18px

Bab 1

Nek Bilah

Kami baru saja pindah ke kawasan itu.

Kawasan perumahan yang segala sesuatunya serba sendiri-sendiri—tak seorang pun mau mengusik yang lain. Saat aku bersama dua orang buruh mengangkati barang-barang rumah kami, tiba-tiba seorang perempuan setengah baya datang menghampiri dan menegur ayah-ibuku. Sebagai tetangga baru, tentu ayah dan ibu sangat ramah kepada perempuan itu.

Akhirnya aku memanggilnya nenek. Nek Bilah, begitu panggilan kami. Dia seorang janda beranak empat; kesemuanya sudah berumah tangga. Itu sebabnya dia kami panggil nenek. Anak-anaknya jauh di kota lain, itulah pula sebabnya dia mendekatkan diri kepada kami—agar kami, tetangganya, menjadi saudara terdekatnya. Bila ada apa-apa pada si nenek, kami tetangga yang lebih dulu menolongnya.

Aku suka menolongnya menyirami bunga-bunga yang banyak sekali di halaman rumahnya—anggrek berwarna-warni dengan berbagai jenis, demikian pula tanaman lainnya. Ibu dan ayahku pun senang melihatku menolong si nenek yang selalu memakai daster di rumah. Umurnya 63 tahun. Tubuhnya masih sehat dan kelihatan segar bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Setiap dia menggoreng singkong atau membuat kue apa saja, orang yang pertama diberinya adalah aku. Dia tak segan-segan memanggil namaku dan menyerahkan sepiring kue masakannya untuk kami cicipi sekeluarga. Ayah dan ibu pun bila membeli kue dari pasar selalu memberinya, bahkan membawakan oleh-oleh setiap kali ke luar kota.

Aku sering tiduran di gazebo mungilnya di samping rumah sambil membaca buku-buku kuliahku. Biasanya aku juga membawa laptop ke gazebo itu. Sore itu, Nek Bilah baru saja selesai mandi—terpancar dari aroma sabun di tubuhnya. Aku masih tiduran di gazebonya. Terkadang aku hanya melompat pagar saja kalau malas masuk dari gerbangnya. Biasanya si nenek tertawa saja, dan ibuku hanya bilang, "Hati-hati melompat, nanti terkilir." Kali ini aku sengaja tiduran memakai kain sarung saja dan kaos oblong.

Nek Bilah datang. Dia memijiti betisku memakai vaseline.

"Enak nek, terus dong?" kataku. Ibuku malah nyeletuk dari seberang pagar.

"Enak aja nyuruh orang tua. Kuwalat baru tahu?" kata ibuku.

"Ya, gak apalah," seru nenek menimpali dan meneruskan pijatannya. Nenek memijat betisku dengan seksama. Aku menikmatinya. Saat tangannya sampai ke pahaku, aku baru ingat kalau aku tidak memakai celana dalam. Kubiarkan saja, toh nenek hanya memijat sampai betis saja, pikirku. Nenek menyingkap sarungku, katanya biar leluasa. Nyatanya, nenek menyingkapnya terlalu tinggi sampai ke pantatku. Mungkin nenek mengira aku memakai celana dalam.

"Waoow... besar juga punyamu," kata nenek sembari mengelus penisku. Tak kusangka nenek begitu berani.

"Emangnya kenapa, nek?" kataku.

"Apa sudah pernah dimandiin?"

"Setiap hari ya dimandiin, nek," kataku.

"Maksud nenek dimandiin yang lain, mandi enak..." katanya genit.

"Oh, belum. Apa nenek mau memandiinnya?" kataku nakal pula.

"Ikh, kamu, kok mau sama nenek-nenek..." katanya.

"Nenek dan gadis sama saja. Yang penting kan rasanya," aku menimpali semakin berani.

Nek Bilah diam. Kontolku terus dielusnya memakai vaseline. Tentu saja semakin keras.

"Sudah, sekarang terlentang," katanya.

Aku mengikutinya dan menelentangkan diri.

Nek Bilah kembali memijat pahaku. Gazebonya memang terlindungi oleh pohon-pohon bunga. Jika tak diperhatikan betul-betul dan dengan sungguh-sungguh, tak seorang pun yang tahu kalau di gazebo itu ada manusia—termasuk dari rumahku sendiri. Itu pula yang menyebabkan aku menyenangi gazebo itu sebagai tempat belajar dan mengetik kuliah di laptopku.

Nek Bilah menyingkap kain sarungku sampai ke pusar, dan jelas-jelas kontolku berdiri dalam elusannya terlihat dengan jelas.

"Enak?" Nek Bilah bertanya setengah berbisik. Aku mengangguk. Kulihat Nek Bilah melepaskan celana dalamnya.

Setelah matanya celingak-celinguk ke kiri dan kanan, depan dan belakang, dia menaiki tubuhku dan mengangkangiku. Aku diam saja. Diangkatnya dasternya dan dituntunnya kontolku memasuki lubang memeknya. Sebelumnya dia lumuri vaseline dulu di bibir memeknya. Setelah ujung kontolku kena persis di antara kedua bibir memeknya, dia menekan tubuhnya dari atas, lalu melesatlah kontolku ke dalam memeknya. Terasa hangat di dalam lubang memek Nek Bilah. Untuk pertama kali kontolku terkeram di lubang nikmat. Nek Bilah seakan mengurut dadaku—pintar betul nenek ini bersandiwara memerankan dirinya seperti tukang pijat, bisik hatiku. Pantatnya yang besar memenuhi pahaku. Aku memejamkan mataku. Goyangannya semakin menjadi-jadi dan semakin cepat. Aku merasa nikmat bukan kepalang.

"Kontolmu memang besar dan panjang. Keras lagi," kata Nek Bilah to the point.

Dia tidak memilah kata lagi. Mulutnya mulai bicara kotor. "Kontol bagus," katanya setengah berbisik. Aku tak mau kalah. "Memek nenek juga enak, walau sudah tua. Goyangan nenek juga hebat. Kapan saja nenek mau kontolku, nenek boleh kasih kode aku," kataku. Dia tersenyum. Aku menikmati dan tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan saja goyangannya. Tiba-tiba croot... crooot... croooootttt. Spermaku muncrat memenuhi lubang Nek Bilah. Dia semakin mempercepat goyangannya, menindihku kuat-kuat dan mencium leherku. "Nenek juga sampai..." katanya.

Sejak itu, atas sarannya, jika aku mau ke gazebo tidak boleh pakai celana—harus pakai sarung dan tanpa celana dalam. Aku setuju.

Sepulang kuliah, selesai makan siang, aku berganti pakaian dengan sarung. Kulihat Nek Bilah sembunyi-sembunyi memberi kode dari gazebonya. Aku ambil laptop dan menyeberang.

"Ini, kasih kue ini pada nenekmu," kata ibuku.

"Aku lihat tadi Nenek naik becak keluar. Tapi nanti kalau pulang kuberikan," kataku berbohong pada ibuku. Aku membawa sebungkus kue untuk Nek Bilah. Begitu aku masuk ke halaman rumahnya, kulihat Nek Bilah merangkak menuju gazebonya—geli melihatnya, nenek-nenek masih merangkak bagai kucing berjalan memakai kedua kaki dan kedua tangannya agar tubuhnya rendah dan tak kelihatan. Nek Bilah sudah pula menambah berbagai tanaman mengelilingi gazebo hingga semakin rindang dan susah untuk dilihat dari luar.

Begitu aku sampai di gazebo, Nek Bilah langsung merebahkan tubuhku dan tubuhnya pun tergeletak di sampingku. Dilumurinya kontolku memakai vaselin agar licin, dan dirinya pun melumuri lubangnya. Maksudnya agar kontolku cepat memasuki lubangnya, karena lubangnya sudah kering dan sudah menopause—vaselin sangat membantu. Setelah kontolku keras, dia minta aku menindihnya. Aku menyucukkan kontolku ke vaginanya.

"Mau yang lebih enak?" bisiknya padaku. Aku mengangguk.

Dia meminta aku mencabut kontolku dari memeknya. Dia mengambil lagi vaselin dan melumurinya.

"Tekan," katanya. Aku menekan kontolku. Kok sempit sekali. Ternyata kontolku dituntun ke lubang anusnya. Kutekan kuat-kuat secara perlahan; akhirnya kontolku dijepit oleh anusnya.

Wah, nikmat sekali.

Sejak itu aku lebih sering meminta lubang anus ketimbang lubang memeknya. Akhirnya ada kesepakatan: setiap Selasa, jatahku lubang memek; setiap Jumat, jatahku lubang anus. Terkadang aku yang horny—jika demikian, aku langsung ke rumah nenek dan sebelumnya sudah lebih dulu mengirimkan SMS agar dia siap-siap. Walau bukan Selasa atau Jumat, bisa Rabu atau Kamis atau hari apa saja. Nek Bilah langsung membuka celana dalamnya dan melumuri lubang anus dan memeknya—terserah aku memilih yang mana. Tapi biasanya kalau sudah aku pesan melalui SMS, jatahku adalah lubang memek.

Nek Bilah yang lihai dan pandai bermain sandiwara. Ternyata dia seorang aktris.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya