18px

Pacar Temanku (Bagian 3)

Pacar Temanku (Bagian 3)

"Kenapa, sayang?" aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya. Aku tahu dia marah. Tapi kenapa? Anak ini kok aneh banget, jual mahal lagi, pikirku. Atau dia ingat Heri lalu merasa bersalah? Terus ngapain dia mau kucumbui sejak kemarin?

"Mas Doni kan sudah janji untuk tidak melakukannya, kan?" tiba-tiba Erika berbicara. Aku terdiam.

"Aku tadi nggak mau kita masuk ke penginapan karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya, Mas Don," tambahnya memberikan pengarahan kepadaku. "Bagaimanapun juga, khusus untuk yang satu ini tidak dapat aku berikan buat Mas Doni. Bukan hanya Mas Doni—aku juga sebenarnya sudah nggak tahan. Aku nggak munafik, Mas Don. Tapi... kumohon Mas Doni mau mengerti sampai saatnya aku benar-benar siap," sambil berkata demikian Erika mencium keningku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yang sudah sama-sama telanjang—kecuali Erika yang masih mengenakan celana dalamnya—berdua di dalam sebuah kamar, dapat dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi. Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat bersetubuh dengan Erika sirna sudah, atau setidaknya tidak dapat kurasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja, tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam.

Kemaluanku yang tadi terasa tegang tiba-tiba jadi lemas dalam genggaman Erika. Erika meminta maaf kepadaku, menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Merasa aku sudah tak mungkin bisa melanjutkan permainan lagi, aku akhirnya meminta izin kepada Erika untuk mandi. Sungguh aku kecewa sekali.

Di kamar mandi lama aku terdiam. Aku memandang tubuhku di depan cermin, kemudian kuguyur tubuhku dengan air yang mengalir dari shower di atas kepalaku. Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan tubuh yang memelukku dari belakang. Aku terkejut, namun cuma sesaat setelah menyadari Erika ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku. Hm, sungguh aku masih kesel nih, gumamku. Tapi aku mencoba membalas senyumannya.

"Aku ingin mandi bersama Mas Doni," pintanya manja.

Kutarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari shower, aku menangkap lengannya lalu memandang tajam ke arahnya. Berulang kali tangannya mencoba mengusap wajahnya dari guyuran air. Rambutnya yang basah menambah seksi wajahnya.

Perlahan tanganku menangkap buah dadanya dan meremasnya kuat. Erika meringis. Bukannya melarang, Erika malah mengambil sabun lalu menyabuni tubuhku—mula-mula dada, punggung, lalu menuju kemaluanku. Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda. Diusapnya lembut batang kemaluanku yang sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yang penuh busa sabun begitu kreatif mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa keenakan.

Aku tidak hanya tinggal diam; kubalas menyabuni sekujur tubuh Erika, mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku lalu kupraktekkan kepadanya. Aku membalikkan tubuh Erika membelakangi ku. Sengaja kubiarkan tubuhnya di depanku agar aku dapat melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermin di depannya. Aku melihat wajah Erika pada pantulan cermin; mata kami beradu pandang sementara tanganku membelai-belai buah dadanya yang montok. Kupermainkan puncak payudaranya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Erika. Dengan sedikit membungkukkan tubuh, kuraba permukaan liang kewanitaan Erika. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras terkena siraman air. Batang kemaluanku kini sudah siap tempur dalam genggaman tangan Erika, sementara liang kewanitaan Erika juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemariku yang mengobok-obok kemaluannya.

Aku membalikkan tubuh Erika kembali sehingga berhadap-hadapan denganku. Kupeluk tubuh Erika sehingga batang kemaluanku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba pantatnya yang montok. Erika membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Erika; kuremas dengan sedikit agak kasar lalu kuangkat agak ke atas agar batang kemaluanku tepat mengenai liang kewanitaannya. Kaki Erika kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi; kakinya dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya. Meski agak susah, aku tetap berusaha agar batang kemaluanku bisa masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Erika. Kurasakan kepala batang kemaluanku sudah menyentuh bibir liang kewanitaan Erika. Kutekan perlahan seiring menarik pantatnya ke tubuhku. Erika menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaan Erika berhubung kelaminku yang terus-terusan basah terkena air shower.

Kuangkat tubuh Erika ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi Erika hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang kemaluanku ke liang senggamanya. Erika melingkarkan kedua kakinya di pinggangku pada saat aku membawanya menuju tempat tidur. Kubaringkan tubuhnya di atas kasur menyusul tubuhku di atasnya, tanpa mempedulikan butiran-butiran air yang masih menempel di sekujur tubuh kami hingga membasahi permukaan kasur. Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat buah dadanya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh Erika. Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan batang kemaluanku ke bibir kemaluan Erika. Erika mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku menatap mata Erika penuh nafsu seakan memohon kepadanya untuk memasuki tubuhnya.

"Aku ingin mengentotmu, Ka," bisikku pelan, sementara kepala kemaluanku masih menempel di belahan liang kewanitaan Erika. Sengaja aku memilih kata mengentot agar kesan joroknya lebih terasa. Kata ini ternyata membuat wajah Erika memerah—mungkin dia jarang mendengarnya, padahal aku begitu sering mengungkapkannya kepada setiap wanita yang kusetubuhi.

Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawabannya, sebab bagaimanapun aku tidak mau melakukannya tanpa persetujuan darinya. Aku bukan tipe cowok yang demikian. Bagiku seks adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Erika menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main senangnya hatiku: akhirnya, yes! Aku akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali, begitu dalam pikiranku.

Kini aku berkonsentrasi penuh, menuntun batang kemaluanku yang perlahan menyusup ke dalam liang kewanitaan Erika. Terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti, batang kemaluanku membelah liang kewanitaannya yang ternyata begitu kencang menjepit batang kemaluanku. Liang kewanitaan Erika begitu licin hingga agak memudahkan batang kemaluanku untuk menyusup lebih ke dalam. Erika memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan—namun aku tak peduli.

"Mas Don, gede banget, ohh..." Erika menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang kemaluanku.

"Pelan, Mas," ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah melakukannya dengan begitu pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kemaluannya baru kali ini dimasuki oleh batang kemaluan seperti milikku—soalnya aku tahu pasti ukuran batang kemaluan Heri, pacar Erika, tidaklah sebesar yang kumiliki. Makanya Erika agak kesakitan.

Akhirnya batang kemaluanku terbenam juga di dalam kewanitaan Erika. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Erika. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Kulumat bibir Erika sambil perlahan-lahan menarik batang kemaluanku untuk selanjutnya kubenamkan lagi.

Aku menyuruh Erika membuka kelopak matanya. Erika menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati batang kemaluanku yang keluar masuk dari dalam kemaluannya.

"Aku suka memekmu, Kaa... memekmu masih rapet, Sayang," ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Erika enak sekali.

"Ihh... Mas Doni ngomongnya vulgar banget," balasnya sambil tersipu malu lalu mencubit pinggangku.

"Tapi enak kan, Sayang?" tanyaku—dijawab Erika dengan anggukan kecil.

Aku menyuruh Erika untuk menggoyangkan pinggulnya. Erika langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya.

"Suka batang kemaluanku, Ka?" tanyaku lagi. Erika hanya tersenyum. Batang kemaluanku seperti diremas-remas, ditambah jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedotnya. Pintar juga dia menggoyang, batinku.

"Ohh... hh..." aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama Erika. Kuperhatikan batang kemaluanku yang keluar masuk dari dalam liang senggamanya. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Erika semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Erika yang semakin tidak terkendali.

"Ka... enak banget, sayang—kamu pintar, Sayang..." ucapku keenakan.

"Aku juga, Mas Don..." jawabnya malu-malu.

Erika merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata "aduh" yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan liang senggama Erika semakin berdenyut sebagai pertanda Erika akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama, namun aku mencoba bertahan dengan menarik napas dalam-dalam lalu bernapas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja.

Aku mempercepat goyangan ketika kusadari Erika hampir mencapai orgasmenya. Kuremas buah dadanya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit puting susu Erika. Kuhisap dalam-dalam.

"Ohh... hh... Mas Donii..." jerit Erika panjang.

Aku membenamkan batang kemaluanku kuat-kuat ke liang senggamanya sampai mentok agar Erika mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat, terbenam di antara buah dadanya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak, aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi.

"Kaa... aakuu... keluaarr, Saayang... Ohh... hh..." jeritku.

Aku ingin menarik keluar batang kemaluanku dari dalam liang senggamanya, namun Erika masih merasakan orgasmenya sehingga pinggangku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan cairan hangat dari batang kemaluanku. Kurasakan tubuhku bagai melayang terbang, tidak berbobot. Aku tak sempat menarik keluar batang kemaluanku lagi karena secara spontan Erika juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang berada di belahan dada Erika kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya. Telapak tanganku mencengkram buah dada Erika—kuraup semuanya sampai-sampai Erika kesakitan. Aku tak peduli lagi. Spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang surganya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya, ditambah dengan goyangan pinggul Erika pada saat aku mengalami orgasme.

Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Erika. Batang kemaluanku masih berada di dalam liang kenikmatan Erika. Erika mengusap-usap permukaan punggungku.

"Kamu menyesal, Ka?" ujarku sambil mencium pipinya.

Erika menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum kepadanya—Erika membalas. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul 17.00 dan aku mesti menjemput Era, kekasihku, begitu pula dengan Erika yang mesti menemani Heri. Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat.

Tamat

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya