Mami Tour — Bagian 1
Mami Tour — Bagian 1
Rencanaku mau berkeliling Eropa pada musim panas tahun ini jadi berubah total. Aku semula hanya berencana akan tour ke Eropa sendirian, tetapi ketika aku bercerita bahwa pada bulan Juli nanti aku akan cuti sekitar dua minggu, mereka mencecarku mau pergi ke mana.
Tanpa berharap apa-apa, aku dengan polosnya bercerita akan keliling Eropa. Aku belum pernah ke negara-negara di Eropa, tetapi dari cerita dan informasi yang kuketahui, banyak tempat menarik di sana.
Jika Anda sebelumnya membaca rangkaian ceritaku berjudul "HAREM", maka pasti paham bahwa aku bekerja sebagai terapis melalui cara refleksi dan hipnotis. Pasienku banyak, terutama setelah aku berhasil mengurangi bobot tubuh mereka yang tambun. Aku sempat kewalahan melayani panggilan, sehingga untuk membatasi permintaan, aku minta manajerku Bu Rini untuk menaikkan biaya terapi. Namun setelah harga dinaikkan sampai tergolong mahal, permintaan terapi tidak berhenti. Cerita mengenai itu sudah saya uraikan di dalam cerita HAREM 10.
Kembali ke soal rencanaku akan keliling Eropa, ada sekitar delapan orang yang menyatakan berminat. Mereka tertarik bepergian bersamaku, karena mereka sebenarnya adalah pasien-pasienku yang sudah fanatik. Jalan-jalan ke Eropa bagi mereka bukan hal baru. Mereka adalah ibu-ibu yang berlimpah harta, tetapi senang sekali berselingkuh denganku. Apa sebabnya mereka menyenangi aku, mereka punya jawaban yang berbeda-beda. Soal itu aku tidak terlalu mau dipusingkan.
Pilihan waktu untuk perjalananku ke Eropa adalah musim panas bulan Juli. Pada musim panas, saya yang terbiasa hidup di alam tropis pasti tidak terlalu sulit menyesuaikan iklim. Lagi pula kalau di musim dingin pasti banyak keterbatasan, dan beban jadi berat — harus bawa baju tebal, over coat, ah banyaklah. Kalau musim panas kan bisa cuma pakai kaus oblong.
Dari delapan ibu-ibu yang semula menyatakan akan ikut, akhirnya hanya lima yang kemudian memastikan ikut. Mereka sangat antusias, dan kelihatannya masing-masing punya alasan untuk ikut bersamaku. Kelima ibu-ibu itu kebetulan sudah saling kenal, jadi aku agak ringan juga. Kalau tidak, nanti bakal jadi kerjaan untuk mengakurkan antar sesama mereka.
Mereka berpamitan kepada suami mau tour ibu-ibu ke Eropa. Pastinya mereka menyembunyikan keikutsertaanku. Mauku memang begitu.
Mereka semuanya dari kalangan the haves. Aku yang semula mau backpacker berubah jadi tur kelas satu. Mereka bersikeras harus naik pesawat "SA" kelas satu pula. Hotel-hotelnya juga maunya bintang lima. Aku tidak bisa menolak kemauan itu, sebab mereka pula yang membayar semua biayaku. Akhirnya jadwal yang tadinya sudah tersusun rapi dan sebagian malah sudah dibooking jadi berantakan. Aku perlu satu minggu untuk mengatur kembali jadwal dan hotel. Bagaimana aku tidak pening, mereka minta harus kamar suite dan kamar yang berdampingan, atau minimal satu lantai. Booking hotel semacam ini memang susah dan makan waktu. Tapi akhirnya semua teratasi dan pengetahuanku jadi makin mantap soal mengatur perjalanan.
Tujuan kami yang pertama adalah Amsterdam, Belanda. Penerbangan dari Jakarta singgah dulu ke Singapura, lalu langsung ke Amsterdam. Kami tiba di sana pagi hari. Di bandara aku harus mencari limosin dengan enam kursi. Kami langsung menuju hotel yang kupilih di pusat kota. Karena aku tidak pernah ke Amsterdam, pemilihan hotel ya berdasarkan common sense saja.
Di Amsterdam jadwalnya tiga hari dua malam. Kami mendapat dua kamar suite yang besar dan masing-masing kamar ditambah satu ekstra bed. Sebenarnya untuk aku tidak perlu ekstra bed, karena sofa di kamar bisa diubah menjadi tempat tidur juga. Namun karena kami check in berenam, front office mengatur ada ekstra bed di tiap kamar.
Baru juga masuk kamar, ibu-ibu sudah sibuk mau jalan-jalan ke department store. Aku minta mereka bersabar untuk istirahat dulu sekitar dua jam, sebab badan dari daerah tropis harus disesuaikan dulu dengan iklim Eropa. Aku juga perlu waktu untuk mempelajari kota ini agar ibu-ibu rombonganku nanti bisa tur dengan waktu yang efisien.
Aku sekamar dengan Bu Dina dan Bu Veni. Di kamar lain bergabung Bu Henny, Bu Vence, dan Bu Shinta. Kamar yang kami tempati sangat mewah dan luas, ada ruang tamu dan ada kamar tidur. Interiornya bergaya klasik.
Sejak dari bandara sampai waktu check in aku rajin mengumpulkan brosur-brosur mengenai Amsterdam dan Belanda. Aku sendiri sudah punya catatan tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tapi dasar ibu-ibu, tidak ada tempat yang menarik selain tempat belanja.
Aku mengambil kesempatan pertama untuk membersihkan diri dan BAB. Dari berangkat aku belum sempat buang hajat. Aku juga paham kalau aku menunggu mereka mandi, pasti lama. Setelah badan segar aku turun ke lobi untuk memesan MPV bagi mengangkut rombongan.
Sisa waktu pada hari pertama kami dihabiskan untuk mengunjungi beberapa tempat belanja. Kebetulan Bu Vence sudah beberapa kali ke Amsterdam, jadi dia tahu tempat-tempatnya.
Kami kembali ke kamar sekitar jam sembilan malam. Badan sudah lelah sekali rasanya. Jet lag dan lelah dari city tour tadi bertumpuk. Aku segera membersihkan diri dan langsung berusaha tidur secepatnya. Sementara itu para mami-mami sedang heboh dengan barang yang mereka beli tadi. Suara kresek-kresek dari bungkusan rasanya nggak ada habis-habisnya. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, dan terbangun karena suara di kamar semakin ramai. Rupanya Bu Shinta, Bu Henny, dan Bu Vence ada di kamar ini. Pantas seperti pasar ramainya.
Aku hanya bisa memandangi mereka sambil memainkan remote TV berganti-ganti saluran. Acaranya kebanyakan pakai bahasa Belanda. Melihat pay TV juga bosan, karena film XXX gitu-gitu juga dan banyak di Jakarta. Akhirnya aku nonton Discovery.
"Jay, malam ini ada acara nggak?" tanya Bu Shinta.
Aku jawab malam ini acaranya istirahat. Akhirnya mereka kembali ke kamar. Bu Dina sudah masuk kamar mandi, Bu Veni masih beres-beres. Mereka berdua sahabatan, jadi tidak mau dipisah.
Aku sempat tidur tiga jam dan badanku sudah terasa segar, tapi perut jadi lapar. Jam di meja kulihat sudah menunjukkan jam dua belas malam; kalau di Jakarta mungkin masih jam lima sore. Jam tubuhku menuntut makan malam, padahal tadi sudah makan sebelum kembali ke hotel.
Aku melihat menu di lembar room service, yang menarik hanya steak. Rasa hanya itu saja yang aku mengerti, lainnya tidak jelas. Bu Veny kutawari makan, dia hanya mau kentang goreng dan Bu Dina minta sandwich.
Pesanan kami datang dan dengan sigap Bu Dina yang baru selesai mandi langsung mengambil bill, ditandatanganinya serta tak lupa menyelipkan tips lima euro. Waiternya manggut-manggut lalu berucap terima kasih. Eh, dia mengerti bahasa Indonesia rupanya.
Perut kenyang, badan sudah segar, dan mau tidur lagi belum ngantuk. Aku kembali terbenam menyaksikan acara televisi. Kali ini aku menyaksikan saluran HBO dan filmnya cukup bagus. Bu Dina yang duduk menemaniku di ruang tamu tidak bertahan lama, matanya mulai berat dan akhirnya dia beranjak ke tempat tidur. Bu Veny yang baru selesai mandi menemaniku sambil mengunyah kentang goreng. Aku menikmati bir dari mini bar.
Sofa tempat kami menonton TV kemudian aku ubah menjadi bed dan kami berdua menonton sambil tiduran.
"Kamu pijetin aku dong, Jay. Kamu kan udah tidur tadi ya," kata dia.
Bu Veny lalu telungkup dan aku memulai ritual pijatan. Badan Bu Veny masih kencang meski usianya sudah menjelang empat puluh. Dia termasuk pasienku yang berhasil menurunkan berat sekitar lima belas kilogram. Kami sudah sering berhubungan badan, jadi tidak ada rasa sungkan lagi. Dia bahkan kalau lagi horny sering nelpon aku hanya untuk dipuaskan. Malam itu dia rupanya jadi horny setelah setengah jam dipijat.
"Pijatnya udahan ah, sekarang service aja," katanya sambil menarik dan memelukku.
Aku segera tanggap. Aku memulai ritual mencumbu Bu Venny. Dengan sentuhan halus dan gerakan yang lembut aku menciumi seluruh tubuhnya sampai seluruh bajunya terkupas. Ruang tamu sejak tadi sudah diredupkan, TV sudah mati. Babak pertama adalah oral. Bu Venny termasuk yang paling suka aku oral; kata dia oralku halus. Sekitar tiga puluh menit aku gunakan untuk mengoralinya hingga dia mencapai orgasme dua kali. Tapi rupanya itu tidak cukup karena dia minta aku menyetubuhinya juga. Kemauannya mana mungkin aku tolak, karena selain senjataku sudah siap dari tadi, dia juga termasuk yang membayari aku untuk perjalanan ini. Aku tahu kelemahan Bu Venny adalah pada posisi doggy style. Sementara aku pada posisi itu agak kurang suka karena vagina rasanya kurang menjepit. Aku langsung mengatur posisi perempuan nungging. Dengan gerakan ganas aku pompa lubang vagina Bu Venny. Entah kenapa dia bisa langsung on dan mendengus-dengus. Aku memang berusaha menghunjam ke arah dinding tempat G-spot berada. Baru sepuluh menit dia langsung ambruk karena orgasmenya — yang kata dia enaknya sampai ke awang-awang. Karena lagi nungging, meski dia jatuh tengkurap aku masih meneruskan pemompaan. Kuatur agar kedua kakinya rapat sehingga memberi dampak penisku lebih terjepit. Rasanya jadi nikmat sehingga aku pun akhirnya meletus, tetapi kusemprotkan di luar. Masalahnya aku kasihan pada Bu Venny yang sudah lemas dan ngantuk berat harus bersusah-susah membersihkan vaginanya ke kamar mandi.
Sementara aku berasyik ria dengan Bu Venny, Bu Dina sudah mendengkur. Aku kembali berpakaian dan mau mulai tidur, tetapi rasa ngantuk belum ada. Jadi melanjutkan nonton TV lagi. Badanku masih mengikuti jam Jakarta — di Jakarta baru jam sembilan malam, jadi memang jam segitu biasanya aku belum tidur.
Belum film yang aku tonton habis, Bu Dina sudah bangun. Dia tergopoh-gopoh menuju ke kamar mandi; kebelet pipis rupanya. Sekembali dari kamar mandi dia menghampiri Venny.
"Lho, anak ini kok tidur di sini sih?" kata Bu Dina sambil membuka selimut. "Oh pantesan, rupanya dia udah supper duluan." Bu Dina lalu menutup kembali selimut.
Dia lalu menyeretku masuk ke kamar. Diambilnya parfum, badanku disemprot dari atas ke bawah, depan belakang. Aku menduga dia mau menghilangkan aroma Venny dari tubuhku. Apa boleh buat. Dikupasnya bajuku satu persatu sampai bugil. Batang penisku belum berdiri, tapi sudah mulai terisi. Dalam posisi aku berdiri di samping tempat tidur dan dia duduk, penisku diciuminya. Untung tadi sudah kubersihkan dengan sabun, jadi pasti wangi.
Penisku diciuminya dan mulai dikulum-kulum. Diperlakukan begitu, penisku pelan-pelan mengembang di dalam mulut Bu Dina. Ibu yang satu ini suka sekali merangsang dirinya melalui merangsang lawan mainnya. Dia akan terangsang jika melihat lawan mainnya juga terangsang.
Mulanya dia mengulum pelan-pelan lalu sesekali menyedot. Selanjutnya dia menjilat-jilat buah zakarku dan kadang-kadang dicaploknya. Teganganku sudah bangun seratus persen. Melihat aku terangsang, Bu Dina makin giat mengulum, bahkan terasa sekali dia sangat bernafsu. Aku mulai menurunkan dasternya dan meraba kedua dadanya yang montok. Bu Dina lalu membantuku sehingga dia pun kini telanjang bulat. Aku diminta telentang lalu Bu Dina menciumi seluruh tubuhku. Aku menggeliat-geliat kegelian dan menahan rangsangan. Bu Dina jadi makin bersemangat. Dia rupanya sudah tidak tahan lagi lalu aku dikangkanginya. Batangku habis tertelan vagina Bu Dina. Dia yang mengendalikan permainan sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Bu Dina jatuh telungkup di badanku sambil liang kemaluannya masih berkedut.
Aku ingin membalikkan posisi, tetapi ditahannya. Dia rupanya masih ingin di posisi ini menikmati sisa orgasmenya. Aku diam saja sambil mengelus-elus punggungnya. Setelah sekitar sepuluh menit, panggul Bu Dina mulai bergerak naik turun. Mulanya bergerak pelan, namun kemudian bergerak lebih cepat sampai kadang-kadang batangku terlepas. Dia memasukkan lagi dan kembali memompa. Tidak puas di posisi telungkup, Bu Dina bangkit lalu sambil duduk bersimpuh dia melakukan gerakan maju mundur. Aku berusaha menahan rangsangan dan dalam posisi itu memang bisa kulakukan. Bu Dina mulai bersuara agak keras sampai akhirnya dia ambruk kembali menimpa badanku. Peluhnya membasahi seluruh tubuh. Dia rupanya sudah mencapai titik lelah tertingginya, sehingga ketika kubalik dia pasrah.
Bergantilah sekarang aku mengendalikan keadaan. Aku mulai memompa dengan gerakan konstan. Bu Dina sudah pasrah dan diam seperti batang pisang. Namun titik sensitifnya di dalam vagina kena gerus terus-menerus, akhirnya dia mengimbangi gerakanku. Kami orgasme hampir bersamaan — aku lebih dulu beberapa detik. Sementara penisku berkontraksi di dalam vaginanya, dia pun ikut berkedut dan bahkan histeris lalu memelukku erat sekali.
Setelah reda aku bangkit dan ke kamar mandi dalam keadaan bugil sambil menenteng bajuku. Di kamar mandi aku membersihkan diri lalu berpakaian kembali. Handuk kecil yang ada di toilet aku basahi dengan air panas lalu kuperas sedikit. Sekujur badan Bu Dina aku seka untuk menghilangkan bekas keringat; aku balik untuk kedua kalinya dengan handuk panas, kali ini khusus untuk membersihkan vagina Bu Dina yang meleleh. Aku bersihkan celah-celah vaginanya dengan handuk panas sampai tuntas, dan bekas lelehan cairan Bu Dina serta spermaku kututup dengan bedak talk.
Kami main di atas bed cover jadi sprei di tempat tidur masih tetap bersih. Bu Dina kagum dengan ketelatenanku.
"Jay, sini," panggil Bu Dina yang sudah membujur dan kututupi selimut. Diciumnya kedua pipiku. "Makasih ya, Jay, kamu perhatian sekali," katanya — yang tidak lama kemudian sudah mulai mendengkur. Bu Dina tidur dalam keadaan telanjang.
Bu Venny yang masih tertidur di ruang tamu kubangungkan lalu kubimbing untuk tidur di tempat tidur di samping Bu Dina. Dia masih ngantuk berat sehingga tidak hirau ketika kubimbing dia dalam keadaan bugil. Kumasukkan dia ke dalam selimut dan kucium pipinya kiri kanan. Wajahnya mengembang senyum; tidak lama dia pun lelap.
Aku masih ingin menonton TV, maka aku tiduran di ruang tamu. Aku tidak sadar sampai akhirnya tertidur sambil memegang remote.
Aku terbangun dan pikiranku masih agak bingung. "Aku di mana ya sekarang?" Ada sekitar sepuluh detik aku baru sadar — sekarang ada di Amsterdam. Aku memimpin lima ibu-ibu untuk tur ke Eropa. Aku menjadi leader, tetapi aku sendiri belum pernah ke Eropa. Sementara itu peserta turku semuanya sudah pernah ke Eropa, terutama ke Belanda.
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Hari ini acaranya akan berkeliling ke beberapa kota dan ada satu acara yang sudah kuatur untuk ibu-ibu: pertama mengunjungi Heineken, lalu makan siang di restoran Indonesia, setelah itu mengunjungi pasar keju, dan yang terakhir ada acara kejutan yakni belajar masakan Belanda di desa dekat kincir angin.
Aku segera bebenah dan membersihkan badan. Rasanya badanku tidak terlalu berkeringat, tapi kalau tidak mandi rasanya rada risih juga. Bu Dina dan Bu Venny masih tidur nyenyak. Selesai aku mandi dan rapi dengan kaos oblong dan jins, aku kembali memeriksa jadwal dan peta Belanda.
Ada deringan telepon. Suara itu membangunkan kedua ibu. Aku segera mengangkat dan sudah menduga pasti dari kamar sebelah. Bu Henny menanyakan jam berapa kita turun sarapan. Aku memastikan masih ada satu setengah jam lagi. Mereka juga tanya soal acara hari ini.
Bu Dina bangkit dari tempat tidur dan heran melihat diriku.
"Pagi-pagi gini kok sudah rapi, rajin amat," katanya sambil mengucek-ngucek mata. Dilihatnya Bu Venny masih anteng tidur. "Ayo bangun, udah siang! Lihat tuh si Jay udah rapi," kata Bu Dina sambil menyingkap selimutnya. Semalam Bu Venny tidur telanjang, Bu Dina juga.
Bu Venny teriak kecil sambil tangannya menutup kedua payudaranya. Dia lalu berbalik dan berganti menarik selimut yang menutupi Bu Dina. Bu Dina yang sedang duduk di kasur tidak menyangka akan mendapat balasan secepat itu.
"Gila lu," katanya menggerutu, dan dia balik membuka selimut yang menutupi Bu Venny. Mereka akhirnya saling menelanjangi temannya.
"Ah nggak perlu malu, si Jay udah puas lihat kita telanjang," kata Bu Venny yang lalu duduk telanjang sambil bersila. Bu Dina akhirnya juga duduk bersila sambil tetap bugil. Kedua ibu-ibu itu susunya montok-montok meski agak turun sedikit. Tapi cukup okelah untuk wanita di umur empat puluhan.
"Apa acara kita hari ini, Jay?" tanya Bu Dina.
Aku minta mereka sudah siap satu setengah jam lagi untuk bersama-sama turun ke bawah sarapan pagi. Bu Venny bergegas ke kamar mandi melenggang dengan tubuh bugilnya — kelihatannya dia kebelet, entah kebelet pipis atau BAB.
Aku turun ke lobi untuk memastikan pesanan mobil yang akan kami carter hari ini sudah konfirm. Di lobi aku juga menelepon calon pemandu yang aku kontak sejak masih di Jakarta. Dia adalah gadis Belanda yang mendalami bahasa Indonesia, usianya tidak terpaut jauh denganku. Semua sudah konfirm dan Vony — demikian nama pemandu gadis Belanda itu — akan tiba di hotel kami pukul sembilan pagi.
Aku tidak kembali ke kamar, tetapi ke kamar sebelah tempat tiga wanita lainnya menginap. Sebelum masuk kamar aku menelepon dulu dari lobi. Bu Shinta rupanya yang mengangkat. Dia ternyata sudah siap dan rapi, tapi Bu Henny dan Bu Vence sedang membenahi barangnya — mereka belum mandi dan hanya pakai celana dalam saja. Bu Shinta mengangkat teleponku di kamar mandi jadi pembicaraannya tidak didengar teman sekamarnya. Aku minta dia membuka pintu kamarnya dan biarkan sedikit terbuka, aku akan masuk tiba-tiba. Tidak sampai lima menit aku sudah di depan kamar mereka. Dengan gerakan mengendap aku masuk dan langsung menuju kamar tidur. Bu Vence dan Bu Henny berteriak kaget sambil menutup dada mereka.
Gerakan refleks seorang wanita setengah telanjang. Setelah mereka tahu bahwa tamunya adalah aku, mereka lalu menggerutu.
"Sialan, gue kirain room boy," kata Bu Vence.
"Iya nih, pagi-pagi udah bikin jantung orang deg-degan," kata Bu Henny.
Bu Shinta yang berdiri di belakangku tertawa geli sambil menutup mulut. "Ini idenya Jay, lho, jangan nyalahin gue," kata Bu Shinta.
Mereka lalu kembali biasa lagi, membiarkan payudaranya bergelantungan. Mereka sadar bahwa aku sudah sering melihat mereka telanjang dan bahkan sudah lebih dari itu.
Bu Henny mengemasi baju yang akan dipakainya lalu masuk kamar mandi. Aku menunggu mereka sambil memainkan remote control TV. Rupanya sofa di kamar mereka tidak digelar menjadi bed. Aku duduk santai menyaksikan saluran-saluran siaran pagi.
Bu Shinta sibuk dengan belanjaannya kemarin dan mengepaknya ke dalam koper. Bu Vence masih mondar-mandir hanya dengan celana dalam. Nonton TV lama-lama aku ngantuk.
Aku kaget mendadak karena ada yang duduk di pangkuanku. Ketika kulihat, ada payudara di depanku — dan itu adalah Bu Vence.
"Jay, sambil nunggu Bu Henny, pijetin dong tetekku. Kamu kalau mijet bagian ini paling jago," katanya.
Permintaannya tidak bisa kutolak. Acara nonton TV jadi terhalang oleh sepasang payudara putih yang cukup menggelembung.
"Aduh, Jay, enak. Jay, jilat juga dikit dong, Jay."
Bu Vence pagi-pagi gini sudah ingin dirangsang. Bu Shinta yang tadi sibuk berbenah sudah duduk di sebelahku. Mulanya dia berkomentar mencela Bu Vence yang pagi-pagi sudah on, tapi Bu Vence tidak peduli, malah menggeliat-geliat di pangkuanku.
Mungkin dia terangsang juga, sehingga tangannya kemudian meremas-remas penisku dari luar. Tidak puas dari luar, tangannya dipaksakan menerobos celanaku dari atas. Penisku digenggamnya meski masih terhalang celana dalam. Dia lalu berusaha membuka celanaku sampai penisku bisa menikmati udara bebas. Penisku dikocok-kocok Bu Shinta. Aku jadi makin terangsang gara-gara kedua perempuan ini.
Aku lalu menawarkan kepada mereka berdua untuk sarapan O. Mereka tanya apa itu. Keduanya lalu kugelandang ke ruang tidur; Bu Shinta kuminta membuka kembali bajunya dan Bu Vence membuka celananya. Bu Vence aku oral dan koColok jariku ke dalam vaginanya. Berhubung dia sudah mendapat foreplay lama maka cukup dua menit sudah menggelepar nikmat. Bu Shinta kutarik celana dalamnya dan aku mulai mengoral. Baru saja mulai, masuk Bu Henny — hanya berbalut handuk.
"Eh, kalian apa-apaan, pagi-pagi udah pada begituan?" katanya sambil berdiri memperhatikan tingkah laku kami.
Bu Shinta tidak peduli, dia malah mengerang-erang nikmat. Bu Vence tidur telentang seperti orang pingsan. Bu Shinta agak lama, lebih lama dari Bu Vence, baru dia menjerit karena orgasme.
"Ah sialah, kalian! Gua jadi pengin juga. Ayo, sekarang giliran gua," kata Bu Henny.
Bersambung...