Mencoba Kejantanan Lima Prajurit
Mencoba Kejantanan Lima Prajurit
Pada suatu sore, saat aku bersama Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, hujan turun cukup deras sehingga jalanan kurang tampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir saat itu sebenarnya mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes, mobil yang kami naiki keluar jalur dan terperosok ke dalam parit. Untungnya Dewi tidak sedang ngebut, sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur semestinya.
"Waduh, Sus! Nggak bisa keluar nih bannya. Mana HP-ku habis baterainya, wah, gimana nih?" Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.
"HP-ku juga nih. Mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi. Kalau gini sih, meski ada orang yang memperkosa kita nggak apa-apa deh, asal kita diantar pulang saja," aku ngomong sekenanya.
"Gila kau, Sus. Tapi benar juga — asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe!"
"Loh, semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha!" Kami tertawa seakan-akan sudah terlepas dari masalah.
"Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus," gerutu Dewi.
"Habis gimana lagi, di luar kan hujan."
"Yah, kamu. Nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan. Ya sudah, aku saja yang keluar, coba kudorong mobil ini keluar dari lubang." Dewi nekat, dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.
Aku melihat Dewi berusaha keras mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.
"Sus, hidupkan mesinnya!" Dewi berteriak. Kuhidupkan mesin, lalu kuganti gigi mundur — ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan mencoba mendorong bersama, tapi tidak membawa perubahan yang berarti.
"Ya, nggak bisa juga, Wik," keluhku.
"Iya, tapi bodi kamu cukup bagus, basah-basah begini, Sus."
"Kamu itu mabuk ya? Tapi bodi kamu juga terlihat bagus." Lalu kami tertawa-tawa.
"Hei, Sus, itu ada mobil, kita cegat yuk!" Dewi menunjuk ke arah sebuah truk yang semakin mendekat. Kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan. Kami berhasil — ternyata itu truk tentara.
"Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?" teriak sopir truk. Kami menghampirinya.
"Itu, Pak, mobil kami masuk parit. Jadi tidak bisa jalan lagi nih, Pak," kujawab dengan nada yang mesra.
"O iya! Hei, anak-anak, bantu nyonya-nyonya ini, ayo cepat." Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.
"Mari, Nyonya, Anda yang pegang kemudi," kata salah satunya kepadaku dengan tegas. Kujawab, "Loh, kok Nyonya sih? Kan aku masih muda dan single lagi," sambil kugoda dia. Badannya tegap, tampangnya tidak jelek-jelek amat — yang penting bodinya kekar.
Kucoba menghidupkan mesin beberapa kali tapi tidak mau hidup-hidup. Ternyata bensinnya sudah habis.
"Waduh, Mas, bensinnya habis. Ada cadangan nggak?" teriakku.
"Waduh, maaf, Nona, kami tidak punya."
"Ya sudah, kalau begitu kami ikut kalian saja." Setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.
Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu. Kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun. Lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua.
"Kenapa? Suka dengan bodi aku, hmm?" godaku. Kulihat jakun-nya naik-turun dan matanya tak henti-hentinya memandangi payudaraku yang cukup montok dan seksi. Lalu kupegang tangannya dan kudekatkan ke payudaraku.
"Gruungg!" Suara itu tiba-tiba merusak suasana hening.
"Hei, jangan berangkat dulu!" Mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir — entah apa yang mereka bicarakan.
"Sus, kamu sudah gila ya?" tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.
"Sudahlah, lagian kita kan kedinginan, butuh penghangat dong," sambil kucubit payudara kirinya. Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.
Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti baju masing-masing.
"Nona, jangan salahkan kami karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita. Mungkin nanti agak kasar," kata salah seorang prajurit yang tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat bibirku dengan halus. Ternyata dia mahir memainkan lidahnya — napasku habis rasanya. Sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal di dalam truk yang cukup luas itu, dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium, dan mengulum dada montok milik Dewi.
Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah, merasakan kenikmatan. Setelah itu dia merambat mengerjai payudara sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst, sungguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu.
Sekilas kulihat supir tadi juga sudah naik. Dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekati dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku. Langsung aku mendesis dan mengerang. Dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya. Kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya dan batang kemaluannya yang lumayan besar pun keluar, langsung kulahap. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengerang-ngerang sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak napas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah sopir truk yang menjilat dan menggigit lembut klitorisku sampai tubuhku mengejang, dan tak lama kemudian cairan dari liang kewanitaanku pun mengalir banyak.
Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku, lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiriku. Ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara dua prajurit.
"Gila, Sus... ugh... sst!" Dewi mulutnya mengoceh tidak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai dari depan dan belakang.
Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk menungging. Setelah menungging di atas salah seorang dari mereka, batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku. Pantatku ditarik dengan keras hingga masuk semua batang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.
Setelah beberapa kali genjotan, prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku.
"Ssst, aah, aah!" Gila, sakit sekali. Baru kali ini anusku digarap orang. "Aaakkh!" Aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku.
Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayangkan — meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua. Tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku.
Batang kemaluan besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian didorongnya ke mulutku. Kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku.
"Ayo, Nona, sedot yang kuat!" kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku.
"Uuugh, aakh, esst..." Suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut-menyahut dalam truk itu.
Saat kulihat ke sebelah, Dewi sudah terkapar dan lemas, sesekali mengerang karena prajurit itu masih getol menyetubuhinya. Gila, aku hampir mencapai orgasme untuk ketiga kalinya. Beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku dari depan dan belakang sama-sama mengerang serta merangkul kuat-kuat tubuhku. Kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, dan aku pun mencapai klimaks yang ketiga.
Setelah mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku, sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauh. Dewi pun mulai ditinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat.
"Ayo sini, kita gantian. Aku pingin rasain juga dia," kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa. Waduh, habis aku ini.
Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku. Setelah batang kemaluannya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblaslah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, tangannya tak henti-hentinya mengangkat turunkanku. Posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok batang kemaluan lain. Aku menjerit dan mengerang kesakitan. Payudaraku digerayangi dengan brutal.
Setelah beberapa saat dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian disuruh mengangkangi seorang prajurit. Setelah pas, masuk kembali batang kemaluan besar itu ke dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang. Bukannya masuk ke duburku, melainkan juga mencoba masuk ke dalam liang kewanitaanku. Gila prajurit ini. Dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga meski hanya setengahnya, tapi sakitnya bukan main — aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak digubris. Karena mungkin tidak memuaskan baginya, batang kemaluan yang masuk setengah itu dicabutnya, kemudian dengan serta-merta disodokkan ke duburku dengan keras, lalu digesek dengan brutal. Tak lama kemudian dia mencapai klimaks, dan setelah beberapa saat batang kemaluannya pun dicabutnya.
Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja. Aku mengubah posisi — nangkring di atas selangkangannya, lalu mulai naik-turun dan sedikit goyang kanan-kiri hingga tak lama kemudian pertahanannya mulai goyang. Begitu pula aku — sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku disembur cairan hangat dan aku pun mencapai klimaks yang keempat. Kami saling mengerang, lalu aku menggulingkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas.
Kulihat Dewi masih dikerjai tiga orang prajurit. Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi, dengan sedikit sempoyongan aku menghampiri mereka, kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya menggarap dubur Dewi. Lalu kukangkangi dia. Setelah posisi tepat, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluannya. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan spermanya hingga menyemburlah ke dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks, kepalang tanggung — tetap kugoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.
Setelah selesai, para prajurit itu tampak kelelahan. Aku menghampiri Dewi dan melihat wajahnya sudah sangat lelah.
"Gimana, Wik?" bisikku.
"Wah, habis aku. Sampai klimaks lima kali, Sus," Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya.
Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku. Kami menghubungi jasa mobil derek, kemudian beristirahat setelah mandi bersama.