18px

Malam Ulang Tahun Aini

Malam Ulang Tahun Aini

Aini. Kalau mendengar nama itu, khayalanku selalu melayang ke mana-mana. Membayangkan sosok seorang wanita tiga puluh tahun dengan tinggi semampai dan bodi yang padat berisi. Pinggulnya lumayan besar dan ukuran dadanya cukup bikin sesak napas. Apalagi gayanya kalau ngomong selalu terkesan genit dan manja, membuat bayangan-bayangan ngeres bersarang dalam kepala. Pokoknya aku sendiri tidak pernah menyangka kalau di kantor ternyata punya teman seperti dia. Anaknya memang baik, care banget sama teman-temannya. Kalau ada yang sakit, selalu dia yang jadi koordinator bezuk. Kalau ada yang ulang tahun, selalu dia yang duluan ingat dan memberi selamat. Belum lagi kadonya β€” biarpun sederhana, tapi perhatiannya itu. Kalau dia lagi cuap-cuap di udara sesuai profesinya sebagai penyiar, selalu saja banyak pendengar pria berbondong-bondong ingin mengudara, minta dilayani suaranya yang empuk, seempuk dadanya.

Seperti sekarang misalnya. Tidak tahu kenapa tiba-tiba khayalanku tentang Aini melambung tinggi. Jadi pengen melampiaskannya langsung, habis dia seksi abis! Pas subuh tadi dia sudah datang dengan penampilan yang segar dan menawan. Mungkin gara-gara tiap hari ketemu dan merasakan kegenitannya itu, sekarang aku sering tidak bisa menguasai diri. Masih untung cuma sabun di kamar mandi yang jadi pelampiasan.

Yang jelas, pas dia datang tadi, dia langsung mendekatiku. "Ki, aku ada perlu sama kamu. Sini deh." Ada apa ini, batinku. Tapi aku tetap mengikutinya. Eh, ternyata dia langsung menuruni tangga dan balik menuju ruang resepsionis β€” padahal tadi dia baru saja naik. Lagi pula ruang resepsionis masih gelap.

Tiba-tiba Aini berbalik, menarik tanganku untuk duduk di kursi sofa. Tempatnya agak mojok di ruangan, jadi makin tidak kelihatan dari luar, tapi aktivitas orang-orang masih bisa terlihat dari sini. Maklum, masih subuh.

"Ki," panggilnya lembut.

"Kenapa?" tanyaku. Ia tersenyum manis dan menatapku lama sekali. "Aini, kamu kenapa?" Eh, malah tambah lebar senyumnya. Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berbisik, "Aku hari ini ulang tahun. Mau nggak ntar malem kamu dateng ke rumah?"

Hah? Ke rumahnya? Lagian kenapa mesti spesial begini? Biasanya dia selalu bersikap manja sama semua orang, tidak cuma sama aku. Aku jadi curiga, tapi diam saja.

"Mau ya?" bujuknya.

"Emang ada acara apa sih, En?" tanyaku penasaran. Eh, dia malah senyum lagi dan balik bertanya, "Kamu nggak ngasih selamat sama aku?"

"Oh iya ya." Langsung saja aku mengulurkan tangan dan menjabat tangannya yang halus. "Met ulang tahun ya? Semoga panjang umur dan sehat selalu."

"Udah gitu aja?" tanyanya. Gantian aku yang tertegun. "Maksudnya?"

Aini agak cemberut. "Biasanya orang kasih selamat itu cium pipi kiri kanan."

Kepalang tanggung. Selagi tanganku masih menggenggam tangannya, kuangsurkan pipiku ke pipinya, kiri kanan.

"Kurang," celetuknya manja. "Emang gimana lagi?" Tiba-tiba dia mengangsurkan bibirnya ke pipiku β€” cup, cup. "Kayak gitu tuh!"

Aku baru mengerti. Aku pun mencium pipi kiri kanannya. Baru saja bibirku kutarik dari pipi kanannya, dia menoleh dan langsung memΓ‘gut bibirku.

Tangannya langsung dilingkarkan ke leherku. Dadanya yang luar biasa itu menempel erat di dadaku. Langsung si Joni mengambil sikap sempurna. Kami berpagutan lama sekali. Waktu kulepaskan ciumanku, terdengar desahannya yang manja. Aku tak tahan lagi β€” kalau tadi dia yang menyerang, sekarang giliranku mendaratkan ciuman ke bibirnya yang tipis. Kembali napas Aini mengengah, dan dia menyambut ciumanku dengan menjulurkan lidahnya sedikit. Napasnya semakin memburu, sehingga begitu aku lepas ciumanku, masih terdengar desahan manjanya, bahkan sedikit erangan erotis. Tanganku langsung tidak tinggal diam, meraba dan mengusap lembut semua bagian tubuhnya, terutama yang sensitif. Begitu tanganku mendekat ke dadanya, tiba-tiba Aini menangkap tanganku.

"Hayo, mau ngapain?" bisiknya dengan suara bergetar. Aku hanya senyum. Tanganku yang satu lagi membelai pipinya. Aini balas tersenyum, kemudian tanganku yang dipegangnya diarahkannya menuju ke balik bajunya, langsung ke kancing BH-nya yang kebetulan ada di depan. "Ini untukmu, Ki. Aku pengen kamu pegang dadaku," gumamnya sambil berdesah manja.

Aku kaget juga, tapi sekaligus tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung kubuka kait BH-nya, dan bisa kurasakan betapa dadanya yang luar biasa itu benar-benar sesuai dengan apa yang kulihat dari luar β€” ukurannya mungkin sekitar 36C, atau bahkan D. Perlahan kubelai dan kuremas lembut dadanya. Aini mulai mengerang pelan, takut ketahuan. Tapi begitu tanganku mulai menjepit putingnya pelan dan memutarnya, desahannya mulai terdengar liar, "Ngghhh... ssshhh... Ki... sshhh... aahhhh..." Aku makin gila. Giliran puting sebelahnya kuputar pelan sambil kujepit dengan jari-jariku.

Tapi waktu mau berbuat lebih jauh, Aini melepas pelukannya dan berbisik lirih dengan suara bergetar, "Ki, nanti malam ke rumah ya? Kita bisa lebih bebas nanti." Aku mengangguk, mengancingkan kembali BH-nya, dan kami sempat berciuman sebentar sebelum ia melangkah ke atas menuju ruang siaran, dan aku pulang.

Wah, ini hari yang paling istimewa! Jangankan sampai berbuat begitu β€” mendekat sedikit saja dalam mimpi pun aku tidak berani, habis dia galak. Tapi begitu bisa mendapat durian seperti ini, aku jadi tidak sabar menanti malam tiba.


Akhirnya apa yang kutunggu-tunggu sudah ada di depan mata. Dengan dandanan ala kadarnya β€” maklum aku tidak begitu suka dandan β€” aku menuju ke rumah Aini dengan motor Sidekick hijauku. Suara knalpot racing yang menderu membuat sebagian orang menoleh, termasuk beberapa pendengar yang memang sengaja datang untuk merayakan ulang tahun penyiar pujaannya. Mengganggu saja, rutukku dalam hati. Tapi biarinlah β€” yang terakhir kan dapatnya paling banyak.

Beberapa pendengar yang sudah kenal denganku menyapa, tapi aku hanya menanggapi sambil lalu, karena yang kucari adalah sosok wanita cantik bertubuh sintal yang selalu kubayangkan dalam mimpi-mimpiku. Dan akhirnya bidadari seksi yang kutunggu muncul. Dengan gaun malam hitam yang dilengkapi pernik-pernik berlian, malam itu Aini benar-benar menjadi bintang di pestanya, bak seorang ratu yang hadir untuk dikagumi rakyatnya. Para fans langsung berdecak kagum. "Oohh, Mbak Aini cantik sekali," suara salah satu pendengar muncul di sela-sela kerumunan. Aku yang waktu itu juga berbaur bersama mereka ikut terkagum-kagum. Betul-betul cewek satu ini pintar merawat diri.

Acara demi acara berlangsung sampai akhirnya para tamu beranjak pulang. Karena sedikit-sedikit ada yang kenal, aku ikut menyalami para pendengar. Mereka tentu puas sesudah memandangi Aini yang malam ini memang terlihat sangat cantik. Begitu para tamu pulang, aku sebetulnya juga ragu-ragu β€” apa iya Aini sungguh-sungguh? Tapi dari perlakuannya tadi pagi, sepertinya memang iya. Begitu aku masuk ke dalam rumah, Aini mendekatiku dan berkata, "Tunggu sebentar ya."

Aku hanya mengangguk. Dia menghilang ke kamarnya, dan beberapa saat kemudian terdengar suaranya dari dalam, "Ki, sini deh."

Aku bergegas masuk ke kamarnya. Nuansa krem meliputi sekeliling ruangan, termasuk karpetnya. AC yang terpasang membuat ruangan sejuk. Perangkat stereo dan TV 29 inci melengkapi kamarnya. Betul-betul kamar elite. Tapi yang menarik perhatianku bukan kamarnya, melainkan penghuninya. Kulihat Aini sudah berganti busana β€” kali ini memakai lingerie tipis transparan sehingga lekuk tubuhnya makin jelas terlihat. Begitu melihatku, Aini tersenyum simpul lalu berdiri. "Gimana, bagus nggak lingerieku?" tanyanya sambil memutar tubuh moleknya. Aku makin tergiur. "Bagus banget, cocok buat tubuhmu."

"Kita buka kado dulu yuk!" katanya. Pengennya sih langsung, tapi okelah. Aku duduk di tepi spring bed-nya, berhadapan dengannya, sambil bantu-bantu membuka kado. Makin lama makin dekat, karena suasana romantis sudah terbangun dari musik jazz yang dia putar. Lantunan lembut Norah Jones dengan "Don't Know Why" makin menambah gairah. Begitu kado habis terbuka, Aini memandangku dengan senyum manisnya. Aku rada salah tingkah.

"Aku belum dapat kado dari kamu, lho," ucapnya manja. Aku hanya tersenyum. "Maaf, aku nggak bisa ngasih apa-apa buat hari spesialmu."

Aini memegang tanganku. "Nggak apa-apa. Kamu datang ke sini juga sudah lebih dari cukup. Aku memang pengen berdua sama kamu, menikmati malam ini, merayakan hari ulang tahunku." Lalu dengan lembut dia mencium pipiku. "Makasih ya, Ki."

Aku menoleh ke arahnya. Kupandangi dalam-dalam wajah ayunya, dan makin lama makin dekat. Akhirnya bibir kami bertemu. Kupagut lembut bibir tipisnya sebagai ucapan selamat ulang tahun. Aini mendesah manja, tangannya melingkar di leherku. Tubuh kami semakin merapat dan belahan dada yang terbungkus BH dan lingerie itu menempel erat di dadaku. Kupeluk tubuhnya dan semakin kudalamkan ciumanku. Lidah kami saling mencari dan membelit, memagut, semakin lama semakin erat. Napas Aini semakin berpacu ketika kulepas pelan-pelan ciumanku. Matanya setengah terpejam. "Met ulang tahun ya," lalu tanpa memberi kesempatan menjawab, kulabuhkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan putih. Aini mulai menggeliat dan mulai terdengar erangannya, "Ahhh... engghhhh..."

Terus kutelusuri lehernya yang mulus dengan lidahku, membuatnya makin kegelian. Sengaja aku belum menggerakkan tanganku. Tapi Aini sudah mulai on dan tidak sabar. Tangannya yang melingkar di leherku sekarang mulai mengusap punggungku. Puas bermain di lehernya, kembali kutautkan ciumanku ke bibirnya. Kali ini tanganku mulai ikut bermain. Kuusap punggungnya pelan, lembut, dan semakin bergerak ke depan lalu singgah di dadanya.

Dengan penuh perasaan, kuusap lembut buah dadanya sebelah kiri dan sedikit kuremas. Napas Aini makin memburu dan ia melepas ciumanku dengan deru napas yang semakin bergelora. Tangannya yang lentik mulai membuka kancing kemejaku satu persatu. Kubiarkan ia melakukan aksinya, sementara ciumanku mulai mendarat di atas dadanya. Sambil kuusap dengan mulutku, kubuatkan sedikit cupang merah di dadanya. Aini makin mendesah dan erangannya mulai agak keras. Kemejaku sudah lepas sehingga aku bertelanjang dada. Tidak mau kalah, giliran tanganku menyusup ke balik lingerie Aini dan kuraba buah dada kirinya. Kubuka kait BH di belakangnya, dan penutup keindahan dada besar itu pun terlepas. Aini langsung berdiri, melepaskan lingerie dan BH-nya, kemudian menurunkan celana dalamnya sehingga ia pun telanjang. Aku memandangi lekuk tubuhnya yang indah β€” pinggang ramping, pinggul besar, dada membulat kenyal. Ia berbisik lirih penuh keromantisan, "Malam ini aku milikmu, Ki."

Satu persatu kulepas pula semua yang menutupi tubuhku, dan aku pun berdiri mendekatinya, memeluknya, dan kembali bibir kami bertaut. Hanya saja kali ini sedikit lebih intens. Tanganku mulai memutar-mutar puting susunya yang kenyal, dan Aini mulai mengerang-erang, mengekspresikan birahi yang makin tinggi. Ciumanku lalu berpindah ke dadanya, mengulum buah ranum itu sambil mengisap dengan keras. Erangannya makin jelas terdengar, "Ngghhh... sshhhhh... ahhhh..." dan tanganku mulai bergerak ke bawah, menuju labianya yang merekah. Ketika kusentuh, Aini mendesah tertahan, "Ssshh... Ki... ahhhh..." Makin dalam kusentuh, makin kuat erangannya. Ia kudorong sehingga terduduk di tempat tidur, kemudian membaringkan dirinya di atas peraduan. Aku memandang wajah sayu menawan itu dengan deru napas memburu.

Langsung aku berbaring di sebelahnya dan kuusap lagi kewanitaannya yang sudah mulai membanjir. Mulutku kembali bertualang di sekitar dadanya. Aini tidak tinggal diam β€” tangannya mencari kelelakianku dan mulai memain-mainkannya.

Aku bangkit secara tiba-tiba sehingga dia berhenti beraksi, lalu kubuka kedua pahanya hingga memperlihatkan kewanitaannya. Aini mengerti apa yang akan kulakukan. Tangannya memegang kepalaku dan mengarahkannya untuk memberi sentuhan hangat di sana. "Lakukan apa yang kamu suka, Ki. Aku milikmu, benar-benar milikmu... sshhh... enngghhh." Tak sempat dia melanjutkan perkataannya karena lidahku sudah keburu masuk di sela kewanitaannya.

Kusapu semua bagian labianya, mengisap-isap dan kugigit kecil bagian yang mirip kacang itu. Belum begitu lama, tiba-tiba Aini mengerang keras dan tubuhnya terangkat. "Aaaa... hhhhh!" dan kemudian kewanitaannya terasa makin basah. Aku tidak peduli dan terus melabuhkan lidahku ke sana, sehingga rasa geli gatal yang menyerang Aini makin menjadi. Makin banyak cairan yang keluar, dan kemudian Aini membanting dirinya di ranjang sambil menggeliat-geliat dengan paha menjepit kepalaku.

Kemudian kulepaskan diriku dari jepitannya dan mulai mengarahkan tongkat nakhoda ke kapal yang hendak kulabuhi. Karena sudah licin, mudah saja berlabuh. "Ssshhh... aaahhh..." dan mulailah pelayaran itu dimulai. Kukendalikan irama tubuhku senada dengan Aini. Perempuan itu mulai mendesah-desah, mengerang, menjerit kecil sambil tubuhnya menggeliat-geliat di bawah tubuhku, makin lama makin cepat. Tapi aku sengaja tidak mempercepat gerakanku sehingga ia makin liar. Erangannya sangat kuat dan sangat menggairahkan.

Baru beberapa menit, tiba-tiba Aini menghentikan gerakannya. "Ki, aku mau melayanimu di atas. Boleh ya?" desahnya manja. Lalu dia berbalik dan mulai menari di atas tubuhku. Erangannya lebih keras dari sebelumnya. Ia terus mempertontonkan gerakan-gerakan yang indah, dan kedua bukit kembarnya bergoyang seksi. Sebuah kupegang dan kuremas-remas, sedangkan sebuah lagi kuhisap dengan keras, dan akhirnya sebuah teriakan kecil dan panjang keluar dari tenggorokannya. "Aaaaaahhhhhh... ahhhh... ahh... ah..." Lalu kubalik tubuhnya sehingga kembali ia di bawah, dan aku teruskan pelayaranku hingga akhirnya mencapai puncak. Keluarlah semua kerinduanku akan pelukannya, sangat banyak. Aini sendiri begitu merasakan kehangatan di dalam kewanitaannya hanya bisa mendesah manja, pasrah, penuh penyerahan, di antara napasnya yang memburu. Tubuh kami bermandikan keringat meski ruangan itu sejuk dengan AC.

Sambil mengengah, Aini memandangku dan berkata, "Makasih ya, Ki. Ini kado paling spesial yang pernah aku terima." Lalu dia mengecup bibirku yang berbaring di sampingnya. Kami berdua lalu berbagi cerita sambil berpelukan, dan akhirnya terlelap berdekapan.

Ah, Aini...

← Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya β†’