis. Aku sayang kamu. Aku akan bertanggung jawab jika kamu menginginkannya — apa saja yang kamu inginkan akan aku penuhi, tapi tolong maafin aku."
Tanpa terasa air mataku juga telah mengalir saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku merasa sangat menyesal.
Beberapa saat kemudian, kepala Yuni menoleh ke arahku.
"Baik, Mas. Aku akan meminta satu permintaan, tapi tolong untuk saat ini jangan ganggu aku. Aku ingin tidur. Aku akan katakan permintaanku besok kalau kita sudah pulang," dia berkata dengan suara serak dan sedikit berat.
Aku hanya mengangguk dan tidak mendengar lagi isakan tangisnya.
Malam itu aku sama sekali tidak dapat tidur. Kupandangi tubuh Yuni yang tengkurap dan sepertinya sudah terlelap. Aku tidak berani menyentuhnya, tapi saat kuperhatikan pantatnya terlihat bercak darah bercampur spermaku. Aku beranikan diri membersihkannya dengan sapu tangan yang kubasahi air hangat dari dispenser. Dengan sangat perlahan aku membersihkan pantat dan pahanya. Kulihat Yuni masih tertidur.
Tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya dan berganti posisi menjadi telentang — untungnya masih tertidur. Aku melanjutkan membersihkan spermaku yang membasahi rambut dan liang kewanitaannya dengan sangat hati-hati, tapi tanpa kusadari Yuni telah membuka matanya dan memandangiku.
Aku langsung menghentikan tanganku.
"Kamu tidak perlu melakukan itu, Mas. Sudahlah — aku juga salah, kok. Aku maafin kamu," Yuni berkata sambil menatap wajahku yang sejak tadi menunduk.
Saat mendengar kalimat itu, rasanya semua perasaan yang kutahan sejak tadi menghilang.
"Terima kasih, Yun. Terima kasih kamu mau maafin aku," kataku terpatah-patah.
"Sudahlah, sekarang Mas tidur saja. Besok Mas harus setir mobil, dan pinggangku sakit sekali," Yuni berkata sambil menarik lenganku.
Beberapa jam kemudian aku terbangun. Kulihat Yuni masih tertidur. Dengan hati-hati aku bangkit, kukecup keningnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi kuambil pakaianku yang kulepas di sisi tempat tidur. Saat itulah kulihat Yuni terbangun dan dengan susah payah dia bangkit. Aku langsung menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Kamu mau mandi, Yun? Ayo aku antar," kataku.
"Iya, tapi aduh, pinggangku sakit sekali, Mas," katanya.
"Kalau begitu aku mandiin, ya. Aku janji tidak akan mengapa-ngapakan kamu lagi," kataku.
Dia mengangguk. Kubopong dia menuju kamar mandi dan kududukkan di atas kloset duduk, lalu kubersihkan seluruh tubuhnya. Karena saat itu aku belum berpakaian, aku pun ikut mandi lagi.
Setelah kami pulang, dalam perjalanan aku bertanya tentang permintaannya yang disebutkan tadi malam. Seperti disambar petir rasanya saat dia berkata:
"Aku punya satu permintaan yang sebenarnya untukku juga sangat berat, tapi itu harus kamu lakukan karena itu janjimu kemarin. Aku minta Mas tidak lagi menghubungi aku. Aku tidak bisa memberi alasan dan tolong jangan tanya mengapa. Itulah permintaanku."
Aku hanya bengong, tidak dapat berkata apa-apa.
Kuantarkan dia sampai ujung gang sesuai permintaannya. Setelah Vitara putih itu masuk ke dalam gang, aku kembali menuju jalan besar dan pulang naik taksi.
Empat hari kemudian kuberanikan diri menghubunginya, siapa tahu dia berubah pikiran. Saat kuhubungi melalui HP-nya, tidak pernah aktif. Kucoba menghubungi rumahnya dan yang menerima adalah kakaknya, yang mengatakan Yuni pulang ke Surabaya dan tidak mau diganggu oleh siapapun.
Sepuluh hari kemudian aku mendapat email. Ia mengatakan saat itu berada di Melbourne untuk kuliah di sana, dan menceritakan panjang lebar alasannya tidak mau bertemu aku lagi. Akhirnya kusadari dan kumaklumi alasannya. Dalam hati aku sering berpikir: seandainya aku tidak memperkosanya, aku pasti masih sering bercumbu dengannya.
Sampai jumpa, Yuni.
TAMAT