Memuaskan Nafsu Keponakanku (Bagian 2)
Memuaskan Nafsu Keponakanku (Bagian 2)
Sore itu aku sedang menonton TV di kamar hotelku ketika telepon berbunyi. Kuraih pesawat telepon yang terletak di meja samping ranjangku.
"Hallo, Oom Robert. Ini Andi. Apa kabar?"
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Lumayan. Kemarin Lolita cerita kalau ketemu dengan Oom di Tunjungan Plaza ya?"
Kami pun lalu berbasa-basi sejenak. Kuraih remote TV karena suaranya terlalu keras sehingga mengganggu pembicaraan kami.
"Oom... saya ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Boleh saya mampir?"
"Of course. Ada apa sih?" tanyaku sedikit khawatir. Jangan-jangan Lolita cerita tentang kejadian kemarin.
"Nanti aja deh saya cerita. Jam 5 nanti saya ke hotel ya," jawab Andi di seberang sana.
Sekitar jam 5.15, terdengar bunyi bel pintu di kamarku. Seperti kuduga, ternyata Andi, suami Lolita keponakanku, yang datang.
"Masuk, Di."
"Makasih, Oom."
Kami pun kemudian berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing. Tak lama akupun bertanya maksud sebenarnya kedatangan Andi.
"Begini, Oom. Mungkin Lolita sudah cerita tentang keadaan saya. Saya datang untuk minta bantuan Oom."
"Bantuan apa, Di?" tanyaku walau sebenarnya aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya.
"Jangan tersinggung ya, Oom. Kami minta supaya Oom sewaktu-waktu jadi suami pengganti buat Lolita."
"Maksudmu?"
"Oom kan tahu. Saya tidak bisa memenuhi kebutuhan seks Lolita karena penyakit saya. Mungkin Oom Robert berkenan memenuhinya."
Andi pun kemudian bercerita lebih lanjut bahwa sudah beberapa bulan Lolita memintanya untuk mencarikan lelaki yang dapat memuaskan birahinya. Karena ia sangat menyayangi istrinya dan takut bila Lolita menuntut cerai, iapun terpaksa menyanggupi. Tetapi sampai saat ini belum ada yang cocok. Kemarin, setelah Lolita bertemu denganku, Lolita meminta suaminya untuk menanyakan kesediaanku menjadi pemuas birahinya.
"Tolong ya, Oom. Kasihan istri saya. Dia masih muda. Please ya, Oom. Dia mengancam akan panggil gigolo atau bahkan akan menceraikan saya bila saya gagal membujuk Oom," Andi setengah merengek memintaku untuk meniduri istrinya yang cantik itu.
Aku pun terdiam. Dalam hati aku heran mengapa selalu saja wanita memandangku sebagai pemuas nafsu mereka. Entah ini berkah atau kutukan bagiku.
"Ok deh. Ini karena saya kasihan saja sama kalian," jawabku.
"Terima kasih ya, Oom. Nanti malam jam berapa saya ajak Lolita ke sini?"
"Jam 8 deh," sahutku.
Andi pun kemudian pamit meninggalkan kamarku.
Jam 7.45 mereka telah tiba di kamarku. Lolita tampak cantik malam itu menggunakan gaun malam terusan yang memamerkan pundaknya yang putih mulus.
"Saya tinggal ya, Oom," kata Andi sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan. Kamu tetap di sini saja. Siapa tahu kamu sembuh nanti setelah melihatku menyetubuhi istrimu," perintahku.
Sudah kepalang tanggung, pikirku. Aku pun harus menikmati malam ini. Menyetubuhi istri orang di depan suaminya adalah salah satu favoritku. Lolita tampak kaget mendengar permintaanku itu, tetapi dia tetap diam tidak menyuarakan penolakan.
Kuhampiri Lolita yang duduk di tepi ranjang dan aku pun duduk di sampingnya.
"Nggak apa, khan, sayang, kalau suamimu nonton?" tanyaku sambil mengelus-elus pundaknya yang halus.
"Ng... nggak," jawabnya agak gugup, wajahnya memerah menahan malu.
"Tuh, Di, nggak apa kok. Sudah, kamu duduk aja yang manis di situ. Oom akan mulai memuaskan istrimu, OK?" kataku pada Andi.
Andi pun menurut dan duduk di kursi menatap ke arah kami. Kumulai menciumi pundak Lolita yang mulus, kemudian dengan lidahku kutelusuri lehernya yang jenjang.
Lolita mulai mengerang ketika, sambil kujilati lehernya, tanganku mulai merabai buah dadanya. Kuremas rambutnya dan kutarik wajahnya ke arahku sehingga aku pun dapat melumat bibirnya dengan penuh gairah. Lolita pun nampak bernafsu sekali menciumiku. Lidahku yang menerobos ke dalam mulutnya dikulumnya dengan gemas, sementara tanganku yang mengusap-usap dadanya merasakan puting buah dada itu mulai mengeras.
"Sekarang aku akan menghisap buah dada istrimu. Kamu perhatikan baik-baik ya," kataku pada Andi yang menatap tak berkedip.
Kuturunkan perlahan tali gaun malam Lolita sehingga buah dadanya yang kecil tapi padat itu nampak. Langsung kuterkam buah dada itu, kuhisapi dan kujilati putingnya. Erangan Lolita makin keras memenuhi ruangan kamarku.
"Enak... Oom... ahh..." desah Lolita sambil tangannya semakin menekan kepalaku ke buah dadanya.
Kujilati dan kuhisap buah dada keponakanku yang cantik ini sepuasnya. Sesekali sambil menjilati putingnya, aku melirik ke arah Andi, suaminya.
Setelah puas memainkan buah dadanya, aku membetulkan kembali tali gaun malam Lolita. Kemudian aku bangkit berdiri di depannya. Kulepas dengan segera semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat berdiri di depan Lolita, istri Andi yang cantik itu. Tampak mata Lolita sedikit terbelalak melihat ukuran kemaluanku yang mencuat di depan wajahnya.
"Seperti ini yang kamu inginkan, Lit?" tanyaku.
"Iya, Oom... Lita suka yang besar dan keras seperti ini..." jawabnya.
Tangannya yang halus mulai mengocok kemaluanku perlahan.
"Kamu dengar, Andi? Istrimu suka kontol yang besar dan keras. Kamu harus rajin berobat ya," kataku. "Sekarang aku akan minta istrimu menghisapi kontolku. Kamu tidak keberatan, khan?" tanyaku lagi.
"Gimana keberatan nggak? Kalau keberatan kita sudahi saja," kataku karena Andi belum menjawab.
"Nggak, Oom," jawabnya lirih.
"Bagus kalau gitu," kataku sambil tersenyum menatapnya.
"Ayo, sayang... kamu mulai hisap barang Oom ya," kataku pada Lolita sambil menaikkan kedua tanganku ke pinggang. Rasa hangat mulai kurasakan ketika kemaluanku mulai masuk menyesaki mulut Lolita keponakanku.
Kuremas-remas rambutnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain masih berkacak pinggang.
"Ups... sorry, suamimu nggak kelihatan tuh," kataku sambil menarik keluar kemaluanku dari mulut Lolita. Aku pun memposisikan tubuhku agak menyamping sehingga Andi dapat melihat dengan jelas adegan kami.
"Gimana, Di? Sekarang kelihatan, khan? Kamu bisa lihat istrimu dengan jelas?" tanyaku retoris. Kembali kujejalkan kemaluanku dalam mulut Lolita. Lolita pun dengan bernafsu mengulumi dan menjilati kemaluanku.
Aku masih berkacak pinggang sambil sesekali menoleh ke arah Andi. Dia tampak berusaha menahan perasaannya melihat istrinya tercinta sedang menyedoti kemaluan besar lelaki lain, sementara Lolita masih dengan penuh gairah memainkan kemaluanku dengan mulutnya yang hangat.
"Ehmm... ehm..." desah Lolita sambil terus menghisapi kemaluanku.
Jemari tangannya yang lentik dengan perlahan mengocok batang kemaluanku. Memang kasihan keponakanku ini — sebagai wanita cantik, sudah beberapa lama ia tidak bisa menyalurkan hasrat seksualnya.
"Di, aku akan keluar di dalam mulut istrimu. Is it OK?" tanyaku lagi menggoda Andi.
Dia masih asyik menatap istrinya yang sedang mengulum kemaluanku dengan penuh nafsu. Kupandang ke bawah dan tampak wajah cantik Lolita yang sedang mengulumi kejantananku, sementara tangannya yang halus mengusap-usap buah zakarku.
"Look at me..." perintahku.
Lolita pun melihat ke atas dan menatapku dengan tatapan nakal menggoda. Tak tahan lagi aku dibuatnya.
"Ahh..." erangku ketika aku berejakulasi di dalam mulut Lolita, keponakanku yang cantik ini. Lolita dengan rakus menelan semua cairan ejakulasiku dan menjilati sampai bersih yang masih tertinggal di kemaluanku.
"Luar biasa istrimu, Di. Enak sekali hisapannya," kataku sambil tersenyum puas.
Kulihat Lolita sedang mengusap bibirnya dengan tisu, kemudian beranjak ke toilet.
Aku pun kemudian beristirahat sejenak sambil menonton TV di sofa.
"Gimana, Di... kamu bisa ereksi nggak, lihat yang tadi?" tanyaku.
"Sedikit, Oom..." jawabnya.
"Ya... semoga cepat sembuh deh... sayang, lho, istri cantik nggak dipakai," jawabku.
Lolita kemudian duduk di sampingku di sofa. Tak lama kami pun telah kembali berciuman. Tangannya yang halus kembali dengan lembut mengusap-usap barang kesukaannya.
"Lita hisap lagi ya, Oom... biar cepat naik," pintanya.
"Minta izin dulu dong sama suamimu," jawabku menggoda.
"Iih, Oom Robert... Mas Andi, boleh ya aku hisap kontolnya Oom Robert?" tanyanya manja.
Andi yang duduk di sampingku hanya mengangguk pasrah. Lolita pun kemudian berlutut di depanku dan mulai melingkarkan bibirnya di kepala kemaluanku. Karena kemaluanku belum ereksi, hampir semuanya masuk dikulum keponakanku ini.
Tak lama, kemaluanku pun semakin membengkak, dan mulut Lolita pun mulai kewalahan menampung besarnya kejantananku. Setelah ereksi penuh, hanya sepertiga bagian saja yang bisa dikulumnya, sementara tangannya mulai mengocok sisanya.
"Di... rasanya sekarang waktunya aku menyetubuhi istrimu. Kamu nggak berubah pikiran, khan?" tanyaku sambil tersenyum.
Andi pun menggelengkan kepalanya. Langsung kutarik tubuh Lolita, dan dia pun berdiri untuk kemudian duduk di pangkuanku. Kuciumin lagi bibirnya, kemudian kuturunkan tali gaun malamnya.
"Ayo, buka saja, sayang," kataku.
Lolita pun kemudian membuka gaun malamnya sehingga hanya celana dalam G-string yang masih dikenakannya. Kembali dia menaiki tubuhku, menyibakkan celana dalamnya, dan mengarahkan liang vaginanya ke kemaluanku.
Rasa nikmat menjalar ketika secara perlahan liang vagina Lolita menjepit ketat kejantananku. Kemudian Lolita pun dengan bernafsu memompa tubuhnya di atas kemaluanku.
"Ohh... ohh... fuck me... fuck me..." racau Lolita menahan nikmat.
Kupegang pinggangnya yang ramping dan kupompa juga tubuhnya dari bawah. Suara sofa yang bergoyang serta erangan Lolita membuatku makin terangsang. Sesekali kuhisap buah dadanya dan kuremas-remas pantatnya.
"Oohh... faster... faster... ya... that's right... oohh... faster... faster..." erang Lolita mendaki bukit kepuasan birahi.
Tak lama tubuh Lolita pun mengejang dan iapun menjerit ketika mendapatkan orgasmenya. Aku pun semakin cepat memompa tubuhnya yang masih menggelinjang dalam dekapanku, dan akhirnya aku pun menyemburkan ejakulasiku dalam vagina keponakan cantikku ini.
"Terima kasih ya, Oom," kata Lolita manis. Tampak wajahnya bersinar-sinar setelah melampiaskan nafsunya yang terpendam selama ini.
"Ya... sama-sama," jawabku.
"Nanti kalau ke Surabaya lagi, mampir tengokin Lita lagi ya."
"OK deh... kamu juga kalau ke Jakarta telepon Oom ya."
Lolita kemudian berpaling ke suaminya.
"Thanks ya, Mas Andi... mau memenuhi kebutuhan Lita," kata Lolita sambil mencium mesra Andi, suaminya.
Mereka pun kemudian pamit pulang.
"Permisi ya, Oom. Terima kasih atas bantuannya."
"Ok, Andi. Semoga cepat sembuh ya. Sorry lho ya, kalau kata-kataku menyinggung kamu. Maksudku supaya kamu bisa lebih terangsang dan cepat sembuh."
"Iya, Oom. Andi ngerti kok."
Setelah mereka pulang, aku pun menuju kamar mandi untuk mandi air hangat. Enak sekali tubuhku saat itu. Setelah menahan birahiku yang belum tuntas saat bermesraan dengan sekretaris Pak Joko pagi tadi, akhirnya kesampaian juga bersetubuh dengan wanita secantik Lolita. Sayang besok aku sudah harus kembali ke Jakarta karena ada meeting dengan klienku. Tapi mungkin aku akan sering mengunjungi kantor cabangku di Surabaya ini — tentu saja ini adalah alasan yang paling baik untuk mengunjungi Lolita, keponakanku yang cantik.
Tamat