18px

Bab 1

Nikmatnya Ibu Pacarku

Ini kiceritakan pengalamanku sama ibunya Whiena.

Waktu itu kira-kira jam 8 malam, aku berniat mau ke rumahnya Whiena soalnya kami janjian mau ngantar dia ke acara ulang tahun temannya. Pas sampai di rumahnya, ternyata yang buka pintu Ibu Indah, ibunya Whiena yang juga dosen waliku.

"Malam, Bu," sapaku.

"Oh, Rio, masuk."

Aku pun langsung masuk ke dalam rumah. Kulihat Ibu Indah begitu seksi dengan mengenakan daster putih yang serba tipis sehingga terlihat tubuhnya yang langsing.

"Gila, ni ibu, udah nikah kok masih seksi banget ya," kataku dalam hati.

"Whiena ada, Bu?"

"Oh, Whiena tadi diajak sama papanya ke rumah neneknya yang lagi sakit. Dia titip pesan ga bisa ke rumah temannya yang ulang tahun. Dia minta maaf juga sama kamu karena ga sempat nelpon, soalnya tadi buru-buru sekali."

"Jam berapa perginya, Bu?"

"Sekitar satu jam yang lalu. Mungkin sekarang masih dalam perjalanan." Rumah neneknya Whiena memang lumayan jauh, sekitar 3 jam perjalanan dari kotaku.

"Oh, kalau gitu saya permisi, Bu."

"Jangan dulu, ada yang mau Ibu tanya sama kamu tentang Whiena, tapi Ibu bikinin minum dulu ya."

Ibu Indah pun langsung masuk ke dapur, sementara hatiku jadi bingung entah apa yang mau ditanyakan olehnya. Jangan-jangan dia tahu soal hubunganku yang intim bersama Whiena, bakal diinterogasi nih, pikirku. Gawat!

Ibu Indah keluar dari dapur dengan membawa dua gelas minuman dingin.

"Silakan diminum, Rio."

Aku pun langsung minum, sementara hatiku agak tegang karena takut Bu Indah akan marah-marah. Dag dig dug detak jantungku terdengar keras seakan mau lepas.

Ibu Indah duduk di kursi tepat di hadapanku dan dasternya agak tersingkap sehingga pahanya yang putih terlihat jelas. Jantungku berdenyut makin kencang dan aku segera menunduk karena tidak enak sama Bu Indah.

"Rio, kamu serius pacaran sama Whiena?"

Aku agak terkejut karena pikiranku masih melayang entah ke mana.

"Serius, Bu, saya siap bertanggung jawab jika terjadi apa-apa sama Whiena," jawabku sambil tetap menunduk.

"Kamu kok diajak cerita malah nunduk sih, Rio, kan ga enak."

"Maaf, Bu."

Kuangkat kepalaku. Kini duduk Bu Indah agak mengangkang sehingga samar-samar kulihat bagian dalamnya, dan ternyata Bu Indah tidak pakai celana dalam. Napasku pun agak memburu menahan nafsu namun tidak berani berbuat apa-apa karena yang di hadapanku adalah ibunya Whiena yang juga dosen waliku di kampus.

"Kamu kenapa, Rio?" tanya Bu Indah pura-pura tidak tahu.

"Tidak, Bu, anu..." Aduh, aku mulai bingung, sementara Bu Indah tersenyum memandangku.

Kemudian Bu Indah berdiri dan duduk di sampingku.

"Kamu terangsang ya, lihat paha Ibu?" Aku pun hanya diam, sementara tangan Bu Indah mulai memegang pahaku.

Kemudian Bu Indah berbisik, "Kamu puasin Ibu ya malam ini. Ibu sudah lama ga pernah disentuh oleh bapaknya Whiena, dia terlalu sibuk sama urusan kantornya."

"Tapi, Bu..." Srup, bibir Bu Indah langsung melumat bibirku dan tangannya meremas-remas kontolku. Pikiranku sangat kacau, aku masih bingung dan belum percaya kalau ternyata Bu Indah memiliki nafsu yang tinggi.

Birahi pun mulai bangkit. Aku pun mulai meremas-remas toketnya Bu Indah.

"Terus, Rio, enak banget."

Tangan Bu Indah mulai membuka celana jeansku. Aku pun membantunya, dan kemudian kulepas kaosku sehingga kini tinggal celana dalam yang melekat.

"Rio, kita ke kamar aja yuk." Dia kemudian menciumku.

Bu Indah langsung masuk ke kamar dan membuka dasternya. Tubuh Bu Indah kini polos.

"Wow, Ibu cantik banget, putih, seksi, ga kalah sama Whiena."

"Ah, kamu bisa aja, Rio," jawab Bu Indah sambil tersenyum.

Tubuh Bu Indah memang sangat mulus. Kulitnya putih, toketnya yang besar, serta bulu jembutnya dicukur rapi.

"Sini dong, Rio, kok malah bengong."

Ibu Indah duduk di tepi ranjang dan kemudian aku mendekat dan menunduk menciumnya. Tangan Bu Indah melepaskan celana dalamku dan keluarlah kontolku.

"Gila, Rio, punya kamu besar banget, lebih besar dari punya suamiku."

Dia pun mengelus-elus kontolku. Kudorong kepalanya agar segera menghisap kontolku.

"Hisap kontol Rio, Bu."

"Sabar ya, Rio, jangan kuatir, yang pasti malam ini kita harus sama-sama puas."

Bu Indah kemudian berdiri dan menciumku, kemudian turun ke dadaku. Putingku dihisap dan dijilati.

"Ouh, Bu, enak banget, Bu, terus."

Kemudian Bu Indah berjongkok di hadapanku dan menjilat kontolku seperti menjilat es krim, kemudian memasukkan kontolku ke mulutnya. Dia pun memompa dengan lihai. Nikmat sekali rasanya, lebih nikmat dari hisapannya Whiena.

"Terus, Bu." Aku pun mulai memompa kontolku di dalam mulut Bu Indah sehingga mulutnya terlihat penuh dan kadang Bu Indah seperti mau muntah karena kontolku masuk sampai tenggorokannya. Aku mencabutnya dan nampaknya Bu Indah sedikit kecewa.

"Terus, Rio, masukin kontolmu sedalam-dalamnya ke mulutku, kontolmu enak, Rio. Perkosa mulut Ibu, Rio."

Aku pun kembali memasukkan kontolku ke dalam mulut Bu Indah dan tanganku memegang kepalanya sehingga gerakannya berirama. Sementara itu tangan Bu Indah memegang erat pahaku karena dorongan kontolku semakin keras menghujam mulut Bu Indah.

"Mulut Ibu enak banget, isep terus, isep yang kuat."

Sekitar 20 menit aku perkosa mulut Bu Indah sampai dia hampir muntah. Aku pun mencabut kontolku.

"Kuat juga kamu, Rio. Ya udah hampir setengah jam belum keluar. Kalau bapaknya Whiena pasti udah keluar terus langsung tidur, dasar egois banget."

Ternyata Bu Indah selama ini jarang mendapat kepuasan dari suaminya.

"Sekarang giliran Ibu yang kamu puasin. Sekarang kamu tidur."

Aku agak bingung apa maunya Bu Indah, namun aku menurut saja. Aku berbaring di atas ranjang kemudian Bu Indah berjongkok di atas dadaku.

"Rio, Ibu juga mau perkosa mulut kamu ya." Dia pun mendekatkan vaginanya ke mulutku dan mulai memompanya. Aku pun menjulurkan lidahku. Asin, ternyata cairannya Bu Indah banyak banget keluar.

Kini tangannya berpegang ke tepi ranjang sehingga agak nungging dan terus memperkosa mulutku bahkan hidungku. Aroma harum dari vaginanya membuat gairahku semakin meningkat.

"Lidah kamu enak banget, Rio, hidung kamu juga. Terus, Rio, nikmat." Bu Indah terus memompa vaginanya ke arah mulutku sehingga terkadang aku kesulitan bernapas. Akhirnya Bu Indah berhenti karena terlihat capek sekali.

Aku pun membaringkan Bu Indah dan mengangkangkan kakinya, kujilati klitorisnya dan sesekali kugigit pelan-pelan.

"Ouch, nikmat banget, Rio, terus, hisap terus vaginaku, Rio, terus. Vagina ini milik kamu sekarang."

Aku pun menjilatnya dan kemudian kumasukkan jari ke dalam vaginanya. Bu Indah pun menggelinjang keenakan.

"Ouch, jari kamu enak banget, Rio, apalagi kontol kamu. Terus, Rio."

Tak lama kemudian Bu Indah menjepit kepalaku dan menjambak rambutku, dan aku pun mempercepat permainan jari-jariku di vaginanya.

"Shh, uhf, Ibu mau keluar, Rio, hisap yang kuat vagina Ibu, ohh..." Aku pun menghisap kuat-kuat lubang kenikmatan itu dan "cret... cret..." cairan nikmat Bu Indah menyemprot mulutku dan aku pun menjilatnya sampai bersih.

"Gila kamu, Rio, mulut kamu pintar banget memberikan kenikmatan di vagina Ibu."

Aku pun kembali berjongkok di atas kepala Bu Indah dan kembali kuentot mulutnya. Bu Indah pun menghisap dengan kuat kontolku. Aku membalikkan badanku sehingga posisi kami sekarang 69. Aku menahan badanku dengan lutut dan terus memompa mulut Bu Indah sementara memek Bu Indah kembali basah dan aku terus mengelus-elusnya.

Serasa nikmat sekali mulut Bu Indah. Aku pun memompanya semakin beringas dan kemudian Bu Indah nampak tersedak lalu melepaskan kontolku.

"Besar banget kontolmu, Rio, kayak mau robek mulutku."

Aku pun memperbaiki posisiku dan kini kami sama-sama berbaring. Kulumat bibir Bu Indah yang nampak merah dan tanganku memainkan klitorisnya.

"Shh, uhf, nikmat banget, Rio, entot Ibu sekarang. Masukin kontolmu ke memek Ibu, cepet, Ibu udah ga tahan nih, gatel banget rasanya."

Bu Indah pun kusuruh mengangkang dan mengangkat kakinya ke depan hingga terlipat menyentuh toketnya. Kini bibir vagina Bu Indah muncul keluar dan menganga. Aku pun mengarahkan kontolku ke vagina Bu Indah dan mulai menggesek-gesekannya.

"Rio, masukin dong, cepet, Ibu udah pengen banget, ayo dong, sayang." Bu Indah pun merengek seperti anak kecil. Aku pun menancapkan kontolku dengan cepat masuk ke dalam vagina Bu Indah yang sudah licin mengkilau.

"Ouhhh, sakit banget, Rio, kontol kamu gede banget, pelan-pelan dong."

"Tapi enak, Rio, terus, pompa terus memek Ibu, entot terus memek Ibu." Ternyata memek Bu Indah masih sempit dan enak banget, kontolku serasa dipilin-pilin. Aku pun memompa terus vagina Bu Indah, semakin lama semakin cepat.

"Ouh, terus, Rio, aku ga tahan nih, Ibu mau keluar. Terus, entot terus memek Ibu, memek itu punya kamu sekarang, ouh..." Bu Indah mulai meracau tidak karuan.

Kemudian tubuh Bu Indah mengejang dan kontolku terasa dijepit kuat sekali.

"Ouh, Ibu keluar lagi, Rio, kontol kamu enaaaaak bangeeeeet."

Aku pun membalikkan badan Bu Indah dan ternyata Bu Indah langsung mengerti apa mauku, dia pun langsung menungging. Kini kami doggy style. Aku pun memasukkan kontolku ke dalam memek Bu Indah.

"Ouhh, nikmat banget, Rio."

Aku terus memompa memek Bu Indah sambil meremas-remas toketnya yang bergelantungan.

"Ouh, ahh, terus, Ibu mau keluar lagi nih." Aku pun mengocok memek Bu Indah dengan cepat sehingga Bu Indah keluar untuk yang ketiga kalinya.

"Kamu kuat banget, Rio, Ibu bener-bener puas diEntot sama kamu."

"Sekarang kamu entotin mulut Ibu aja, soalnya Ibu paling seneng kalau mulut Ibu diEntot." Gila, ni ibu, ternyata dia seneng banget oral.

Aku pun menarik Bu Indah ke lantai dan kusuruh jongkok, kemudian kumasukkan kontolku ke dalam mulut Bu Indah pelan-pelan sampai amblas semua. Ujung kontolku terasa menyentuh tenggorokannya. Aku pun menahan kepala Bu Indah karena nikmat sekali terasa, ada kenikmatan tersendiri yang muncul ketika kontolku masuk semua ke mulutnya Bu Indah.

Kemudian Bu Indah memukul pahaku karena kayanya dia mulai sulit bernapas, namun aku tetap menahan kepalanya sehingga akhirnya dia dengan paksa menarik kepalanya dan langsung lari ke kamar mandi di samping kami dan langsung muntah. Aku pun mengikuti ke kamar mandi.

"Gila kamu, Rio, kontolmu gede banget."

"Sorry ya, Bu, muntah, abis ga tahan kamu jejelin kontol sebesar itu." Ibu Indah pun menyiram muntahnya.

Kini Bu Indah jongkok kembali di kamar mandi dan mengulum kontolku. Aku pun memompanya secara berirama dan tangan Bu Indah terus memainkan bijiku. Air ludah Bu Indah menetes keluar melalui sela-sela bibirnya dan aku tidak peduli. Aku terus memompa mulut Bu Indah yang seksi sampai kontolku masuk semua. Nampaknya Bu Indah sudah mulai terbiasa dengan kontolku sehingga rasanya semakin nikmat, kontolku serasa mau ditelan oleh Bu Indah.

Aku pun menyalakan shower dan menyiram Bu Indah yang terus asyik mengulum kontolku. Kini tubuh Bu Indah basah dan terlihat semakin seksi. Aku pun menaruh kembali shower itu dan melanjutkan memompa mulut Bu Indah.

"Hisap, Bu, aku udah mau keluar nih."

Aku pun memompa mulut Bu Indah semakin cepat dan Bu Indah sangat menikmatinya.

"Aku keluar, Bu... ouh... ouugght..." Aku pun memasukkan semua kontolku ke dalam mulut Bu Indah dan menyemprotkan sperma di tenggorokannya. Kemudian Bu Indah menarik kepalanya dan membersihkan sperma dari kontolku.

"Sperma kamu enak banget, Rio, kental." Dia terus mengulum kontolku yang masih berdiri tegak. "Kontol kamu masih berdiri, Rio, kamu kuat banget."

"Kita mandi dulu yuk, ntar lanjutin lagi ya."

Kami pun mandi bersama-sama.

Selesai mandi, Bu Indah ngajak makan. Kami ke ruang makan sambil tetap telanjang. Aku pun duduk sambil makan sementara Bu Indah tidak makan, dia hanya duduk di sampingku sambil mengelus-elus kontolku.

"Kok ga makan, Bu?" tanyaku.

"Nggak ah, udah kenyang tadi minum sperma kamu."

Aku pun makan sedikit karena birahiku bangkit kembali.

"Ibu kok seneng banget oral seks, sih?"

"Soalnya kalau oral seks, Ibu bisa rasain kontolmu yang enak banget."

Kami pun melanjutkan birahi kami di ruang makan, kemudian pindah ke ruang tamu, dan akhirnya kami kembali ke kamar dan bercinta kembali sampai subuh.

Hubunganku sama Bu Indah sangat hot, bahkan lebih hot daripada sama Whiena. Kami pernah ngentot di kamar mandi kampus, tapi aku tetap sayang sama Whiena.

Sekarang Bu Indah sudah pindah ke kota Y karena suaminya pindah tugas. Dan semenjak itu aku juga kehilangan kabar Whiena.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya