18px

Mitra Bisnisku

Mitra Bisnisku

Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya saat keluar — bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa. Saya langsung menuju meja rias untuk bersolek, karena pagi ini saya harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisnis.

Sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, kehadiran saya wajib. Seharusnya suami, yang menjabat sebagai Direktur Utama, juga hadir. Namun karena dia baru pulang dari dinas di luar negeri selama sebulan untuk menegosiasikan kontrak dengan mitra asingnya — dan masih terlalu lelah, katanya — akhirnya kontrak akan ditandatangani oleh saya saja.

Rupanya dia sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi. Sekarang dia masih di tempat tidur sambil memainkan remote control TV untuk melihat berita hari ini. Seperti biasanya, di depan meja rias saya mulai bersolek. Saya melepas handuk yang melilit badan dan mulai memberi body lotion ke seluruh tubuh — mulai dari kaki, terus ke paha dan selangkangan, lalu ke atas.

Di bagian dada saya agak lebih lama memberi lotion, terutama di bagian payudara berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua tangan. Saya merasakan suatu kenikmatan, yang tampak jelas dari putingnya yang mulai mengeras. Mungkin memang sedang masa subur, ditambah sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena ditinggal dinas.

Dari kaca saya mengintip — sepertinya suami sedang memperhatikan saya bersolek. Tadi malam, begitu sampai, dia memberikan oleh-oleh: BH buatan salah satu merek dari Inggris yang lucu dan seksi. BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki cup — atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra — sehingga puting saya tidak tertutup, namun tetap menjaga bentuk payudara.

Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki sampai ke pangkal paha, diteruskan dengan melilitkan garter ke pinggang dan menjepit stocking ke tali garter. Karena suami sudah bangun, saya memanggilnya.

"Mas, tolong ke sini ikatkan tali BH ini."

Suami yang tidur dengan hanya mengenakan T-shirt dan celana dalam bangkit dari tempat tidur dan menuju meja rias untuk membantu.

"Mas, bagus ini BH-nya, nikmat dipakai sepertinya, seksi lagi." Sambil tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya, "Pinter juga milihnya, Mas. Gimana, pas tidak kelihatannya?"

Dari belakang, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian depan BH yang dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan, tangannya dengan nakalnya menyentuh dan menekan payudara yang tidak tertutup oleh BH ini. Saya sedikit mendesah.

"Ah, Mas nakal nih tangannya."

Sambil tetap meremas kedua payudara saya dia menjawab, "Kenapa memangnya tangan saya?" Dia mulai menjepit kedua puting dengan jari telunjuk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan.

"Enak ya rasanya, sudah lama kan tidak saya pijit."

"Ah, Mas menggoda saja, orang mau kerja." Kedua puting dengan cepat mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.

"Ah... ah... nikmat sekali rasanya." Saya segera ingin berbalik menghadap dia, tapi dia menahannya. Tangan kanan saya mulai melilitkan ke tengkuknya dari depan, mengelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya tetap meremas payudara saya. Oh, begitu nikmatnya, saya benar-benar terangsang.

Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak ke bawah dengan perlahan, sampai ke bawah pusar. Saya belum mengenakan celana dalam. Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak itu.

"Aduh, kamu sudah banjir sepertinya." Memang, saya merasakan bagian bawah sudah mulai lembab — dan dia terus mengelus dengan lembut.

Mendadak saya merintih agak keras, "Ah... ah...!" ketika dia memainkan bibir bawah saya. Tidak kuat lagi berdiri tegak, dengan sedikit membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan. Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.

Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah. Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan menggerak-gerakkannya di dalam vagina saya.

"Ah... ah... aduh, Mas... ah... saya tidak tahan... nikmat sekali..." Saya sudah tidak sabar lagi. Tangan kiri saya menuju belakang, memegang pinggulnya dan menariknya agar lebih mendekat, lalu segera menyelinap ke dalam celana dalamnya. Saya mulai memegang penisnya yang sudah membesar dan keras itu, dan dengan berirama saya gerakkan.

"Ah... ah..." Dia mulai merintih kecil.

Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk dimasukkan ke dalam saya.

"Gimana, nikmat rasanya?"

"Ah... Mas, nikmat sekali... terus gerakkan, Mas... jangan berhenti... satu lagi, Mas... ah...!" Saya minta jari manisnya juga.

Saya mulai menarik celana dalamnya ke bawah, dan dengan bantuan tangan kirinya, celananya pun jatuh ke bawah. Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke pantat saya. Saya merasakan penisnya yang hangat menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan dari dalam saya dan kembali meremas-remas payudara kanan sambil memainkan puting dengan menjepit jari telunjuk dan tengahnya. Sementara itu tangan kirinya memegang pinggul saya untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama.

Saya hanya bisa melihat dia dari kaca. Sesekali ujung penisnya menyentuh mulut vagina saya seakan mau memasukinya, tapi dia sengaja tidak memasukkannya dulu — membuat saya gregetan. Saya sudah terangsang sekali.

"Ayo, Mas... saya sudah tidak tahan lagi... ah... ah...!" Saya memintanya.

"Mau apa kamu? Bilang dong," dengan nada menggoda.

Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina. "Ini, mau ini cepat... ah... ah... jangan buat penasaran, ah...!" Saya membungkuk lebih jauh lagi — posisi sudah siap untuk dimasukinya.

Perlahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya: sebuah benda yang hangat mulai masuk ke dalam saya.

"Ah... ah... ayo terus, Mas... saya mau semuanya... ah." Dia hanya memasukkan setengahnya, membuat saya tambah penasaran. Pinggulnya mulai bergerak ke depan dan ke belakang dengan berirama.

"Ah... terus... terus, Mas... saya mau semuanya... ah... sampai mentok, Mas... ah."

"Aah, emm, nikmat tidak? Mau semuanya ya?" Belum sampai saya jawab, dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan saya pun merintih merasakan sesuatu yang nikmat sekali. Pinggulnya terus bergerak berirama dan mulai menambah cepat iramanya — membuat saya tenggelam dalam kenikmatan.

Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya dan menegakkan saya sambil memutarkan tubuh saya hingga berhadapan dengannya. Pinggang saya dia pegang dengan kedua tangan, mengangkat badan saya, dan mendudukan saya di meja rias. Kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia kemudian merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya.

"Ah... ah..." Saya merintih lebih keras karena nikmatnya.

Dan dia mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas payudara saya dan memainkan puting dengan menjepit jari telunjuk dan tengahnya. Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka mulut sedikit. Lidahnya mulai memasuki mulut saya dan saya sambut dengan lidah saya — kedua lidah saling bercengkrama, menambah kenikmatan. Irama gerakan pinggulnya semakin cepat, dan saya tahu dia mulai mendekati klimaks.

"Tunggu, Mas, saya mau sama-sama, Mas, ah...!" Saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih berkonsentrasi sambil menjepit penisnya.

"Ah... Mas, ayo, Mas... saya sudah mau keluar, Mas... ah... sama-sama, Mas!" Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang terasa begitu deras dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa detik kemudian mencapai klimaks.

Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan. Saya memeluk kepalanya dan mengecup kuping kirinya sambil berbisik, "Ah... nikmat sekali, Mas, sudah lama kita tidak begini." Pinggulnya sudah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecup bibir saya dengan mesranya.

"Aah..." Dia merintih sedikit karena penisnya yang masih di dalam saya jepit. Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya. Saya masih dalam posisi duduk di meja rias, merasakan cairan kental putih keluar dari dalam saya membasahi permukaan meja.

"Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti," katanya dengan penuh arti.

Di luar, mobil sudah menunggu. Saya keluar dari rumah dan pamit. Saya memakai gaun one-piece merah panjang, potongan dada sedikit rendah sehingga terlihat sedikit belahan dada, dan kedua puting sedikit menonjol dari balik gaun merah ini — BH saya hanya menyangga buah dada sehingga puting tidak tertutup, sehingga sepintas seperti tidak memakai BH.

Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk. Sebelum pintu ditutup, saya menarik bagian rok yang masih sedikit menempel di pintu — kancing bagian rok di depan sengaja saya buka sampai pertengahan paha agar lebih mudah bergerak dan sedikit terlihat seksi dengan belahan di depan. Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti sudah biasa dia langsung menutup pintu.

"Jon, tolong mampir ke Hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, baru kita ke kantor."

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya