Pengalaman Pertama Joko
Pengalaman Pertama Joko
Nama saya Joko. Saya terhitung baru terjun ke dunia cerita semacam ini—situs ini saya temukan secara tidak sengaja. Sejak kecil saya sering berpindah-pindah karena mengikuti ayah saya yang pegawai bank. Sekarang saya hampir menyelesaikan kuliah di salah satu universitas di ibukota, yang katanya kampus perjuangan orde baru. Umur saya 24 tahun; seharusnya saya sudah lulus setahun lalu, tapi karena sibuk kerja serabutan dan main saham, baru sekarang sempat ikut ujian komprehensif. Mudah-mudahan lulus.
Saya mulai melakukan onani sejak akhir kelas 4 SD, diajarkan oleh teman saya yang bernama D. Katanya, kalau saya mengocok kemaluan, pada akhirnya akan terasa nikmat. Pada awalnya saya sama sekali tidak terpikir apa yang dia maksud—bagi saya, nikmat adalah dibelikan mainan oleh ayah atau dijajani bakso oleh ibu. Begitulah, dan sampai sekarang saya masih rutin melakukannya, entah dengan tangan atau dengan guling.
Sejak kecil saya selalu tertarik dan mengagumi perempuan. Sebagian besar sahabat saya perempuan. Saya sudah pacaran serius sebanyak 18 kali—terus terang saya sendiri sempat kaget dengan angka itu. Berikut ini adalah kisah salah satu pacar saya: yang terakhir, dan yang masih berlanjut hingga sekarang.
Pacar saya bernama A. Saya kenal dia dari teman yang anak Tar-Q; dalam satu minggu kami resmi berpacaran. Awalnya kami berdua hanya berani melakukan petting di mobil. Dengan celana dalam yang masih melekat, kami saling menggesekkan kemaluan hingga keduanya terpuaskan—kami melakukannya di mobil Starlet saya.
Pernah suatu malam saat kami sedang petting, ada tukang nasi goreng lewat dengan petromaks yang sangat terang. Meski kaca mobil saya sudah 70% gelap, dia tetap bisa melihat apa yang kami lakukan. Saya mengira dia akan cuek bebek, tapi ternyata dia menggedor kaca mobil saya—tepat saat saya hampir mencapai orgasme. Jika A tidak menahan saya seraya hampir menangis, bisa-bisa terjadi pertumpahan darah malam itu.
A tinggal di Bogor bersama keluarganya. Tak lama setelah A lulus, ia pindah ke Jakarta dan menetap di rumah dinas ayahnya di kompleks PH. Di rumah itu A tinggal bersama kakak tertuanya—yang hampir selalu berada di luar rumah—dan tantenya yang bekerja dan pulang pukul 20.00. A kemudian diterima bekerja di salah satu bank asing. Kami pun semakin leluasa melakukan petting di rumahnya yang praktis tidak ada orang.
Suatu kali tantenya pulang ke Bogor dan kakaknya pergi ke luar kota, sehingga kami benar-benar bebas. Seperti biasa, acara petting dimulai. Dia mulai mendesah setiap kali penis saya yang menegang saya gesekkan pada klitorisnya, bersamaan dengan jilatan-jilatan saya pada lubang telinganya. "Aahh... Mas... mmhh," erangannya terdengar sangat merdu di telinga saya. Saya semakin bernafsu; jari-jari saya bergerilya masuk ke balik celana dalamnya dan mulai meraba klitorisnya dengan gerakan perlahan yang makin cepat. "Aahh... ahh... ahh... Jokoo... aahh," dia mengerang sambil memeluk saya erat. Sesaat saya kesulitan melakukan manuver karena himpitan buah dadanya.
Saya semakin giat mempermainkan klitorisnya, lalu mulai meraba masuk ke dalamnya. Dia terkejut sebentar, tapi kemudian membiarkan saya. Jari-jari saya mulai meraba masuk ke dalam vaginanya—sangat basah, menimbulkan bunyi "clekk... clekk..." tiap kali jari tengah saya keluar-masuk. Saya sangat excited dengan pengalaman pertama ini; walaupun koleksi film saya banyak, tetap saja berbeda. Saya memasukkan jari telunjuk pula dengan harapan A akan semakin terpuaskan—dan dugaan saya benar! "Aahh!" dia berteriak agak keras sebelum melanjutkan dengan rintihan-rintihan kecil yang susul-menyusul.
Saya memutuskan menambah kenikmatannya. Saya permainkan klitorisnya lagi dengan jempol, sementara kedua jari yang lain tetap mondar-mandir di dalam vaginanya. A menggelinjang begitu hebat sampai tangan kiri saya hampir tak kuat memeluknya. Beberapa menit kemudian ia mengerang panjang sebelum tubuhnya terkulai lemas. A tersenyum memandangi wajah saya, lalu mencium bibir saya dengan sangat lembut, dan saya pun teringat dengan penis saya yang belum mendapat jatah.
Saya mengeluarkan tangan dari balik celana dalamnya. Ia terhenyak kaget seolah takut tidak akan mendapatkan kenikmatan itu lagi. Saya mulai memeluknya dengan kedua tangan, sementara tangan kanan saya yang masih basah mulai menanggalkan kancing bajunya. A semakin bergairah. Ia pun berusaha melepaskan kemeja saya dengan tergesa-gesa.
Tubuh bagian atasnya kini hanya terbungkus BH, dan ia telah berhasil menanggalkan baju saya. Saya berusaha melepaskan BH-nya dari belakang—dan akhirnya buah dadanya tidak ditutupi sehelai benang pun. Ia mulai memeluk saya erat, menggesekkan putingnya pada dada saya yang berbulu. Saya mengulum bibirnya, lidah kami saling berpagutan. Tak lama lidahnya mulai menjilati langit-langit mulut saya. Saya mengerang namun tak dapat berkata apa-apa, sementara A semakin buas mengetahui saya menyukainya.
Saya semakin tidak dapat mengendalikan diri. Celana panjang saya saya buka dan jatuh berserakan di lantai ruang tamunya. Roknya saya cabut dengan cepat. Celana dalamnya yang berwarna putih rupanya telah basah; saya memelorotkannya dan melemparkannya ke sofa bersama baju kami berdua. Kami berdua telanjang bulat di ruang tamu rumahnya.
Akhirnya saya membaringkan dia di sofa dan menciumi lehernya, menjilati buah dadanya. Gigitan-gigitan saya pada putingnya membuat A semakin bernafsu; ia memeluk saya lebih erat dan mulai menggaruk punggung saya. Saya semakin tidak sabar dan memasukkan dua jari sekaligus ke dalam vaginanya. Ia kaget sebentar, kemudian merasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat—ini terasa dari gerakannya yang makin kuat dan gelinjangannya yang makin banyak.
Ia mulai merintih dan melenguh; dengus nafasnya makin memburu. Saya sudah tidak tahan lagi. Saya mengarahkan penis ke dalam liang vaginanya—terasa sempit, sangat sempit. Ia kaget sekali. "Jangan... jangan," ia menolak. Saya mengeluarkan penis saya yang sebagian telah masuk, lalu mulai menciuminya lagi. Saya sempat tersenyum padanya, dan ia membalas dengan pandangan mata yang campur aduk—sadar bahwa keperawanannya akan hilang sebentar lagi.
Saya menggendongnya ke kamar tidurnya. Di atas kasur, saya membuka lebar-lebar kedua pahanya sehingga vaginanya terkuak. Saya mulai menciumi bibirnya, lehernya, payudaranya, turun ke perutnya. Ia melonjak sedikit saat saya menciumi perutnya. Kemudian saya mulai menjilati klitorisnya dan memasukkan jari tangan saya lagi. Vaginanya lebih basah dari sebelumnya; setiap kali jari saya menyeruak ke dalam, terasa ada cairan yang lumer keluar. Kamarnya yang remang-remang hanya bisa melukiskan bola matanya yang indah mengerjap-ngerjap sambil mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan desahan-desahan panjang.
Teriakannya makin lama makin keras saat vaginanya benar-benar basah—sepreinya pun sudah basah di bawah selangkangannya. Saya mulai memasukkan penis saya, tepat saat dia mencapai orgasme yang kedua. Dia kaget; kedua tangannya berusaha mendorong saya, tapi saya pegangi kedua tangannya dan mulai memasukkan penis saya sedikit demi sedikit. Hanya sepertiga dari penis saya yang dapat masuk ke dalam vaginanya; toh saya tetap melakukan gerakan memompa keluar-masuk. Saat dia mulai merasakan kenikmatan dan mengendurkan tangannya, saya mengangkat pahanya ke atas mendekati payudaranya sehingga vaginanya terbuka maksimal. Dengan seluruh kekuatan, saya dorong penis saya ke dalam—kini seluruhnya berada di dalam liang kemaluannya.
Ia merintih dan melenguh nikmat. Saya benar-benar menyukai rintihan itu. Tapi sesaat saya kaget karena tidak melihat darah sedikit pun—namun otak saya tidak sempat berpikir lebih jauh. Saya mulai dengan gerakan perlahan; dia menggerak-gerakkan pinggulnya, seolah memijat penis saya. Saya merebahkan diri ke badannya dan dia mulai menggerayangi punggung saya, lalu telapak tangannya memegang pantat saya. Setiap kali saya mendorong masuk, kedua tangannya ikut mendorong pantat saya, seolah ia ingin menelan penis saya sedalam-dalamnya. Rintihan kami saling bersahutan. Rintihannya semakin keras ketika saya berusaha memasukkan penis saya lebih dalam.
Akhirnya kedua tangannya tergelepar ke samping dan ia mendapatkan orgasme yang ketiga. Saya memandangi wajahnya yang memerah, lalu mencium pipinya, keningnya, dan mengulum bibirnya. Saat itu saya kira dia sudah sangat kelelahan. Tangannya melemas dan nafasnya mulai teratur; ia memeluk saya erat. Pada saat itulah saya mulai mempercepat hentakan. Kedua kakinya menyilang di belakang pantat saya dan membantu menekan ke dalam. Rintihannya kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras. Saya tertawa kecil dan menutup bibirnya dengan telapak tangan saya. "Enak banget ya," bisik saya. Ia mengangguk dan berkata, "Habis tadi dalem banget." Ia tersenyum dan kami berdua tertawa kecil tertahan.
"Kamu belum dapet ya?" tanyanya.
Saya mengangguk sambil tetap mengayunkan pinggul perlahan.
"Kamu mau dapet lagi nggak?" tanya saya sedikit menggoda.
Ia hanya tersenyum. Badan saya mulai terasa pegal karena harus mengangkang terus-menerus. Akhirnya saya mempercepat tempo dan ia mulai membuka mulutnya sambil mendesis, "Sshh... ahh... mmhh... aahh... ouuhh." Saya tak kuasa menahan lebih lama lagi—penis saya serasa meledak di dalam vaginanya. Saya meluruskan kaki dan berusaha mengeluarkan sisa-sisa mani yang mungkin masih tertinggal. Peluh di wajah saya menetes di pipinya yang putih mulus; ia menyekanya dan mengusap kening serta pipi saya.
Dengan penis tetap berada di dalam vaginanya, saya mencari handuk yang tergeletak di tempat tidur. Saya seka pelipis saya, lehernya, dadanya, dan ketiaknya. Kemudian saya melepaskan penis saya perlahan-lahan; ia memandangi wajah saya sambil membuka mulutnya, dan ketika penis saya terdorong keluar, ia mengeluarkan rintihan pendek.
Saya berbaring di sampingnya.
"Tetangga sebelah denger nggak ya?" tanya saya.
Ia hanya tersenyum genit. "Yaa... habis masukinnya dalem banget," rengutnya manja sambil memegangi tangan saya.
Kami berpelukan lalu berguling-guling di kasurnya. Saya mulai menciuminya lagi. "Badan gue lengket nih," tolaknya. Kami berpelukan lagi dan kembali berguling—kali ini terlalu ke bibir ranjang sehingga saya terjatuh ke lantai, dan kami berdua tertawa tertahan, khawatir tetangga mendengar.
Akhirnya ia beranjak ke ruang tamu. Saya duduk di pinggir tempat tidurnya dan kembali berpikir: kok nggak berdarah? Tak lama ia muncul dan bersandar di pintu kamar, rok dan bajunya sudah dikenakan namun celana dalamnya masih dalam genggamannya. "Kenapa?" tanyanya. "Ah, nggak... cuma capek aja," jawabku. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan saya berjalan ke ruang tamu untuk memunguti pakaian saya. Tapi saya tetap tak habis pikir.
TAMAT