18px

Montir Perkasa (Bagian 1)

Montir Perkasa (Bagian 1)

Hari itu, sekitar jam tiga sore, aku bersama sepupuku, Ellen, baru saja tiba di rumahnya setelah jalan-jalan di mal. Setengah jam kami nonton VCD di sana sampai pacarnya, Winston, datang. Memang hari itu aku sengaja main ke sini agar sekalian bisa mengambil mobilku yang sedang diservis rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Ellen. Pas sekali Winston datang untuk kencan, jadi aku bisa ikut menumpang diantarnya ke bengkel.

Kami pun berangkat dari rumahnya dengan BMW-nya Winston. Walaupun tidak terlalu jauh, kami sedikit terjebak macet karena sudah jam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah bengkelnya keburu tutup — kalau begitu aku terpaksa tetap menumpang pada Winston, padahal mereka mau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu. Akhirnya kami tiba di bengkel tepat ketika akan tutup.

"Wah, sudah mau tutup tuh, Ci. Mendingan cepat lari turun, siapa tahu masih keburu," kata Ellen.

"Tanyain dulu, Ci. Kita tunggu di sini. Kalau ternyata belum bisa diambil, kamu ikut kita jalan aja," saran Winston.

Aku pun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yang sedang mendorong pintu.

"Mas, tunggu! Jangan ditutup dulu. Saya mau ambil mobil Hyundai merah yang dititip kemarin Selasa itu," kataku dengan terburu-buru.

"Tapi kita sudah mau tutup, Non. Kalau mau, besok balik lagi aja," jawabnya.

"Ayo dong, Mas. Katanya di telepon tadi sudah bisa diambil. Tolong, bentar aja ya, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!" desakku.

"Ada apa ini, Kos? Kok malah ngobrol?" sela seorang pria yang muncul dari samping belakangnya.

Kebetulan sekali, pria itu adalah montir yang menangani mobilku waktu aku membawanya ke sini. Orangnya tinggi dan agak gemuk, berambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluhan. Belakangan kuketahui namanya Fauzan — agaknya dia tergolong montir senior di bengkel ini.

Aku pun mengutarakan maksud kedatanganku. Awalnya dia juga menyuruhku kembali besok, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus uang rokok, akhirnya dia menyerah dan mempersilakanku masuk menunggu di dalam. Sebenarnya kalau bengkelnya dekat rumahku aku bisa saja kembali besok, tapi tempatnya cukup jauh dari rumah dan macet — BT banget kalau harus dua kali jalan.

Aku melambaikan tangan ke arah Ellen dan Winston yang menunggu di mobil, memberi tanda bahwa semuanya sudah beres dan mereka boleh pergi. Mereka membalas lambaianku dan mobilnya pun berlalu.

Pak Fauzan menjelaskan kondisi mobilku: semuanya oke, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah yang sudah mulai berkarat dan tidak lama lagi tidak layak pakai. Demi kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan apakah bisa langsung diganti sekarang dan berapa lama waktunya. Biaya tidak masalah. Setelah berpikir sebentar, dia mengiyakan dan menyuruhku duduk menunggu.

Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluar. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku, Pak Fauzan, dan beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini, termasuk aku — satu-satunya wanita.

"Masih banyak kerjaannya ya, Mas?" tanyaku iseng pada montir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.

"Dikit lagi kok, Non. Makanya mendingan diselesaikan sekarang biar besoknya lebih santai," jawabnya sambil terus bekerja.

Tidak jauh dari tempat dudukku, Pak Fauzan sedang berjongkok di sebelah mobilku. Di sebelahnya, seorang rekannya yang hanya terlihat kakinya sedang berbaring mengerjakan sesuatu di kolong mobil. Ternyata pekerjaannya cukup lama juga — sudah seperempat jam aku menunggu. Melihat situasi itu, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu aku memakai kaos oranye berlengan panjang yang agak rendah di bagian dada, lekuk tubuhku tercetak jelas oleh kain yang ketat itu. Bawahannya rok hitam yang menggantung beberapa sentimeter di atas lutut. Maka tidaklah aneh kalau para pria itu di tengah kesibukan mereka sering mencuri-curi pandang ke arahku, apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kaki.

Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Fauzan, "Masih lama ya, Pak?"

"Hampir, Non. Yang susah itu melepas yang lamanya — sudah berkarat. Sebenarnya pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok."

"Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus," tanyaku sambil sengaja berjongkok di hadapannya, lutut kiri bertumpu di lantai, sehingga paha putih mulusku tersingkap dan celana dalam merahku terlihat jelas olehnya.

Dia tampak gugup; matanya tertumbuk ke bawah rokku. Aku yakin gairahnya sudah terbangkit, tapi aku bersikap biasa saja seolah tidak tahu sedang diintip.

"Oohh... nggak, nggak kok, Non," jawabnya terbata-bata.

"Hoi! Obeng kembang dong!" sahut montir dari dalam sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong.

Begitu keluar, dia pun terperangah dengan pemandangan yang terpampang di atas wajahnya. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip.

"Kenapa? Kok bengong? Liatin apa, hayo?" godaku sambil tersenyum nakal.

Kemudian kuraih tangan si montir yang tadi berbaring itu dan kuletakkan di paha mulusku. Memang tangannya kotor karena habis bekerja, tapi saat itu hal itu sudah tidak terpikir lagi. Tanpa harus disuruh, tangan kasarnya langsung bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga ke pangkalnya — di sana dia menekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yang masih tertutup celana dalam.

"Ooohh..." desahku merasakan remasannya.

Pak Fauzan menyuruhku berdiri, lalu mendekap tubuhku dan langsung menempelkan bibirnya yang tebal di bibir mungilku. Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak mau ketinggalan — setelah mengelap tangannya, dia mendekap aku dari belakang dan mulai menciumi leher jenjangku. Hembusan napasnya dan sentuhannya yang menggelitik membuat birahiku kian naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremas dari belakang; tak lama kemudian kaos dan braku sudah disingkap ke atas. Kedua payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa semakin mengeras karena terus dipencet dan dipilin.

"Hei, ngapain tuh? Kok nggak ngajak-ngajak!" seru si montir brewok yang memergoki kami.

Montir di belakangku melambai, memanggil si brewok untuk ikut menikmati. Si brewok dengan girang menghampiri kami sambil membuka kancing bajunya. Kurang dari selangkah dariku, dia sudah melepas seluruh pakaiannya.

Wow — tubuhnya padat berisi, dada bidang berbulu, dan bulunya turun menyambung dengan bulu kemaluannya. Yang lebih membuatku terpesona adalah bagian yang berdiri tegak di bawah perutnya: penis hitam besar dengan kepala kemerahan, seperti pisang raja. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok serta celana dalamku.

"Wah, asyik, jembutnya hitam lebat banget. Gua paling suka vagina kayak gini," komentarnya.

Pak Fauzan dan temannya pun melepas pakaian masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang — namun aku tetap lebih menyukai milik si brewok karena paling menggairahkan. Milik Pak Fauzan juga besar dan berisi, tapi tidak terlalu berurat dan sekeras si brewok. Punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja. Aku sendiri kini tinggal memakai kaos dan bra yang sudah tersingkap.

Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok sambil melumat vaginaku. Teman Pak Fauzan — yang dipanggil Zul — menopang tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya meremas payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Fauzan sendiri kini menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat, mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah. Tanganku menggenggam penis Pak Fauzan dan mengocoknya perlahan.

"Oookkhh... jangan terlalu keras!" rintihku sambil meringis ketika Pak Fauzan dengan gemas menggigiti putingku. Secara refleks tanganku menjambak pelan rambutnya.

Sementara si brewok di bawah sana menyedot dalam-dalam vaginaku seolah mau ditelannya. Dia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku, memberi sensasi geli yang luar biasa, lalu menggigit klitorisku pelan dan menggelitiknya dengan lidah. Sulit dilukiskan betapa nikmatnya saat itu — jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Zul yang ingin melumat mulutku. Lihai juga dia berciuman — lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga mulutku hingga napasku hampir habis.

Kemudian mereka membaringkanku di kursi dorong montir. Zul langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah Pak Fauzan yang menginginkan giliran lebih dulu. Setelah dibujuk, Zul pun mengalah karena senioritas. Sebagai gantinya dia mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya. Kumulai dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut sambil mengocok batangnya.

Walaupun agak berbau, aku sangat menikmati seks oral itu — aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang dan kepala penisnya. Pak Fauzan yang sudah selesai pemanasan dengan menggesekkan penisnya pada bibir vaginaku kini mengarahkannya ke liang senggamaku. Aku menjerit kecil ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikit kasar, lalu dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiap detail kenikmatan yang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula mengisap penis si Zul — kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan.

"Oooh... terus, Non... enak banget!" katanya sambil meremas-remas rambutku.

Bersambung.....

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya