18px

Namaku Elang - Gairah Terlarang

Namaku Elang - Gairah Terlarang

Aku menciumi lehernya, kemudian dagunya, sampai akhirnya ke bibirnya. Srida membalas, perlahan-lahan. Lidahku kumasukkan ke mulutnya yang hangat. Pertama ada penolakan darinya — mungkin sedikit jijik dengan sisa lendir tubuhnya sendiri — namun akhirnya dia pasrah. Lidah kami saling pilin, simpul menyimpul. Kuhisap napasnya. Kugigit pinggir bibir bawahnya; dia mengerang. Nafsunya tumbuh kembali.

Lidahnya dengan agresif melesak ke dalam mulutku dan bergulat di situ. Ciuman kami pun menjadi panas, keringat telah mengucur di seluruh tubuhku. Baju kotak-kotak biru kecil yang kukenakan terasa melekat di bagian punggung. Tangan Srida bergerak teratur menuju bagian bawah tubuhku, meraba-raba bagian depan celanaku, mengusap-usap kejantananku yang meradang di dalamnya. Aku mengerang dan melenguh. Mulutku disumpalnya dengan bibirnya yang manis. Lipstik yang dipakainya telah belepotan di sekitar bibirku. Tangannya terus mengusap-usap benda kebanggaanku itu. Semakin panas kurasakan daerah perutku. Sesuatu seperti menggelepar di lambungku dan hantaman godam menyambar kepalaku — apalagi ketika jemarinya menyelinap di sela-sela button fly celana Levi's-ku. Aku sudah tak tahan. Ini harus kutuntaskan.

Aku berdiri; Srida pun duduk kembali. Kubuka sabukku dan kubiarkan celana 501 kremku melorot, lalu kutarik kakiku keluar dari sepatu model Harley Davidson-ku. Srida menatapku — bisa melihat tonjolan di balik underware-ku. Perlahan dia menurunkannya. Aku membuka kancing-kancing kemeja lalu melemparkannya serampangan. Kelelakianku pun terlontar keluar. Srida menatapku, pandangannya meredup. Lalu dengan kedua tangannya dia menggenggam kejantananku, membelai, mengusapnya. Kehangatan mengalir deras dalam perutku. Kejantananku telah tegak bagai mercusuar di pinggir tebing, mengacung. Srida mencium ujungnya. Aku hanya dapat mengerang. Dicucupnya pinggir-pinggir azimatku itu, diciuminya dengan penuh perasaan. Lututku serasa bergetar menahan sensasi yang tak terperi. Lidahnya menjilat-jilat, sementara tangannya mengurut lembut — ke atas dan ke bawah. Ereksiku tambah sempurna.

"Uuugh..." Aku hanya dapat mengejan.

Sebelah tangannya mengepit lembut kepala kejantananku, sementara lidahnya terjulur, berselasap, menembus lubang seniku dengan ujungnya. Pastilah dapat dirasakannya lendir permulaan spermaku.

"Eeegh..."

Tangan Srida yang kiri telah berada di pantatku, meremasnya dengan penuh gairah. Sementara yang sebelah lagi kembali mengurut-urut batang kehidupanku. Lalu perlahan dan meyakinkan, mulutnya terbuka, menelan kepala kelelakianku, menghisapnya. Lidahnya membelit, membelai. Aku tahu betapa sulitnya baginya menggerakkan lidah di tengah kegempalannya dalam mulut itu, tapi dia berhasil melakukannya — dan dia melakukannya dengan fantastis.

Kepala Srida maju mundur, lututku pun seperti bergoyang. Bunyi yang ditimbulkan gerakan pinggulku terdengar samar, ditimpali bunyi kejantananku keluar masuk di mulut Srida, kantung sperma yang menghantam dagunya, dan lenguhan yang tidak beraturan. Demikian pula napasku.

"Aah... aah... Aghh."

Nafsuku memuncak tinggi. Kuremas dan kujambak rambutnya. Aku tersadar: kalau aku ingin memperpanjang permainan ini, aku harus menahan ejakulasi yang kuyakin telah bertengger di ujung kelelakianku.

"Sssh... istirahat dulu, sayang."

Kurebahkan dia di atas tempat tidur dan kuciumi bibirnya. Kutelusuri tubuhnya kembali. Kami berguling; dia berada di atasku sekarang. Kuciumi pipinya, lalu ke telinganya yang kanan — kumainkan lidahku ke tempat yang sensitif itu. Srida mengerang. Kuremas-remas bukit kembarnya. Kupermainkan kedua putingnya. Srida melenguh. Kemudian kuangkat pinggangnya ke atas; Srida lalu berjongkok di mukaku. Sambil memeluk pinggangnya, lidahku kembali menggeluti klitorisnya. Tangan Srida menopang tubuhnya, mencengkeramnya. Seprai telah kusut masai. Jari tengahku menyelisip, mencoba menguak lubang kenikmatannya. Srida jadi semakin bernafsu. Teriakannya diredam sambil menggigit bibir bawahnya. Jariku sesaat merasakan sesuatu.

Astaga... Srida masih perawan!

Kutarik jariku yang nakal itu. Srida menatapku.

"Teruskanlah, Elang. Kenapa berhenti?"

"Kamu... kamu masih perawan?" Aku bertanya tak percaya.

Dia menatapku dengan mata sayu. "Lakukanlah. Aku ingin menyerahkannya padamu."

Aku terkesima. "Kamu yakin?"

Tak ada jawaban. Tubuhnya menggelosor ke bawah. Kejantananku bersentuhan dengan keperempuanannya. Kini tiap jengkal bagian depan tubuh kami telah bertemu dengan pasangannya.

"Lakukanlah, Elang." Dia berbisik di telingaku. "Lakukanlah demi cinta kita."

Peperangan terjadi dalam batinku. Sesuatu mendorongku untuk tidak melaksanakan keinginan Srida. Tubuhnya perlahan kutolak. Tapi dengan tangannya, Srida telah memasukkan kepala kejantananku ke mulut rahimnya. Aku hanya terpana. Sesaat kurasakan sensasi terindah dalam tubuhku — menggeleparkan setiap saraf, membakar setiap sel dalam ragaku.

"Srida..."

"Lakukanlah, Elang. Terimalah aku."

Aku pun tak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan insting hewaniku bekerja. Kugulingkan badan kami berdua; kini aku berada di atasnya. Dengan perlahan kutekan pinggangku, mencoba untuk tidak menyakiti Srida. Terlontar jeritan kecil ketika ujung kelelakianku melesak, merobek dinding tipis keperawanannya. Terasa hangat darah kegadisan Srida mengalir di urat kelaminku.

"Aah..." Srida mengerang.

Pantatku memompa pelan, pelan sekali. Dan lenguhan Srida mengiringi setiap gerakanku. Kucium bibirnya, kutekan. Lalu kemudian beralih ke telinganya.

"Nikmatilah, Srida, sayang."

"Ya... Elang, ya, kunikmati kehangatanmu dalam diriku," jawabnya serak.

Setelah beberapa belas gerakan keluar masuk, lubang kenikmatan Srida semakin lancar, walaupun bibir vaginanya tetap tertarik saat kejantananku bergerak ke arah luar.

Aku mengubah posisi kami. Kubopong dia ke ujung ranjang. Lalu dengan posisi aku berjongkok, kutikam lagi kemaluannya. Sekarang senjataku dapat lebih aktif mencecarnya. Lenguhan Srida semakin ganas seiring dengan bunyi napasku yang berat. Terus kupompa tubuhnya. Srida kini semakin ahli; dia mulai menggerakkan pinggulnya memutar, mencari sensasi yang dapat dirasakan kami berdua.

"Uuugh. Kamu memang memabukkan, Srida," pujiku dengan suara geram.

Sebagai jawabannya, kuku-kuku tajam Srida menancap di daging punggungku. Bunyi berkecipak yang kami buat semakin cepat iramanya. Aku menghatur napas sejenak. Kucabut kelelakianku dari sarangnya yang lembut dan hangat itu. Srida mendelik.

"Ssshh... sebentar, sayang. Kau tak ingin ini segera berakhir, bukan?" Dia mengangguk.

"Berbaliklah, cintaku."

Dia mengikuti perintahku.

Kutarik pinggangnya sehingga dia berada dalam posisi merangkak. Kusibakkan belahan pantatnya dan kudaratkan kepala kelelakianku pada lubang vaginanya kembali. Kusetubuhi dia kembali. Tanganku meraih payudaranya. Pinggulku menghantam pantatnya. Kami terus berpacu. Keringat semakin membanjiri tubuh kami berdua; seprai telah basah. Srida terus menjerit. Orgasmenya terjadi entah berapa kali. Enaknya wanita begitu — dapat merasakan kenikmatan yang menerpa berulang-ulang. Sedangkan lelaki jarang bisa orgasme berkali-kali kecuali telah mengamalkan petunjuk di buku Pria Multi Orgasme yang terkenal itu. Dan aku mengakui, aku hanya bisa orgasme apabila telah ejakulasi. Aku harus beristirahat sejenak sebelum dapat mendaki kembali.

Kuberikan tanganku kepadanya; dia mengulum satu per satu jemariku. Sekian menit kami terus bersenggama dengan posisi itu. Kemudian kami berguling berdua. Kucium bibirnya.

"Istirahat sebentar, sayang," bisikku.

Tapi dia tak ambil peduli dan langsung hendak melahap lagi kemaluanku dengan vaginanya. Terpaksa kuatur strategi untuk tidak mengecewakannya.

"Bersihkan punyaku, sayang." Kusodorkan seprai kepadanya.

"E... engh." Srida menggeleng. Dikulumnya kemaluanku, sementara belahan kewanitaannya diajukannya ke mukaku. Kulihat sisa darah bercampur lendir mengalir di pahanya. Kubersihkan dengan sapu tanganku. Kujilati vaginanya. Sementara itu Srida telah melaksanakan tugasnya — lidahnya kini melakukan gerakan memutar di antara kantong kemaluan dan anusku. Sesekali dikulumnya kantong spermaku yang cukup besar itu. Sarafku bergetar, bulu kudukku meremang.

Kutepuk pantatnya. Dia mengerti, lalu membalikkan tubuhnya. Dengan perlahan dia duduk tepat di atas kejantananku yang mengacung, keras dan semakin membesar. Sempitnya kemaluan Srida kembali kurasakan, menimbulkan sensasi pijatan-pijatan halus yang mengakibatkan tubuhku bergetar. Srida melonjak-lonjak di atas tubuhku seperti seorang koboi di atas pelana kuda jantan liar dalam permainan rodeo. Teriakannya berpadu dengan napasku yang memburu. Sesekali pinggangnya diputar. Kugenggam kedua belah pantatnya. Oooh, aku tak ingin ini berakhir.

Aku mengubah posisiku, menjadi duduk berhadap-hadapan dengannya. Dia masih tetap bergerak liar, matanya mendelik ke atas — suatu pemandangan yang luar biasa, wajah seorang perempuan matang menggapai kesempurnaan permainan cinta. Intercourse kami terus berlanjut belasan menit dengan gaya itu. Tubuhnya kupeluk, kurengkuh dengan kasar, saat kenikmatan dan kerinduan tertumpahkan di tubuh hangatnya. Oooh, sungguh kurindukan tubuh wanitanya.

Sebentar kemudian Srida telah sangat kelelahan. Aku lalu membaringkannya. Kucabut kejantananku dan membersihkan lendirnya. Kuambil kedua kakinya, kubuat berselonjor di tepi ranjang. Lantas dengan aku berada di bawah, dengan lutut menjadi tumpuanku, kutanamkan kelelakianku kembali. Kugerakkan pinggulku maju mundur. Kebasahan kelaminnya membuat bunyi kecipak yang sangat keras. Aku terus menghantamkan tubuhku ke arahnya. Srida meringis, agak kesakitan dengan kekasaran yang kuperbuat. Aku terus mempercepat gerakan, kantung spermaku memukul-mukul ke sela-sela pantatnya. Aku makin mempercepat hantaman di vaginanya. Srida menjerit.

"Aku... aku... akan sampai, sayang. Egh, ergh..." Lenguhku.

"Letupkanlah, tanamkan di rahimku. Ah... ah... Elang... ah," sahutnya dalam erangan.

Aku pun menekan pinggulku ke depan, melesak di dalam kewanitaannya. Lalu lahar kehidupan itu terpancarkan — hangat, membara, mengisi ruang-ruang kosong dalam rahimnya. Srida mengerang; aku melenguh di setiap semprotan spermaku. Aahg... Lalu tubuhku menggelosor, menimpa tubuhnya yang berkilauan oleh sinar matahari yang dipantulkan butir-butir keringatnya yang harum. Kucium bibirnya, pipinya, keningnya.

"Terima kasih, sayang," ujarku.

"Aku cinta padamu."

Dia tersenyum manis — senyum terindah yang pernah diberikannya kepadaku.

"Aku pun cinta kamu, Elang. Sayang, cuma ada satu Elang. Itu pun telah menjadi milik orang lain." Suaranya lirih terdengar.

Lima menitan kami berbaring berpelukan. Kubelai tubuhnya, payudaranya. Menatap langit-langit kamar yang kosong.

"Indahnya dirimu, sayang," kataku.

Dia mengecup bibirku, lalu berdiri. Mengumpulkan pakaiannya yang tergeletak di mana-mana. Mengedipkan matanya kepadaku sambil tersenyum.

"Kamu memang buas, Elang. Kamu nakal."

Aku hanya tersenyum tengil mengomentarinya. "Ini kejantanan Dayak, sayang."

"Aku terpaksa mandi lagi karena kelakuanmu."

Srida berlalu ke kamar mandi. Aku menyusulnya setelah melihat jam yang menempel di meja hias menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Kami mandi berdua, berpelukan dan berciuman. Sudah tak ada lagi waktu untuk bercinta — kami berdua harus bekerja.

Seprai putih yang terkena tetesan darah kegadisannya kupotong 30 kali 30 sentimeter, lalu kuberikan kepada Srida. Dia mengambilnya dan tersenyum penuh pengertian. Lalu dia membantuku menyembunyikan lubang yang ada di bawah bed cover. Sisa kenangan yang sangat berarti buat kami.

Aku mengantarnya ke kantornya memakai taksi. Setelah itu minta diantar ke Stasiun Gambir. Kenapa? Karena aku mengaku pada supir taksi bahwa aku dan Srida adalah suami istri yang berpisah tempat kerja — aku di Bandung, dia di sini. Karena aku hendak tugas ke Kalimantan, aku akan naik Damri dari Gambir. Dari Gambir aku naik taksi lain menuju kantorku. Tiba di kantor, aku telah terlambat. Saat itu baru terasa tulang-tulangku terlolosi, kehabisan tenaga. Di meja kerjaku, Margie rekan kerjaku sedang makan Indomie yang dipesan dari Tono, office boy divisiku. Aku menjadi lapar, kupesan juga Indomie.

"Tumben terlambat, Lang? Bagaimana kabar Bandung? Gila? Kamu langsung nih?"

"Iya. Kereta pertama tadi pagi," bohongku.

"Aduh!" Margie menjerit — ternyata matanya terciprat kuah pedas Indomie. "Tissue, tissue, tolong tissue-nya, Lang!"

Aku tak melihat ada tisu di mejaku (karena aku tak pernah punya). Refleks kutarik sapu tangan dari saku belakangku dan kuberikan kepadanya. Dia segera menghapus noda di wajahnya.

Aku tersadar... sapu tangan itu...

Tapi telah terlambat!

"Sapu tangan ini kok baunya aneh? Kayak..." Margie menatapku takjub, kemudian tawanya berderai-derai. "Elaang! Gila kamu ya!"

Sebelum dia berteriak, kubekap mulutnya. Dia meronta.

"Ingat, Marg, kita punya rahasia masing-masing," kataku dengan nada mengancam.

Dia berhenti meronta, lalu menatapku. Sebelum mengembalikan sapu tanganku, dia membolak-baliknya.

"Edan, ada darahnya. Perawan, Lang?"

"Hush. Entar aku cerita. Kembalikan."

Dia menyerahkan slayer itu. Lalu tersadar, lantas menyumpah-nyumpah dengan bergidik kegelian.

"Iiih. Huek, aku mengelap mukaku dengan sisa... Huek... huek." Dia melompat berlari meninggalkanku.

Aku tahu dia menuju toilet. Aku tertawa melihat gadis itu menghilang di kamar kecil. Kumasukkan kembali slayerku ke kantong, lalu berpikir untuk menyimpannya di tas Levi's kuningku saja, bersama pakaian kotorku — agar tak ada korban sapu tangan itu lagi. Tentu saja tak akan pernah kucuci; ini sisa-sisa kenangan yang luar biasa. Walaupun ada bau kuah Indomie, tak mengapa. Malah membuat kenangannya tambah nyata.

Sesaat kemudian Margie telah keluar dari kamar kecil. Matanya melotot memandangku.

"Maaf, Marg... maaf..."

"Sialan lu. Tapi harum juga..."

Lalu kami tertawa bersama. Kupeluk tubuhnya penuh persahabatan.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya