Niki yang Tak Terlupakan (Bagian 3)
Niki yang Tak Terlupakan (Bagian 3)
Niki membuka tangannya, lutut kirinya pun rebah membuka. Aku mengusap pipinya dengan halus saat jari Niki menjelajahi leherku pelan, lalu dada, lalu naik mengelus lenganku—pelan dan lembut menyusuri bagian dalam lenganku ke arah ujung jari. Digenggamnya jari-jariku, dikecupnya, lalu dibawa ke leher, ke dada, didekapnya sesaat. Lalu, tiba-tiba aku telah terbenam dalam dekapannya. Dadanya yang bulat penuh menekan dadaku, memberikan kehangatan yang lembut, kehangatan yang menjalar pelan ke bawah perut.
Tanganku mengusap punggung dan rambutnya, lalu entah bagaimana mulainya, tiba-tiba saja aku sudah menciumi lehernya. Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya—Niki menggelinjang geli. Kusodorkan bibirku untuk meraih mulutnya; ia merintih lirih dan merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku, lalu kami berpagutan dengan lahap bagaikan kelaparan. Pelukan dan ciuman inilah yang sebenarnya paling kurindukan, yang tidak dapat dilakukan saat di saung atau di ruanganku. Cinta dan ketulusannya kini dapat kurasakan lewat peluk dan ciumannya.
Niki terpejam manja saat kujelajahi mulutnya dengan lidahku; bibirnya langsung menyedot dan melumat lidahku dalam-dalam.
"Oohh, Yang...!" Niki mengeluh saat tanganku mulai merayapi tubuhnya, bermain di sekitar puting susu, turun ke perut, menyelusup ke celana dalamnya. Masih dalam pelukan ia merebahkan diri di meja, dialasi jas milik si Hongkong.
Setelah rebah berdampingan, kami mengendorkan pelukan dan membebaskan tangan agar lebih leluasa. Kami saling menyentuh bagian-bagian sensitif yang masing-masing sudah sangat hafal. Niki memejamkan mata menikmati sentuhan-sentuhanku, sementara jarinya mengurut lembut batang penisku—dari pangkal ke atas, memutari kepala, lalu turun lagi ke pangkal—membuat batangku keras membatu.
"Yang...! Jilat...!" ia mendesah. Aku mengerti maksudnya.
Aku bangkit, lalu bibirku mulai menciumi seluruh tubuhnya, mulai dari lengan sampai ke ujung jari, kembali ke ketiak, menyusuri buah dadanya ke tangan yang satunya.
"Yaanng, Nik kangen jilatanmu...!" Niki mengerang dan menggelinjang semakin kuat.
Saat jilatanku mencapai pangkal lengannya, Niki berbalik menelungkup. Kini lidahku menyusuri pundak; Niki terlonjak saat lidahku mendarat di kuduknya, lalu perlahan menjelajahi punggungnya.
Saat jilatanku mencapai pinggiran celana dalamnya, Niki kembali menelentang lalu membuka celana dalamnya. Lidahku pelan-pelan menyusuri pinggang, perut, terus ke bawah. Paha Niki terbuka, menyodorkan bukit kemaluannya yang menggunduk dengan belahan merekah ke hadapanku. Melewati pinggiran gundukannya, lidahku meluncur ke samping, menjilati paha luar sampai ke jari kaki, lalu kembali ke atas lewat paha bagian dalam. Sampai di pangkal, lidahku menjelajahi lipatan paha, memutari pinggiran bulu-bulu halusnya, lalu menyeberang ke paha sebelah. Niki melenguh keras.
Aku menjelajahi kedua lipatan pahanya bolak-balik, kadang lewat gundukan bulu-bulunya, kadang lewat bawah liang vaginanya. Pahanya terkangkang lebar sementara cairannya semakin membanjir. Lalu tangannya menggenggam rambutku dan menyeret kepalaku, membenamkannya ke tengah selangkangannya yang basah dipenuhi cairan kenikmatannya. Aku langsung menyedot kelentitnya.
Niki tersentak. "Yaangg... kamu... nakal...!" rintihnya menahan nikmat yang menggelora.
Dengan bertumpu kedua tangan, lidahku kini menjelajah dengan bebas di celah vagina, menjilati klitorisnya dengan putaran teratur, lalu turun menjelajahi liang kewanitaannya. Niki mengejang sambil mengerang-erang.
"Yaang, udaah... masukin...!" Niki mencengkeram leherku dan menyeretnya ke arah bibirnya.
Aku mengambil posisi konvensional. Batangku yang sudah tegang mengeras menyentuh gerbang kenikmatan yang licin oleh cairannya. Niki tersentak saat kepala penisku menyeruak di bibir vaginanya.
Kubenamkan kepala penisku sedikit demi sedikit. Oh, hangatnya vagina Niki. Dinding vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot; remasannya yang selalu kurindukan mulai beraksi. Kutarik lagi penisku—pinggul Niki menggeliat seolah ingin melumatnya. Kubenamkan lagi batang penisku perlahan; Niki menaikkan pinggulnya ke atas sehingga setengah batang penisku ditelan vaginanya. Pinggulnya diputar-putarkan sambil melakukan remasan nikmatnya.
"Ooogghh, Niikk... aduuhh...!" desahanku membuat Niki semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya, membuat batang penisku seolah dipilin-pilin oleh liangnya yang masih sempit.
"Maass... tekaann Maass...! Niikii... hh... nikmaatt sekali...!"
Pinggul dan badannya semakin seksi; perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi. Aku setengah duduk dengan bertumpu pada dengkul, menggenjot penisku keluar masuk vagina Niki yang semakin berdenyut.
"Creekk... creekk... blees..." gesekan penis dan vaginanya bagaikan kecipak cangkul Pak Tani di sawah berlumpur.
"Yaang, aduuhh, batangnyaa... oohh... Niik... nggaak tahaan...!"
Badan Niki bergetar; pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan penisku.
Badan Niki berguncang-guncang keras, goyangan pantatnya tambah menggila dan lubangnya seakan mau memeras habis batang penisku. Spermaku rasanya sudah mengumpul di kepala penis, siap menyembur kapan saja; susah payah aku bertahan agar Niki mencapai klimaks lebih dulu.
"Teken teruuss...! Yuu bareng keluariin Maass...!"
Goyangan kami makin menggila. Aku menusukkan batang penisku setengah, dan setiap coblokan ke delapan aku menekannya dalam-dalam. Akibatnya gelinjang pantat dan pinggul Niki semakin menjadi-jadi. Sambil mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem-melek. Kuciumi dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, lidahnya; ludahnya pun kusedot dalam-dalam. Niki mencakar punggungku keras sekali sampai aku tersentak kesakitan—itu tandanya ia mau mencapai klimaks. Aku tahan mati-matian agar tidak muncrat lebih dulu sebelum ia orgasme.
Tiba-tiba, "Yaanng... oohh... aduhh... Niik... keluaar... oohh... aduuh... gilaa... aahh... aahh... uuhh... uuhh... uuhh...!" Dia sekali lagi mencakariku—itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa.
Aku tidak peduli punggungku yang baret-baret oleh cakarannya. Aku terus menggenjotkan penis dengan teratur sambil berkonsentrasi merasakan nikmat yang semakin mendesak-desak di ujung penisku. Suatu gelombang dahsyat bagaikan menyedot seluruh perasaanku, menyembur dari ujung kemaluanku, memancar dalam-dalam di liang vaginanya. Aku mengejang beberapa detik, lalu terkulai dalam pelukannya.
Beberapa menit kami berdiam sambil berpelukan, sampai batangku melemas dengan sendirinya. Aku turun dari tubuhnya. Niki turun dari meja, mengambil tisu dan teko air dari meja si Hongkong. Lalu kami membersihkan organ masing-masing, kembali berciuman sambil saling mengenakan pakaian. Selesai berpakaian, Niki keluar duluan mengintip; dengan kodenya aku keluar kembali ke ruang komputer. Di sana satpam sudah menunggu. Kukatakan aku dari kamar mandi, dan Niki tidak tahu ke mana.
"Kenapa? Aku dari bawah barusan... lewat tangga." Niki muncul di pintu, memberi penjelasan.
"Lho, saya juga lewat tangga..." kata satpam.
"Ooo... naiknya sih lewat lift depan," Niki berkilah.
Program transferku sudah berhenti memproses. Setelah beres-beres, mematikan komputer, AC, dan lainnya, aku, Niki, dan satpam turun. Kuantar Niki sampai mobilnya.
"Thanks, ya..." kataku.
Ia mengedipkan mata. "Sama-sama..." katanya.
Ke tiga: Di Shiatsu
Kalian tahu shiatsu? Sauna ala Jepang yang populer akhir tahun 80-an. Sejak acara lembur di kantor, Niki dan aku sama-sama sibuk sehingga kami jarang bertemu. Aku kangen berat tapi tidak bisa apa-apa, sampai suatu ketika ada pesan di mejaku dengan tulisan rahasia yang hanya dimengerti kami berdua. Niki "memerintahkan" aku mengecek jadwal SS untuk family—kayak yang dulu!
SS adalah shiatsu, mandi uap ala Jepang, sedangkan "family" adalah hari khusus yang mengizinkan pasangan suami istri mandi uap bersama. Aku langsung mengecek ke beberapa tempat; ternyata hanya ada satu yang menerima family, yaitu di satu pertokoan besar di Jakarta Pusat, itu pun hanya hari Rabu. Niki segera kukabari.
Singkatnya, pada hari yang ditentukan, Niki pamit keluar sementara aku memang sedang bertugas di klien. Pukul sepuluh, Niki kujemput di wartel sekitar satu kilometer dari kantor. Niki minta naik taksi—untuk menghilangkan jejak!—yang lalu menurunkan kami di tujuan. Sepanjang jalan kami tidak banyak mengobrol; tangan justru lebih aktif saling meremas, kadang "nyelonong" ke lutut.
Bolak-balik Niki berbisik di telingaku, "Yaang... aku kangeen...!" desahnya membuat batangku pelan-pelan mengeras.
Aku bergegas ke loket mendaftar sebagai pasutri dan Niki langsung ke ruang ganti perempuan. Buat yang belum tahu, begitu daftar kamu mendapat celana pendek, handuk, dan kunci loker. Kegiatan shiatsu berlangsung hanya dengan memakai celana pendek, kecuali yang perempuan—biasanya mereka memakai swimsuit dulu baru dilapisi celana pendek.
Acara dimulai dengan mandi uap: masuk ke satu ruang yang diuapi dengan batu dibakar dan ditetesi air, membuat kita sulit bernapas tapi keringat berikut berbagai racun yang tersembunyi keluar semua lewat pori-pori yang terbuka. Ruang uap untuk laki-laki terpisah dengan yang untuk perempuan.
Hari itu sepi; aku hanya bertiga di tempat cowok. Tidak lama aku dipanggil pelayan, "Bapak dipanggil Ibu ke sebelah," katanya.
"Boleh ke sana?" tanyaku.
"Boleh, mumpung lagi kosong. Tapi nanti kalau ada ibu-ibu yang lain, Bapak harus kembali ke sini, ya!" lanjutnya.
Tentu saja kujawab iya!
Bersambung...