18px

Bab 1

Mamiku

Beberapa saat kemudian tanganku kupindahkan ke vaginanya dan klitoris Mami kugosok-gosok dengan jariku. Hal ini membuat kocokan tangan Mami di batang kemaluanku semakin cepat, napas­ku semakin tidak teratur dan napas Mami kembali terengah-engah. Setelah beberapa menit berciuman dan napas kami berdua sudah tidak beraturan lagi, secara perlahan Mami menghentikan kocokan di penisku dan menghentikan ciumannya, lalu berbisik di dekat telingaku.

"Iwan, Mami sudah tidak tahan, Wan. Tolong, punyanya Iwan dimasukkan ke Mami. Ayo, Wan!"

Mendengar kata-kata itu nafsuku semakin menjadi-jadi, tapi perasaanku juga semakin bingung. Sempat terpikir bahwa Mami adalah istri Papaku, dan meski bukan mama kandungku, sekarang Mami telah menjadi ibuku. Aku berusaha melawan kebingungan itu dan tersentak dari lamunan ketika mendengar Mami kembali berbisik dengan suara sedikit memohon.

"Iwan, ayo, Sayang. Tolongin Mami, Wan!"

Seperti tanpa berpikir, aku menjawab sekenanya, "Mam, boleh, Mam?" tanyaku, masih ragu. "Nggak apa-apa, Mam?"

"Iya, Sayang, boleh," jawab Mami sambil mencium bibirku.

"Sini, Sayang!" kata Mami sambil menarik badanku. "Coba posisikan badanmu di atas Mami," lanjutnya.

Aku segera bangun dan perlahan kunaiki badan Mami. Setelah berada di atasnya, kurasakan Mami membuka kedua kakinya lebar-lebar.

"Sini, Wan, Mami bantu," kata Mami sambil memegang batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah vaginanya.

Aku hanya menurut saja apa yang dikatakan Mami. Maklum, aku masih sama sekali buta soal ini dan ini akan menjadi pengalaman pertamaku.

"Sudah, Wan. Sekarang tekan pantatmu pelan-pelan!" perintah Mami. Kucoba mengikuti permintaan itu.

Baru sedikit aku menekan pantat, penisku terasa seperti tertahan di vagina Mami. Tiba-tiba tangan Mami menahan gerakan turun pantatku dan Mami berbisik sambil sedikit meringis.

"Aduh, Wan, tahan dulu, sakit."

Kuhentikan tekanan dan kuangkat sedikit ketika mendengar keluhan itu.

"Iwan, pelan-pelan ya, Sayang. Sudah lama Mami tidak begini dengan Papamu. Apalagi punyamu itu besar sekali, lebih besar dari punya Papamu," kata Mami lemah. Kata-kata itu membuatku sangat bangga.

"Sekarang gimana, Mam?" tanyaku tidak sabar ingin segera memasukkan penisku ke dalam liang senggama Mami.

"Wan," kata Mami, "coba naik-turunkan pantatmu pelan-pelan. Kalau pantatmu Mami tahan, berarti kamu harus tarik ke atas. Waktu tidak ditahan, boleh tekan lagi. Beberapa kali, sampai nanti kamu bisa rasakan sendiri kalau punyamu sudah masuk ke dalam punya Mami. Bisa, kan, Wan?" kata Mami sambil mencium bibirku.

"Iya, Mam, Iwan coba sekarang," jawabku.

Lalu kuikuti pelajaran yang diberikan Mami. Setiap kali pantatku kutekan, wajah Mami sedikit meringis seperti menahan rasa sakit. Setelah beberapa kali kunaik-turunkan pantatku pelan-pelan, suatu saat pantatku justru ditekan agak keras oleh kedua tangan Mami dan terasa batang kemaluanku seperti terjeblos masuk.

"Bless!" — dan kudengar Mami agak berteriak, "Aachh, Iwan," sambil menahan napasnya.

Karena kaget, kutahan gerakan dan kucoba diam sebentar menunggu reaksi Mami yang memejamkan matanya.

Baru saja aku mau berpikir apa yang akan Mami lakukan, terasa batang kemaluanku seperti tersedot dan dipijat kuat-kuat dari dalam. Rasa itu sangat nikmat. Karena tak tahan, secara tidak sadar aku kembali menekan penisku masuk.

"Bless!" dan kembali kudengar Mami sedikit berteriak, "Wan, sakit," sambil kedua tangannya sedikit mendorong pantatku.

Terpaksa kuhentikan tekanan. Namun kurasa penisku sudah masuk seluruhnya ke dalam liang senggama Mami. Aku menunggu.

Tidak lama kemudian, tangan Mami menekan pantatku dan kurasakan kembali sedotan dan pijatan kuat di batang kemaluanku. Karena rasa itu begitu nikmat, secara tidak sadar aku mulai menaik-turunkan pantatku pelan-pelan sehingga penisku bergerak keluar-masuk di dalam vagina Mami. Mami pun mulai menggerakkan pantatnya mengikuti iramaku dan mulai mengeluarkan desahan.

"Wan, terus, Sayang. Enak, Wan. Aduh, enak."

Kurasakan batang kemaluanku begitu hangat di dalam vagina Mami yang sangat basah, sehingga setiap gerakan menimbulkan bunyi basah. Hal itu membuatku semakin mempercepat gerakan.

Tanpa sadar terucap, "Mam, Iwan juga enak, Mam. Ayo, Mam!" sambil kedua tanganku mencengkeram kepala dan rambut Mami.

Beberapa menit kemudian gerakan badan dan pantat Mami semakin liar dan cepat, serta kedua tangannya mencengkeram kuat di punggungku. Tiba-tiba kedua kaki Mami dilingkarkan erat di atas pantatku sambil memelukku kuat dan berteriak cukup keras.

"Wan, Mami tidak kuat, mau keluar!" — dan Mami terdiam dengan mata tertutup, napasnya memburu.

Melihat Mami terdiam dengan napas terengah-engah itu, aku merasa kasihan dan segera kuhentikan gerakan penisku, dengan posisi batang kemaluanku masih terbenam seluruhnya di dalam liang senggama Mami.

Setelah napas Mami mulai agak teratur, Mami membuka matanya dan segera mencium bibirku sambil berkata lirih, "Iwan, terima kasih ya, Sayang. Iwan pintar dan bisa memuaskan Mami."

Kembali bibirku diciumnya, dan segera kujawab, "Mam, Iwan tidak tahu, Mam, tapi Iwan sayang Mami dan Iwan mau Mami senang."

Setelah kami diam sejenak dengan posisi masih seperti tadi, lalu kuberanikan bertanya.

"Mam, jadi sekarang sudah selesai? Kalau begitu Iwan cabut ya, Mam?"

"Jangan, Wan," jawab Mami sambil mengencangkan pelukannya. "Sebentar lagi kita lanjutkan seperti tadi sampai Iwan mencapai klimaks," sambungnya.

"Klimaks gimana, Mam?" tanyaku tidak mengerti.

"Aduh, Iwan," jawab Mami sambil memencet hidungku. "Nanti Iwan pasti tahu sendiri. Nanti Iwan terasa seperti mau kencing, lalu coba tahan selama mungkin, lalu lepaskan kalau sudah tidak kuat, dan dari punyamu akan keluar air mani yang menyemprot," lanjut Mami.

"Iya, Mam, Iwan mengerti."

Setelah kami diam sesaat, Mami lalu berkata, "Wan, tolong cabut punyamu dulu. Mami mau mengelap supaya agak kering, biar kita sama-sama enak nantinya."

Dalam hati kupikirkan kata-kata Mami itu, "Tadi memek Mami terasa sangat basah sekali."

Lalu pelan-pelan batang kemaluanku kucabut keluar dari vagina Mami dan kuambil handuk kecil yang ada di tempat tidur sambil kukatakan, "Mam, biar Iwan saja yang ngelap, boleh, Mam?"

"Terserah kamu, Wan," jawab Mami pendek sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.

Aku merangkak mendekati vagina Mami. Setelah dekat, kukatakan, "Iwan bersihkan sekarang ya, Mam?"

"Ya, boleh, Sayang," jawab Mami.

Lalu kupegang dan kubuka bibir kemaluan Mami dan kutundukkan kepalaku ke vaginanya. Kusedot klitoris Mami agak kuat dan pantat Mami tergelinjang keras, mungkin karena kaget.

"Iwan, kamu nakal ya."

Hisapan dan jilatan kembali kulakukan di semua bagian kemaluan Mami, membuat Mami menggerak-gerakkan pantatnya terus. Kedua tangannya menekan kepalaku. Beberapa saat kemudian terasa kepalaku seperti ditarik Mami.

"Iwan, sudah, Sayang, Mami tidak tahan. Sini, Yang!"

Lalu kuikuti tarikan tangan Mami. Tanpa disuruh, aku langsung naik di atas badan Mami. Kemudian kudengar Mami berbisik di dekat telingaku.

"Iwan, masukkan punyamu, Sayang. Mami sudah tidak tahan."

Tanpa membuang-buang waktu, kuangkat kedua kaki Mami dan kutaruh di atas bahuku, ingin mempraktikkan seperti apa yang pernah kulihat di film. Sambil kupegang batang kemaluanku, kuarahkan ke vagina Mami yang bibirnya terbuka lebar. Lalu kutusukkan pelan-pelan, sedangkan Mami menutup matanya seperti pasrah dengan apa yang kuperbuat.

Karena vagina Mami masih tetap basah dan baru saja kujilat dan kuhisap, sodokan penisku dapat dengan mudah memasuki lubang kemaluan Mami.

Untuk meyakinkan apakah penisku sudah masuk apa belum, sambil tetap kutusukkan, aku bertanya, "Mam, sudah masuk?"

Kudengar Mami menjawab, "Iya, Sayang, teruskan yang dalam!"

Karena kurasa sudah benar dan Mami memintaku lebih dalam, lalu kuhentakkan batang kemaluanku agak kuat masuk ke dalam vagina Mami.

Mulai kuayunkan penisku keluar-masuk liang senggama Mami dengan cepat, sehingga badan Mami bergoyang mengikuti ayunanku dan kedua buah dada Mami bergoyang keras, sedangkan dari mulut Mami kudengar desisan.

"Wan, terus, Yang. Aduh enak, Wan. Terus yang dalam!"

Karena tidak tahan mendengar desahan Mami, nafsuku semakin meningkat.

Sambil mempercepat ayunan penisku, secara tidak sadar keluar dari mulutku, "Mam, Iwan juga enak."

Karena rasa nikmat yang tidak dapat kuungkapkan, makin kupercepat gerakan batang kemaluanku. Apalagi sesekali terasa penisku seperti tersedot oleh kemaluan Mami.

Lalu secara refleks tercetus dari mulutku, "Mam, sepertinya Iwan sudah kepingin seperti yang Mami bilang tadi. Dicabut ya, Mam?"

Mendengar kata-kataku itu, Mami mempercepat semua gerakan badannya, melepas kedua kakinya dari bahuku, dan memelukku kuat-kuat sambil berkata tersendat.

"Iwan, jangan! Biarkan, Mami juga sudah mau keluar! Ayo, kita sama-sama!"

Aku sudah kehilangan kesadaran karena keenakan, apalagi mendengar kata-kata Mami yang cukup merangsang itu.

"Mam!" teriakku agak panjang sambil kepala dan rambut Mami kuremas kuat.

Bersamaan dengan teriakanku, Mami pun tiba-tiba berteriak cukup keras sambil kedua kakinya dilingkarkan erat ke pantatku dan rambutku diremas-remasnya.

Dengan napas terengah-engah, kutelungkupkan badan yang lemas di atas badan Mami. Mami pun tergeletak lemah lunglai dengan napas terengah-engah sambil menutup kedua matanya, berusaha menenangkan diri.

Setelah napas agak teratur, kucium bibir Mami lalu kubisikkan, "Mam, terima kasih, Mam. Iwan sayang Mami," sambil kucium pipi Mami.

Ia menjawab, "Iwan, Mami puas, Sayang. Terima kasih, Wan," katanya sambil memiringkan badannya sehingga posisi kami kini tiduran saling berhadapan dan penisku yang terasa masih tegang itu tetap berada dalam liang senggama Mami.

Beberapa saat kemudian sambil saling memandang dan berpelukan, kutanyakan, "Mam, punya Iwan boleh Iwan cabut?"

Mami sambil memencet hidungku menjawab, "Jangan dulu, Sayang. Biarkan dulu di dalam punya Mami. Mami masih kepingin merasakan punyamu yang besar itu."

"Coba, Wan, kocok keluar-masuk pelan-pelan biar Mami bisa merasakan enaknya punyamu," katanya lagi sambil mengangkat salah satu kakinya dan meletakkannya di atas pinggulku.

Tanpa menunggu, mulai kumaju-mundurkan pelan-pelan batang kejantananku ke dalam vagina Mami. Mami memejamkan matanya menikmati gesekan-gesekan penisku yang keluar-masuk di lubang kemaluannya. Tapi setelah beberapa saat, dalam posisi miring ini kurasa masuknya kurang dalam.

Lalu secara perlahan kudorong bahu Mami sehingga telentang. Bersamaan dengan doronganku, kunaiki tubuh Mami sehingga batang kemaluanku yang ada di dalam vagina Mami tidak sampai terlepas. Mami sepertinya mengerti kemauanku dan malah membantu dengan memeluk badanku rapat-rapat serta membuka kakinya lebar-lebar.

Lalu kuayun penisku perlahan-lahan keluar-masuk. Karena Mami masih diam saja dan menutup kedua matanya, kutanyakan sambil berbisik di dekat telinganya.

"Mam, gimana, enak apa tidak?"

Kulihat Mami membuka matanya, lalu mencium bibirku serta berbisik, "Wan, teruskan, Sayang. Mami menikmatinya."

Setelah Mami selesai menjawab, kurasakan Mami mulai menggerakkan dan memutar pantatnya perlahan-lahan.

Karena Mami mulai bergerak, kuputuskan untuk menghentikan gerakan kemaluanku — dengan posisi penisku sudah masuk semua — ingin merasakan enaknya gerakan Mami saja. Namun mungkin karena merasakan aku diam, Mami ikut berhenti dan membuka matanya memandangku sayu seperti bertanya.

"Kenapa diam, Wan?"

Agar Mami tidak bertanya lebih lanjut, kukatakan di telinganya, "Mam, Iwan diam karena kepingin merasakan sedotan dan pijatan seperti tadi, Mam."

Mami hanya tersenyum dan memegangnya kepalaku, lalu mencium pipiku sambil berbisik, "Wan, kamu mulai nakal ya? Nih, Mami kasih apa yang Iwan minta!" lanjut Mami sambil memeluk badanku.

Tidak lama kemudian, terasa batang kemaluanku seperti disedot dan dipijat — mulai lemah, makin kuat, sehingga secara tidak sadar aku berbisik agak keras.

"Mam, enak. Aduh enak."

Karena sedotan dan pijatan itu terasa semakin kuat, secara tidak sadar kumulai lagi mengocok penisku keluar-masuk vagina Mami. Mula-mula pelan, lalu kupercepat.

"Mam, enak. Iwan mau lagi, Mam. Ayo, Mam!" teriakku.

Mungkin karena melihatku mulai bernafsu lagi, Mami langsung mulai menggerakkan pinggulnya yang makin lama makin cepat.

Selang beberapa lama, aku merasakan air maniku sudah mau keluar, tapi kucoba menahannya selama mungkin.

Tiba-tiba, "Mami, Mam, Iwan sudah mau keluar."

Mendengar bisikanku, gerakan pinggul Mami semakin cepat dan pelukan tangannya di badanku semakin keras.

"Wan, Mami juga sudah dekat, Wan. Ayo, Wan, sama-sama!"

Belum sampai Mami menyelesaikan kata-katanya, aku berteriak agak keras, "Mami, Iwan keluar!" sambil kubenamkan seluruh batang kemaluanku kuat-kuat ke dalam vagina Mami.

Bersamaan dengan itu, kudengar Mami pun berteriak cukup kuat, "Iwan, Mami keluar juga! Ayo, Wan, cepat!"

Dengan napas tersengal-sengal, kutelungkupkan badanku yang lemas di atas badan Mami, dan Mami pun dengan napasnya yang terengah-engah tergeletak tidak bertenaga dengan kedua tangannya terkapar di samping badannya.

Setelah napas sedikit teratur, kucabut batang kemaluanku dari dalam liang senggama Mami. Kujatuhkan badanku tiduran di samping Mami, dan terdengar Mami berbisik, "Terima kasih ya, Sayang."

Setelah berhenti sejenak, sambil mencium pipiku, Mami berkata lagi, "Wan, ini hanya kita berdua yang tahu ya. Papamu atau adikmu jangan sampai tahu."

Supaya hati Mami tenang, kujawab, "Mam, Iwan akan jaga itu. Terima kasih ya, Mam," sambil kucium pipi Mami.

Aku lalu bangun dan kami mandi bersama di kamar mandi Mami.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya