18px

Malangnya Nasibku

Malangnya Nasibku

Hari itu sudah jam delapan malam dan saya masih sibuk mengetik proposal bos saya. Belakangan ini kantor konsultan asing tempat saya bekerja sebagai sekretaris memang sedang sibuk-sibuknya. Banyak perusahaan lokal yang meminta jasa kami dalam mereorganisasi perusahaan mereka.

Bos saya adalah seorang ekspatriat warga negara Prancis, pria bujangan berusia sekitar tiga puluh tiga tahun yang sangat tampan. Dandanannya selalu rapi dan wangi. Hampir semua teman wanita sekantor terpikat oleh pria ini. Saya sangat beruntung menjadi sekretarisnya, karena selain tampan, dia juga bos yang baik terhadap bawahannya.

Di sela-sela kesibukan mengetik proposal untuk besok hari, sesekali saya layangkan pandangan ke ruang tengah yang masih benderang. Di sana terdapat Mr. Maurice, Mrs. Elisabeth dari Filipina, Bapak Edwin, dan Mr. Gregory dari Inggris. Rupanya mereka masih membicarakan rapat untuk esok hari.

Bapak Edwin katanya baru bercerai dengan istrinya. Heran saya, bagaimana istri tolol itu bisa meninggalkan perwira muda yang sedemikian tampan dan cerdas. Saya sendiri mau saja menjadi istri pria Sunda itu. Dia kadang tersenyum pada saya, tapi saya menganggapnya sebagai senyum ramah seorang atasan kepada bawahannya.

Tampan sekali Mr. Maurice malam itu, Bapak Edwin juga sangat tampan. Kalau Mr. Gregory sudah tua, apalagi berjenggot, bikin muak saja. Kadang saya suka membayangkan bercinta dengan Mr. Maurice sampai suka basah sendiri celana dalam saya. Beruntung sekali istrinya mendapat suami setampan itu.

Satu jam berlalu. Mrs. Elisabeth meninggalkan ruangan untuk pulang, begitu pula Mr. Gregory. Tinggal Mr. Maurice dan Bapak Edwin yang masih terlihat serius berdiskusi. Proposal yang saya buat pun sudah selesai, tinggal mencetaknya. Sambil menunggu printer selesai bekerja, saya membuka kancing kemeja. Saya elus-elus sendiri buah dada saya di balik kemeja biru yang saya kenakan hari itu. Entah kenapa hari itu libido saya meninggi. Saya pejamkan mata sambil menaikkan kaki ke atas meja dan menyelipkan tangan kanan ke dalam celana dalam.

Saya bayangkan Mr. Maurice yang sedang mengusap-usap puting payudara dan klitoris saya. Nikmat sekali. Sesekali saya masukkan kedua jari ke dalam lubang vagina dan saya rasakan kontraksi nikmat dari kedua paha. Saya pencet-pencet ujung puting sendiri, membuat saraf-saraf otak semakin bergejolak. Saya goyangkan pinggul di atas kursi untuk mengimbangi kenikmatan masturbasi yang sedang merajai tubuh ini.

Tiba-tiba saya tersadar bahwa printer telah selesai bekerja. Begitu saya membuka mata, hati saya terperanjat sekali mendapati Mr. Maurice dan Bapak Edwin sedang terpana melihat saya. Entah kapan mereka masuk ke dalam ruangan. Malu sekali rasanya. Wajah saya merah membara dan segera saya rapikan kemeja dan rok pendek saya sambil mengambil proposal yang baru saja selesai dicetak.

Tiba-tiba Mr. Maurice memeluk dari belakang. Dengan tangannya yang kekar dia berusaha menolehkan wajah saya. Bibir saya dilumatnya dengan kasar. Saya tersentak dan berusaha melawan. Pada saat itu juga Bapak Edwin memegangi kedua tangan saya, membuat saya semakin memberontak ketakutan. Saya menjerit minta tolong, tapi saya sadar bahwa hanya kami bertiga yang ada di lantai delapan ini. Satpam di hall bawah tidak akan dapat mendengar jeritan saya.

Mr. Maurice menutupi mulut saya dengan tangannya, dan dengan bantuan Bapak Edwin, mereka menyeret saya ke sofa di ruangan Mr. Maurice. Rontahan saya sia-sia saja. Tangan Bapak Edwin begitu keras memegangi pergelangan saya sampai sakit rasanya. Mr. Maurice kemudian membuka paksa kemeja saya hingga beberapa kancingnya copot, menurunkan BH saya, dan tanpa ragu melumat puting payudara saya.

Saya tidak tahu apa yang saya rasakan. Antara rasa marah, kesal, dan benci bercampur aduk dengan rasa nikmat. Puting saya dipermainkan oleh lidah bule-nya yang lebar dan panas, membuat saya terpejam-pejam menahan nikmat. Sementara itu mulut saya dicium secara ganas oleh Pak Edwin.

Pak Edwin kemudian menggunakan kemeja satin saya untuk mengikat kedua pergelangan tangan saya di sofa. Jilatan mulut Mr. Maurice sudah turun sampai ke vagina. Saya meronta-rontakan kaki dengan sepenuh tenaga, namun saya tidak berdaya melawan desakan tangannya membuka kedua paha.

Sekarang kedua lututnya menindih kaki saya. Saya lihat dia mulai membuka celananya. Tidak lama kemudian terbukalah batang kemaluan besarnya yang sudah sedemikian tegang dan memerah. Pak Edwin juga sudah mengeluarkan penisnya yang panjang dan besar, lalu dipaksakannya senjatanya memasuki mulut saya.

"Pak Edwin...! Jangan, Pak...!" saya merintih penuh iba.

Namun Pak Edwin tidak mendengarkan saya. Batang kemaluannya yang besar segera memenuhi mulut hingga tenggorokan. Agak susah bernapas jadinya. Pantatnya dimaju-mundurkan, membuat mulut saya tersedak-sedak oleh penis panjangnya. Di bagian bawah saya rasakan sebuah benda tumpul yang besar dan panas memasuki vagina dengan paksa. Besar sekali, agak susah masuknya. Saya sudah tidak dapat menjerit karena mulut saya sibuk dengan batang kemaluan Pak Edwin.

Walaupun terus meronta, sebenarnya saya sangat menikmati perbuatan kasar kedua atasan saya itu. Tangan Mr. Maurice memegangi paha saya lebar-lebar dan menancapkan batang besarnya secara cepat dan berulang-ulang. Saya merintih sakit bercampur nikmat setiap kali ujung kemaluannya menyentuh liang peranakan saya.

"Ohh... oh... ah...! Ampun, Mister... please stop it...! You hurt me...!" saya berusaha menjerit di antara batang kemaluan Pak Edwin yang keluar masuk mulut saya dengan cepat.

Mereka menikmati posisi itu selama lima menitan, kemudian Mr. Maurice mengambil inisiatif untuk menunggingkan posisi saya. Tangan saya yang masih terikat di pinggir sofa membuat tubuh saya agak terpelintir ketika dengan paksa dia menarik pantat saya ke posisi doggy style. Sekali lagi dia memperkosa dari belakang. Batang kejantanannya terasa lebih besar dengan posisi ini.

Tidak terasa vagina saya menjadi basah karena sebenarnya saya pun menikmati permainan ini. Mulut saya mulai merintih nikmat.

"Oh God...! Ssshh...! Ahh...! Ooh...! Sshh...!" desah saya tanpa ragu lagi.

Saya merasakan kenikmatan yang sangat dengan posisi itu, apalagi Pak Edwin sekarang mengulum puting payudara saya yang tergantung ke bawah sambil meremas-remasnya. Giginya yang rapi sesekali menggigit halus puting saya, membuat saya serasa di awang-awang.

"Oh yeah...! Sshh... oh...!"

Saya goyangkan pinggul untuk mengimbangi hempasan pinggul Mr. Maurice. Sesekali dia menampar pantat saya yang menungging ke arahnya dengan keras. Nikmat sekali tamparan itu.

Pak Edwin rupanya tidak sabar ingin merasakan lubang kenikmatan saya. Dengan kasar dia membuka ikatan di pergelangan tangan saya, lalu Mr. Maurice duduk di sofa. Pak Edwin mendorong tubuh saya untuk naik ke pangkuan Mr. Maurice sambil menghadap ke sofa. Sambil mencengkram tengkuk saya, Pak Edwin meraih vagina saya dari belakang sehingga saya berada dalam posisi menungging — Mr. Maurice di depan dan Pak Edwin di belakang, tubuh saya hanya tersanggah oleh kedua lutut yang terlipat di atas sofa.

Mereka kemudian memasukkan batang kemaluan mereka di vagina dan lubang pantat saya.

"Oohh...!" saya menjerit panjang ketika batang kemaluan Pak Edwin memasuki lubang pantat saya dari belakang.

Sakit, tapi saraf-saraf pinggul sangat terangsang oleh tusukannya. Sementara itu penis Mr. Maurice sudah kembali memasuki lubang kemaluan saya. Nikmat sekali rasanya digauli oleh kedua pria ini. Baru sekarang inilah saya merasakan dua batang kemaluan memasuki tubuh ini sekaligus dari depan dan belakang.

Mulut Mr. Maurice menghisap puting payudara saya dengan kasar sambil terus menusukkan penis raksasanya. Pak Edwin menjambak rambut saya dari belakang sambil terus menghela batang kejantanannya keluar masuk lubang pantat. Saya meremas rambut pirang Mr. Maurice karena tidak tahan oleh kenikmatan yang saya rasakan. Dari mulut saya keluar desisan-desisan nikmat, begitu pula saya dengar deruhan napas pendek dan tidak beraturan dari Pak Edwin yang membuat saya juga semakin bernafsu.

Keduanya menggauli saya dengan semakin cepat dan semakin panas, seperti sedang mengejar sesuatu. Akhirnya pertahanan kemaluan Mr. Maurice pecah, dan kedua tangannya menekan bahu saya ke bawah untuk memaksakan batang penisnya tetap di dalam liang kewanitaan saya ketika air maninya keluar. Saya merasakan semprotan air maninya di dalam liang peranakan saya. Mr. Maurice mengerang kuat dengan mata terpejam dan merenggut rambut saya ke kanan dan ke kiri.

Sementara itu Pak Edwin sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya. Helaan pantatnya semakin cepat, dan akhirnya ditumpahkan air maninya di dalam pantat saya sambil mengerang dan mencakari punggung ini. Baru kali ini saya merasakan semburan sperma di lubang pantat, sungguh nikmat.

Bagian bawah pinggul saya basah kuyup oleh keringat dan air mani kedua pria tampan itu. Pak Edwin menghempaskan dirinya di sofa, di sisi Mr. Maurice yang masih merasakan dirinya berada di langit ketujuh menikmati orgasmenya. Mereka kemudian memeluk dan menciumi saya dengan sangat lembut dan mesra sambil meminta maaf atas perbuatan mereka itu. Saya pun mengakui kepada mereka bahwa saya sebenarnya sangat menikmati "perkosaan" itu.

Kejadian malam itu tidak berhenti sampai di situ, karena sejak malam itu kami melakukan perbuatan "two in one" itu secara berulang-ulang. Saya mulai dijadikan sebagai pemuas dan sarana pelampiasan nafsu mereka. Herannya saya menikmatinya hingga sekarang. Liburan musim panas kemarin, kami menghabiskan satu minggu di Ubud, Bali, hanya untuk memuaskan nafsu birahi kami bertiga. Itulah pengalaman saya bersama atasan saya di kantor yang berakhir dengan kegiatan yang berjalan secara rutin.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya