Bab 1
Pelajaran Bercinta dari Tante
Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita tentang pengalamanku. Saat ini aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang, aku tinggal bersama tanteku yang orangnya masih muda β umurnya hanya selisih tiga tahun denganku. Itulah sedikit tentang diriku; silakan ikuti pengalamanku ini.
Saat itu aku baru saja pulang kuliah dan langsung masuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telepon. Aku memang orangnya suka jahil, jadi kucoba menguping dari balik pintu yang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah dia selesai telepon, tante kaget melihatku sudah ada di kamarnya.
"Lho, Son, kamu udah pulang rupanya. Ada perlu apa sama Tante?" katanya.
"Tante, Sony mau nanya, boleh khan?" kataku langsung to the point.
"Boleh aja, keponakanku sayang. Mau nanya apa?" sambungnya sambil mencubit pipiku.
"Tapi sebelumnya Sony minta maaf, Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telepon."
"Aduhh, kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama kamu lho. Tapi oke deh, nggak apa-apa. Terus apa yang mau kamu tanyakan, ayo bilang!" katanya agak jengkel.
"Sony tadi dengar Tante sama teman Tante mau ngadain pesta seks di sini, benar itu Tante?" kataku pelan.
"Idihh.. jorok ah kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks di sini, itu nggak benar, Son."
"Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara sama teman Tante. Please donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin sama Om kalau Tante mau ngadain pesta di sini," kataku agak mengancam.
"Apaa?! Aduhh, Son, please jangan bilang sama Om kamu. Iya deh, Tante ngaku," katanya agak memohon.
"Nah, kan ketahuan Tante bohongin Sony," kataku senang.
"Terus kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta?" katanya penasaran.
"Gini, Tante, anu.. Sony.. pengen.. anu.."
"Anu apa sih, Son? Ngomong donk, terus terang!" katanya semakin penasaran.
"Boleh nggak Sony ikutan pestanya Tante?"
Aduh, tante melotot sambil berkata, "Udah ah, kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja."
"Yaa Tante.. ya.. please!" kurayu lagi.
"Tapi ini kan untuk orang dewasa. Kamu ngaco deh. Lagian kamu masih kecil," katanya agak kesal.
"Tapi Tante, Sony kan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony!"
Lalu kulepaskan celana dan celana dalamku. Terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar β kira-kira panjang 17 cm dengan diameter 10 cm.
Tante kaget sekali melihat ulahku, lalu berkata, "Wowww, Sony sayang, punya kamu besar dan panjang sekali! Punya kamu lebih besar dari Om kamu. Hmm, boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu, Sayang?"
"Tante boleh megang konsolku, tapi Tante harus ngizinin Sony ikut pesta nanti!" kataku agak mengancam.
"Ya deh, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya dulu β Sony udah pernah ngeseks belom?" tanyanya.
Lalu kukatakan kalau aku belum pernah melakukan seks dengan perempuan, meski raba-meraba, cium-menciumi sudah pernah.
"Mau nggak Tante ajarin?" katanya dengan genit.
Aku hanya terdiam. Tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.
"Kenapa kamu terkejut? Tante hanya memegang paha kamu aja kok!"
Kemudian tante mengambil tanganku dan mulai menciuminya. Aku merasakan batangku mulai bangun.
Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku pun dilumat. Dia masukkan lidahnya ke dalam mulutku; tanpa kusadari aku pun mengulumnya. Napasnya mulai tidak beraturan. Sementara kami asyik berciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku dan meremas pelan. Aku pun mulai berani. Kumasukkan tangan ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya, terus kuremas-remas.
"Aaahh.." dia mulai mendesah.
Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya satu per satu. Mataku tidak berkedip sedetik pun. Kelihatan bra-nya berwarna hitam transparan sehingga payudaranya yang putih dengan puting merah kecoklatan samar-samar terlihat. Celana dalamnya berwarna hitam transparan berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak berbulu. Lalu dia melepaskan bra-nya β payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncat keluar dan mulai berayun-ayun, membuatku semakin tegang. Kemudian celana dalamnya pun dilepas; vaginanya terlihat begitu menarik, agak kecoklatan warnanya. Lalu tante berjalan menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.
"Tante buka baju kamu ya, Son?" katanya genit.
Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kemaluanku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku mulai dari jempol, naik ke betis, ke paha, lalu berpindah ke lubang anusku yang dicium dan dijilatinya. Tidak hanya itu, dia memasukkan jari tengahnya ke lubang anusku. Ohh, nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kemaluanku sementara tangan satunya memijat-mijat biji kejantananku.
"Aaahh!" aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya dan menghisapnya. Diemut-emutnya senjataku, dan dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batangku masih di dalam mulut. Terasa kemaluanku menyentuh tenggorokannya dan dia masih terus menekan β sampai bibirnya menyentuh badanku, seluruh batangku ditelan oleh tanteku. Lidahnya menjilat bagian bawah kemaluanku dan bibirnya dibesarkan-dikecilkan: sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batangku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batangku sudah mau mengeluarkan cairan. Sambil tante memeras biji kemaluanku dan memasukkan jari ke dalam lubang pantatku, kubilang padanya:
"Tante, Aku mau keluar, ohh..!"
Dia keluarkan kemaluanku dan bilang, "Go on, come in my mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hmmm.."
Kemaluanku dimasukkan lagi, kali ini lebih dalam dan dihisap lebih keras. Setelah beberapa kali keluar-masuk, kukeluarkan spermaku langsung ke dalam mulut tante, ke tenggorokannya. Terasa tenggorokannya menelan dan jari di lubang pantatku semakin ditekan lebih dalam. Aku benar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.
Perlahan-lahan dia mengeluarkan batangku sambil berkata, "Punya kamu enak, Son. Tante suka. Sekarang giliran kamu yaahh!"
Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan merentangkan kakinya lebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudah basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung. Dengan agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.
"Jangan malu-malu!" katanya.
Kugosok-gosok bibir kemaluannya. Mmmhh, dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.
"Kamu jilat dong!" pintanya.
Aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah memerah. Mmmhh, enak juga, pikirku.
Aku semakin bersemangat. Sedang asyik-asyiknya menjilat, tiba-tiba badan tanteku mengejang. Desahannya semakin keras.
"Aaahh, aahh!"
Lalu muncrat lah cairannya dari lubang senggamanya β banyak sekali. Langsung saja kutelan habis. Mmmhh, enak juga rasanya.
"Ohh God, bener-bener hebat kamu, Son. Lemes Tante, nggak kuat lagi deh untuk berdiri, ohh..!"
Dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar, dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan. Begitu tante sadar, batang kemaluanku sudah menempel di bibir kemaluannya.
"Tante, Sony udah nggak tahan nih!" kataku memohon.
Dia mengangguk lemas, lalu β "Ohh!" β dia hanya bisa menjerit tertahan.
Selanjutnya aku tidak tahu bagaimana cara memasukkan kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba kurasakan tangan tante memegang batangku dan membimbing senjataku ke liang kenikmatannya.
"Tekan di sini, Son! Pelan-pelan ya, punya kamu gede buanget sih!" katanya sambil tersenyum.
Dengan perlahan dia membantuku memasukkan batangku ke dalam lubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
"Aaa, sakit.. oohh, pelan-pelan, Son, aduhh!" Tangan kirinya masih menggenggam batangku untuk menahan laju masuknya, sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku.
Aku merasakan batangku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Aku berusaha memasukkan lebih dalam, tapi tangan tante membuat susah. Aku menarik tangannya dari batangku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya dan kudorong batangku masuk sedikit lagi.
"Aduhh, sakitt, ohh.. sshh.. aacchh.." kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak sabar lagi, kupegang erat-erat pinggulnya dan kudorong sekuatnya ke dalam. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya. Aku berhenti sejenak menunggu dia tenang, laluβ
"Lho, kok berhenti? Ayo goyang lagi donk, Son," dia sudah bisa tersenyum.
Lalu aku menggoyang batang kemaluanku keluar-masuk di dalam liang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku.
Lama juga kami bertahan di posisi ini. Kulihat dia hanya mendesis sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit batangku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, napasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
"Ohh, ohh, Tante udah mo keluar nih, sshh.. aahh.." goyangan pinggulnya sudah tidak beraturan. "Kamu masih lama nggak, Son? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk, aahh!"
Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.
"Aaahh, Tante keluar, Son! Ohh ennaaak..!" dia menggelinjang dengan hebat; kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.
Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku pun merasa tidak lama lagi akan keluar. Dan akhirnya β "Ahh, sshh.. ohh!" β kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya. Lalu kucabut batangku dan terduduk di lantai.
"Kamu hebat! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks, oohh!" katanya girang.
"Ohh, Sony capek, Tante!" kataku sambil tersenyum kelelahan.
Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar di pinggangku sambil berpelukan dan berciuman. Aku tidak ingat pukul berapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan batangku dengan lap basah tapi hangat β ternyata tante yang melakukannya, dan dia sudah terlihat bersih kembali. Setelah selesai membersihkan, dia langsung menjilati batangku lagi. Dengan tetap bersemangat, batangku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya β yang kali ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin karena posisi berbaring lebih cocok.
Dengan cepat batangku mengeras lagi dan dia bilang, "Son, sekarang kamu kerjain Tante dari belakang ya!"
Dia kemudian membelakangiku; pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tapi bekas spermaku sudah tidak ada. Sebelum memasukkan batangku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubang itu, sangat bersih. Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Di ujung batangku terlihat cairan menetes. Kurarahkan batangku ke lubang vaginanya dan menekan ke dalam pelan-pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batangku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.
Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu kakinya diangkat ke atas; dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo masukin lagi sekarang, Son!" pintanya tak sabar.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batangku ke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batangku; setiap kali kudorong, badan tante membentur dinding. Sambil memelukku dan berciuman, dia bilang:
"Son, Tante mo keluar nih!"
Kemudian kurasakan lubang senggamanya memperkecil dirinya, memijat batangku, dan bersamaan kami orgasme. Aku masih bisa keluar juga, walau tadi sudah keluar dua kali β dan yang kali ini sama enaknya.
Kami rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante di dadaku, tangannya memainkan batangku yang masih basah oleh sperma dan cairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku dan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel di wajahku. Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya, kuraba-raba vaginanya yang masih penuh sisa sperma dan kuolesi seluruh wajahnya. Dia tidak mengeluh, justru jari-jariku dijilat satu per satu.
Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku β semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya. Selesai dengan kerjaannya, dia bilang:
"Son, sekarang giliran kamu yaahh!"
Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karena tidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulai dari bibirnya yang kukulum keras-keras. Napas tante terasa naik lagi dan tangannya mulai memainkan batangku. Tidak disangka aku bisa juga membersihkan wajahnya dan menelan spermaku sendiri.
Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke klitorisnya. Kami saling memegang kira-kira tiga puluh menit. Setelah itu kami berdua mandi untuk membersihkan badan.
Tamat