18px

Nikmat yang Tiada Tara

Nikmat yang Tiada Tara

Namaku Berta, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku.

Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih. Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Buah dadaku tidak terlalu besar, ukuran 34 B.

Sebulan yang lalu, seorang laki-laki berumur 28 tahun memintaku jadi pacarnya. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu kuimpikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana.

Namanya Andre, kekasih pertamaku. Andre sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Andre sangat romantis — dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi. Ribuan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja.

Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah. Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi.

Hari ini, 30 Maret 2010, tepat sebulan hari jadi kami. Andre dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend ini kami berlibur ke Kaliurang.

Sabtu yang kunantikan datang juga. Andre berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB. Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebar-debar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa — kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja.

Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam. Tak lama kemudian Andre datang dengan mobil Honda Jazz putihnya. Ahh, Andre selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang.

"Sudah siap berangkat, Berta?" Aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kami sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.

"Masih tutup, Mas. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana?" tanyaku.

"Iya, coba lebih ke atas. Siapa tahu ada pemandangan bagus."

Andre segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Andre memarkir mobilnya.

"Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?"

"Iya, Mas. Berta juga lapar."

Sambil makan roti, Andre dan aku berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Tiba-tiba...

"Aduh, Berta sayang, sudah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil..." ucapnya sambil tertawa. Aku jadi malu dan mengambil tisu di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Andre mendekat.

"Sini, biar Mas bersihin." Aku tidak berpikir macam-macam.

Tapi Andre tidak mengambil tisu dari tanganku — dia mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Ooh, udara pagi yang dingin membuat jantungku berdebar sangat kencang.

"Nah, sudah bersih." Ucap Andre sambil tersenyum. Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 1-2 cm di hadapanku. Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar.

Andre hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa kulihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benar-benar berusaha mengatur napasku. Seketika, ciuman Andre mendarat di bibirku.

Aku pun membalas ciumannya. Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. Kurasakan tangan kanan Andre membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, kurasakan ciuman kami berbeda — ada gairah di sana. Sesekali Andre menggigit bibirku dan membuatku mendesah, "uhhhh..." Refleks aku mempererat pelukanku, meminta lebih.

Tapi Andre justru mengakhirinya.

"I love you, honey." Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya. Aku berusaha tersenyum.

"I love you, too." Dalam hati aku benar-benar malu karena mendesah. Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh, bodohnya aku. Andre lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata.

Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya satu jam. Selesai makan, kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30.

"Waduh, Mas, sudah jam segini. Kos Berta dah tutup, nih. Berta lupa pesan mau pulang telat. Gimana ini?"

"Aduh, gimana ya? Nggak mungkin juga kamu tidur di kos mas."

"Uuh, gimana dong?"

"Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja."

Selama perjalanan aku benar-benar bingung. Di mana aku tidur malam ini?

"Sayang, kita tidur di penginapan aja ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?"

"Iya deh, Mas. Daripada Berta tidur di luar."

Tak lama kemudian Andre berhenti di sebuah penginapan kecil dengan harga murah. Ternyata kamar sudah penuh karena ini malam minggu dan banyak yang menginap. Sampai ke penginapan kelima, akhirnya ada juga kamar kosong — tapi cuma satu.

Karena sudah hampir pukul 23.00, kami memutuskan mengambil kamar tersebut. Sampai di kamar, Andre langsung berbaring di kasur yang ukurannya bisa dibilang single bed. Aku sendiri, karena merasa badan lengket, masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Selesai mandi, dalam hati dongkol juga.

Kalau tahu nginap begini, satu kamar, aku kan bisa bawa baju dalamku yang seksi. Terus pakai baju yang seksi juga. Soalnya aku cuma bawa tank top dan celana jeans panjang.

Hilang sudah harapanku bisa merasakan keindahan bersama Andre. Selesai mandi, aku segera keluar kamar. Tampak Andre sudah tidur. Sedih juga lihat dia sudah tidur. Aku pun naik ke atas kasur dan membuat dia terbangun.

"Dah selesai mandi, ya."

"Iya. Mas nggak mandi?"

"Nggak bawa baju ganti dan handuk."

"Di kamar mandi ada handuk, kok. Pakai baju itu lagi aja, Mas."

Andre mungkin merasa gerah juga, jadi dia pun mengikuti saranku. Gantian aku yang merasa mengantuk. Segera kutarik selimut dan memejamkan mata tanpa berpikir apa-apa. Baru beberapa saat aku terlelap, kurasakan ada sentuhan dingin di pipiku dan ciuman di mataku.

Saat aku membuka mata, tampak Andre telanjang dada. Hanya ada sehelai handuk membalut bagian bawah. Badannya yang atletis tampak begitu jelas dan penampilannya membuatku menahan napas.

"Nggak dingin, Mas, nggak pakai baju? Cuma pakai handuk," kataku dengan senyum penuh hasrat.

Tidak ada jawaban dari Andre. Dengan lembut dan cepat direngkuhnya kepalaku dan kami pun berciuman — bukan ciuman lembut seperti biasanya, tapi ciuman penuh gairah, lebih dari yang tadi pagi kami lakukan. Lidah kami saling bermain, mengisap.

"Mmmm... mmm..."

Kulingkarkan tanganku di punggungnya, kubelai punggungnya. Tangan kananku lalu membelai dadanya yang bidang, memainkan puting susu yang kecil.

Gerakanku ternyata merangsang Andre. Dipeluknya aku lebih erat, kurasakan badannya tepat menindihku. Andre mengalihkan ciumannya ke telingaku.

"Aaah, mmm..."

Tangannya menjelajahi badanku, menyentuh kedua gunung kembarku. Dibelainya dengan lembut, membuatku mendesah tiada henti.

"Aaah, mm, Mas, uhh..." Badanku sedikit menggeliat karena geli. Bisa kurasakan kemaluanku mulai basah karena tindakan tadi. Tangan Andre kemudian masuk ke dalam tank topku, menjelajahi punggungku.

Seakan mengerti apa yang dicari Andre, kumirungkan sedikit badanku dan kulumat bibirnya penuh nafsu. Andre pun membalas dengan penuh nafsu — dan tidak ada satu detik pun, kait BH lepas. Kurasakan tangan Andre langsung kembali ke badanku dan membelai langsung kedua buah dadaku.

"Aaah, uhh..."

"Sayang, tank topnya dilepas ya," ujarnya dengan napas tersengal karena penuh gairah. Tanpa persetujuan dariku, lepaslah tank top dan juga BH-ku. Bagian atasku sudah tak berbusana. Andre langsung menikmati kedua buah dadaku. Diremasinya buah dadaku, membuatku menggeliat, mendesah.

"Aaah, sss... Mas, uhh..."

Erangan dari mulutku tampaknya membuat Andre semakin bernafsu. Dia kemudian mengulum dan mengisap puting buah dadaku.

"Aaaahh, ohh, mmmm..." Aku mengerang, mendesah, menggeliat sebagai reaksi dari setiap tindakannya.

Tangan kiri Andre membelai perutku sementara tangan kanan dan mulutnya masih sibuk menikmati buah dadaku yang mengeras. Kurasakan tangan kiri Andre cukup kesulitan membuka celana jeansku.

Kunaikkan pinggulku dan kedua tanganku berusaha membuka kaitan celana jeans dengan gemetar. Susah payah, celana jeans itu akhirnya terlepas juga. Tangan kiri Andre tanpa membuang waktu langsung menyusup ke dalam celana dalamku, membelai kemaluanku yang sudah basah.

"Aaahh, Mas, aah, terus, sshh, mmmmm..."

Kurasakan Andre menekan klitorisku.

"Aaahh..." membuatku semakin mendesah dan bergetar. Apalagi Andre masih mengisap puting buah dadaku. Tidak lama kemudian kurasakan seluruh badanku terasa kencang, kemaluanku mengalami kontraksi, dan aku menggeliat hebat.

"AAAHHH..." sambil memegang pinggiran tempat tidur, menyambut orgasme pertamaku.

Andre tampak puas dapat membuatku merasakan orgasme. Belum selesai aku mengatur napas, Andre berada di antara kedua pahaku, dijilatinya kedua buah dadaku, turun ke bawah, menjilat perutku. Membuatku merasa geli penuh nikmat.

"Ooh, Mas..." Seakan tahu apa yang kuinginkan, kedua tangan Andre melepas celana dalamku.

Tampaklah kemaluanku yang memerah dengan sedikit rambut halus di sekitarnya. Andre kemudian memainkan lidahnya di kemaluanku — menjilati, mengulum kemaluanku — membuatku menggelinjang hebat dan kurasakan untuk kedua kalinya adanya kontraksi.

"Aaaaahh..." Aku orgasme untuk kedua kalinya. Sensasi yang sangat menyenangkan.

Andre belum puas dengan orgasmeku tadi. Setelah dia membersihkan kemaluanku, bisa kurasakan lidah Andre menerobos masuk dan menyerbu klitorisku. Napasku semakin memburu dan dari bibirku terus mengalir alunan desahan kenikmatan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

"Aahh, Mas, aah, uuhh, eenaak, mmm, sss..."

Aku sangat menikmati oral yang diberikan Andre. Kurasakan dorongan lidah Andre lebih dalam lagi ke dalam kemaluanku, membuat cairan dari dalam kemaluanku terus mengalir tanpa henti. Desahan yang keluar dari mulutku semakin kencang. Semakin lama Andre memberikan rangsangan di dalam kemaluanku, membuatku menggeliat dan mengerang semakin kuat. Kurasakan lagi kemaluanku berkontraksi, dan aku pun orgasme.

Setelah orgasmeku reda, Andre dengan wajahnya yang basah dan penuh gairah menindih badanku yang sudah telanjang bulat. Andre mengulum bibir dan lidahku. Tangan kiriku kemudian menarik handuk yang masih menutupi bagian bawahnya, membuatku merasakan kemaluannya menusuk perutku dan membuatku semakin bergairah.

Ciuman kami semakin basah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu. Lidah Andre dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan daguku. Aku pun membalas kelincahannya — lidahku membasahi mulut dan dagunya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Aku makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat.

Tanganku menelusuri seluruh bagian punggungku. Andre membelai kepalaku dan tangan kirinya meremas-remas pantatku yang bulat.

"Aaahh, Mas..."

Andre tiba-tiba menghentikan cumbuannya.

"Sayang... aku mencintaimu, aku ingin kamu seutuhnya." Dan mencium lembut bibirku yang sudah basah. Aku sudah terlalu dipenuhi gairah karena segala tindakan Andre hingga rasanya bicara sulit. Kulingkarkan kedua lenganku di leher Andre dan kuhisap kedua bibirnya dalam-dalam sebagai jawabanku. Aku ingin segera menanggalkan keperawananku dalam pelukan Andre.

Andre mengalihkan ciuman bibirnya ke leherku yang putih, menciuminya, menjilatinya, membuatku semakin terangsang. Kurasakan kemaluan Andre mengusap kemaluanku, membuatku semakin bergairah — apalagi kedua buah dadaku yang sudah sangat mengeras dimainkan oleh Andre.

Jilatan Andre dari leherku terus ke bawah hingga lidahnya menyentuh ujung puting susuku, yang makin membuat aku mengerang tak karuan.

"Aaahh, oohh, mmm, aahh." Sementara puting susuku yang satu lagi masih tetap dia pilin dengan sebelah tangannya.

Kemudian tangannya terus ke bawah buah dadaku dan terus hingga akhirnya menyentuh permukaan kemaluanku. Tak lama kemudian kurasakan kemaluan Andre tenggelam di dalam kemaluanku setelah susah payah karena kemaluanku yang sempit.

"Uuuh, aarggh..." Kurasakan nyeri yang sangat hingga menangis.

"Sakit ya, sayang? Sabar ya. Ntar juga hilang kok." Andre menenangkanku sambil mencium mataku yang mengeluarkan air mata.

Setelah kurasakan kemaluanku mulai terbiasa dengan kehadiran kemaluan Andre, dia kemudian menggerakkan kemaluannya perlahan, keluar-masuk kemaluanku. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan membuatku mendesah nikmat. Makin lama makin cepat, kembali aku hilang dalam orgasme yang kuat dan panjang.

Tapi Andre yang tampaknya nyaris tidak dapat bertahan, semakin mempercepat gerakannya. Aku yang baru saja orgasme merasakan kemaluanku yang sudah terlalu sensitif berkontraksi lagi.

"Sayang, aku sudah mau keluar. Dikeluarin di mana?" tanya Andre sambil terengah-engah.

"Di dalam saja, Mas." Toh, aku juga dalam masa tidak subur. Jadi buat apa dikeluarkan di luar, pikirku.

Tak lama kemudian aku segera mengalami orgasme bersamaan dengan Andre. Kurasakan semburan di dalam liang kemaluanku yang memberikan kenikmatan tiada tara.

Andre kemudian merebahkan diri di sampingku dan memeluk erat tubuhku. Tubuh mungilku segera tenggelam dalam pelukannya. Tangan Andre dengan lembut membelai rambut panjangku.

"Berta sayang... selamanya kita bersama ya, sayang." Dan ciuman lembut, romantis mendarat di bibirku.

"Iya, Mas." Kucium bibirnya lambat tapi sesaat, kemudian kurapatkan badanku ke badannya. Kulihat jam di kamar menunjukkan pukul 01.00. Mataku pun sudah lelah dan kami pun tidur dengan pulas.

Pagi menjelang. Sinar matahari masuk ke dalam kamar melalui jendela dan membangunkanku. Ada sedikit rasa terkejut melihat wajah Andre karena baru pertama kali aku tidur dengan laki-laki.

Tapi teringat kejadian semalam membuatku kembali terangsang. Perlahan, kucium bibir Andre yang sedikit terbuka. Ternyata ciumanku membangunkan Andre, yang kemudian membalas ciumanku dengan lebih bergairah dan menggigit telingaku.

"Selamat pagi, sayangku, cintaku," ucapnya.

"Pagi..." Kucium lagi bibirnya dan tak lama kami pun saling mengulum bibir satu sama lain, memainkan lidah, menambah kenikmatan di pagi hari. Karena ingin sedikit iseng, kulepas ciumanku.

"Aku mandi dulu ya..." Belum sempat aku berdiri, baru duduk, Andre menarik perutku dan menciuminya dengan lembut — membuatku menahan keinginan untuk meninggalkan tempat tidur.

"Nanti saja, sayang." Perlahan ciuman Andre dari perut naik menuju leherku, menjilatinya, membuatku mendesah nikmat.

"Aahh, mmm..."

Andre menjilati leherku dari belakang. Tangan kanannya meremas-remas buah dadaku dan tangan kirinya menekan kemaluanku. Kurasakan jarinya masuk menyusuri liang kemaluanku, memainkan klitorisku. Tak lama badanku pun menggeliat, pinggulku terangkat, dan orgasme pertama pagi itu datang.

Dengan lembut Andre memangkuku. Diletakkannya aku di atas kedua pahanya. Kakiku melingkar di punggungnya. Kami pun berciuman dan Andre perlahan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluanku.

Andre kemudian memompa kemaluannya, membuatku menggelinjang penuh nikmat. Sambil memainkan kemaluannya, Andre menikmati kedua buah dadaku yang mengeras.

"Aaah, aah, aahh..." Semakin lama, semakin cepat, dan aku merasakan kemaluanku kembali berkontraksi. Kupeluk kepala Andre dengan erat dan aku mengerang karena orgasme.

"Aaaaaaahhhh..." yang disusul dengan Andre yang juga mencapai puncaknya.

Setelah itu kami bercumbu lagi beberapa saat, kemudian baru mandi dan pulang ke kota meninggalkan sprei kamar yang basah oleh cairan kami berdua serta bercak darah pertanda hilangnya keperawananku.

Sebelum memulangkanku ke kos, kami mampir ke kos Andre untuk bercinta lagi. Sejak saat itu, setiap akhir pekan jika tidak ada kesibukan kami pasti check in di hotel untuk bercinta.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya