18px

Nini sang Negosiator – Bagian 2

Nini sang Negosiator – Bagian 2

Makin lama gerakanku makin cepat hingga maksimal. Deasy kembali berteriak keenakan sambil tangannya meremas apa saja yang dapat dipegangnya. Gerakanku makin cepat, kudorong sedalam-dalamnya hingga keringat bercucuran di punggung Deasy. Akhirnya kucapai orgasmeku di vaginanya. Kutekan penisku sedalam-dalamnya dan kudiamkan sambil kusemburkan spermaku beberapa kali; setiap kali menyembur, penisku makin keras dan membesar, sehingga Deasy pun merintih:

"Gila, Vir… Oochh… Viiirr… Aachh… Gua keluar lagi nih…"

Jam 4 pagi kami tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Saat terbangun jam 10 pagi, sekali lagi kami menumpahkan nafsu birahi di kamar itu sebelum Deasy kembali ke Hyatt dan aku beristirahat untuk pertemuan sorenya.

Sorenya aku harus menghadiri pertemuan dalam rangka negosiasi harga untuk barang telekomunikasi yang akan dibeli perusahaanku dari salah satu supplier dari Amerika. Pertemuan diadakan di ruang meeting hotel Mandarin dan dihadiri oleh sebuah perusahaan Indonesia sebagai distributornya. Aku tiba pukul 16:55—masih 5 menit lebih awal—bersama manajer perencanaan yang baru datang siangnya dari Jakarta.

Saat aku masuk, di dalam ruangan sudah ada VP Sales dari perusahaan Amerika itu bersama Sales Manager-nya, Anthony, Direktur perusahaan distributor mereka di Indonesia, beserta Account Manager-nya. Aku telah mengenal mereka semua. Aku mengambil tempat duduk menghadap ke pintu, bersebelahan dengan manajerku. Setelah berjabatan tangan dan mengobrol basa-basi, negosiasi segera dimulai.

Pada saat aku sedang membacakan dokumen, pintu terbuka dan aku mengangkat wajah. Di depan pintu berdiri seorang wanita yang kalau tidak dalam suasana formal bisa membuatku meloncat dari kursi. Nini berdiri di sana, wajahnya kaget melihatku, tapi situasi segera dapat kami kuasai.

Dengan cepat Nini memasang telunjuknya di depan bibirnya; aku mengerti. Nini menghampiri sang direktur sambil menyerahkan sebundel dokumen. Lalu Nini diperkenalkan sebagai PR di perusahaan distributor itu. Tempat duduk di meja berbentuk bundar itu tinggal satu yang kosong dan Nini duduk di sana, di sebelah kiriku. Penampilannya sangat menarik: blazer warna cerah dengan kemeja warna gelap di dalamnya dan rok ketat sedikit di atas lutut.

Dimulai dengan penjelasanku mengenai final design dari sistem yang dibutuhkan, lalu pihak Amerika menerangkan keunggulan-keunggulan produknya, kemudian si distributor mulai membahas aspek komersial—di sini Nini tampak mengambil bagian dalam pembicaraan. Selama mendengarkan, aku mencatat di kertas notes kecil yang kubawa dari kamar hotel, tercetak "Hotel Westin Plaza" di kertas itu. Tak terasa sudah jam 7; kami break untuk makan malam dan dilanjutkan jam 8:30 malam di tempat yang sama. Bersama-sama kami pergi ke sebuah restoran Chinese food dekat Mandarin, lalu kembali ke ruang meeting.

Saat makan, Nini mengajakku mengobrol santai dan dengan anggunnya bersikap sangat profesional, dapat menyembunyikan bahwa dia telah mengenal aku luar dalam. Tak ada tanda-tanda atau kode bahwa Nini ingin bertemu berdua, atau rindu, atau hal lainnya seperti yang dilakukan Deasy kemarin. Padahal aku sudah membayangkan bahwa Nini akan menemani aku malam ini di kamar yang besar itu.

Setelah aku berhasil memperlihatkan bahwa produk mereka bukan yang terbaik karena ada produk saingan yang lebih unggul dari segi fitur—walaupun fitur tersebut tidak aku butuhkan—kupakai hal itu sebagai kartu truf negosiasi. Lalu kusampaikan perkiraan harga yang dapat aku terima, yang masih jauh dari harga penawaran mereka, berbeda sekitar 20%. Aku kembali ke hotel jam 22:30, sangat lelah, langsung mandi dan tiduran sambil menonton TV.

Tiba-tiba telepon berdering.

"Good evening, Mr. Mahendra, I have a lady in front of me, her name is Nini, she would like to meet you," seorang resepsionis wanita berkata di telepon. Haah—aku kegirangan, tapi tak kuperlihatkan.

"OK, thank you. Can you ask her if she's willing to come up or should I go down?" kataku di telepon. Terdengar si resepsionis berbicara dengan Nini.

"She said, if you don't mind, she prefers to meet you there," katanya lagi.

"OK, can you ask somebody to escort her to my room?"

"Definitely, sir," katanya. Terdengar dia memanggil seseorang, lalu berkata kepada Nini, "You may follow him, madame." Sesaat kemudian dia berkata lagi, "She is on her way. By the way, she is very pretty, sir. Good night and thank you."

Dua menit kemudian terdengar pintu diketuk; Nini diantar oleh petugas concierge. Setelah pintu kututup, Nini hanya mengecup pipiku lalu berjalan dengan anggunnya menuju sofa dan duduk di sana, lalu menyalakan Marlboro putihnya. Pakaiannya sudah berganti: celana panjang dan kaus ditutupi jaket kulit.

"Bagaimana kamu tahu aku tinggal di sini?" tanyaku.

"Tadi kamu pakai kertas catatan dari Westin. Aku coba tanya ke front office, lalu aku datang ke sini," jawabnya.

"Bagaimana kamu yakin aku ada di kamar?" tanyaku kembali.

"Aku tidak yakin, tapi aku coba. Ternyata kamu ada," jawabnya lagi.

"Aku sangat kaget melihatmu di ruang meeting tadi—tak kusangka bahwa negosiasi itu dengan kamu, Vir. Kalau aku tahu bahwa kamulah yang akan aku temui, aku pasti tolak tawaran mereka," Nini membuka topik.

"Aku mewakili perusahaan; harusnya aku yang lebih kaget kamu ada di sana tadi. Jadi tolong ceritakan yang sebenarnya," sahutku.

"Pak Anthony minta bantuan aku untuk menggolkan proyek ini. Aku dapat 3%, terserah caranya bagaimana," kata Nini menjelaskan. Hmm, 3% cukup besar juga—nilai proyek puluhan juta dolar; maklum, proyek infrastruktur telekomunikasi yang sedang in di Indonesia. Otakku berputar; tidak terpikir rasanya untuk bercinta dengan Nini saat ini.

"Kita turun yuk, minum kopi sambil berpikir dan ngobrol sebentar. Selintas aku ada rencana lain," kataku sambil berganti pakaian.

Nini tahu bahwa kalau aku sudah serius begitu, aku tidak dapat diganggu maupun dirayu untuk bercinta. Malahan Nini selalu berusaha membantu aku bertukar pikiran untuk memecahkan masalah bersama. Kami turun ke coffee shop dan memesan dua cangkir kopi.

"Apakah mereka tahu kamu menemui aku sekarang ini?" selidikku.

"Tidak. Menurut rencana, besok pagi meeting diundur ke sore, dan aku disuruh menemani kamu secara private sampai siang, sekaligus menyampaikan bahwa ada 2 persen untuk kamu," kata Nini.

"Seberapa dekat hubungan kamu dengan Anthony?" aku bertanya.

"Tidak dekat. Aku dikenalkan oleh sepupuku Deasy; katanya ada bos yang perlu PR untuk menggolkan proyek besar," jawabnya. Wah, Deasy baru meninggalkan kamar ini tadi siang, pikirku.

"Hmm. Sebenarnya aku tahu harga mereka bisa turun sekitar 14 persen lagi, tapi Anthony mau untung terlalu besar. Padahal untuk proyek besar begini, 5 persen cukuplah—toh dia juga tidak kerja, cuma mengurus administrasi saja; banyakan aku yang kerja nantinya. Mustinya kita dapat 10 persen, Ni. Aku juga harus setor ke atas…" kataku.

"Dapat 3% aja lebih dari cukup, Vir. Aku bisa berhenti dari sebagian pekerjaanku yang sekarang sambil cari yang lebih bernilai…" kata Nini perlahan.

"OK, besok aku atur, dan kamu akan dapat poin bahwa kamulah yang berhasil menggolkan proyek ini. Sekarang balik yuk—kamu mau pulang atau tidur di atas? Tidur di atas aja, temenin aku ya," ajakku.

Nini dan aku tidur tanpa pakaian, saling berpelukan di dalam selimut, tanpa ada yang mencoba menggoda dan merangsang satu sama lain walaupun kulit kami saling bersentuhan dan buah dada Nini terasa menekan lengan dan dadaku. Agak penat juga aku berpikir, lalu aku tertidur.

Saat aku bangun, sebagaimana normalnya laki-laki, penis sudah dalam keadaan berdiri keras. Pagi itu, di luar masih gelap. Kurasakan penisku sudah berdiri dan keras sekali seperti batang kayu, ditambah kehangatan dari tubuh telanjang Nini yang menempel di tubuhku. Kurasakan Nini masih tidur; kukecup keningnya mesra. Matanya terbuka dan tersenyum; kepalanya menengadah, mengecup pipiku dengan penuh kasih sayang.

"Good morning, darling, sleep well?" dia bertanya.

Aku tak menjawab, tapi kudorong sedikit tubuhnya sampai telentang, lalu aku berlutut merebahkan kepalaku di dadanya sambil memeluknya. Nini melingkarkan satu tangannya di leherku—mesra sekali kami berdua. Perlahan kukecup keningnya, matanya, hidung, pipi, lalu bibirnya. Saat bibir kami bertemu, rupanya dorongan birahi yang telah terpendam sejak kemarin terasa mau meledak; seketika itu Nini menyambar bibirku dan menciumku dengan permainan bibir, lidah, dan mulut yang luar biasa nikmatnya. Nini memang seorang ahli dalam bercinta. Tangannya yang lain meraba penisku yang sangat keras lalu dikocoknya perlahan.

"Hmm… Penisku sangat keras, Vir. Lebih keras daripada biasanya—cepat masukin, Vir, aku ingin merasakan kerasnya di dalam vaginaku," desahnya.

"Hmm… Tidak mau appetizer dulu?" bisikku.

"Aku pengen sekarang, Vir. Nanti saja dessert-nya," desahnya lagi.

Aku naik ke tubuhnya; pahanya dibuka lebar. Kutempelkan penisku ke vaginanya, kugoyang kiri-kanan perlahan agar kepala penisku dapat membuka bibir lipatan vaginanya—agak sulit. Terasa bibir vaginanya terbuka sedikit; kudorong perlahan, lalu terasa kehangatan dari dalam vaginanya menyelimuti ujung kepala penisku. Kudorong terus dengan mantap sambil tetap kugoyang pantatku. Nini mulai memutar pantatnya searah jarum jam beberapa kali, lalu putarannya dibalik berlawanan arah. Putarannya perlahan seirama dengan goyanganku. Dengan begitu aku dapat merasakan cengkeraman kuat vagina Nini di penisku, dan Nini pun merasakan sesak dan penuhnya lubang vaginanya saat diisi penisku. Tidak ada rangsangan untuk terburu-buru mencapai orgasme.

Nini menghentikan putaran pantatnya; aku pun berhenti, tapi kudorong penisku sedalam-dalamnya di vagina Nini sampai ujung kepala penisku menyentuh sesuatu. Nini mulai menggerakkan vaginanya seakan memijat seluruh batang penisku. Sungguh kuat otot perut bawah Nini meremas penisku. Setiap kali Nini melepas pijitan vaginanya, kukedut otot kegelku perlahan hingga terasa penisku makin mengeras di dalam vagina Nini.

"Oohh… Vir… Ini yang aku cari… Enak sekali, Vir…" Nini menggelengkan kepalanya.

"Vaginamu juga tiada duanya, Ni… Oochh, pijitan vaginamu… Ennaakk…" bisikku pula.

Makin lama pijitan Nini dan kedutanku makin cepat, dan kami mulai menggoyangkan pinggul lagi—makin cepat, pinggul Nini terangkat untuk lebih leluasa berputar semakin cepat seperti gasing. Aku pun tak kalah bersemangat mengocok vagina Nini, mendorong sedalam-dalamnya hingga Nini berteriak setiap kali kusodokkan penisku dalam-dalam. Bibir kami berciuman dengan liarnya; lidah mencari lidah, bibir saling menjepit, diiringi desahan-desahan menggairahkan. Seakan tiada lelahnya, posisi ini kami pertahankan cukup lama.

"Nini… Aku hampir keluar…" aku menjerit.

"Keluarin aja, Vir, kita sama-sama…" Nini balas menjerit. Tak lama kemudian:

"Oochh… Ni… Aku keluaarr…" teriakku. Terasa seluruh tenaga tubuhku mengalir menuju penisku dan terpusat di sana; kutahan sebentar spermaku sampai terkumpul di ujung, lalu kusemburkan yang pertama kuat-kuat sampai terasa aliran sperma melewati salurannya dengan deras.

"Aachh… Vir… Kencang banget… Lagi, Vir… Sembur… Vir… Aku juga keluuarr…"

Kusemburkan dengan kuat yang kedua, ketiga, keempat—semuanya ada 8 semburan yang makin lama makin lemah. Setiap semburan yang kulakukan, Nini mengerang sambil mengencangkan pelukannya di leherku sekaligus memijit vaginanya sehingga penisku seakan diperas agar spermaku habis di vaginanya. Akhirnya aku ambruk di badan Nini, lalu kucium seluruh wajahnya yang berakhir di bibirnya. Penisku masih agak keras; kugeser tubuhku hingga penisku terlepas. Lalu aku telentang di atas ranjang dan Nini berbalik memelukku, menciumku, dan meletakkan kepalanya di dadaku. Tangannya mengelus-ngelus penisku.

"Dessert-nya," bisik Nini.

Lalu Nini mulai menciumku dengan hangat, disusurinya bagian dalam bibirku dengan lidahnya, lalu mencari lidahku, dan kami saling berciuman kembali dengan panasnya, sementara tangannya meraba dan meremas penisku. Nini mulai menjilati seluruh daerah leherku, lalu ke dada; kedua putingku dihisapnya dan diberi gigitan kecil. Tubuhnya yang berada di atas tubuhku membuat cairan yang ada di dalam vaginanya terasa meleleh membasahi sekitar perutku. Nini memutar tubuhnya sehingga posisi kami menjadi 69. Penisku yang belum sepenuhnya berdiri lagi dijilati mulai dari ujung sampai zakarnya. Aku tarik pantatnya—ingin menjilati vaginanya—tapi Nini menolak sehingga aku hanya dapat memegang bulatan pantatnya saja.

"Ini dessert buat kamu, sayang. Nikmatilah," katanya.

Bersambung…

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya