18px

Misteri Villa Forest Garden - Malam Penuh Nafsu

Misteri Villa Forest Garden - Malam Penuh Nafsu

Dan malam ini Danny siap melaksanakan tugas dan membantu istrinya hingga para tamunya benar-benar mendapatkan kepuasan lahir batin. Pedro dan Tory datang. Seperti biasanya mereka datang hanya dengan celana dalam. Tampak tubuh-tubuh mereka yang sangat kokoh, berotot, dan tentu saja indah. Lia serta merta menyambut mereka. Lia berada di tengah-tengah mereka, menggayut pinggang mereka dengan manja dan menuntunnya ke ranjang.

Kemudian bersama-sama mereka menjatuhkan diri ke ranjang; kedua begundal itu saling berganti berpagutan dengan Lia. Dan dengan penuh keterampilan, satu persatu Lia melepaskan cawat Pedro kemudian Tory. Kemaluan mereka langsung mengayun; tangan Lia cepat meraihnya, mengelus-elusnya dengan penuh kelembutan.

Di pihak lain, tangan-tangan Pedro dan Tory melepaskan pakaian Lia. Tampak celana dalamnya sengaja dibiarkan tidak dilepas. Mulai terdengar desahan. Bibir Lia merekah menahan haus saat matanya melihat kemaluan Pedro yang dielusnya. Pedro tahu. Diraihnya rambut panjang Lia, dan ditekannya kepalanya hingga bibirnya menyentuh ujung kemaluan besar itu. Dan tak pelak lagi, mulut Lia langsung melahap dan mengulum kemaluan Pedro.

"Hai, anjing! Sini!" terdengar Tory memanggil Danny yang selalu siap.

"Aku tadi buang air lupa belum cebok. Sini, cebokin aku pakai lidahmu." Danny yang telah ngaceng berat menyaksikan kemaluan besar dalam mulut istrinya sangat bergairah menerima tugas dari Tory.

Dengan mengangkat salah satu kakinya ke atas ranjang, terbukalah daerah anal Tory. Danny mendekat kemudian menenggelamkan wajahnya ke pantat Tory dan tak ayal lagi langsung menceboki dengan cara menjilati anal Tory hingga segalanya bersih. Dia lakukan pula hal itu pada Pedro atas permintaannya dengan alasan yang sama.

Pada kesempatan itu, didorong oleh birahi Danny yang meledak-ledak tak tertahankan, sambil menjilat anal Pedro dan Tory, Danny beronani. Tangannya menekan-nekan, mengelus, dan mengocok-ngocok kemaluannya hingga pre-cum-nya keluar.

Lia merasakan mendapatkan kesempatan yang sangat memuaskan dalam menyalurkan naluri libidonya. Dia dapat melaksanakan obsesinya secara hewaniah dalam melampiaskan dendam birahinya yang selama ini divonis sebagai dosa, tabu, menyimpang, selingkuh, dan sebagainya.

Tory dan Pedro telah memberikan kesempatan seluas-luasnya baginya untuk menjangkau kepuasan seksualnya. Dalam hal ini seakan Pedro maupun Tory menempatkan dirinya sebagai fasilitator yang menjembatani khayalan-khayalan seksnya menjadi kenyataan—bukan sekadar teori, tetapi juga sarana, kemampuan, kekuatan, dan ketahanan Pedro maupun Tory yang sungguh tak terperikan.

Kemaluan-kemaluan Pedro dan Tory merupakan sarana utama yang mampu memenuhi harapan dan keinginan Lia untuk sungguh-sungguh menjadi istri dambaan Danny itu. Setiap Lia menyaksikan kemaluan-kemaluan itu, dengan tanpa menunggu lagi, respon birahi Lia langsung mencuat. Mulut Lia selalu siap menjemput untuk mengulumnya. Memek Lia yang ranum selalu menunggu untuk ditembus. Pinggul dan pantat Lia siap "ngebor" agar Tory dan Pedro mendapatkan layanan kenikmatan dari Lia semaksimal mungkin.

Sementara itu bagi Pedro dan Tory, kehadiran Lia di vila indah di tengah hutan ini sungguh merupakan rezeki nomplok. Bidadari, dewi, sang jelita, peri yang cantik—perempuan sintal, perempuan binal, yang paling pantas menjadi lambang kepuasan lelaki macam Pedro dan Tory.

Melihat Lia, menyaksikan buah dadanya yang selalu ranum, menyaksikan kemaluannya yang indah membukit, menyaksikan lembah-lembah pinggulnya, perutnya, ketiaknya—rasanya kemaluan mereka kurang lagi memadai. Mereka membayangkan mengapa lelaki hanya memiliki satu kemaluan saja. Mereka bayangkan seandainya mereka memiliki banyak dan pada saat yang bersamaan dapat merambah sekaligus di wilayah-wilayah nikmat di tubuh bidadari dan dewi jelitanya, si Lia istri Danny itu.

Bagi Danny lain lagi. Pada peristiwa bulan madunya ini dia baru memahami bahwa kenikmatan seksual itu punya banyak aspek. Dia sungguh merasa menemukan nilai-nilai baru dalam kenikmatan seksual itu. Dia merasakan betapa nikmatnya menyaksikan istrinya merintih, mengerang, serta mendesah bersamaan dengan saat kenikmatan melandanya ketika kemaluan-kemaluan Pedro dan Tory menembus memeknya. Dia juga merasakan kenikmatan yang hebat saat melihat mulut Lia penuh terisi oleh kepala kemaluan-kemaluan besar milik para begundal itu. Dia merasakan sangat nikmatnya menjilati sperma Tory dan Pedro yang muncrat dan ditinggalkan memenuhi rongga vagina Lia istrinya—dijilatinya hingga vagina Lia bersih tandas. Dia merasakan bukan main nikmatnya saat Tory memanggilnya untuk menjilati kotoran di pantatnya yang disebabkan lupa cebok setelah buang air tadi. Dan nikmat yang sama juga dia dapatkan dari Pedro.

Dan sekarang Danny dengan penuh gairah berada di tengah kamar ini, di mana istrinya dengan penuh obsesi melayani nafsu bejat para begundal itu. Danny menunggu kenikmatan-kenikmatan berikutnya yang pasti akan datang dari Pedro dan Tory.

"Hai kamu, budak! Sini, jilatin kemaluanku, lumasin dengan lidah kamu biar mudah menembus memek istrimu nanti," panggil Pedro sambil menyodorkan kemaluannya ke mulut Danny.

Dan dengan kepatuhan mutlak sebagai budaknya, dia laksanakan perintah Pedro. Rupanya Pedro keenakan merasakan jilatan Danny, sehingga dia perintahkan untuk mengulumnya—dia mau spermanya muncrat ke dalam mulut Danny. Dia ingin melihat Danny yang penuh kehausan itu meminum spermanya.

Melihat Pedro menyeringai kenikmatan dengan muncratnya spermanya ke mulut Danny, Tory juga memanggil Danny untuk melakukan hal yang sama. Dan sekali lagi, Danny melaksanakan tugas itu sambil mengocok-ngocok kemaluannya. Saat sperma Tory muncrat ke mulutnya dan dia mengenyam-ngenyamnya sebentar untuk merasakan betapa nikmatnya sperma itu sebelum meminumnya, kemaluan Danny juga berbarengan muntah. Spermanya mengotori lantai kamar pengantinnya.

Lia yang menyaksikan adegan-adegan itu langsung terdongkrak birahinya. Pedro ditariknya hingga telentang di ranjang. Memeknya diarahkannya untuk mencaplok kemaluan Pedro yang tak kunjung lemas itu, yang selalu tegak ngaceng dengan kepalanya yang besar tumpul dan mengilat-milat itu. Kemudian ditekannya ke lubang vaginanya. Dan, bless—vaginanya secara lahap menelan kemaluan Pedro yang dua puluh sentimeter itu. Dan seolah-olah menaiki kuda sembrani, Lia menggenjot habis-habisan memeknya ke kemaluan besar itu.

Sebelum Pedro kembali memuncratkan air maninya ke liang vaginanya, Lia telah berhasil meraih multi orgasme—tiga kali berturut-turut. Kemaluannya yang telah tegak bak tugu itu telah basah kuyup oleh cairan Lia yang muncrat-muncrat terpompa keluar. Teringat akan tugasnya dan melihat cairan-cairan Lia muncrat di batang kemaluan Pedro, Danny dengan sigap merebahkan dirinya ke atas kasur tepat di selangkangan Pedro. Mulut dan lidahnya dengan segera menjilati dan menyedot lelehan cairan pada batang tegar Pedro itu.

Demikianlah suasana dan kesibukan di kamar pengantin pasangan Danny dan Lia sepanjang malam itu. Danny dan Lia sepenuhnya sibuk melayani nafsu bejat para begundal tersebut. Dan Tory serta Pedro sangat menikmati dan puas dengan selang-seling pelayanan istimewa dari budak dan anjingnya. Saat jam di dinding menunjukkan pukul empat dini hari, jauh sebelum matahari terbit di ufuk timur, Pedro, Tory, Danny, dan Lia yang ternyata sama-sama tak kenal lelah memasuki episode yang paling mendebarkan.

Setelah Lia dientot Pedro dan Tory dengan cara nungging seperti anjing betina melayani para pejantan, Danny diperintahkan untuk menjilati dubur istrinya. Berkali-kali kepala Danny dijambak oleh kedua begundal itu untuk terus menjilati dubur Lia hingga benar-benar basah. Setelah itu mulut Danny dijejali kemaluan-kemaluan besar mereka hingga lumat dengan ludahnya. Ketika merasa telah cukup memadai, Tory meraih rambut panjang Lia yang tetap berposisi seperti anjing betina yang menunggu dientot para pejantan. Dihelanya rambut Lia seperti menghela kuda tunggang. Kemaluannya dengan pasti diarahkan ke dubur Lia yang telah kuyup basah oleh ludah Danny. Kemaluan yang tegak kaku itu ditusukkannya ke lubang dubur Lia. Tak ayal lagi, teriakan pilu karena rasa sakit bercampur nikmat yang sangat keluar lepas dari mulut Lia. Teriakan itu begitu panjang, seakan anjing betina yang menggonggong di malam bulan purnama ini.

Dan tanpa mengenal ampun, lubang dubur Lia ditembus kemaluan besar panjang Tory. Semangat memompa Tory membuat lubang dubur Lia seakan dirobek-robeknya. Rasa pedih, perih yang disertai rasa panas membara—seperti batangan besi panas yang membakar sensasinya—membuat Lia kehilangan kesadaran. Lia pingsan. Tetapi itu semua tidak membuat Tory menghentikan serangannya. Genjotan kemaluannya justru semakin memburu. Nafsu kebinatangannya semakin memburu. Birahinya yang meledak dan melanda kemaluannya semakin memburu. Genjotan pompa Tory tak lagi terhentikan. Juga tangannya yang terus memegangi rambut Lia tak kunjung dilepaskannya. Dan itu yang membuat tubuh Lia tidak roboh walaupun dalam keadaan pingsan.

Dan hingga, "AARRGGHH"—berbarengan dengan terdengarnya lolongan serigala di malam purnama ini.

Kemaluan Tory kembali memuncrat-muncratkan bertetes-tetes spermanya, dan baru kali inilah tampak Tory roboh bersamaan dengan robohnya tubuh Lia yang masih pingsan.

Danny, si anjing yang setia—budak yang selalu patuh, pelayan yang tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia beringsut mendekati kemaluan Tory yang tampak masih setengah tegak di selangkangannya yang terbuka. Danny dengan setia menjilatinya. Lidahnya dengan telaten menjilati celah-celah, tonjolan, lipatan, dan lubang kencing Tory yang tampak semakin indah di mata Danny itu. Setelah itu, perhatian Danny beralih ke lubang dubur istrinya. Sperma yang meleleh dari lubang itu warnanya agak berbeda—tidak hanya putih bening, ada semburat kuning hijau yang membaur. Sperma itu pasti telah bercampur dengan apa yang ada di dalam dubur Lia. Dan Danny benar; saat lidahnya mulai menjilat untuk menyedotinya, hidungnya diterpa bau yang khas. Tetapi justru hal itu membuat Danny semakin horny dan bergairah.

Terdengar rintihan halus Lia—rupanya Lia mulai sadar dari pingsannya. Dia sedikit menggeliat, rintihannya semakin jelas. Danny tanpa merasa terganggu tetap meneruskan tugasnya. Tiba-tiba dirasakannya ada yang menarik dan menjambak rambutnya. Pedro. Danny ditariknya dan dilemparkannya hingga terjengkang di lantai. Seperti halnya Tory, Pedro meraih tubuh Lia hingga berposisi tengkurap. Kemudian dengan tangannya yang kokoh diangkatnya pinggul Lia sehingga posisi Lia kembali menungging. Sementara Lia yang baru akan sadar sepenuhnya kembali merintih dan mengerang. Dan sebagaimana halnya Tory juga, Pedro sama sekali tidak mengacuhkan keadaan Lia. Lubang dubur yang baru saja dibersihkan dari sperma yang bercampur dengan kotoran Lia oleh lidah dan bibir Danny, kembali digasaknya.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya