18px

Not Enough

Not Enough

Nama saya Andy, 26 tahun, tinggal di kota M. Saya dan pacar saya keturunan Chinese. Pacar saya, Yanti, 25 tahun. Orangnya cantik, wajahnya alim, polos, badannya bagus, dadanya ukuran standar, kulitnya putih, dan yang paling mengesankan dari bagian tubuhnya adalah pantatnya! Bagi saya sih mengalahkan pantat J-Lo — sungguh padat dan berisi. Kalau kami bergandengan berdua, melihat dari tampang kami yang alim, sungguh tidak akan ada yang menyangka bahwa kami menyimpan gairah yang gila di dalam diri kami.

Ok, sekian pengenalannya.

Saya dan Yanti pacaran sudah lebih dari 2 tahun, dan bercinta sudah lebih dari 200 kali. Kami sangat puas dengan pengalaman seks kami, hanya saja sejak 1 tahun lalu, saya memiliki suatu kelainan yang cukup aneh: saya sangat bergairah jika membayangkan Yanti bercinta dengan orang lain, tidak peduli siapa. Pokoknya dengan membayangkan hal itu, gairah saya meledak. Semula Yanti agak risih dengan fantasi saya, akan tetapi dengan rayuan maut, dia dapat bergairah juga membayangkannya. Singkat cerita, kamipun dapat mewujudkan ide gila tersebut, dan sampai sekarang tidak ada yang berubah di antara kami — tetap saling mencintai dan saling percaya. Semula Yanti takut dianggap selingkuh dan murahan, tetapi bagi saya, jika hal itu dilakukan atas pengetahuan dan anjuran saya, bagaimana hal itu dapat dikatakan selingkuh dan murahan? Kita cuma menganggapnya: seks only.

Berikut akan saya ceritakan pengalaman-pengalaman ML dengan Yanti dengan mengikutsertakan pihak ketiga.

Peristiwa Pertama

Kami biasanya bercinta di rumahnya pada saat kedua orang tuanya bepergian. Suatu malam, saya sedang berdua di rumahnya, kita lagi bercanda di sofa, tiba-tiba dengan genitnya Yanti menyingkapkan kaos saya dan menggigit puting saya.

"Hmm, gila loe, ntar gua nggak tahan," ucapku asal.

Dia cuman melirik dengan mata binal dan kembali menjilati putingku, sesekali menghisapnya kuat.

"Agghh, jangan Yan. Ntar Herry pulang, kita belom tau dia malam ini nginap di rumah temannya ato nggak."

"Tenang aja, bentar aja. Masukkan bentar aja. Gua pengen loe muncrat, dah 2 minggu ga liat loe muncrat," kata Yanti enteng sambil meremas pantatku kuat.

Pembaca, perlu diketahui, Yanti ini walau dari luar kesannya sangat alim, justru menyimpan gairah yang binal. Dia suka dimaki sewaktu bercinta, semakin jorok kata-kata yang keluar, dia semakin gila. Di tengah permainan dia juga suka dikasari (tapi kami tidak menganut seks sadisme, hanya variasi liar dan kasar). Sementara dalam kehidupan sehari-hari Yanti sangat menjaga tutur katanya, nyaris tidak pernah saya mendengar dia mengucapkan kata kotor kecuali kalau dia sangat marah. Singkatnya alim, halus orangnya!

"Nhh, nggak ah Yan, jangan. Ga enak tiba-tiba Herry pulang, ntar kepergok lagi."

"Bangsat loe, tenang aja. Kedengaran kok suara motornya kalo dia pulang. Elo konsen aja, segera keluarin mani loe. Gua lagi haus, cepet," katanya sambil menurunkan celana pendek saya dan CD saya.

Penis saya yang belum tegang sepenuhnya langsung nongol. Dia cuman meliriknya dengan pandangan binal sambil menggodanya, menyentuhkan ujung lidahnya di kepala penis saya.

"Tuh, liat, dah keluar cairannya. Elo tenang aja. Laki-laki nggak tau diuntung, udah bagus gua mau jadi budak kontol loe," kata-kata yang kasar tapi menggairahkan kembali keluar dari mulutnya.

Kami melakukan ini di rumahnya di lantai 2, di sofa ruang keluarganya. Yanti dengan sangat lihai meng-oral saya. Oh ya, satu hal lagi: Yanti memiliki kemampuan yang sangat spektakuler dalam oral sex dan hand job, sangat expert! Kalau dia lagi haid dan saya butuh, dia hanya butuh 3 menit untuk mengeluarkan mani saya dengan mulutnya, sementara kalau bercinta, saya bisa tahan 30 menit untuk orgasme. Kalau berbicara soal ukuran, saya rasa saya tidak dapat membanggakannya. Normal lah, ukuran orang Asia!

"Hmm, gimana rasanya? Cepat bilang! Apa yang dirasakan kontol lu sekarang?!" ucap Yanti di sela-sela kesibukannya menghisap penis saya.

"Hehe biasa aja, nggak ada yang spesial," pancingku untuk membangkitkan kemampuannya.

"Bangsat, bagaimana dengan ini," Yanti langsung menghisap kuat penisku dan melepaskannya — kedengaran suara "PLOP" — dihisap kuat lagi sambil disedot di dalam mulutnya. Ya ampun, gua nggak tahan, dia pintar sekali.

"Arrhh," cuman itu yang bisa keluar dari mulutku. Tanganku meremas rambutnya.

"Kalau yang ini bagaimana?" Dilepaskannya hisapannya, dikocoknya batangku dengan lihai sambil menghisap testisku dengan ganas.

"Agghh," kembali cuma kata itu yang dapat keluar dari mulutku.

"Bagaimana dengan yang ini?!" ucapnya sambil tetap mengocok batangku dan menghisap putingku.

Saya sangat sensitif dengan puting dada.

Perlu diketahui, semua percakapan kami dalam bahasa Chinese, tapi di sini saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia supaya pembaca mengerti.

"Ampun Yan, jangan yang itu. Uggh."

Yanti terus mengocok batangku sambil menghisapnya dengan lihai. Saya merasakan sperma saya berdesak-desakan akan keluar.

"Yan, cepat Yan, dikit lagi, gua dah mau muncrat. Plz."

"Oh ya? Mau keluar ya? Elo mau keluar di mana, di tangan gue ato di mulut gue? Hmm," goda Yanti lagi.

"Mulut lu Yan, mulut. Gua pengen muncrat di mulut loe."

"Oh ya? Boleh, boleh," kata Yanti seraya memperlambat kocokannya.

Dia ingin menggodaku, membuat saya memohon-mohon padanya.

"Cepat Yan, jangan lambat gitu. Plz."

"Mau keluar ya? Kasihan. Nggak deh, kalo mau keluar, elo bayar gua dulu. Elo harus anggap gue tuh pelacur. Gua tuh pelacur, tau nggak? 1 juta! Elo boleh muncrat di mulut gue, gue telan mani loe sampe kering. Mau nggak?" goda Yanti lagi.

"Bangsat nih anak," pikir gue, soalnya kalo gua janji, beneran gua harus kasih 1 juta buat dia. Tapi desakan untuk muncrat sudah nggak tertahankan.

"Anjing lo, bangsat, pelacur! Keluarkan gue, keluarkan mani gue di mulut lu. Cepat!" erangku sambil mendorong kepalanya cepat.

Yanti tidak menunggu lama lagi. Tangan kanannya mengocok batang kemaluanku, mulutnya menyedot kepala penis saya, gerakannya sangat cepat. Gua beneran nggak tahan lagi.

"Anjing lo, gua dah mau keluarr! Aaghh!" Saya tekan kepala Yanti dalam-dalam. Sedetik itu sperma saya dengan derasnya keluar berkali-kali di mulut Yanti. Yanti agak kewalahan menghadapi banyaknya sperma saya, sampai-sampai mengalir keluar dari mulutnya.

Yanti terus menghisap penis saya, dan benar, tidak setetes pun yang tersisa. Kemudian Yanti terduduk di lantai sambil memperhatikan saya yang sedang meregang menikmati sisa orgasme saya. Dia memandang saya dengan pandangan mata yang aneh, seolah-olah ikut merasakan apa yang saya rasakan.

Tiba-tiba, mungkin karena serunya permainan tadi, kami tidak mengetahui ada sosok yang berdiri di atas tangga memperhatikan apa yang kami lakukan. JIMMY! Temannya adik cowok Yanti yang kebetulan disuruh Herry mengambil barang yang ketinggalan di rumah, berdiri melongo tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Tangannya kuat meremas ujung tangga dengan mulut yang terbuka. Jimmy, 23 tahun, teman adik kandung Yanti, sedang berdiri memperhatikan kami.

Bak disambar kereta api, Yanti sampai menjerit, dan dengan wajah pucat seperti kertas, sementara saya dengan gerak refleks kecepatan cahaya langsung menaikkan celana saya. Syuutt, beres semuanya, seperti tidak ada kejadian apa. Hanya saja Yanti tetap duduk di depan saya di lantai, tepat di depan selangkangan saya, dengan sisa sperma masih mengalir dari sela-sela mulutnya.

Dengan sekejap pula saya berpikir: kesempatan mewujudkan fantasi seks kami bisa terwujud sekarang jika Jimmy diikutsertakan. Sekalian dia jadi bisa tutup mulut — kalau dia ikut terlibat, tentu dia nggak berani bilang ke orang lain. Masa dia mau pacarnya tau? Jadi sekali tepuk dua lalat.

Saya merasa kalau ide ini terwujud, Yanti tidak akan keberatan. Kami tahu betul Jimmy ini orangnya bagaimana: tidak berandalan, ganteng, tubuhnya atletis, jauh lebih atletis dari tubuhku, dan yang paling penting dapat dipercaya!

"Ehm, Jim, elo kok bisa masuk?" tanya Yanti mendahuluiku.

"Ah? Uhh, eh, nggak, sorry. Gue nggak tau. Herry kasih kunci rumah ke gue, dia nggak tau lu orang ada di rumah, ada barang ketinggalan," sahut Jimmy gugup dengan wajah yang nggak kalah pucat.

"Jim, plz jangan bilangin ke orang lain ya. Plz ya."

"Nggak deh, nggak bakal. Percaya deh," sahut Jimmy cepat.

Gue segera kedipkan mata ke Yanti, suruh dia pergi bentar. Untung Yanti nggak banyak tanya, langsung ngeloyor ke kamar mandi. Gue hampiri Jimmy.

"Jim, gue tau lu bisa dipercaya. Lu mau nggak ikutan?" tanya gue langsung.

"Hah? Ikut apa?" masih tanya Jimmy dengan wajah begonya.

Dalam hati gue happy banget, Jimmy ini ganteng.

"Kita ML bertiga, mau nggak? Nggak apa-apa kok, Yanti pasti mau, kita sudah lama inginkan hal seperti ini. Tapi loe harus janji, ini hanya antara kita bertiga, dan ini cuman seks, tidak melibatkan perasaan," jelasku.

Singkatnya, setelah segala perjanjian disetujui dan skenario telah dirancang, Jimmy akan pura-pura pergi, saya dan Yanti akan bercinta, dan Jimmy harus muncul di tengah-tengah permainan.

Setelah Jimmy pura-pura pergi, "Yan, cepet dong, yang tadi belom selesai," teriakku.

Yanti keluar dari kamar mandi. "Jimmy dah pergi? Dia bisa dipercaya?"

Saya tidak menjawab pertanyaannya. Langsung gue peluk dia, sampai dia merapat ke dinding. Tanpa basa-basi, gue turunkan celana dan CD gue.

"Andy, gila loe ya, gue masih shock," protes Yanti.

"Diem aja loe bangsat, hisap kontol gue, lanjutin yang tadi!" sahutku pura-pura garang sambil menekan pundaknya untuk jongkok menghisap penis gue. Yanti mulai menghisap penis gue yang mulai keras.

Tiba-tiba gue balikkan badan Yanti, langsung gua buka roknya dan CDnya. Yanti dalam posisi menungging. Dengan kasar dan buru-buru gue tempelkan penis gue di bibir vaginanya yang sudah terbuka.

"Andy, jangan dong, gue masih shock. Jang... aahh."

Yanti belum sempat menyelesaikan kata-katanya, penis gue sudah menghunjam dalam vaginanya. Gue nggak beri dia kesempatan. Dengan memegang pinggulnya, gue kocok penisku di dalam vaginanya dengan cepat.

"Aaghh, bangsat lu, suka-suka lu aja fuck gue," erang Yanti.

Setelah merasa cukup, gue cabut penisku, dorong Yanti ke sofa, gue kangkangi dadanya sambil jejalkan penis gue ke mulutnya. Selagi Yanti menyedot penisku, gue ambil handuk yang tadi sudah gue persiapkan untuk mengikat matanya.

"Andy, kok..." protes Yanti.

"Stt, nikmati aja," sahutku cepat.

Yanti yang masih bingung gue telungkupkan, dan gue masukkan sedikit-sedikit kemaluanku ke dalam vaginanya. Masuk sedikit, gue cabut lagi. Masuk, cabut lagi.

"Arhh, mau lu apa sih, jangan gitu. Masukkin semuanya bangsat, hunjam dalam-dalam," protes Yanti.

Pas saat itu Jimmy datang dengan senyap. Gue tersenyum sambil tetap goda Yanti dengan penetrasi yang setengah-setengah.

"Masukkin dong Dy, plz," erang Yanti yang tidak tahu Jimmy sudah di dekat kami.

Segera gue kode Jimmy untuk gantiin posisi gue. Dia ngerti, langsung buka pakaiannya sampai bugil. Wow, kemaluannya sudah tegang! Hebat nih anak, pikir gue. Gue kode lagi Jimmy untuk basahi kemaluannya supaya Yanti nggak curiga. Jimmy pelan-pelan dengan senyap membasahi kemaluannya dengan ludahnya sendiri. Batang kemaluannya cukup besar, setidaknya diameternya lebih besar dari punya gue.

"Dy, cepat dong," pinta Yanti yang masih dalam keadaan tertutup matanya dan posisi membelakangi kami.

Segera dengan cepat kami berganti posisi dengan sangat senyap. Jimmy langsung menempelkan penisnya di bibir vagina Yanti. Gue di samping mereka, tidak terlalu jauh, melihat jelas. Sekarang pacarku Yanti, orang yang paling gue cintai, sebentar lagi akan dimasuki penis lain. Yanti masih perawan waktu pertama kali ML sama gue, dan cuman pernah ML sama gue saja. Sekarang, sesaat lagi, dia akan merasakan penis yang kedua dalam hidupnya.

Perasaan gue campur aduk: gairah yang meledak-ledak melihat keadaan itu, cemburu, menyesal, senang — kayak gado-gado deh. Sekujur badan gue jadi dingin, gemetar, ketika melihat Jimmy mulai memegang pinggul Yanti dan mulai menggesek kepala penisnya di bibir vagina Yanti, dan sekarang mulai memasukkan kepala penisnya ke dalam vagina Yanti. Saya sangat bergairah menyaksikan ini semua.

"Masukin Dy, plz. Tunggu apa lagi? Gue dah lama nggak ngerasain sperma loe muncrat di vagina gue. Plz, shake gue, plz. Gue pelacur, gue murahan, entotin gue plz. Gue... aahh!" jerit Yanti yang belum menyelesaikan perkataan mesumnya karena Jimmy sudah menghunjam habis batangnya di dalam vagina Yanti.

"Ugghh, gilaa, dalam banget! Bangsat loe, kenapa kontol loe jadi... ahh!" jerit Yanti yang tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Jimmy dengan cepat mengocok penisnya di dalam kemaluan Yanti.

Gue beneran hampir pingsan menyaksikan ini. Yantiku yang kucintai sedang merasakan penis yang kedua dalam hidupnya. Dia sedang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh orang lain, dan perasaanku yang amburadul menyadari ada seorang pria yang sedang meraih kenikmatan dengan menggunakan tubuh pacarku yang sangat ku cintai. Kedua orang ini sedang merasakan kenikmatan yang sangat. Jimmy terlihat sangat berusaha menahan erangannya. Yanti menjadi sangat liar, berteriak tanpa peduli apa yang terjadi.

"Anjing loe, enak banget! Kontol loe gede banget, kontol loe tambah gede, tambah perkasa! Bangsat loe, kenapa jadi begini? Shiit, kocok gue cepat, kasari gue!" ceracau Yanti nggak karuan.

Jimmy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung menampar pantat Yanti dengan keras dan menghunjamkan kemaluannya dalam-dalam. Tiba-tiba, selagi mereka asyik, gue kode Jimmy untuk mundur — gue pengen ngerasain jepitan Yanti. Jimmy mundur teratur, langsung gue gantiin. Gue hunjam dalam penis gue yang agak menciut.

"Ahh, kok kenapa kontol loe..."

Belum selesai perkataan Yanti, penisku sudah membengkak kembali di dalam vagina Yanti. Gue kocok terus dengan kasar dan dalam. Mungkin karena sensasi yang begitu besar, gue merasa sperma gue sudah di ujung-ujung mau muncrat. Segera gue kode Jimmy untuk ambil alih. Jimmy kembali menghajar vagina Yanti.

Ini saatnya Yanti diberi kejutan, pikirku. Segera dengan senyap gue ke hadapan Yanti, pelan-pelan mengarahkan penisku yang sudah mau muncrat ke mulut Yanti. Sementara Jimmy dengan cepatnya tetap mengocok batangnya di vagina Yanti. Tiba-tiba gue pencet mulut Yanti, dan kemaluanku yang sudah di hadapan Yanti langsung menyeruak masuk di mulutnya. Yanti tersentak dan refleks membuka penutup matanya.

"Aahh, loe, kok...?" Yanti langsung melihat ke belakang, mendapati Jimmy sedang menghunjam vaginanya. Dari parasnya gue tau Yanti sangat shock. Dia langsung melihat ke gue, dan saat itu...

"ANJING, loe, kokk?" Belum sempat Yanti menyelesaikan perkataannya, mulutnya sudah dipenuhi oleh sperma gue yang muncrat dengan banyaknya. Pada saat itu juga, Jimmy sudah mau klimaks. Dia dengan kasar membalikkan tubuh Yanti dan tanpa basa-basi memasukkan kemaluannya di vagina Yanti, langsung mengocoknya dengan ganas. Yanti yang masih belum menyadari apa yang sedang terjadi langsung menerima semprotan sperma Jimmy di dadanya — sangat banyak dan sangat mengesankan. Suatu peristiwa yang sangat dahsyat bagi saya.

Setelah segala ketegangan berlalu...

"Yan, sorry deh," ucapku.

"Iya, gue juga sorry," timpal Jimmy.

Yanti masih diam saja, shocknya masih tertinggal.

"Gue jaga rahasia kok. Dan ini cuman kita bertiga yang tau, suer. Gua juga nggak mau cewe gue tau, mati gue dibunuhnya," ucap Jimmy.

Gue kode Jimmy untuk berlalu. Jimmy berlalu, meninggalkan kami berdua.

"Yan, udahlah. Elo jangan gini deh. Gue cuman mau wujudkan sensasi kita. Gua jamin deh nggak ada yang berubah antara kita. Gue tetap cintai lu, ga ada yang berubah. Percaya lah. Tadi cuman seks, anggap aja dia tuh vibrator," jelasku.

Setelah diam lama, Yanti menyahut, "Gua marah nih."

"Plz, udah deh. Marah napa?"

"Marah! Karena elo, kenapa nggak bilang dari awal? Supaya gue bisa lebih nikmatin kontol Jimmy yang gede," ucap Yanti sambil tertawa.

Pembaca, dengan tawanya itu hilanglah semua ganjalan. Dan tawanya itu menandakan, petualangan baru kami sudah dimulai.

Bersambung.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya