Mbak Iin, Kakak Iparku (Bagian 1)
Mbak Iin, Kakak Iparku (Bagian 1)
Sudah lama aku mengagumi Mbak Iin — biasa dipanggil Mbak In — kakak dari Nana istriku. Orangnya tidak terlalu tinggi, sekitar 160 cm, dengan wajah cantik alami dan kulit kuning langsat. Yang membuatku terpesona adalah buah dadanya yang begitu padat — belakangan baru aku ketahui kalau ukurannya 38C — ditambah dengan tubuhnya yang sintal, semakin menambah kesan seksi.
Dibandingkan dengan istriku Nana, dia lebih seksi dan dewasa, karena profesinya sebagai agen eksekutif mengharuskan dia ramah dan mudah bergaul. Usianya hanya satu tahun lebih tua dari usiaku yang 27 tahun. Selama ini Mbak In sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, karena dia memang selalu menjaga jarak dan bersikap anggun, sehingga aku semakin menghormatinya — meskipun di dalam hati ada hasrat liar untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Meskipun sudah menikah dan punya satu anak, postur tubuhnya tidak berubah, bahkan bertambah padat karena terus dilatih dengan olahraga teratur.
Hari Sabtu itu di rumahku suasananya sepi. Nana masuk kerja karena tutup buku di kantornya, sedangkan aku sendirian di rumah nonton TV. Di luar, hujan turun dengan derasnya disertai petir yang menggelegar.
"Ding dong... Ding dong..." bel rumahku berbunyi.
"Ah, siapa sih, hujan-hujan begini mengganggu orang saja...!" pikirku sambil malas mendekati pintu depan.
Ternyata Mbak In di luar pagar, kehujanan dengan blazer-nya yang basah kuyup. Segera kubuka pintu pagar dan mempersilakan dia masuk.
"Sorry, Hend. Aku mampir ke sini, abis Mas Roes belum pulang dari menjemput si Puput," katanya sambil menggigil kedinginan.
Tanpa menunggu jawabanku, Mbak In langsung masuk dan melepas jas luarnya yang basah, sehingga terlihat baju dalamnya yang tipis dan basah — memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. BH hitam kelihatan membayang di balik baju putihnya, sementara tonjolan di dadanya seolah menantang karena baju basah itu begitu menempel di tubuhnya. Sungguh pemandangan yang sangat indah yang tidak kusangka-sangka dapat kusaksikan hari itu.
"Mbak In mandi aja dulu dengan air hangat, biar tidak masuk angin. Nanti kuambilkan bajunya Nana," kataku setelah tersadar dari ketakjuban.
Ketika Mbak In mandi, kucarikan baju Nana yang kira-kira cukup untuknya dan terutama yang kelihatan seksi — atau paling tidak dapat menikmati lebih lama keindahan tubuh yang telah lama kuidamkan. Apalagi perkiraanku dia pasti tidak akan memakai celana dalam dan BH-nya yang basah, sehingga sedikit banyak aku pasti akan segera melihat sebagian tubuhnya yang indah.
"Hend... tolong handuk dong...!" teriak Mbak In dari kamar mandi.
"Ah, begonya aku sampai lupa tidak menyiapkan handuk dulu...!" batinku.
Sambil berlari, kuambil handuk dari dalam lemari dan kuberikan ke Mbak In yang sudah menunggu di pintu kamar mandi. Tapi dasar sial — atau keberuntungan — karena terburu-buru aku tidak melihat lantai licin bekas tetesan air dari tubuh Mbak In, sehingga aku terpeleset. Akibatnya dengan tanpa dapat dikontrol lagi, tubuhku terhuyung-huyung menerobos masuk pintu kamar mandi di mana Mbak In sudah menunggu dalam keadaan telanjang.
"Brak...!" Tubuhku menabrak pintu dan menerobos masuk tanpa dapat ditahan lagi oleh Mbak In. Aku langsung terduduk di lantai kamar mandi, sementara Mbak In berdiri telanjang di depanku — tertegun sampai lupa menutup bagian tubuhnya yang sensual.
Sesaat kami berdua tertegun tanpa berbuat apa-apa. Akhirnya aku sadar dan segera menyerahkan handuk itu ke Mbak In, lalu keluar dari kamar mandi dengan terpincang-pincang.
"Sorry, Mbak..." kataku.
"Ah, nggak apa-apa kok, kan kecelakaan, tidak sengaja," katanya memaklumi.
Setelah mengganti celana pendekku yang basah, di depan TV aku tidak dapat berkonsentrasi. Meskipun mataku tertuju ke layar, bayangan tubuh Mbak In terus membayang di benakku. Kemudian Mbak In keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang tidak mampu menutupi seluruh tonjolan bukit di dadanya.
"Ini, Mbak, bajunya," kataku masih gemetar sambil memberikan daster milik Nana, lalu langsung ke dapur mengambil air minum untuk menenangkan diri.
Kulihat pintu kamar belakang gelap dan tertutup. "Ah, dia masih ganti baju, atau mungkin langsung tidur," pikirku.
Aku langsung menuju kamarku yang pintunya setengah terbuka, dan, "Aaahh...!" teriak Mbak In.
Ternyata dia berdiri di depan kaca rias tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh indahnya. Balutan handuknya sudah dilepas tapi dia belum memakai daster yang kuberikan. Tangannya berusaha menutupi bagian tubuhnya, tapi tidak berhasil dengan baik, sehingga aku masih dapat melihat tubuh telanjangnya untuk kedua kalinya dengan jelas. Apalagi lampu kamar yang begitu terang, jauh lebih terang dari lampu kamar mandi, sehingga sangat jelas terlihat kemolekan dan keseksian tubuhnya.
Sebagai laki-laki normal, langsung saja alat kejantananku bereaksi keras melihat pemandangan indah tersebut.
"Sorry, Mbak. Aku... aku... kira Mbak di kamar belakang," kataku gugup, langsung keluar dan menutup pintu kamar. Masih sempat kulihat dia tersenyum dengan ekspresi yang tidak dapat kuterjemahkan artinya.
"Hend... tolongin Mbak dong...!" teriaknya dari dalam kamarku.
Perlahan kubuka pintu kamar, takut kalau kejadian tadi terulang lagi. Ternyata dia sudah duduk di kursi di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang masih basah, mengenakan baju tidur yang kubawakan tadi.
"Masuk aja, Hend. Nggak usah malu-malu," katanya pelan dan tenang.
Agak ragu aku melangkah masuk ke kamarku sendiri. Mbak In berdiri mendekatiku, dan langsung memelukku. Kurasakan dadanya menekan tubuhku — terasa hangat dan kenyal.
"Hend... sudah lama aku menginginkan saat-saat ini. Aku tahu kamu selalu berusaha mencuri pandang," katanya lembut.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena seolah dia menangkap basah pikiranku. Kupeluk balik dia dan kuusap punggungnya. Akhirnya aku tidak dapat menahan gejolak lagi ketika tangan Mbak In mulai mengusap kejantananku yang sudah menegang sejak kehadirannya di rumahku.
Dengan penuh nafsu, kubuka baju tidur yang belum lama dipakainya dan kusibakkan rambutnya yang basah. Mulai kucium leher jenjangnya, kujilati kulit halusnya — sudah lama aku mendambakan kesempatan indah ini.
"Aaaghh... ss... shh...!" desahnya sambil meremas batang kejantananku.
Tidak kusia-siakan kesempatan ini. Tanganku mulai mengelus dan meremas payudaranya yang besar dan indah yang sudah lama kuimpikan — begitu kenyal dan padat, meskipun sudah memiliki satu anak. Kuturunkan ciumanku ke pundaknya, terus turun lagi. Tapi tiba-tiba tubuhnya merosot dan berjongkok di depanku — ditariknya celana pendek sekaligus celana dalamku ke bawah, sehingga menyembullah kejantananku yang sudah lama menegang. Sejenak dia tertegun melihat alat vitalku.
"Hend, gede banget... jauh lebih gede dari punya Mas Roes. Dan lagi, bentuknya aneh — pasti enak deh di dalam," katanya sambil menengadah menatapku dan tersenyum simpul.
Sedetik kemudian dijilatinya ujungnya dan dimainkannya lidahnya — menari-nari di kepala kemaluanku. Terus dijilati dari ujung hingga pangkal, kemudian turun ke kantong kemaluanku. Kuangkat kaki kananku untuk memberinya jalan supaya lebih mudah. Kemudian jilatannya naik lagi ke atas, hingga akhirnya dengan agak susah dikulumnya kepala kejantananku perlahan tapi pasti. Akhirnya, tiga perempat batang kejantananku masuk ke dalam mulut mungilnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap kantong kemaluanku, tangan kanannya memegang dan mengocok batang kemaluanku, sementara kepala batangku masih di dalam mulutnya dengan tidak lupa digoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sungguh sensasi yang luar biasa.
"Aaahh... oosshh..." erangku sudah hampir tidak tahan.
Kupegang rambutnya dan kudorong-tarik hingga kemaluanku dapat bergerak leluasa keluar masuk di mulutnya. Kuangkat tubuhnya dan kutelentangkan di ranjang. Mulai kujilati putingnya secara bergantian kiri dan kanan — kurasakan badannya menggelinjang keenakan. Terus jilatanku turun ke perut, lalu sampai ke pusar, dan akhirnya menyentuh rambut bawahnya sambil tanganku bermain di daerah liang kewanitaannya yang sudah basah. Lidahku mulai menjelajahi daerah kemaluannya — sengaja aku tidak langsung ke arah klitoris, tapi berputar-putar di sekitar kemaluannya, terutama di lipatan pahanya, terus turun sampai ke lubang anus dan naik lagi. Diangkatnya pinggulnya naik turun mengimbangi gerakan lidahku.
"Hen... please... jangan goda aku begini..." desahnya sambil menarik rambutku, tapi kata-katanya tidak kupedulikan.
Kuteruskan jilatanku mulai ke arah klitoris sambil kumasukkan jariku ke lubang kenikmatannya — satu jari, dua jari, dan akhirnya tiga jari dapat masuk juga. Kugerakkan jariku keluar masuk sambil menjilat klitorisnya.
"Aaagghh... sshh... shh..." desahnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya semakin liar, seliar kilatan dan guntur di luar yang mengiringi irama permainan kami.
Akhirnya kuposisikan tubuhku di atasnya, kutindih tubuhnya — masih dapat kurasakan tonjolan di dadanya yang montok. Sementara tubuhku di atasnya, sedikit kuangkat pantat untuk memberi jalan tangannya supaya dapat memegang kejantananku dan diusap-usapkannya ke liang senggamanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, kudorong pantatku.
"Bless...!" dan, "Aaauu...!" dia menjerit kesakitan.
Badannya menegang dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Kudiamkan sejenak. Kulihat dia memejamkan matanya — kubiarkan menikmati saat-saat seperti ini. Meskipun sudah mempunyai satu anak, liang kemaluannya masih tetap kencang seperti belum pernah melahirkan.
Bersambung...