18px

Nafa Urbach: Lembur Berujung Ranjang

Nafa Urbach: Lembur Berujung Ranjang

Nafa Urbach, cewek cantik yang sudah malang-melintang di dunia artis, selalu memperlihatkan kesintalan tubuhnya dengan buah dada yang besar.

Lantas bagaimana mendapatkan wanita ini agar bisa kutiduri?

Pertanyaan yang menggelitik. Wanita ini menyimpan magnet seksualitas tinggi. Tak kuduga ada SMS dari klien yang memintaku datang ke kantornya. Karena sedang tidak ada pekerjaan, aku langsung berangkat.

Jalan ke kantor itu lengang tanpa kemacetan meski di Jalan Sudirman. Aku tiba di gedungnya masih siang. Ketika masuk ke kantor temanku, resepsionist sudah mencegat di depan lift.

"Mas, ditunggu Bapak di ruangan ya," sapa Anis.

"Oke," kataku singkat.

Aku masuk ke ruangan Afandi, mengetuk pintu dan dipersilakan masuk. Terkejut sekali ketika kudapati Nafa Urbach ada di sana.

"Selamat siang, Han," sapa Afandi.

"Siang juga. Hmm, ada artis cantik di mari," celetuku sambil mengajak bersalaman.

"Iya, Han. Nih, kenalin, Mbak Nafa Urbach."

Aku duduk di sampingnya. Bau parfumnya menusuk hidungku.

"Begini, Han. Mbak Nafa punya usaha sendiri, jual beli pakaian di kalangan artis — butik, namanya."

"Jadi aku mau dijadikan target konsumen?" celetuku sambil disambut tawa mereka.

"Nggak," sahut Nafa Urbach.

"Tugasmu mengurus software accounting-nya, dari pemasukan sampai pengeluaran," kata Afandi serius.

'Kalau penisku keluar-masuk di vagina Nafa Urbach, mau deh,' pikirku dalam hati sambil tersenyum.

"Kapan?" sahutku cepat.

"Sekarang kau berangkat sama Mbak Nafa."

"Sekarang???" tanyaku terkejut.

"Iya. Kau jual software-mu di perusahaanku, sedang orangku masih dalam training-mu."

"Baik. Kita mulai dari mana?"

"Kita mulai dari butik saya satu di Thamrin, satunya di Senayan, lalu yang terakhir di rumah agar saya bisa mengontrolnya," sahut Nafa Urbach dengan sigap.

"Semua ongkos ditanggung Mbak Nafa. Soal garansi dan support, biar orangku dengan bantuan kamu, Han."

Kami berangkat bersama, keluar dari kantor Afandi. Nafa Urbach memberikan kunci mobil. Penginnya nyopir Nafa Urbach di ranjang saja — penisku sudah kumat.

Di butik pertama aku agak lama karena pegawainya susah diminta menjalankan aplikasi baru, tapi setelah kutraining singkat akhirnya bisa mengerti. Butik kedua tidak masalah, hanya ada error di komputer yang memakan waktu lebih lama — hampir gelap saja jadinya.

"Bisa lembur nih," kataku.

"Ntar lemburnya aku hitung deh," sahut Nafa Urbach sambil mengambil rokokku yang kuletakkan di dashboard.

Sesampainya di rumahnya, aku langsung ditunjukkan laptop dari dalam lemari dan diminta duduk di ruang tengah yang sangat mewah.

"Mau minum apa, Han?" tanya Nafa Urbach.

"Teh manis saja."

"Oke, aku buatin."

Aku mengangguk dan langsung memasang aplikasi — bisa langsung jalan. Dua butik sudah bisa terkontrol penjualannya.

"Han, aku mandi dulu ya. Gerah nih."

"Baik. Boleh ikut?" candaku sambil tertawa.

"Boleh, kalau berani. Ntar dikampleng sama suamiku," balas Nafa Urbach sambil tertawa.

"Nggak takut," ujarku sambil cuek ke layar laptop.

Aku meneruskan pekerjaan membuat backup laptop-nya, lalu setelah selesai duduk diam kecapekan. Terkejut ketika tiba-tiba ada handuk yang disampirkan ke pundakku.

"Mandi dulu sana. Kalau boleh, aku ikut deh," canda Nafa Urbach sambil tertawa.

"Boleh," ujarku sambil menarik tangannya.

"Idih, nafsu amat sih," ujar Nafa Urbach sambil tertawa.

"Maklum, belum ada penyaluran."

Aku mandi sambil membayangkan Nafa Urbach telanjang bulat. Kembali sekitar seperempat jam kemudian, aku sangat terkejut — di sofa itu Nafa Urbach telah telanjang bulat, memamerkan keseksian tubuhnya. Vaginanya sangat indah dengan rambut yang tidak terlalu lebat, buah dadanya besar sekali dan merangsang. Senyumnya yang genit hendak menelanku, pandangannya tertuju pada penisku.

"Kesini, Han," panggilnya dengan suara mendesah.

Aku mendekat tanpa rasa takut, lalu langsung menindihnya dan mengarahkan bibirku ke bibirnya. Kami berciuman sangat ganas dan bernafsu. Tangan Nafa Urbach meremas-remas penisku yang masih bercelana lengkap. Kuremas buah dadanya yang kenyal — Nafa Urbach sampai melenguh, merintih, dan mendesah, menaikkan birahiku berlipat-lipat. Kedua kakinya menjepit kakiku erat sehingga aku hanya bisa melumat bibirnya dan meremas-remas buah dadanya yang semakin mengeras.

"Kata Inez Tagor, kau jago di ranjang ya? Aku sudah tahu kau ada main dengan dia. Kalau tak mau bocor, ya aku ingin mencoba kejantananmu."

"Kau nekat juga, Mbak Nafa?" kataku sambil meremas gemas buah dadanya.

"Ayo, Han. Puasi aku. Nikmati kesintalan tubuhku — terbangkan aku ke langit," desahnya semakin membuatku ingin cepat-cepat menggotong tubuh telanjang seksi ini ke kamar. Kusingkirkan kakinya dan turun dari sofa. Kupondong Nafa Urbach ke dalam kamar dan kulemparkan ke ranjang yang empuk. Tubuhnya menggeliat dan lidahnya menjulur menjilati bibirnya.

Kubuka pakaianku. Ketika membuka celana, kepala penisku sudah menyembul keluar.

"Ih, gede banget penismu, Han," ujar Nafa Urbach dengan khawatir.

"Biasa saja," ujarku sambil melepas celana dalam. Penisku berdiri tegak di depan Nafa Urbach. Digenggamnya dan dikocok-kocok, aku masih dalam posisi berdiri. Nafa Urbach menungging di ranjang lalu langsung menelan penisku bulat-bulat. Penisku disedot-sedot dalam mulutnya hingga aku hanya bisa meringis dan melenguh.

"Auh, arggh, enak sekali, Mbak Nafa," desasku dengan nikmat.

Penisku dikeluar-masukkan dalam mulutnya. Kuremas buah dadanya dengan keras sehingga tubuh Nafa Urbach sampai oleng ke sana-kemari tak tahan remasanku, bahkan sempat menepis tanganku, tapi tak lama aku kembali bermain di buah dadanya.

"Hmm, mmm, mmm," hanya itu yang bisa diucapkan Nafa Urbach.

Tak lama kemudian Nafa Urbach menghentikan oral seks dan langsung tiduran mengangkang, memamerkan vaginanya yang sudah sangat basah.

"Puasi aku, Han. Oh, besar sekali penismu."

"Enak kan kontolku?" godaku.

Aku langsung menyerbu ke sana — kujalati naik-turun hingga Nafa Urbach hanya bisa mendesis dan melenguh sampai kepalanya oleng tak tentu arah. Kumasukkan lidahku ke dalam lubangnya yang sudah becek dan semakin melebar, kujepitkan kepalaku di antara pahanya sambil tanganku bekerja di dadanya yang membusung. Lenguhan Nafa Urbach membahana di kamar itu ketika aku menyedot vaginanya.

"Han, auhhh, enak, Han. Aaargggg," lenguh Nafa Urbach sambil menggelinjang keenakan, tangannya meremas sprei tanda merasakan sensasi oralku.

"Terus. Oh, sayang, terus. Aku, aaaku. Oh, Haaan," teriak Nafa Urbach. Tubuhnya montang-manting melawan aksiku yang bekerja di vagina dan buah dadanya — meremasinya, melepas, kembali meremas sprei, matanya merem-melek keenakan.

"Aku nggak tahan, Han. Teruskan. Oh, aku, aku..." ujar Nafa Urbach terputus ketika memuncratkan air orgasmenya, lalu langsung mengelepar — tubuhnya mengejan dan berkelojotan. Kubiarkan dia menikmati orgasme. Aku merapat ke tubuhnya dan mengarahkan penisku ke lubangnya. Nafa Urbach sangat kaget ketika aku sudah mendesak memasukkan batangku.

"Sabar dulu, Han. Pakai kondom," pekiknya keras.

"Terlambat," ujarku sambil menekan lebih jauh ke dalam. Namun Nafa Urbach tidak mencegah.

"Masuki, Han. Lebih dalam. Genjot aku, sayang," ujar Nafa Urbach menyemangatiku.

Kumaju-mundurkan penisku dengan pelan agar bisa masuk lebih dalam. Penisku amblas masuk sampai pangkalnya, disambut pekikan kami berdua.

"Aaaaaaauuuuuhhhh!"

Langsung kumaju-mundurkan penisku menghujam. Jepitan vaginanya sangat keras dan menyedot, meremas penisku. Terasa sangat panas.

Tubuh kami sudah bermandi keringat. Aku menindih tubuh Nafa Urbach, memberikan lumatan di bibirnya sambil naik-turun di atasnya. Tangan kananku bekerja di buah dadanya sehingga Nafa Urbach sangat kepayahan melayani serbuanku dan hanya bisa memelukku. Kadang pelukan itu lepas dan mencari remasan di sprei.

Tubuh seksi Nafa Urbach menggeliat bak cacing kepanasan di ranjang empuk itu.

"Han, oh. Aku suka gayamu yang membabi buta," kata Nafa Urbach dengan gemas sambil menggigit bibirnya. Kukejar bibir itu lebih jauh dan kumasukkan dalam kulumanku.

Menit demi menit kami saling memilin, memagut, dan mengulum, batang penisku keluar-masuk vaginanya. Rambut Nafa Urbach berantakan tak karuan.

"Aku, aku, aku, aaah, Han..."

"Iya, sayang," ujarku melepas pagutan, tapi tanganku tetap saja di buah dadanya.

"Han, aku mau... sampai," pekiknya sambil menjepit pinggangku lebih keras.

Beberapa menit kemudian Nafa Urbach mencapai orgasme keduanya. Jepitan pada penisku semakin erat dan hampir membuatku ikut muncrat, tapi kutahan. Nafa Urbach menegang kaku ke atas dan mempererat tindihhanku.

"Oooohhh, aaaakkkuuu keluaarrr," ujar Nafa Urbach sambil nafas tersengal dan tersenyum.

Kami saling diam, berpelukan penuh peluh, ketika terakhir kali Nafa Urbach mencapai orgasme. Ketika hendak mencabut penisku, tangan Nafa Urbach mencegah dengan menahan pantatku.

"Jangan cabut dulu, sayang."

"Oooouhhh, jepitan vaginamu membuat aku mau muncrat nih. Ketat banget."

"Hihihi, kamu jorok amat sih," celoteh Nafa Urbach dengan genit sambil menjawil hidungku. Tubuhnya yang kutindih masih dalam jepitan kedua kakinya yang disilangkan sehingga aku tidak bisa berkutik. Nafa Urbach memandangku dengan teduh.

"Han, keluarkan manimu ya. Di dalam saja. Puasi aku," iba Nafa Urbach sambil memberikan ciuman mesra di bibirku. Kami saling memagut — pagutannya berada di bibir bawahku, aku memagut bibir atasnya. Kuberikan pagutan selembut mungkin hingga Nafa Urbach semakin hanyut, memegang kepalaku dan mengelus rambutku.

"Sayang, kau hebat. Boleh nggak kapan-kapan kita main lagi?"

"Sekarang saja aku belum muncrat, masak mau selesai," ujarku sambil mencoba memompanya.

"Aduh, Han. Ntar dulu. Beri aku istirahat — capek nih," protesnya dengan genit menahan pantatku.

"Kuperkosa kau, Mbak Nafa, kalau lama-lama," godaku sambil tertawa.

"Aku mau kok diperkosa sama kamu. Amit-amit diperkosa orang lain," ujar Nafa Urbach dengan gemas sambil memberikan ciuman maut ke bibirku — sangat ganas hingga kami terengah-engah.

"Kita ganti gaya deh. Kau di atas," kataku sambil menggulingkan badan kami berdua. Kini Nafa Urbach menindihku.

"Ohh, Han. Arrrggh. Gesekannya membuatku enak banget," erang Nafa Urbach sambil menekan dadaku untuk menaikan tubuhnya. Kedua kakinya ditarik ke depan dalam posisi menuduki selangkanganku. Ia menarik tanganku untuk bangun — penisku serasa dibetot sangat keras, diremas-remas dengan gemas, disedot-sedot hingga aku menahan mata menikmati jepitan vagina Nafa Urbach.

"Duh, tempekmu sangat terasa sekali, Mbak Nafa," kataku.

"Ih, kamu jorok," protes Nafa Urbach sambil memposisikan diri naik sedikit sehingga aku bisa menggeser pantatku. Kaki Nafa Urbach dimajukan dan aku menaikan posisi ke duduk. Ketika Nafa Urbach terangkat oleh gerakanku, gesekannya sangat hebat.

"Kamu juga jorok, Mbak Nafa. Cuma bilang: 'Aku suka kontolmu.'" godaku sambil meremas buah dadanya.

"Nggak mau," ujar Nafa Urbach sambil melotot.

"Kalau gitu ya sudah, nggak usah diterusin," candaku dengan cuek dan diam.

Dipandanginya mataku, lalu ia memajukan kepala ke telinga kiriku.

"Aku suka kontolmu, sayang," bisiknya, lalu tersenyum memandangku seolah-olah ingin menelanku bulat-bulat.

"Kurang keras, ngapain bisik-bisik?" protesku sambil menjawil puting buah dadanya dan kutarik.

"Sakit tahu. Aku suka kontolmu!" teriak Nafa Urbach keras, membuatku tertawa. Nafa Urbach ikut tertawa.

"Kau ini nakal, Han. Jahil sekali mengerjai istri orang," kata Nafa Urbach sambil tertawa cekikikan, merangkulkan kedua tangannya di pundakku dan mengelus rambutku yang pendek.

"Lha, Mbak Nafa kok mau dikerjai?" kataku sambil meremas buah dadanya, memberikan rangsangan agar ia mulai bergerak memompa dan menggenjotku.

"Tau ah," ujar Nafa Urbach dengan cuek, mencoba menaikan pantatnya untuk memberikan gesekan di alat kelamin kami.

"Gimana kalau tiap hari aku ngajak Mbak Nafa bercinta?"

"Mau dong. Tapi ya nggak bisa — suamiku juga punya jatah."

"Kurangi jatah dia. Buat aku saja," godaku sambil memberikan ciuman mesra. Nafa Urbach lalu bergerak naik-turun — penisku terasa digesek-gesek dengan nikmat. Kupandang penisku mengkilat keluar-masuk ke vagina Nafa Urbach. Gesekan itu membuatku mengerang.

"Uuuh, uuuh, uuhhhh," erangku disambut pagutan Nafa Urbach di bibirku. Tanganku bergerilya di kedua buah dadanya yang kenyal dan keras.

Kedua kaki Nafa Urbach menjepit pinggangku, naik-turun memberikan hajaran ke penisku yang besar. Gesekannya sangat nikmat dan membuat kedua kakiku gemetar.

"Kamu mau muncrat ya, Han?" tanya Nafa Urbach sambil nafas tersengal-sengal dan terus bergerak menggenjotku.

"Ntar kalau muncrat di dalam, kau — eh, Mbak Nafa hamil gimana?" tanyaku sambil memberikan perlawanan dengan pantatku melawan genjotan Nafa Urbach di pangkuanku.

"Biarin. Oh, enaknya. Enak sekali kontolmu," erang Nafa Urbach dengan gemas. Tubuhnya menggelinjang ke kanan-kiri karena aku semakin aktif meremas-remas kedua buah dadanya dengan keras.

"Iya, Mbak Nafa. Aaaauuuh. Betapa bahenolnya kamu, Mbak Nafa," pekikku sambil terus memberikan remasan di buah dadanya. Jepitan pada penisku semakin keras — penisku keluar-masuk vaginanya menusuk-nusuk sampai batas terdalam.

Selepas memberikan pagutan sebentar ke bibirku, Nafa Urbach semakin liar menggenjotku. Tubuhnya serasa sangat liar menghujam naik-turun, hendak meluluhlantakkan penisku.

"Han, kontolmu kuat banget," pekiknya sambil memegang bahuku lebih erat. Kedua pinggulnya meliuk-liuk sangat erotis, menari-nari dengan erangan birahi yang tak tertahankan. Tubuhnya semakin deras dibanjiri keringat, bercampur dengan keringatku. Kembali berpagut ke bibirku, mencampur air liur kami.

"Mbak Nafa. Oh. Aku suka dirimu. Arggghh. Enaknya dirimu," erangku sambil terus memberikan perlawanan.

"Terus, Han. Iya, terus. Ayo kita tuntaskan. Aku nggak tahan nih," teriak Nafa Urbach dengan keras sambil menggelinjang ke kanan-kiri karena aku masih saja meremas kedua buah dadanya bergantian.

"Iya, iya, Mbak Nafa," sahutku sambil terus melawan kebinalan dan keliaran Nafa Urbach menggenjot di atas tubuhku.

Kami saling memacu, memilin, memeluk semakin erat lalu lepas lagi. Nafa Urbach semakin lama semakin liar, rambutnya sangat acak-acakan karena kepalanya bergerak sangat bebas.

"Aku mau mun...crat, Han. Han. Gi...ma...na de...ngan kamu?" kata Nafa Urbach terbata-bata menahan nafas. Matanya terpejam menahan sensasi birahi yang sangat tinggi. Bibirnya yang ranum sangat indah, dibasahi air liurnya. Rambutnya berantakan tak karuan.

"Iya, aku juga mau," ujarku sambil memberikan lumatan di bibirnya. Nafa Urbach membalas pagutanku tidak kalah ganas hingga bibir kami bertaut cukup lama sambil terus memompaku. Setelah itu kami mempercepat gerakan — Nafa Urbach mengambil inisiatif mempercepat laju pompaannya.

"Aku, aku," pekik Nafa Urbach ketika aku merasakan jepitan vaginanya semakin erat dua kali lipat, hendak meremas penisku. Tubuhku juga terasa sangat panas, dari dada turun ke perut.

"Ak, ahhhhh, aku hendak sampai, sayang," erangku sambil terus melayani genjotan Nafa Urbach.

Beberapa detik kemudian Nafa Urbach menghujamkan pantatnya lebih keras dan dalam — aku memuncratkan air maniku menembak ke rahim Nafa Urbach. Detik selanjutnya Nafa Urbach menyambut orgasme-ku dengan memuncratkan cairan kewanitaannya — pertanda mencapai orgasme ketiga kalinya.

"Ooooh, aku dapat. Aku dapat," erang Nafa Urbach sambil kembali menghujam lebih dalam, menelan penisku, dan memelukku erat. Tubuhnya menegang kaku dalam pelukanku — aku pun memeluknya, air maniku muncrat berkali-kali ke vaginanya.

"Craaat, craaat, craaatttt, craaaatttt." Begitu banyak air maniku yang kutumpahkan hingga membuat Nafa Urbach terkejut.

Tubuhku seakan melayang sangat ringan. Merasakan kenikmatan bercinta dengan Nafa Urbach — tiada taranya. Tubuhku melemas dan ambruk ke ranjang. Nafa Urbach menindihku dan memelukku untuk menikmati sisa-sisa orgasme.

"Air manimu banyak sekali, Han," pekik Nafa Urbach.

"Aku bisa muncrat banyak kalau Mbak Nafa nyebut... kontol. Semakin jorok, semakin cepat aku muncrat."

"Idih, alasan saja. Kutunggu kontolmu besok-besok ya," ujar Nafa Urbach dengan nakal.

"Bukankah malam ini aku masih memberikan kenikmatan padamu, Mbak Nafa? Nggak usah nunggu besok."

"Iya deh. Iya. Hajar aku ya — awas kalau nggak mau. Mumpung suamiku di luar negeri."

"Oke deh. Nanti kita pakai gaya doggy style ya," ujarku sambil memeluknya lebih erat.

"Oke. Kutunggu. Tapi aku capek nih."

"Tenang saja, sayang," hiburku sambil memejamkan mata.

"Sudah muncrat, kontolmu masih saja tegang ya, Han?"

"Nggak tahu. Lha, sudah muncrat tempekmu saja masih menjepit keras," candaku dengan jorok.

"Ih, jorok sekali," pekik Nafa Urbach dengan gemas.

Kudorong tubuh Nafa Urbach mundur dan penisku keluar dari vaginanya — gesekannya membuatku seakan mau ngilu karena serasa sakit. Kami saling mengerang mendesis. Selepas penisku lepas, menetes cairan kental putih — air mani bercampur cairan orgasme Nafa Urbach.

"Banyak banget manimu, Han," ujar Nafa Urbach sambil berjalan menuju kamar mandi, masuk, dan mencuci kemaluannya. Setelah membawa handuk dan mengelap penisku, aku keluar dari ranjang dan berdiri, lalu mendorong Nafa Urbach ke meja rias dan membungkukkan badannya. Kuremas buah dadanya.

"Ntar dulu. Nafsu amat sih kamu," ujar Nafa Urbach dengan sangat genit, tersenyum nakal.

Kucekal tangannya dan kuletakkan di meja rias. Di depannya ada cermin besar — terlihat Nafa Urbach sangat kelelahan.

"Aku sudah capek, Han. Please, aku ngaku kalah," pekiknya menolak keinginanku. Namun aku tidak mengalah. Kumajukan kakiku untuk membuka kedua kaki Nafa Urbach hingga mengangkang membentuk huruf V. Penisku sudah kembali menegang keras. Nafa Urbach membungkuk dengan buah dadanya yang bergelantungan sangat indah — kuberikan remasan agar terangsang. Bibirnya digigit sendiri, tapi tak lama kemudian menoleh ke belakang. Belum sampai penuh menoleh, aku sudah menghujamkan penisku sehingga melesak masuk separuh.

"Aduuuuh, bangsat kau, Han. Aaauhhhh. Enak sekali, Han," erangnya sambut nafas memburu.

Kuremas pantat bahenol yang menungging itu. Nafsuku naik sampai ubun-ubun. Kusodokkan lagi penisku agar masuk lebih dalam, kutarik dan kuulangi. Posisi ini membuatku merasa akan muncrat lagi — jepitan vagina Nafa Urbach sangat erat, membetot keras penisku.

Aku mulai maju-mundurkan penisku. Nafa Urbach hanya bisa memandang ke cermin di depannya, melihat dirinya sendiri meringis keenakan.

"Ayo, Han. Janji ya, berhenti dulu setelah ini."

"Iya, iya," kataku sambil menggenjotnya dengan mantap.

Tubuh Nafa Urbach sampai ikut menggelinjang karena sodokanku. Bunyi pertemuan antara pantat bahenolnya dengan tubuhku membuatku semakin bernafsu menuntaskan ronde ini.

Tanganku semakin nakal maju ke depan memberikan remasan sangat keras. Tubuhnya sampai menggelinjang — tangannya mencekal tanganku, tapi dilepas lagi ketika aku menyodoknya sehingga kalau tidak dilepas akan terjerembab di atas meja cermin.

Kusentakkan lebih cepat pantatku maju-mundur.

"Ayo, Han. Aaaauuuuh. Enaaak. Enaaak, Han. Terus," erang Nafa Urbach bertalu-talu.

"Iya. Aku mau muncrat," sambung Nafa Urbach tak tahan posisi doggy style ini.

Aku semakin cepat menghujamkan penisku. Tubuh Nafa Urbach terguncang-guncang, buah dadanya montang-manting ke sana kemari. Kuelus punggungnya, kurapikan rambutnya sambil terus maju-mundurkan pantatku.

"Gila, Han. Oh, enak," pekik Nafa Urbach.

Aku semakin cepat dan merasa akan muncrat.

"Mbak Nafa, ohhhh, aku samm..." ujarku terputus. Nafa Urbach semakin menjepit keras penisku karena juga akan mencapai orgasme.

Kutumpahkan isi penisku dengan beberapa muncratan. Tubuhku sangat lelah. Nafa Urbach juga mencapai orgasme bersamaan. Kusangga tubuhku dengan memegang bibir meja — Nafa Urbach menahan tubuhku dengan kedua lengannya ke meja rias.

"Hebat, Han. Makasih," ujar Nafa Urbach dengan pelan. Kutarik pantatku, kutarik tubuhnya, dan kubaringkan di ranjang. Aku pun tiduran di sana. Cairan menetes dari vagina Nafa Urbach.

Lalu aku mengocok penisku agar kembali ngaceng. Setelah ngaceng, kutindih Nafa Urbach dan kumasukkan penisku ke dalamnya.

"Kita tidur yuk. Biarkan kontolku kau genggam di tempekmu," ujarku sambil menggulingkan badan Nafa Urbach.

"Oke, Han. Makasih ya, sudah memberikan permainan seks yang keras. Sorry kalau aku marah-marah tadi — itu cuma pura-pura," kata Nafa Urbach dengan genit sambil kusodokkan pantatku pelan.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya