Pengalaman Pertama Tak Terlupakan
Pengalaman Pertama Tak Terlupakan
Perkenalkan, namaku Aditya (nama samaran), seorang pemuda Chinese dengan tinggi badan 170 cm dan berat 60 kg, berpostur cukup atletis karena aku rajin fitness. Aku sudah mengenal situs Rumah Seks sejak lama dan suka sekali membaca cerita di dalamnya. Kali ini aku mencoba menceritakan pengalaman pertamaku bersama pacarku Jenny (juga nama samaran), yang kini telah menjadi istriku, dan begitu mengesankan bagiku.
Cerita bermula saat aku dan pacarku pergi berlibur berdua saja ke kota wisata P, sebuah kota sekitar Danau T di Sumatera Utara. Siangnya sehabis pulang kerja, kami pun berangkat ikut dengan rombongan salah satu travel di kotaku M. Tidak banyak yang terjadi di perjalanan selain kami terlelap di tempat duduk masing-masing; Jenny terlelap dengan kepala bersandar di bahuku.
Sekitar tiga jam perjalanan, kami pun sampai ke kota P dan langsung menuju salah satu hotel untuk check-in. Setelah check-in di salah satu kamar hotel, aku pun langsung menghempaskan tubuhku berbaring di tempat tidur yang empuk itu. Sementara Jenny masih sibuk membenahi barang-barang yang kami bawa. Melihat dia sibuk berbenah, timbul keisenganku untuk menggodanya dari belakang. Aku pun kemudian bangun dari tempat tidur dan berjalan perlahan ke arahnya, lalu kupeluk dia dari belakang.
"Lagi sibuk ya sayang?" sekedar basa-basi sambil memeluknya.
"Aduh, udah dong say, jangan begini dulu. Bukannya ngebantu, malah nambah beban di belakang aja," ketusnya.
"Nggak apa-apa kan, yang penting kamu enakan juga," jawabku sekenanya sambil mulai menggerayangi pantatnya yang padat itu.
"Ye, maunya tuh," jawabnya sambil menepis tanganku yang sedang berada di pantatnya.
Sebelumnya perlu diinformasikan bahwa kami sudah sering bercinta, tapi hanya sampai sebatas petting saja.
"Ya udah deh, kalau nggak mau," jawabku pura-pura surut sambil kembali duduk di atas tempat tidur.
Aku kemudian mengambil minuman yang terdapat di minibar kamar dan langsung menuangkannya ke dalam gelas. Selesai berbenah, Jenny kemudian duduk di sampingku.
"Sini minumnya! Aku juga haus nih." katanya sambil meraih gelas di tanganku.
"Eh, eh, eh, tunggu dulu. Kalau ambil sendiri sana, atau minum langsung dari mulutku ini." ledekku sambil memuncungkan bibirku ke arah bibirnya.
"Ih, kok nggak sabaran sih dari tadi," sambil kembali berusaha merebut gelas di tanganku. Akhirnya gelas itu pun tumpah dan mengenai bajunya.
"Nah kan, tumpah akhirnya. Sini biar aku yang ngebersihin bajumu." kataku sambil meraih baju kaos putihnya.
Dia kemudian menatapku tajam, setengah marah, karena bajunya telah kotor terkena tumpahan minuman tadi.
"Jenn, sebenarnya aku sangat memimpikan kesempatan seperti ini, hanya berdua dengan kamu di kamar sebuah hotel." Aku mulai mencairkan suasana.
"Kamu cantik, Jenn. Bahagia sekali aku memilikimu, walaupun kita hanya dapat berdua jika pas ayah dan ibuku beserta adik-adikku lagi nggak di rumah," kataku sambil memeluk erat tubuhnya.
"Akupun begitu, Dit. Sudah lama kita tidak berdua seperti ini."
"Iya, akhir-akhir ini rumah selalu ramai."
"Akupun sudah rindu sekali ingin bercinta denganmu," kataku sambil menggenggam kedua tangannya.
"Sekarang kamu rileks ya, sayang!" Jenny memejamkan matanya saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Dengan lembut kukecup keningnya; kurasakan remasan halus menggenggam tanganku yang masih memegang tangannya. Lalu bibirku mulai berjalan — mencium alis, matanya yang terpejam, dan kedua pipinya — dan terakhir berhenti di kedua belahan bibir mungil gadisku yang cantik ini. Jenny membalas kulumanku pada bibirnya dengan pagutan yang hangat pula; lalu aku mulai membuka bibirku dan mengeluarkan lidahku mencari lidah yang lain di seberang sana. Tanganku mulai merayap menggerayangi tubuhnya, perlahan menyusup ke balik kaos ketat putih yang melekat di tubuhnya — kini kurasakan halusnya kulit gadisku ini. Ketika tanganku mulai memasuki daerah dada untuk segera merasakan lembutnya daging kenyal yang menonjol, mendadak kedua tangan Jenny menahan kedua tanganku.
"Kenapa, sayang?" Terpaksa aku menghentikan sejenak aksiku dan kutatap wajah sayu di hadapanku.
"Pintunya udah dikunci belum, Dit?" tanyanya mengingatkan bahwa pintu kamar belum dikunci.
Aku pun kemudian bergegas mengunci pintu kamar sambil tak lupa meletakkan gantungan bertuliskan "DO NOT DISTURB" di pegangan depan pintu kamar.
"Buka ya, sayang!" Jenny mengangguk pelan. Lalu dengan sangat hati-hati kutarik ujung T-shirt yang melekat di tubuh Jenny dan meloloskannya melalui kedua tangannya. Kulempar T-shirt itu ke lantai. Kini di hadapanku terpampang tubuh padat yang setengah telanjang dengan dada berisi, terlindungi BH warna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Sejenak kutatap gumpalan daging yang masih tertutup BH itu; perlahan kurebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kembali kucumbu pacarku ini yang sedang terlentang pasrah — kukulum lagi bibir mungil itu, lalu perlahan merayap menuju leher, telinga, daerah di belakang telinga, dan terus ke bawah menuju gumpalan payudara yang berisi itu. Kujulurkan lidahku mengitari bukit itu sambil tanganku merayap menuju punggung tempat di mana kaitan BH itu direkatkan. Kutarik pelan BH itu dari tubuh Jenny dan kulemparkan ke lantai.
"Akh!" Dia mendesah perlahan saat BH-nya terlepas dari tubuhnya, dan berusaha menutup kedua bukit indahnya dengan kedua tangannya sambil tersenyum menggodaku.
"Jangan sayang, aku ingin melihat keindahan bukit ini."
Segera saja tanganku menahan kedua tangannya dan kubawa ke atas kepalanya sambil kusapukan lidahku yang basah ke arah ketiaknya yang bersih dengan aroma yang menggugah hasrat kelelakianku.
"Akh, eemhh." Jenny merintih kecil sambil terpejam. Tanganku merayap lagi menuju dada yang kini terbuka; sentuhan melingkar menambah sensasi lain pada diri pacarku, dan akhirnya mulutku pun mendarat di belahan dada pacarku ini.
"Oohh, Dit..." desahnya perlahan, saat aku mulai mengusapkan lidahku di payudaranya. Sengaja aku tidak langsung ke putingnya yang kemerahan itu. Desahan demi desahan mengiringi sapuan lidahku di kedua payudara yang masih kencang ini. Puting yang merah seakan tenggelam dan belum dapat muncul ke permukaan — akhirnya kuhisap puting itu dengan penuh perasaan cinta agar Jenny dapat menikmati setiap sentuhanku.
Sambil terus mengulum payudara itu, dengan cekatan aku menanggalkan pakaianku tanpa Jenny sadari. Kini hanya celana dalam saja yang melekat di tubuhku melindungi senjataku yang sudah menegang dari tadi. Sekarang mulutku berada di atas pusar yang dihiasi sebuah tato kupu-kupu; kujilat dan terus merayap sambil tanganku mulai menarik rok yang dikenakannya. Jenny membantunya dengan mengangkat pantatnya dan memudahkan aku melepaskan penutup bagian bawah tubuhnya itu. Kini aku dapat menikmati paha mulus yang dihiasi bulu-bulu halus yang menantang untuk segera disentuh.
"Kamu nikmatin aja ya, sayang!" Kubelai pipi pacarku ini lalu kucium keningnya. Jenny menerimaku lagi dengan pagutan yang lebih membara saat mendaratkan ciumanku di atas bibirnya.
Sambil terus kujelajahi dengan bibir dan lidahku, perlahan aku mulai kembali menarik celana dalam itu. Kali ini dia pun mengangkat pantatnya dan terlepaslah kain terakhir yang melekat di tubuhnya. Gundukan bukit kecil dengan bulu-bulu halus yang tertata rapi — menandakan pacarku ini sangat memperhatikan daerah paling pribadinya — dan bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil tersembul di atasnya, kini terpampang begitu dekat di hadapanku. Kutangkap tangannya yang berusaha menutupi benda indah itu, lalu kusentuh dengan sangat pelan dan penuh kelembutan. Jenny mulai menikmati permainan ini; tubuhnya meliuk-liuk menggeliat menerima aksiku.
Dengan pelan kubuka kedua pahanya dengan tanganku, lalu kutempatkan wajahku mengisi selangkangannya itu — vagina itu begitu dekat dengan bibirku.
"Oohh..." dia mendesis, tangannya meremas rambutku yang berada di selangkangannya. Ia begitu menikmati sapuan lidahku yang mengisi ruang kosong di antara kedua pahanya. Aroma vagina yang sangat kukenal ini membuatku semakin bernafsu untuk memberikan yang terbaik bagi gadisku. Bulu-bulu halus di sekitar bukit vagina menggelitik hidung dan bibirku. Kucari dan kutemukan daging kecil — pusat segala kenikmatan baginya. Vagina itu begitu mungil dan indah, dengan cairan hangat yang mulai keluar dari dalam rahimnya bercampur dengan air liurku. Jenny mendesah dan menggeliat merasakan sesuatu yang luar biasa dari sentuhan lidahku pada vaginanya.
"Hoh, hoh, Dit... Aku nggak tahan, neh, udah dong!" mulutnya terus meracau. Tiba-tiba saja dia mencengkeram erat rambutku dan membenamkan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya; pantatnya mendongak ke atas dan tubuhnya menegang. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat kembali keluar dari vaginanya, kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
"Akhh, eehhmm..." Aku tahu dia telah mencapai orgasmenya yang pertama, dan aku terus saja menekan klitoris itu dengan lidahku, melumat setiap tetesan cairan hangat yang keluar dari liang vagina itu. Cengkeramannya melemah dan akhirnya dia terkulai lemas dengan napas yang memburu. Kudekap erat tubuhnya dan kembali kukecup kening gadisku ini.
"Hh, makasih ya, Dit. Tadi nikmat sekali."
Beberapa saat lamanya kudekap tubuh polos itu sambil tanganku terus memainkan puting susu yang mulai menegang kembali; senjataku sangat tegang. Kalau saja aku tidak ingat peringatannya supaya tetap virgin sampai malam pertama kelak, mungkin penisku sudah menyeruak masuk ke dalam vagina sempit itu — tapi aku bersabar karena pada saatnya nanti aku pasti mendapatkannya. Kubalikan tubuh Jenny; sekarang tubuhnya menindih dan tengkurap di atas tubuhku. Ia masih begitu lemas merasakan sisa kenikmatan yang baru saja ia alami. Ia tersenyum saat sesuatu yang tegang mengganjal tepat di perutnya, digenggamnya dengan penuh nafsu.
"Dit, sudah tegang banget ini." Dia kemudian bergerak menaiki dadaku, lalu menggesek-gesekkan kemaluannya di dadaku. Setelah itu turun kembali dan bibir langsung melahap dua titik kecil di dadaku.
"Mmhhmm, enak say." erangku.
"Terus, sshh, gigit say." erangku lagi.
Jenny terus saja melancarkan serangan di puting susuku. Tangan yang satunya perlahan bergerak ke arah celana dalamku sambil membelai penisku dari luar.
"Akh, akh, terus sayang."
"Buat dia kokoh say, berikan dia belaian kasihmu."
"Enak, Dit?"
"Eemmhh." Gumanku.
Perlahan dia menurunkan CD yang aku pakai. Kemudian perlahan namun pasti dia mulai turun ke arah penisku yang telah tegang. Lama ia memandangi sambil memegang penisku yang semakin menegang itu; kemudian dengan perlahan kurasakan isapan demi isapan begitu nikmatnya. Dia berusaha memasukkan penisku ke dalam mulutnya tanpa canggung lagi, sambil tangan yang satunya memainkan bola yang ada di bawah penisku. Tapi penis itu begitu panjang sehingga ia hanya bisa mengulum setengahnya saja. Senjataku semakin tegang; tapi aku tak ingin segera mengakhiri permainan ini, kutahan dengan sekuat tenaga agar orgasmeku tidak datang terlalu dini.
"Yang, digesekkan ya, tapi jangan dimasukin." Jenny menatap sayu mataku sambil melepaskan kulumannya.
"Kalau gitu udah dulu deh say, bibir kamu udah pegel kan? Kita istirahat dulu deh." Akhirnya kutarik tubuh pacarku kembali sejajar terlentang dengan tubuhku.
Perlahan kubuka kedua pahanya lebar. Tangan kananku merayap menuju vagina yang mulai terbuka; kusentuh dan kucari lagi klitoris yang menyembul dalam liang itu. Tekanan jariku dari arah depan, dan dengan perlahan kubarengi dengan gesekan senjataku yang menyentuh belahan bibir vagina yang telah basah itu. Desahan kecil kembali terdengar dari mulutnya — aku tahu dia begitu menikmati permainan ini. Sambil tak henti tanganku memainkan gumpalan daging yang menonjol di dadanya.
Entah kenapa saat itu ingin sekali aku merasakan kelembutan himpitan kulit vagina pacarku ini dan meledakkan spermaku di dalamnya. Mungkin karena sudah sekian lama kami hanya bermain di luar saja, dan ini merupakan kesempatan pertama kami melakukannya tanpa ada gangguan atau takut ketahuan orang lain.
"Say, gimana kalau kali ini aku masukin ke dalam? Hh..." aku berbisik sambil terus menggesekkan penisku di bibir vaginanya.
"Ya, nngg, akkhh, nggak tau deh." agak ragu ia berkata.
"Please."
"Aku ingin menjaga kesucian ini sampai malam pertama kita, Dit."
"Lagian aku takut hamil, apa kata orang nanti. Mmhh, akkhh." katanya dengan tatapan sayu.
"Ya udah deh, nggak usah kalau kamu nggak mau." kataku menjawab, sambil terus menggesekkan penisku.
"Akh, aduh, Dit, enak dit." Jenny merintih.
"Andai saja kita sudah menikah." jawabku.
Aku terus menggesek. Perlahan kulihat — entah karena naluri kewanitaannya — dengan refleks ia semakin membuka lebar kedua pahanya. Kuposisikan kaki kananku di antara kedua kakinya sehingga kini selangkangannya terbuka lebar. Kembali kugesekkan kepala penisku menyentuh belahan vagina yang basah itu, tapi kali ini entah setan mana yang mendorongku; dengan sedikit dorongan yang mengarah ke atas, kepala penis itu perlahan menyeruak memasuki belahan vaginanya yang memang licin. Ah, enak sekali rupanya. Baru kali ini penisku masuk ke vaginanya, walaupun masih sedikit. Sesaat ujung penisku berada dalam himpitan lubang yang basah itu, lalu kutarik dan kubenamkan lagi dengan pelan — aku ingin mempermainkan rasa nikmat pacarku ini dulu. Mendapat perlakuan seperti itu, Jenny semakin mengejang; kedua tangannya kini mencengkeram erat seprei tempat tidur.
"Akkhh, Dit..." Lenguhan panjang terdengar dan dia mencengkeram semakin kuat. Rupanya ia tak tahan dengan perlakuanku yang memasukkan kepala penisku saja, karena saat kudorongkan kembali pantatku, dia menyambutnya dengan lebih menyodorkan pantatnya ke belakang sehingga penisku amblas ke dalam liang yang rapat itu. Berakhirlah pertahanan gadis suci ini. Kurasakan sesuatu yang kenyal menahan ujung penisku — ini rupanya selaput darah seorang perawan, pikirku. Lalu penis kudorong lagi menyeruak masuk mengisi liang itu. Setelah saling diam beberapa saat, aku pun mulai beraksi — menyodok dan menarik penisku melalui vagina itu. Kocokan pelan dan berirama, terkadang semakin cepat. Nikmat dan rapat sekali vagina yang masih perawan ini kurasakan.
"Gimana sayang, lebih nikmat kan?" tanyaku. Dia menjawab perkataanku dengan desahan yang semakin memburu. Karena tidak menjawab, akhirnya aku pura-pura bermaksud mencabut kembali penisku yang sudah tenggelam di dalam vaginanya.
"Akh, jangan, Ditt!" Dia menahan laju mundur pantatku dengan kedua kakinya, kemudian memeluk dan mencengkeram punggungku.
Karena sudah mendapat lampu hijau, dan lagi aku sudah tidak sabaran — rupanya begitu enak penis ini jika berada di dalam vagina seorang perempuan — maka aku memulai gerakan naik-turunku. Merasakan setiap sentakan dari pantatku, ia mulai paham dan ikut menggoyangkan pantatnya seirama dengan sodokan pinggangku. Wajahnya memerah dan bibirnya yang seksi terbuka lebar; segera kulumat bibir terbuka itu dengan pagutan dan ia pun membalasnya dengan penuh nafsu.
"Akh, Ditt, eehhmm."
"Kenapa sayang, nikmat kan?"
"En, enak." Kuangkat dadaku dan kutopang dengan kedua tanganku, menambah tenaga untuk kembali menyodok vagina itu. Kulihat ekspresi pacarku ini begitu cantik dengan mata terpejam dan bibir yang terkadang ia gigit kecil. Begitu terangsang aku dengan ekspresinya seperti ini.
Gesekan demi gesekan semakin terasa nikmat bagi kami berdua. Sesaat kemudian kulihat wajahnya memerah dan mendongak ke atas; kurasakan kakinya melingkar erat di kedua pahaku. Aku tahu ia akan segera mencapai klimaksnya yang kedua.
"Tahan sayang, sebentar lagi."
"Aku, aku nggak kuat, Dit, aku mau kelluar." Kupercepat sodokan pantatku untuk segera mengimbangi orgasme yang dirasakannya. Kupeluk erat tubuhnya, kurasakan semburan hangat membanjir di selangkanganku, dan setelah itu aku pun menyemburkan lahar panas yang kutahan dari tadi.
"Crot, crot, cret..." Delapan kali kurasakan semburan maniku di vaginanya.
"Oohh!" Lengkingan panjang keluar dari mulut kami secara bersamaan. Cairan hangat membasahi semua lubang vaginanya dan akhirnya tubuhku terjerembab di atas tubuhnya yang terkulai lemas.
"Terima kasih sayang, nikmat sekali." Hanya itu yang bisa terucap dari mulutku saat itu.
Lama kupeluk tubuh polos itu sambil merasakan sisa kenikmatan yang baru saja kami alami.
"Maafkan aku ya, sayang. Aku nggak bisa nepatin janji dan menjaga kesucianmu sampai malam pertama kita." Setengah merayu kubisikkan kata-kata itu.
"Ya udahlah say, mau gimana lagi. Aku juga salah, yang membiarkanmu masuk." Sambil tersenyum simpul dan masih saling berpelukan, akhirnya kami tertidur dalam kelelahan.
Malamnya aku terbangun dan kulihat tubuh polos Jenny tertidur begitu cantik tanpa busana sehelai pun. Cairan kental yang mulai mengering masih keluar perlahan melalui bibir vaginanya bercampur dengan tetes darah yang mengering. Inilah darah perawan pacarku yang telah kuambil kesuciannya.
"Maafkan aku, sayang." Kukecup keningnya dan kutinggalkan tempat tidur untuk membersihkan sisa lendir yang melekat di selangkanganku. Baru saja aku hendak masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Jenny bangun dan menyusulku sambil memeluk tubuhku.
"Jahat ya, habis ngerasakan mau ninggalin aku sendiri."
"Nggak apa-apa sayang, aku nggak kemana-mana kok." Kembali kupeluk tubuhnya dan kami mandi bersama. Dan di dalam kamar mandi pun akhirnya kami mengulanginya.
Selesai mandi kami pun keluar untuk makan malam. Setelah itu kami mengulanginya lagi, kali ini kami benar-benar menumpahkan segalanya. Berbagai posisi kami coba; segala apa yang pernah kami lihat di film BF kami coba praktikkan malam itu. Seakan tak pernah puas, kami bercinta.
E N D