18px

Mbak Lala, Istri Sepupuku

Mbak Lala, Istri Sepupuku

Bekerja sebagai auditor di perusahaan swasta memang sangat melelahkan. Tenaga, pikiran, semuanya terkuras. Apalagi kalau ada masalah keuangan yang rumit dan harus segera diselesaikan. Akibat tekanan pekerjaan yang demikian, aku jadi akrab dengan gemerlapnya dunia malam, terutama kalau weekend. Biasanya bareng teman sekantor aku pergi berkaraoke untuk melepaskan beban — kadang di Manhattan, kadang di White House. Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan di kampung karena istriku punya usaha dagang di sana.

Tapi lama-kelamaan semua itu membuatku bosan. Di Jakarta ini, walaupun aku merantau, ternyata aku punya banyak saudara. Karena kesibukan — alasan klise — aku tidak sempat berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon Mas Adit, sepupuku. Kami pun bercanda ria karena sudah lama sekali tidak kontak. Mas Adit bekerja di salah satu perusahaan minyak asing, dan saat itu dia memberi tahu bahwa minggu depan dia ditugaskan perusahaannya ke tengah laut untuk mengantar logistik sekaligus membantu perbaikan peralatan rig yang rusak. Dia memintaku menemani keluarganya kalau tidak keberatan. Sebetulnya aku malas, karena rumah Mas Adit cukup jauh dari tempat kosku di Ciledug — Mas Adit tinggal di Bekasi. Tapi entah mengapa aku mengiyakan juga, sekalian silaturahmi setelah lama tidak jumpa.

Hari Jumat minggu berikutnya aku ditelepon Mas Adit untuk memastikan bahwa aku jadi menginap di rumahnya. Kata Mas Adit, istrinya — Mbak Lala — senang kalau aku mau datang, buat teman ngobrol dan teman main anak-anaknya. Mereka berdua sudah punya anak laki-laki dua orang: yang sulung kelas 4 SD, yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas Adit 40 tahun, Mbak Lala 38 tahun, sedangkan aku sendiri 30 tahun. Tidak beda jauh amat. Apalagi kata Mbak Lala, aku sudah lama sekali tidak berkunjung — tiga tahun lebih kami tidak berjumpa, paling-paling cuma lewat telepon.

Setelah makan siang, aku telepon Mbak Lala untuk janjian pulang bareng. Kami sepakat ketemu di stasiun karena Mbak Lala biasa pulang naik kereta. "Kalau naik bus macet banget. Lagian, sampai rumahnya terlalu malam," begitu alasannya. Jam lima sore aku bertemu Mbak Lala di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Cukup penuh, tapi kami masih bisa berdiri dengan nyaman. Kami pun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Lepas satu stasiun, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan. Beberapa kali, karena goyangan kereta, dada montok Mbak Lala menyentuh dadaku. Darahku rasanya berdesir dan mukaku berubah agak pias. Rupanya Mbak Lala melihat perubahanku dan — ini yang membuatku tersiksa — dia mengubah posisi dengan membelakangi. Karena sempitnya ruangan, kemaluanku menyentuh pantatnya yang bulat menggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga "itong" tidak bangun. Kami tetap mengobrol untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal, apalagi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga. Makin lama makin keras, dan aku yakin Mbak Lala bisa merasakannya di balik rok mininya.

Akhirnya sampai juga kami di Bekasi dan aku bersyukur siksaanku berakhir. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Lala diam saja. Sampai di rumah, kami beristirahat, mandi — sendiri-sendiri, tentunya — lalu makan malam bersama kedua keponakanku. Selesai makan, tidak lama kemudian keduanya pamit tidur.

"Ndrew, Mbak mau bicara sebentar," katanya, tegas sekali.

"Iya, Mbak... kenapa?" sahutku. Aku berdebar, yakin Mbak Lala akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.

"Terus terang aja ya. Mbak tahu kok perubahan kamu di kereta. Kamu ngaceng, kan?" katanya dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel. "Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!"

"Mmm... maaf, Mbak," ujarku terbata-bata. "Saya tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama... ya, aku tidak tahan."

"Terserah apa kata kamu. Yang jelas jangan sampai terulang lagi. Banyak cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!" bentak Mbak Lala.

"Iya, Mbak. Saya paham. Saya janji tidak mengulangi lagi."

"Ya sudah. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. Kalau pengen nonton film, masuk aja kamar Mbak." Rupanya tensinya sudah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS di ruang tengah. Karena bosan, aku mengetuk pintu kamarnya — pengen nonton film. Rupanya Mbak Lala sedang baca novel sambil tiduran, memakai daster panjang. Aku sempat mencuri pandang ke seluruh tubuhnya. Kuakui, walaupun punya anak dua, tubuh Mbak Lala betul-betul terpelihara. Aku pun segera menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.

Entah karena lelah atau sejuknya ruangan, aku pun tertidur. Kurang lebih dua jam, dan aku terbangun. Film telah selesai, Mbak Lala juga sudah tidur — terdengar dengkuran halusnya.

Saat aku beranjak hendak pindah kamar, aku terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kanan terangkat benar-benar membuat jantungku berdebar. Di depanku terpampang paha mulus karena dasternya sedikit tersingkap. Mbak Lala berkulit putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku tak karuan. Hatiku bertambah berdebar, napasku mulai memburu, birahiku pun timbul.

Perlahan kubelai paha itu — lembut — kusingkap daster itu sampai pangkal pahanya. Mbak Lala ternyata memakai celana dalam mini berwarna merah. Aku hanya menelan ludah melihat pantatnya yang tampak menggunung, celana dalam itu nyaris seperti G-string. Aku benar-benar terangsang melihat pemandangan indah itu, tapi aku juga merasa tidak enak hati — Mbak Lala adalah istri sepupuku, yang seharusnya aku temani dan lindungi kala suaminya tidak di rumah.

Namun godaan syahwat memang mengalahkan segalanya. Tak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan kemaluannya berwarna kemerahan. Aku bingung — tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat. Akhirnya pelan-pelan kujilati dengan rasa was-was takut Mbak Lala bangun. Ternyata rasanya lezat juga, ditambah bulu kemaluannya yang sedikit sehingga aku leluasa menikmati aromanya.

Entah setan apa yang menguasai diriku — tahu-tahu aku sudah mencopot seluruh celanaku. Setelah kemaluanku kubasahi dengan ludah, segera kubenamkan ke dalam Mbak Lala. Agak susah karena posisinya, dan aku harus ekstra hati-hati supaya dia tidak terbangun. Akhirnya berhasil masuk. Hangat rasanya, sempit tapi licin, seperti piston di dalam silinder. Kugenjot perlahan-lahan — naik turun, lembut. Tapi ternyata tidak sampai lima menit aku sudah tidak tahan. Kupancarkan maniku di dalam.

"Mmm... kok dicabut tititnya..." suara Mbak Lala parau karena masih setengah ngantuk. "Gantian dong... aku juga pengen..."

Aku kaget bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.

Benar saja — Mbak Lala membalikkan badannya. Seketika dia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Adit, melainkan aku, adik sepupunya.

"Kurang ajar kamu, Ndrew," makinya. "KELUAR KAMU...!"

Aku segera keluar dan masuk kamar tamu. Di dalam kamar aku benar-benar gelisah — takut, malu. Apalagi kalau Mbak Lala sampai lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan.

Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang bisa membuatku mengantuk. Entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa ada yang membelai kemaluanku. Napas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata.

"Mbak Lala... jangan," pintaku sambil menarik tubuhku.

"Ndrew..." sahut Mbak Lala, setengah terkejut. "Maaf ya kalau tadi aku marah-marah. Aku benar-benar kaget melihat kamu tidak pakai celana, ngaceng lagi."

"Terus, Mbak maunya apa?"

"Terus terang, Ndrew — habis marah-marah tadi, Mbak bersihin dari sperma kamu dan disiram air dingin supaya tidak ikutan horny. Tapi... Mbak kebayang-bayang tititmu. Soalnya Mbak belum pernah melihat seperti punya kamu. Imut, tapi di dalam kerasa." Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menunggu jawabanku, dikulumnya kemaluanku seketika sehingga aku tersentak. Mbak Lala begitu rakus melumat kemaluanku. Bahkan aku merasakan ujungnya mentok sampai ke kerongkongannya. Secara refleks, Mbak Lala naik ke tempat tidur, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisi kami saat ini 69. Dan Mbak Lala sudah melepas celana dalamnya. Aku melihat kemaluannya makin membengkak merah — labia mayoranya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan, segera kuserbu dengan bibirku.

"Sshh... ahh... Ndrew... iya... gitu... he-eh... mmmffhh... sshh... aahh..." Mbak Lala merintih menahan nikmat. Aku pun menikmati kemaluannya yang ternyata benar-benar becek.

"Itilnya... dong... Ndrew... mm... IYAA... AAHH... KENA AKU... AMPUUNN NDREEWW..."

Mbak Lala makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan tak beraturan. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap klitorisnya. Tapi rupanya kelihaian lidah Mbak Lala masih mengalahinku — aku merasa ada yang mendesak, seolah mau menyembur.

"Mbak... mau keluar nih..."

Tapi Mbak Lala tidak mempedulikan ucapanku dan makin ganas mengulum kemaluanku. Aku makin tidak tahan hingga akhirnya spermaku muncrat di mulut Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.

"Ndreeww... kamu ngaceng terus ya... Mbak belum kebagian nih..." pintanya.

Aku hanya bisa meringis menahan geli karena Mbak Lala melanjutkan mengisap kemaluanku. Anehnya, kemaluanku seperti menuruti kemauannya — langsung bangun lagi. Mungkin karena pengaruh lendir Mbak Lala, sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati klitoris dan cairan kemaluannya.

Tiba-tiba Mbak Lala bangkit dan melepaskan dasternya.

"Copot bajumu semua, Ndrew," perintahnya.

Aku menuruti perintahnya dan terperangah melihat pemandangan indah di depanku. Buah dadanya membusung tegak, kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya — benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku. Segera Mbak Lala berlutut di atasku, dan tangannya membimbing kemaluanku ke lubang kemaluannya yang panas dan basah.

"Aduhh... Ndrew... tititmu keras banget yah... kok bisa kayak kayu sih...?" rintihnya.

Mbak Lala dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali diselingi gerakan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat kemaluannya yang basah makin keras. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang. Mbak Lala makin keras goyangnya, tubuh dan kemaluannya makin panas, napasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggulnya makin cepat, cairan kemaluannya membanjir, napasnya memburu, dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang — bergetar hebat, napasnya tertahan.

"MMFF... SSHSHH... AAIIHH... OUUGGHH... NDREEWW... MBAK KELUAARR... AAHHSSHH..."

Mbak Lala menjerit dan mengerang seiring puncak kenikmatan yang diraihnya. Kemaluannya terasa sangat panas dan gerakan pinggulnya demikian liar sehingga aku merasakan kemaluanku seperti dipelintir. Akhirnya Mbak Lala roboh di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan.

Tak disangka, setelah istirahat sejenak, Mbak Lala berdiri dan duduk di pinggir tempat tidur. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang, kedua tangannya menyangga tubuhnya.

"Ndrew, ayo cepat masukkan lagi. Itil Mbak rasanya kencang lagi..." pintanya setengah memaksa.

Apa boleh buat, kuturuti kemauannya. Perlahan kugosok-gosokkan kemaluanku ke bibir kemaluan dan klitorisnya. Mbak Lala mulai memerah lagi, klitorisnya langsung menegang, dan lendirnya membasahi dinding kemaluannya.

"Sshh... mm... Ndrew... kamu jail banget siicchh... oohh..." rintihnya. "Masukkan aja, sayang... jangan siksa aku, pleeaassee..." rengeknya.

Mendengar dia merintih dan merengek, aku makin bertafsu. Perlahan kumasukkan kemaluanku yang masih tegak ke kemaluannya yang sangat becek dan panas. Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan memutar. Mbak Lala mulai gelisah, napasnya makin memburu, tubuhnya gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok klitorisnya. Iseng-iseng kucabut kemaluanku, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan — basah sekali.

Gerakan jariku di klitorisnya makin kupercepat; Mbak Lala makin tidak karuan. Kakinya mulai kejang dan gemetar, demikian pula sekujur tubuhnya. Lubang kemaluannya makin becek, lendirnya meleleh dengan derasnya — segera saja kusambar dengan lidahku. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Lala, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras.

Kupandangi kemaluannya lagi, dan aku melihat ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar. Napas Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil, dan cairan hangat muncrat dari kemaluannya.

"Mbak... udah keluar?"

"Beluumm... Ndreew... ayo, sayang... masukkan kontolmu... aku hampir sampaii..." erangnya.

Rupanya Mbak Lala sampai terkencing-kencing menahan nikmat.

Akibat pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar, dan segera saja kugenjot Mbak Lala sekuat dan secepat aku mampu, sampai akhirnya...

"NDREEWW... AKU KELUAARR... OOHH... SAYANG... MMHH... AAGGHH... UUFF..." Mbak Lala menjerit dan mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang.

Bola matanya tampak memutih, dan aku merasakan jepitan di kemaluanku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku.

"Mbak... aku mau muncrat nih..."

"Keluarkan, sayang... keluarkan di dalam... aku pengen kehangatan spermamu sekali lagi..." pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya dan menepuk-nepuk pinggangku.

Seketika itu juga aku pun mengeluarkan semuanya.

"MBAAKK... MBAAKK... OOGGHH... AKU MUNCRAT MBAAKK..." aku berteriak.

"Hmm... ayo sayang... keluarkan semua... habiskan semua... nikmati, sayang... ayo... oohh... hangat... hangat sekali spermamu di rahimku... mmhh..." desah Mbak Lala manja.

Aku pun terkulai di atas tubuh moleknya dengan napas satu dua. Benar-benar malam yang melelahkan sekaligus surgawi.

"Ndrew, makasih ya... kamu bisa melepaskan hasratku..." Mbak Lala tersenyum puas.

"He-eh, Mbak... aku juga. Makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kita kalau sampai tahu."

"Waahh... kurang ajar juga kau ya," kata Mbak Lala sambil memencet hidungku. "Aku tidak menyangka kalau adik sepupuku ini pikirannya ngeseks melulu. Tapi sekarang impian kamu jadi kenyataan, kan?"

"Iya, Mbak. Makasih banget. Aku boleh menikmati semua bagian tubuh Mbak."

"Kamu pengalaman pertamaku, Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak bersetubuh dengan laki-laki selain Mas Adit. Tidak ada yang aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih besar dari punya kamu. Mas Adit juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar kalau lagi bareng Mas Adit," sahutnya.

"Terus, kok keliatan puas banget? Cari variasi ya?"

"Ini pertama kalinya aku sampai terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer, baru kali ini Mbak sampai begitu. Kamu nggak jijik?"

"Ooohh... itu toh? Kenapa harus jijik? Justru aku makin horny." Aku tersenyum.

Kami berpelukan dan akhirnya terlelap. Kulihat senyum tersungging di bibir Mbak Lalaku tersayang.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya