18px

Mitra Bisnisku - Godaan Pak Robert

Mitra Bisnisku - Godaan Pak Robert

Di lobi hotel, tamu saya sudah menunggu bersama wakilnya.

"Wah, maaf Pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet."

Saya berbohong — padahal jalan tidak macet. Tentu saya tidak bisa bilang bahwa saya telat karena menikmati seks di pagi hari. Pak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan, badannya tegap dan tinggi. Masih muda sudah menjadi presiden suatu perusahaan yang lumayan besar.

Di dalam mobil saya duduk di sebelah kiri, kemudian Pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan, masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sesekali dia mencuri pandangan dengan melirik ke bagian dada saya yang belahan bajunya sedikit rendah. Saya tahu itu, tapi berpura-pura tidak sadar — saya juga tahu bahwa yang dia lihat adalah bagian yang menonjol di sekitar buah dada dari balik baju saya.

"Pak Robert sudah umur berapa putranya?" Saya sengaja menanyakannya untuk memastikan sudah berkeluarga atau belum.

Dia tersenyum. "Saya belum berkeluarga, Bu."

"Kalau begitu bisa lebih santai dulu dong di Jakarta setelah kerjaan selesai," dengan nada memancing saya bertanya.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan supir membukakan pintu sebelah kiri. Wakil Pak Robert turun dahulu, kemudian dia. Sambil bergeser, saya juga menunggu untuk keluar. Ketika memutarkan badan untuk mengambil tas di belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan — tapi saya tidak sempat membenarkannya dan langsung keluar. Di depan pintu, Pak Robert sudah menunggu saya untuk turun. Dia pasti telah melihat pangkal paha saya, bahkan mungkin telah melihat celana dalam saya yang hitam dan agak transparan itu.

Pintu lift di lobi terbuka dan saya persilakan tamu saya masuk dahulu. Kantor saya ada di tingkat 30. Di dalam lift tidak terlalu penuh, tapi di lantai 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh Pak Robert.

"Maaf, Pak Robert."

Dalam lift saya merasakan tangan Pak Robert menempel ke pantat saya. Merasa tidak sopan, dia menggeser tangannya agar tidak menyentuh — tapi rupanya justru membuat posisinya semakin tidak enak. Bagian depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasakan ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang — penisnya mengeras rupanya. Belum sampai lebih jauh merasakannya, lift terbuka dan kami harus keluar.

Ruang rapat sudah siap dan saya persilakan masuk. Beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak yang kami bicarakan, dan pada awal rencana kami akan menandatangani keduanya. Tapi setelah satu jam rapat berjalan, ada satu hal yang harus dikonfirmasikan, dan Pak Robert minta ditunda sehari. Akhirnya kami menandatangani satu kontrak kerja saja.

Untuk menjamu tamu, saya membuat appointment untuk dinner malam ini di hotel Pak Robert pukul 20:00. Pak Robert pun kembali ke hotel dengan diantar oleh mobil saya.

Sore pukul 16:00 saya bersiap pulang ke rumah karena malam ada dinner dengan Pak Robert. Ketika sampai di rumah, ternyata ada pesan dari suami bahwa dia harus keluar kota dan baru kembali besok pagi.

Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk mandi. Setelah membuka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH, beristirahat sejenak. Saya merasakan kelembaban di celana dalam, dan merabanya dari atas — ternyata basah. Naluri seks saya sedang tinggi. Dari selangkangan kaki, celana dalam saya geser agar tangan saya dapat menyentuh bibir bawah yang sudah basah ini. Dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil membayangkan tadi pagi. Tapi tiba-tiba imajinasi saya berubah — seakan-akan Pak Robert yang muda dan tampan itu sedang mencium dan menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semakin membasahi. Tanpa sadar jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus saya gerakkan keluar masuk.

"Ah... ah... ah..." Saya mulai merintih dengan nikmatnya.

Seperti kurang puas dengan jari, saya membuka laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya. Mainan ini berbentuk penis ukuran orang Eropa dan bisa bergerak dengan memakai baterai. Mula-mula ujungnya saya tempelkan di ujung mulut vagina saya.

"Ah... ah!" Denyut jantung mulai cepat.

Saya mulai memasukkannya perlahan-lahan sambil berimajinasi bahwa yang masuk itu penis Pak Robert. Saya masukkan sampai habis — bukan main rasanya, seperti benar-benar melakukan seks. Mainan ini bergerak terus di dalam tubuh saya. Saya mulai menggerakkannya perlahan, mengeluar-masukkan ke vagina dengan berirama seperti orang laki-laki sedang memasukkan punyanya ke vagina wanita.

"Ah... ah... ah, ah, ah..." Irama gerakan mulai cepat dan semakin cepat. Saya mulai tidak sadarkan diri. Sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri mulai meremas payudara kanan sambil memainkan puting yang sudah dari tadi mengeras.

Selama lima menit terus saya mainkan mainan ini; irama tangan pun semakin cepat, dan saya sudah mendekati klimaks.

"Ah... ah... keluar... ah... ah..." Tanpa saya atur, pinggul saya bergerak menyentak dan mainan yang di dalam saya jepit. Cairan kental bening keluar banyak dari celah vagina yang masih dimasuki oleh mainan ini. Kepala dan tangan saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina saya.

Kurang lebih tiga menit kemudian saya mulai menarik mainan yang masih bergerak itu. Mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya. Saya bersihkan dengan tisu dan simpan kembali di laci. Baru kemudian saya melepas celana dalam yang sudah basah, melepas garter, dan kedua stocking, lalu menuju kamar mandi.

Saya pilih gaun biru gelap untuk dinner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke seluruh badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri, saya tarik sampai setengah paha, dan diteruskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model ini daripada panty stocking — lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Garter pun saya pilih yang hitam, dan saya jepit tali garter ke ujung stocking yang ada di pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang sangat minim — hanya pas-pasan menutupi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berupa garis yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju tidak akan terlihat garis celana dalam.

Gaun malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke mata kaki dengan dua belahan di samping setinggi dua puluh sentimeter dari atas lutut. Bagian punggung terbuka; bagian depan dari dada terus ke atas dan bersimpul di kuduk, tidak berlengan, dan belahan dada sampai setinggi bawah payudara — gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.

Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH biasa. Biasanya hanya berupa cup saja, tapi saya kurang nyaman memakai BH model itu. Malam ini payudara saya langsung ditutup oleh gaun saja tanpa BH. Setelah merapikan gaun di depan cermin setinggi badan, saya memilih sepatu untuk malam ini — warna hitam beludru dengan hak yang tinggi. Supaya tidak terlihat sepi di bagian atas, saya pakai anting berbentuk bulat seperti gelang tipis dan bros bentuk daun di dada kiri. Lipstik saya pilih warna merah rose, ditambah lips gloss agar lebih mengkilat.

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 — saya harus berangkat sekarang. Malam ini saya bawa mobil sendiri karena supir sudah saya suruh pulang; besok pagi dia harus menjemput suami. Mobil sudah disiapkan dari dalam garasi — mobil sport merah buatan Italia, hadiah dari suami, yang jarang saya pakai kalau siang karena mencolok.

Jalanan tidak terlalu padat, dan sekitar setengah jam kemudian sudah sampai di hotel. Dari lobi saya menelepon ke kamar Pak Robert.

"Pak Robert, saya tunggu di lobi ya."

Pak Robert minta waktu sebentar untuk turun. Kira-kira sepuluh menit kemudian dia turun dan menemui saya.

"Wah, maaf Bu, menunggu agak lama." Pandangannya menyiratkan penuh arti.

"Maaf, Pak Robert, bapak tidak bisa hadir malam ini karena ada urusan penting ke luar kota. Salam darinya, semoga bisnis kita bisa berjalan lancar."

"Oh, tidak apa-apa. Tapi kasihan juga ya, Ibu sering ditinggal suami. Apa tidak kesepian?"

Saya membalasnya dengan senyuman.

Kami memilih restoran Jepang Teppanyaki. Dengan kursi yang mengelilingi meja penggorengan yang lebar, kami duduk di bagian tengah — dan memang hanya kami berdua di situ karena sudah di-reserve. Tidak lama kemudian koki yang akan meladeni kita datang dan kami memilih menunya. Sementara menunggu makanan sambil menyaksikan atraksi koki yang sangat khas, kami berbincang-bincang, dari cerita ringan sampai soal bisnis.

Tidak lama kemudian masakan siap dan kita mulai makan sambil meneruskan perbincangan.

"Wah, saya kurang mahir memakai sumpit." Memang Pak Robert kelihatan kesulitan mengambil makanannya.

"Cara memegangnya begini, Pak, jadinya tidak jatuh dan tidak capek tangannya." Saya membetulkan jari-jarinya memegang sumpit. Agak lumayan sekarang, tapi di bagian akhir dia berusaha mengambil udang yang sudah matang dan berkali-kali jatuh karena licin. Karena kasihan, saya bantu ambilkan dengan sumpit saya dan suapkan ke mulutnya. Mukanya sedikit merah karena malu. Saya tersenyum.

Setelah selesai makan, saya ajak Pak Robert ke pub yang ada di hotel ini.

"Bagaimana kalau kita pindah ke pub di atas untuk berbincang-bincang?"

"Boleh, Bu." Dia menurut saja.

Hari ini agak ramai — banyak tamu orang barat — sehingga kami tidak dapat meja. Terpaksa kami duduk di bar.

"Ibu mau minum apa?" sambil menunjukkan menu ke saya.

"Terserah Pak Robert deh, kan anda lebih tahu yang nikmat."

Akhirnya dia pesan cocktail dengan campuran dasar gin. Agak keras, tapi nikmat rasanya. Sementara kami berbincang-bincang, suasana semakin ramai, musik berirama cepat terus mengalir, dan yang turun untuk berdansa di dance floor semakin ramai. Begitu asyiknya berbincang-bincang, saya tidak ingat sudah berapa gelas saya minum — yang jelas lumayan banyak, soalnya alkohol mulai terasa naik ke kepala.

Mendadak musik berhenti dan disusul dengan alunan musik yang slow. Yang berdansa pun sedikit berkurang. Pembicaraan kami pun terputus sejenak.

"Pak Robert mau turun?" Sebelum dia sempat menjawab, saya sudah menarik tangannya.

Awalnya kami berdansa dengan sedikit mengambil jarak — tangan kanan saya memegang tangan kirinya, dan tangan kiri saya melilitkan ke pinggang dia, begitu juga dia. Sambil iringan musik slow terus mengumandang, kami meneruskan pembicaraan.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya