18px

Panasnya Nafsu Birahi (Bagian 1)

Panasnya Nafsu Birahi (Bagian 1)

Ini adalah kisah dua orang sahabat sejati, Arif Budiman dan Ivan Cornellus, yang sama-sama kuliah di sebuah universitas terkenal di Jakarta. Dua orang sahabat yang berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda.

Arif, pemuda berkulit putih dengan potongan tubuh pendek agak gemuk. Pemuda berusia 21 tahun ini adalah anak seorang janda kaya. Ibunya, Tante Melly, adalah seorang pengusaha garmen yang sukses. Ayahnya, Tuan Sugondo, sudah meninggal setahun lalu akibat kecelakaan lalu lintas.

Sedangkan Ivan, pemuda berkulit hitam dan berambut keriting dengan bentuk tubuh yang atletis, berasal dari Indonesia bagian Timur yang merantau ke Jakarta. Kedua orang tuanya adalah petani sederhana di kampungnya. Maka tak heran jika pemuda berusia 22 tahun ini harus berpikir keras untuk bisa melanjutkan kuliahnya di Jakarta yang serba mahal. Apalagi Ivan hanya mengandalkan kiriman orang tuanya dari kampung yang tidak seberapa dan kadang-kadang terlambat. Untungnya Arif, sahabatnya, tak segan-segan membantu jika Ivan lagi kesulitan uang.

Meskipun perbedaan di antara mereka cukup jauh โ€” terutama dalam hal ekonomi โ€” hal itu tidak mengurangi keakraban mereka. Arif yang berasal dari kalangan elite tak pernah memandang rendah Ivan yang berasal dari keluarga miskin. Arif sering mengajak Ivan bermain ke rumah mewahnya yang terletak di lingkungan elite. Persahabatan mereka terus terjalin, meski Arif dan Ivan sama-sama pernah menaruh hati pada seorang gadis bernama Poppy. Walau akhirnya Poppy lebih memilih Arif, Ivan cukup tahu diri. Dengan ikhlas dan berlapang dada dia menerimanya.

Dalam persahabatan mereka, banyak suka dan duka yang mereka lewati. Seperti suatu ketika Arif hampir dipukul seseorang yang juga naksir pacar Arif, Poppy. Ivan dengan gagah berani membantunya โ€” Ivan yang memiliki keberanian dan ilmu bela diri yang dapat diandalkan dengan mudah mengusir orang itu, membuat orang itu kapok dan tak berani lagi mengganggu Arif.

Sore itu Ivan sedang tidur-tiduran di kamar kostnya yang sempit dan pengap ketika seorang temannya datang mengabarkan bahwa Arif mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak trotoar, bagian depan mobilnya ringsek, dan kondisi Arif sendiri cukup parah โ€” terutama kedua kakinya yang terbentur setir mobil. Sebagai sahabat, Ivan bersama beberapa temannya segera mendatangi tempat kejadian dan membawa Arif ke rumah sakit, sementara temannya membawa mobil Arif ke bengkel.

Karena luka yang dialami Arif cukup parah, atas saran dokter Arif harus menjalani rawat inap. Ivan pun segera menghubungi Tante Melly, ibunya Arif, untuk mengabarkan bahwa anaknya harus diopname. Berhubung Tante Melly masih berada di luar kota untuk urusan bisnisnya, dia meminta tolong Ivan supaya menjaga Arif di rumah sakit sebelum dia datang, dan mengatakan akan mengirimkan sejumlah uang ke ATM Arif untuk biaya selama perawatan.

Setelah tiga hari berada di UGD, Arif dipindahkan ke kamar. Ivan ingin mencarikan kamar VIP, tetapi karena sudah penuh, terpaksa dicarikan kamar kelas satu yang ditempati oleh dua orang. Di kamar rumah sakit itu, Arif harus dirawat sekamar dengan seorang bernama Pak Indra yang juga mengalami kecelakaan. Menurut Mbak Heny, istrinya, Mas Indra menabrak sebuah mobil karena mengendarai dalam keadaan mabuk. Dan yang membuat Mbak Heny kesal adalah saat kecelakaan, di dalam mobil Mas Indra sedang bersama seorang gadis panggilan.

Tak terasa sudah tiga hari Ivan menunggu Arif, sahabatnya, yang sedang terbaring sakit di kamar itu. Dan persahabatannya dengan Mbak Heny semakin akrab โ€” tak jarang Mbak Heny membuatkan segelas kopi untuk Ivan, begitupun Ivan sesekali memijat tubuh Mbak Heny kalau dia lagi pegal-pegal.

Di hari keempat, Ivan merasakan matanya sangat mengantuk karena sudah tiga hari dia baru tidur menjelang dini hari. Dia pun permisi sama Mbak Heny untuk pergi tidur. Ivan tidur di lantai beralaskan tikar. Tak lama berselang Mbak Heny menyusul tidur, sekitar dua meter dari Ivan.

Saat tengah malam, saat semua penghuni kamar sudah tertidur pulas, Ivan terbangun. Samar-samar dia mendengar desahan-desahan yang berasal dari arah Mbak Heny tidur. Ivan memicingkan matanya, mengintip ke arah suara desahan itu. Ivan terkesiap melihat pemandangan di sebelahnya: Mbak Heny yang tidur terlentang dengan gaun tidur yang tersingkap ke atas โ€” memperlihatkan pahanya yang putih mulus โ€” sedang menyusupkan tangannya ke balik celana dalamnya dan meraba-raba vaginanya sendiri.

Sesaat kemudian Mbak Heny melepaskan celana dalamnya, membuat Ivan semakin terkesima melihat bentuk vagina Mbak Heny yang indah, dihiasi bulu-bulu tipis. Ivan merasakan nafsu birahi mulai bangkit, batang kemaluannya mengeras. Ivan memiringkan tidurnya agar dapat melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan Mbak Heny selanjutnya.

Detik-detik selanjutnya, Mbak Heny kembali melanjutkan aktivitasnya. Tangannya meraba-raba bibir vaginanya yang merah merekah, sambil mulutnya tak berhenti mendesah. Pemandangan selanjutnya semakin membuat perasaan Ivan tak karuan: Mbak Heny mencucuk-cucuk vaginanya sendiri dengan irama yang semakin lama semakin cepat.

"Akkhh... oohh... oughhtt... ouhh... akhh..." Desahan dan rintihan yang keluar dari mulut Mbak Heny semakin keras, sampai suatu saat Ivan melihat tubuh Mbak Heny terhentak-hentak, pantatnya terangkat, dan tubuhnya mengejang beberapa saat untuk kemudian terkulai lemas dan tertidur kembali. Rupanya Mbak Heny sudah mencapai orgasme, pikir Ivan dalam hati.

Ivan yang sedari tadi mengintip tak dapat membendung nafsu birahinya. Sesaat kemudian dia bangkit dari tidurnya lalu pergi ke kamar mandi yang ada di sebelah kiri kamar. Di kamar mandi, Ivan menurunkan celananya dan mengocok-ngocok batang kemaluannya sendiri.

Saat Ivan tengah asyik mempermainkan kemaluannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Ivan terkejut bukan main melihat Mbak Heny yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya sudah berdiri di pintu kamar mandi yang terbuka. Saking terkejutnya Ivan tak sempat berbuat apa-apa โ€” tangannya masih menggenggam batang kemaluannya yang telah berdiri tegak. Apalagi Mbak Heny memandang ke arah selangkangannya dengan mata melotot.

"Ma... maaf... Mbak... sa... ssa... yaa," suara Ivan terbata-bata saking terkejutnya, mukanya bersemu merah menahan malu karena dipergoki Mbak Heny sedang beronani.

"Nggak apa-apa... aku yang salah," sahut Mbak Heny pelan, membuat Ivan merasa sedikit tenang.

"Lanjutin aja, Van," imbuh Mbak Heny sambil tersenyum.

Dalam hatinya, Ivan menduga Mbak Heny akan segera keluar dari kamar mandi. Tapi dugaannya meleset seratus persen. Mbak Heny bukannya keluar โ€” sambil menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam, dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, kemudian berjalan ke arah Ivan yang masih bengong tak percaya. Dengan tubuh yang telah telanjang bulat, Mbak Heny berdiri tepat di hadapan Ivan.

Tanpa memperdulikan Ivan yang masih terbengong-bengong, Mbak Heny langsung memeluk tubuh pemuda itu.

"Ohh... Van... Mbak kesepian... tolong puasin Mbak, Van," pinta Mbak Heny sambil membuka mulutnya dan dengan rakusnya menyambar bibir Ivan lalu langsung melumatnya, sementara tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus batang kemaluan Ivan yang besar, panjang, dan berwarna hitam mengkilap. Ivan yang tengah dirasuki nafsu birahi membalas lumatan mulut Mbak Heny dengan pagutan yang tak kalah hebatnya.

Perlahan Mbak Heny menurunkan jilatannya ke leher Ivan โ€” jilatan yang membuat Ivan merinding dan mendongkrak saraf-saraf birahinya. Selanjutnya kecupan dan jilatan Mbak Heny merambat turun ke dada Ivan.

"Oohh... Mbak... eenaakk... akhh... sstt..." erang Ivan saat Mbak Heny mengecupi buah dadanya dan menjilati puting susunya. Mulut Mbak Heny membuka dan mengatup mengecupi dada Ivan yang bidang.

Setelah puas mengecupi dada Ivan, Mbak Heny kemudian berlutut di lantai kamar mandi. Wajahnya menghadap ke selangkangan Ivan. Mbak Heny mendekatkan wajahnya ke perut Ivan โ€” beberapa saat lidah Mbak Heny menari-nari di atas kulit perut Ivan, kemudian turun ke batang kemaluan Ivan.

Batang kemaluan Ivan yang telah berdiri tegak mulai dijilatinya. Mbak Heny menusuk-nusuk lubang kencing Ivan dengan lidahnya, membuat lubang kencing Ivan memerah. Ivan mendesah saat lidah Mbak Heny menyentuh saraf-saraf peka pada lubang kencingnya โ€” desahan yang membuat Mbak Heny semakin bersemangat meningkatkan serangan birahinya. Dengan buasnya Mbak Heny menjilati, menyedot, dan mengulum batang kemaluan Ivan yang mengkilap dengan urat-urat kasar di sekelilingnya. Buah pelir Ivan tak luput dari jilatannya.

"Oohh... Mbakk... nikk... matt... terus... iseepp... truuss... Mbak," desah Ivan.

Gelombang nikmat yang datang bertubi-tubi membuat Ivan merintih berusaha menahannya. Perlakuan Mbak Heny pada batang kemaluannya membuatnya serasa melayang ke surga kenikmatan. Dengan penuh nafsu, Ivan mengamati mulut Mbak Heny yang sedang menjilati dan mengulum kemaluannya, sambil mengelus-elus rambut istri Mas Indra itu.

Mbak Heny semakin ganas menjilati dan sesekali menggigit batang kemaluan Ivan ketika merasakan batang kemaluan itu semakin mengeras dan berkedut-kedut.

"Oohh... akhh... Mbaakk... truuss... nikk... matt... enak..." racau Ivan tak karuan.

Dan saat merasakan orgasmenya akan segera tiba, Ivan menjambak rambut Mbak Heny dan membenamkan kepala wanita itu di selangkangannya, sambil mendorong pantatnya maju-mundur melawan gerakan kepala Mbak Heny.

"Akhh... Mbak... ak... uu... mauu... ke... luarr... oohh," erang Ivan keras.

Sedetik kemudian sperma Ivan menyemprot dan tumpah di dalam mulut Mbak Heny. Setiap semprotan spermanya ditandai dengan anggukan-anggukan batang kemaluannya. Tanpa rasa jijik sedikit pun, Mbak Heny menelan seluruh sperma yang keluar dari kemaluan Ivan. Dan sambil tersenyum ke arah Ivan, Mbak Heny menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan di batang kemaluan Ivan.

Bersambung . . .

โ† Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya โ†’