Bab 1
Novie, Neneng, dan Mona
Novie, pacarku, orangnya lugas. Ia sudah menjadi Account Manager di suatu biro iklan, diberi mobil perusahaan, punya rumah sendiri, tetapi tidak mau dikenal sebagai married di kantor. Umurnya 30-an, tetapi sudah "main-main" denganku sejak ia berusia 23 tahun.
Badannya ramping dan aku senang payudaranya yang tidak besar — justru tidak mudah "peot". Kalau payudaranya aku isap terlalu lama, dia akan mendorong kepalaku. "Aku sudah terangsang. Lagian, ntar putingnya jadi gede kayak orang punya anak, susah aku!" Permainannya sering membuatku kelimpungan saking enaknya. Desahannya kalau sedang syur sangat menggugah gairah. Yang aku suka, kalau sedang menginap di rumahnya dan pagi-pagi dia membangunkanku, dia pegang-pegang penisku — kalau tidur aku tidak pakai celana dalam, hanya celana pendek. Biasanya dia sengaja telanjang bulat. Dengan posisi 69, ia pegangi dan masukkan penisku ke mulutnya, lalu dijilatinya sampai penuh berlumuran liurnya. Kalau aku terbangun, dia tidak mau aku jilati klitorisnya — maunya dicium-cium saja sambil digelitiki.
Kalau gairahnya sudah naik, dia akan berbalik. Aku ditelentangkan dan dia naik ke atas badanku sambil memasukkan penisku ke vaginanya. Kalau itu terjadi di pagi hari, kami langsung main dan cepat selesai. Kalau sore atau malam, permainan bisa berlangsung lama. Kalau di kantornya ia merasa horny, dia akan menelepon minta bertemu, lalu kami ketemuan di motel. Dalam waktu empat jam, kami bisa mengulang sampai tiga atau empat kali — itulah yang paling ia sukai dariku. Dia memang sangat bebas soal beginian dan sangat aktif modelnya.
Kalau sudah di atas badanku, dia akan terengah-engah dan tersengal-sengal. Pantatnya dinaik-turunkan, diputar, menikmati sensasi seksual yang dirasakannya. Kepalanya melengak-lengok, matanya merem-melek. Satu tangan memegangi selangkanganku; ibu jari dan telunjuk tangan yang lain meremasi putingnya sendiri. Tanganku kadang ikut meremasi payudaranya atau memegangi pantatnya, ikut mengatur irama naik-turun badannya di atas penisku. Kalau pas seperti ini, aku senang sekali melihatnya menikmati sensasi itu. Apalagi kulitnya putih — keturunan Cina — perutnya datar, mukanya memancarkan gairah yang meledak-ledak. Vaginanya sangat banyak berair; menurut pengalamanku, keturunan Cina biasanya begitu. Sampai berbunyi: "Plok... oplok... cipak... oplok... ciplak... ciplak... oplok."
Cara "naik kuda" ini berlangsung kurang lebih tiga menit. Lalu ia mengerang-erang dan minta ganti posisi. Ia membaringkan diri di atas badanku, menggigit bibirku, menyelipkan lidahnya ke sana-kemari sambil memeluk, lalu membalikkan badanku.
Setelah berada di bawah, pantatnya naik-turun dengan hebatnya, atau diputarnya sedemikian rupa sehingga aku yang kelimpungan keenakan. Kadang bed tempat kami main cinta menjadi sangat kusut karena kami bergerak dengan liar ke sana-kemari secara diagonal — dari sudut kiri bawah ke sudut kanan bawah, lalu ke kanan atas, lalu ke tengah lagi, kemudian ke kiri, ke kanan, ke tengah, begitu terus tanpa bisa diam. Gerakannya sangat ekspresif. Kadang rambutku diremas-remas habis, atau tangannya melambai-lambai ke sana-kemari. Mulutnya menggumamkan segala macam kata.
"Enak... lagi... masukin semua... tekan dong... bagian kiri — vaginanya maksudnya — mbok diteken... aahh... lagi... tekeeen... ahh."
Biasanya bagian seperti ini berlangsung sepuluh menitan. Kalau akan orgasme, dia akan menggeram keras-keras sambil menggurat-guratkan kuku ke punggungku — itulah tandanya giliranku menyerang. Pantatku akan bergoyang dengan hebat, penisku cepat sekali keluar-masuk vaginanya, sampai akhirnya spermaku terlontar. Merasakan cairan hangat itu menyemprot deras memasuki sudut-sudut vaginanya, dia memelukku erat-erat.
Hebatnya, tidak seperti cewek-cewekku yang lain, begitu selesai Novie langsung mencabut penisku dan segera memakai pakaiannya. Cewek lain biasanya menikmati rasa nikmat itu dulu — tiduran telanjang sambil berpelukan, bahkan memintaku tetap di atas tubuhnya selama mungkin. Kadang sampai tertidur, dan penisku lemas sendiri dan keluar sendiri. Tetapi ya, tiap orang memang berbeda.
Salah satu hal yang disukai Novie adalah melakukan permainan seks di dapur sambil berdiri. Biasanya kami memutar video porno dulu di ruang tengah, bukan di kamarnya. Biasanya pembantunya sudah tidur. Sambil tangan kami "rajin menjamah" bagian badan masing-masing, mata melihat ke layar. Yang menambah ketegangannya adalah kalau pembantunya sempat lewat mau ke kamar mandi — saluran TV langsung dipindah ke acara lain sampai pembantu masuk lagi ke kamarnya. Kalau gairah sudah tak terbendung, ia akan menyeretku ke dapur.
Ia duduk di bibir kompor, kakinya menjuntai. Kepalaku dibimbingnya ke arah puting susunya yang putih dan sudah tegang, sementara tanganku dimasukkannya ke dalam vaginanya sambil memelorotkan celananya. Lalu baju atau kaosnya juga aku pelorotin. Tangannya kemudian menurunkan ritsleting celanaku, memelorotkan celana dengan kakinya, sambil mengeluarkan penis yang sudah tegang.
"Besar amat..." bisiknya sambil mengelus ujung kepala penisku.
Sensasinya — menurut tukar pengalaman kami — seperti kalau putingnya yang sudah tegang dielus-elus atau diisap-isap. Lalu dielus-eluskannya ujung kepala penisku itu ke mulut vaginanya. Ia tidak suka kalau dimasukkan dengan tergesa-gesa. Kalau merasa sudah tak tahan, ia mendekap badanku erat, dan "blees" — kepala dan badan penisku hilang masuk ke vaginanya yang sudah basah.
Supaya lebih leluasa, ia turun dari bibir kompor dan mulai bergoyang gila — memaju-mundurkan pinggulnya dengan rengekan manja. Sering kali mulutnya harus kututup dengan tangan supaya pembantunya tidak terbangun. Kalau bersetubuh sambil berdiri begini, ia tidak akan tahan lama. Begitu gairahnya memuncak, ia minta aku mempercepat serangan. Dalam posisi seperti ini, pancaran spermaku biasanya lebih keras dan lebih banyak karena ia bilang semprotannya terasa sampai jauh ke dalam.
Selama berhubungan denganku — delapan tahun — katanya ia setia dan tidak mencari pria lain. Pengalaman seksnya yang paling berkesan pertama kali dirasakannya bersamaku. Aku sendiri selama itu sempat punya beberapa cadangan. Soalnya, kalau Novie sedang sibuk memikirkan kerja atau proyeknya, ia sulit "diajak berhubungan" — atau ia cenderung memegang kendali. Jadi kalau sedang kecewa, aku sering mencari Neneng, perempuan bersih yang vaginanya nikmat dijilati dan suka menjilati penisku. Atau mencari Mona, janda yang kalau ketemu begitu care-nya sehingga aku merasa seolah sedang dirawat.
Neneng vaginanya kering sehingga sering kuolesi pelumas agar penisku mudah masuk. Pertemuanku dengannya pun kebetulan — ia naik mobilku, masuk, langsung menciumku karena katanya aku sangat tampan. Setelah itu tangannya beroperasi ke sana-kemari dan ia minta aku menepi. Di situ aku mendapat the best blowjob seumur hidup: ia mengulum penisku sampai aku mengerang-erang sambil tetap duduk pegang setir, sensasinya terasa sampai ke otak. Ia turun begitu sampai di tujuannya, menciumku sekali lagi, lalu pergi begitu saja. Ketemu lagi dua minggu kemudian.
Sesuai latar belakang budayanya, Neneng suka mijitin aku — berbeda dengan Novie yang malah minta dipijitin. Tapi lama-lama setelah dekat, Neneng bilang, "Mungkin gue jatuh cinta nih sama lu." Habis itu kalau mau berhubungan, dia ada di posisi menunggu. Alasannya? "Kan 'istri' tidak boleh minta dan agresif-agresif sama 'suami' — begitu kata emak dulu." Busyet deh, padahal aku justru suka keagresivannya!
Neneng badannya sekal, payudaranya besar dan padat — enak dipegang dan diremas. Badannya wangi, nikmat banget kalau didekap. Potongan rambutnya selalu pendek dan aku suka itu. Aku paling senang menjilati vaginanya. Kalau aku sudah lemas setelah main dua atau tiga kali, ia menggesek-gesekkan pantatnya yang montok ke penisku — lalu dijilatinya sampai penisku besar lagi. Atau ia main blowjob sambil merangsang buah zakar dengan teknik yang hebat. Aku selalu merem-melek dibuatnya. Aku berpisah dengan Neneng karena setelah jatuh cinta kepadaku, ia minta mundur — meskipun kalau ada tugas kantor ke luar kota, ia sering kuajak.
Kalau Mona, karena ia janda, kalau ketemu caranya sangat menyayangi. Kadang aku merasa dirawat seperti anaknya sendiri. Pertemuan dengan Mona selalu diawali dengan pemanasan seks yang menyenangkan. Kadang aku baru masuk rumahnya, pintu ditutup, aku langsung ditelanjangi di situ, dan kami main di belakang pintu tanpa alas apa pun. Mainnya tidak pernah hanya satu kali. Kadang setelah permainan kedua, dengan penis masih di dalam vaginanya, ia berdiri dan minta diantar ke dapur. Telanjang bulat berdua kami ke dapur — main lagi sambil berdiri. Atau ke kamar mandi dan main lagi.
Kalau dari depan pintu langsung naik ke tempat tidur, alamat aku tidak akan boleh turun dari situ sampai keesokan harinya. Aku akan dijadikan pejantan setengah hari plus satu malam plus setengah hari lagi. Makan dilayani, digosok sebagai ganti mandi, dan penis atau putingku jadi sasaran terus. Dia sangat suka kalau klitorisnya digosok-gosok.
Kalau tidak dijadikan tawanan di tempat tidur, sehabis ditelanjangi pertama kali sejak datang, kami berdua tidak akan berpakaian lagi. Makan dengan keadaan tanpa busana, mandi bersama, nonton TV juga hanya mengenakan selimut. Anehnya, kalau di depan umum, Mona tidak akan menyapa. Pernah janjian ketemu di satu mal — ia hanya memberi isyarat agar aku mengikutinya dari belakang. Tidak mau menjawab pertanyaan atau berjalan bergandengan.
Mona akhirnya diajak kawin lagi oleh mantan suaminya, yang memergokiku keluar dari rumahnya. Rasa cemburunya bangkit dan ia minta kawin lagi; Mona pun diboyong ke Italia. Tapi semua itu aku rasa karena pengalaman dengan Novie yang membuat aku percaya diri menghadapi perempuan lain. Buktinya di Surabaya aku pernah bertemu seorang cewek, main sampai empat kali di hotel dan membayar cukup banyak. Eh, malam berikutnya dia datang lagi tanpa diundang — menungguku pulang dari urusan kantor lebih dari dua jam di lobi — dan begitu juga dua malam berikutnya.
Dia datang menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
"Enak bergaul, menggauli, dan digauli sama kamu," katanya merem-melek.
Tentang Novie sendiri, ketika ada pria lain yang naksir dia — berkedudukan mantap, lebih kaya — dan dia bilang sudah butuh suami, aku yang mendorongnya agar menerima pria itu. Aku sendiri, katanya, nikmat diajak main sebagai "teman," tetapi bukan sebagai suami. "Kebanyakan main-main di luar," katanya. "Yang jadi istri pasti merasa tidak aman."
Terserahlah.
Katanya, sebetulnya mereka merencanakan menikah akhir tahun 1999, tetapi karena hitungannya tidak cocok, pernikahan diundur ke Februari 2000.
TAMAT