18px

Peluang Tak Terduga di Toilet Kantor

Peluang Tak Terduga di Toilet Kantor

Peluang kadang-kadang datangnya tidak bisa diduga. Aku sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di kantor ini, tapi baru saja aku menemukan peluang yang sama sekali tidak aku sangka. Ceritanya begini.

Sejak anakku masuk SMP, aku terpaksa mengantar sendiri dia ke sekolah setiap pagi. Sekolahnya lumayan jauh dari rumah, berjarak sekitar empat puluh lima menit. Aku harus bangun pagi-pagi sekali agar bisa sampai di sana sekitar pukul setengah tujuh, karena sekolah dimulai tepat pukul tujuh. Dari sekolah aku tidak mungkin kembali ke rumah, karena harus sampai di kantor pukul sembilan. Jarak sekolah ke kantorku hanya sekitar sepuluh menit perjalanan. Jadi setiap pagi aku sudah berada di kantor pukul tujuh.

Kantorku menempati gedung bertingkat. Setiap kali tiba di kantor, hal pertama yang aku lakukan adalah buang air kecil. Kebiasaanku meminum sekitar satu setengah liter air putih sebelum berangkat dari rumah membuat aku selalu tersesak kencing begitu sampai kantor. Ini bagian dari terapi air putih untuk kesehatan yang sudah lama aku jalani.

Sering kali ketika aku akan kencing, WC sedang dibersihkan oleh petugas cleaning service. Biasanya aku tahan sebentar sambil menunggu pekerjaannya selesai. Masalahnya, yang membersihkan adalah perempuan, jadi aku agak segan juga.

Suatu hari aku sudah sangat tersesak kencing. Rasanya menunggu Yani, begitu nama petugas cleaning service itu, merampungkan kerjanya tidaklah mungkin. Aku akhirnya menerobos masuk, membuka celana, dan langsung memancarkan air yang sudah sangat mendesak. Saat itu Yani sedang mengepel lantai di bagian ujung WC sehingga dia tidak sempat keluar — untuk keluar, ia harus melewati tempat aku berdiri. Maklumlah, WC-nya tidak terlalu luas.

Aku pikir, toh dia tidak bisa melihat karena posisinya agak di belakangku. Seandainya ada orang lain kencing di sebelahku pun tak akan bisa melihat. Masalahnya, tetap saja tidak enak kencing sementara di situ ada perempuan. Yani sudah lama aku kenal. Dia sering aku mintai tolong untuk membeli makan siang di warung-warung yang banyak terdapat di depan gedung, dan tentu saja selalu ada ongkos aku berikan — yang kadang-kadang dibulatkan lebih besar dari harga pesananku. Jadinya kami memang cukup akrab.

Yani umurnya sekitar delapan belas tahun. Dia drop out dari SMA kelas dua. Jika mengenakan seragam cleaning service, dia tidak terlihat seksi, tapi kalau memakai jeans dan kaus, kelihatan pahanya yang gempal dan dadanya yang menonjol.

"Sorry ya, Yan, gue nggak tahan, kebelet banget nih," kataku.

"Ah, nggak apa-apa, Pak. Nggak kelihatan kok," katanya.

"Ah, kelihatan juga nggak apa-apa," kataku menggoda, sambil melepaskan kencingku yang sangat mendesak.

"Ih, Bapak genit ah," katanya sambil terus membersihkan lantai.

"Sudah pernah lihat apa belum?" tanyaku menggoda lagi.

"Aslinya ya belum, Pak. Kalau di film sudah beberapa kali."

"Sini deh, kalau pengen lihat yang asli," kataku.

"Ah, Bapak... saya malu ah."

"Lho, yang malu emangnya harusnya siapa? Kamu yang jadi kebalik," kataku.

"Emang Bapak nggak malu?" jawabnya sambil mendekat.

Rupanya ada juga keinginan dia melihat wujud asli alat paling rahasia seorang pria.

"Ih, kok kecil ya, Pak? Di film-film kayaknya gede banget," kata Yani sambil mengintip dari samping.

"Ya iyalah. Yang di film itu barangnya orang bule dan negro yang badannya gede, lagian barangnya juga siap tempur. Lha ini lagi males karena sedang mancur, dan orang Indonesia memang tidak sebesar orang Barat," kataku.

"O, gitu ya, Pak," katanya.

Pembicaraan singkat itu membuat barangku pelan-pelan memuai. Kencingku memang cukup lama karena yang dikeluarkan rasanya banyak sekali. Yani masih memperhatikan, bahkan mengambil posisi yang lebih jelas untuk melihat. Setelah semua keluar, aku mencuci ujung penisku dengan air dari toilet. Yani masih antusias menyaksikan.

"Bentuknya lucu, Pak, kayak pakai topi," katanya.

"Kalau mau pegang, boleh kok," kataku.

Yani tidak berani menjangkau sendiri. Kupergang tangannya dan kubimbing ke arah penisku. Mulanya dia malu sehingga tangannya agak dikakukan, tapi karena aku tarik terus akhirnya dia melemas. Tangannya kubekapkan ke penisku yang sudah berdiri sempurna, lalu kuremas agar dia ikut meremas.

"Idih, kok keras dan anget gini, sih, Pak," katanya.

Aku tidak menjawab, menikmati sensasi remasannya.

"Udah ah, Pak. Nanti saya nggak kerja-kerja," katanya, mengakhiri remasan di penisku.

Aku pun menutup ritsleting dan keluar WC menuju meja kerjaku. Sepagi ini belum ada pegawai lain yang datang. Aku puas menikmati sensasi pagi itu. Sambil menunggu pegawai lain datang, aku browsing di internet sambil berkhayal untuk melanjutkan lebih jauh bersama Yani.

Dalam benakku berkecamuk berbagai pertimbangan. Yani seorang cleaning service, sementara aku di kantor ini punya jabatan yang cukup terpandang. Kalau sampai ada affair dengan Yani lalu terbongkar, malunya bukan main. Tapi di balik itu, Yani cukup menarik, dan sejauh ini sudah lebih mudah mendekat ke arah tindak lanjut. Kalau saja dia tidak bekerja sebagai cleaning service di gedung kantorku, aku pasti tidak akan pikir panjang untuk mengejarnya.

Hari berikutnya aku datang agak lebih pagi karena jalanan agak longgar. Sesampainya di kantor, Yani masih membersihkan ruang kerja. Melihat aku datang langsung menuju WC, Yani pun ikut masuk.

"Pak, penasaran pengen lihat lagi. Semalaman jadi kepikiran, Pak, gara-gara Bapak," katanya.

Aku tentu saja membiarkan dia ikut masuk dan menonton. Kali ini kusuruh dia memegangi batang penisku yang sedang mancur. Celana agak aku turunkan, sehingga tidak hanya batang penis yang bebas, tapi kantong pun ikut terbebas. Dipegang Yani, penisku makin memuai dan kencingnya pun mengecil, sehingga penuntasannya jadi lebih lama.

Selesai semua keluar, aku ajarkan bagaimana mencuci sisa air seni di ujung penisku. Yani kelihatannya penasaran sekali, sehingga dia menurut saja. Setelah itu dia menyentuh-nyentuh bagian kantong pelirku.

"Pak, ini apa, kok empuk-empuk?" tanyanya.

Aku jelaskan dan kuingatkan agar dia tidak meremas bagian itu karena rasanya sakit. Kantong pelirku ditimang-timangnya, lalu batangku digenggamnya.

"Ih, gemes deh, Pak, rasanya pengen diremes aja," kata Yani.

Yani memang gadis yang agak agresif dan keingintahuannya cukup besar. Padahal dia belum pernah punya pacar. Pacaran di sekolah dulu hanya sekadar jalan bareng dan nonton, tidak lebih dari itu. Jadi dia sebenarnya belum pernah dijamah laki-laki.

Aku tidak bisa tinggal diam. Tanganku menjamah dadanya yang lumayan menonjol, meremas-remas dari luar bajunya. Yani kutarik dan kupeluk dari belakang. Tanganku dengan segera menyusup ke balik bajunya dan masuk ke dalam BH-nya. Bongkahan dada yang empuk dan kenyal aku remas-remas, terasa putingnya yang masih kecil aku pelintir-pelintir.

Puas meremas dadanya, tanganku yang satu lagi membuka celana panjangnya dan langsung menelusup ke balik celana dalamnya. Di sana aku meraba bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Ketika jari tengahku menemukan celah belahan memeknya, terasa ada lendir di rongganya. Kumainkan sebentar jari tengahku di sana lalu kutekan-tekan klitorisnya. Yani mulai mendesah. Aku makin bersemangat karena Yani kelihatannya sudah pasrah. Kugosok terus klitorisnya sekitar lima menit sampai dia akhirnya mencapai orgasme. Setelah itu kami mengakhiri permainan dan membenahi pakaian masing-masing.

Akhirnya hampir setiap hari aku melakukan petting berat di WC bersama Yani. Aku sudah tidak peduli lagi soal perbedaan status kami. Apalagi di depan orang lain, dia terlihat wajar dalam berhubungan denganku. Hubunganku dengan Yani tidak terendus sedikit pun oleh pegawai-pegawai di kantorku, sehingga aku merasa aman-aman saja. Upah Yani membelikan makan siang pun makin aku besarkan, atas kemauanku sendiri.

Setelah beberapa waktu, aku penasaran untuk mendapatkan yang lebih. Pagi itu aku sengaja datang setengah jam lebih awal dari biasanya. Yani ketika itu juga sedang menyapu ruang kerja. Kutarik dia masuk ke WC perempuan. Pegawai perempuan di lantai ini tidak terlalu banyak dan biasanya baru muncul sekitar pukul sepuluh. Rasanya lebih aman bercumbu di sana.

Aku tarik Yani masuk ke salah satu bilik WC perempuan. Tutup toilet duduknya kututup, lalu aku turunkan celanaku. Baju Yani kubuka kancingnya dan BH-nya kulepas. Celananya pun kulepas semuanya. Yani kupangku berhadapan. Aku berusaha memasukkan penisku ke celah kemaluannya.

Setelah posisinya tepat, aku tarik Yani agar menurunkan badannya. Penisku perlahan-lahan ambles ke dalam rongga hangat kemaluannya. Rasanya dia sudah tidak perawan lagi karena penisku tidak menemukan kesulitan berarti untuk tenggelam seluruhnya.

Yani aku arahkan agar bergerak-gerak sehingga aku merasakan penisku diremas-remas. Aku lalu bersandar ke toilet dan memberi ruang lebih leluasa baginya. Dia bergerak mengikuti nalurinya sambil tangannya bertumpu di kedua pundakku. Sensasi seks tersembunyi seperti ini memang luar biasa nikmatnya. Payudaranya berguncang-guncang karena gerakan liar Yani — pemandangan yang sangat mempesona. Kami bermain sekitar sepuluh menit. Rasanya Yani sempat mencapai orgasme, lalu menjelang aku orgasme, aku buru-buru mencabut penis dari lubang nikmat itu. Meski dalam keadaan bernafsu, aku sadar bahwa jika dia hamil, karierku bisa hancur.

Setelah kami selesai dan masih berpelukan, aku tanya Yani apakah dia sudah pernah melakukan seperti ini sebelumnya. Dia terus terang mengaku pernah dikerjai pamannya ketika dia masih kelas dua SMP. Pamannya sempat tiga kali menggumulinya, dan kata Yani, waktu itu dia tidak tahu apa-apa.

Aku kemudian menjadi terbiasa main dengan Yani di WC perempuan setiap pagi. Memang tidak tiap hari, tapi seminggu paling tidak kami melakukannya dua kali. Aku lalu menjadi khawatir juga soal kehamilan. Melalui bidan kenalanku, dia dipasangi spiral. Yang asiknya, Yani tidak malu-malu mengajakku main jika dia merasa ingin. Jadi justru lebih sering dia yang mengajak dibanding aku. Yani memiliki nafsu yang cukup tinggi — satu ronde baginya masih belum cukup.

Aku beberapa kali mengajaknya menginap di hotel, melampiaskan hasrat sepuas-puasnya. Meskipun hubungan kami sudah sangat jauh, Yani tidak menuntut apa-apa dariku. Bahkan di depan pegawai lain dia selalu bersikap wajar. Aku yang tidak tega, sehingga kemudian memberikan uang bulanan yang agak lebih besar dari gajinya.

Sekitar setahun menjalani hubungan itu, Yani mengadu bahwa dia sudah punya pacar. Kata dia, cowoknya tampan dan sudah bekerja di perusahaan asuransi.

"Pak, aku tiap malam main sama cowokku. Abis kalau lagi kepengin, kepalaku rasanya pening," kata Yani.

Permainan kami masih berlanjut sampai akhirnya dia menikah dengan cowoknya. Menjelang pernikahannya, aku minta bidan temanku untuk mencabut spiralnya. Kata Yani, cowoknya tidak tahu kalau selama ini dia pakai spiral.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya