18px

Pengalaman Pertamaku Bersama Tante Yok

Pengalaman Pertamaku Bersama Tante Yok

Aku adalah seorang bujangan yang kini bekerja di sebuah perusahaan kecil di daerah Jakarta Barat. Pendidikanku hanya sampai SMA, ditambah beberapa kursus keterampilan. Aku adalah orang awam di bidang komputer dan internet, jadi maafkan aku kalau kurang lincah dalam bertutur kata. Umurku sekarang 30 tahun dan belum ada keinginan untuk menikah. Ketiadaan keinginan itu berkaitan erat dengan serangkaian pengalaman yang akan kuceritakan kepada teman-teman pembaca dalam tulisanku ini.

Baiklah, aku akan mulai bercerita tentang pengalaman pertamaku bersenggama dengan seorang wanita. Wanita yang telah melepaskan keperjakaanku adalah tanteku sendiri. Kisah ini dimulai ketika aku masih berumur 20 tahun dan saat itu sedang menganggur — baru lulus SMA dan belum dapat pekerjaan. Pada saat itu aku masih tinggal di rumah orang tuaku di Jakarta.

Kebetulan keluarga kami tinggal saling berdekatan dengan para sanak famili. Salah satunya adalah keluarga Om Rudi dan Tante Yok. Om Rudi adalah sepupu jauh dari ayahku, seorang pengusaha dengan usaha di Surabaya sehingga ia sering pergi ke sana untuk mengurus bisnisnya. Om Rudi sudah berumur sekitar 43 tahun, fisiknya cukup ganteng meskipun rambutnya sudah tidak selebat dulu. Tante Yok sudah berumur 38 tahun. Fisiknya masih menggairahkan menurut pandanganku — rambutnya hitam dan panjang terawat, kulitnya putih mulus. Tubuhnya bisa dibilang sintal dan montok, meskipun memang ada kecenderungan agak gemuk di bagian pinggang, seperti layaknya wanita menjelang separuh baya. Buah dadanya tidak terlalu besar tapi proporsional dengan tubuhnya yang tinggi sekitar 170-an. Wajah Tante Yok sendiri memang cantik — kalau kamu suka nonton filmnya Suzana, kira-kira muka Tante Yok itu seperti Suzana yang bersuamikan Clift Sangra. Om Rudi dan Tante Yok punya satu orang anak perempuan, umurnya sekitar 15 tahun, namanya Camelia, dipanggil Lia.

Sewaktu Om Rudi sering bertugas ke Surabaya, Tante Yok menjadi kesepian dan sering bermain ke rumahku untuk mengobrol dengan ibuku. Susahnya di situ! Kadangkala Tante Yok lupa duduk secara sopan; kadang ia tanpa sengaja menyingkapkan roknya atau bajunya sehingga beberapa kali terlihat pahanya hampir sampai pada celana dalamnya, ataupun ketiaknya. Waktu itu aku merasa terangsang karena terus terang paha Tante Yok terlihat putih, mulus, dan padat menggairahkan. Ketiaknya ketika tak sengaja tersingkap memperlihatkan bulu-bulu hitam yang sangat lebat.

Sejak saat itulah aku mulai melamunkan dia — bagaimana rasanya jika aku bersetubuh dengannya, menelanjanginya, dan melihat seluruh anggota tubuhnya tanpa dihalangi apa pun. Bayangan itu terus memenuhi mataku, dan mulailah aku melakukan masturbasi sambil selalu membayangkan Tante Yok sebagai wanitanya. Hampir tidak bisa aku menahan libido itu. Kalau ia berkunjung, aku kerap berusaha mengintip kalau-kalau dia terbuka lagi. Gelas minuman yang disuguhkan kepadanya sering kuminum ulang — aku mencoba mencari bekas bibirnya dan membayangkan bagaimana jika aku dicium oleh Tante Yok.

Cerita ini berlanjut terus. Suatu ketika aku harus menjaga rumahnya karena Om Rudi dan seluruh keluarganya harus pergi ke Surabaya. Om Rudi meminta tolong orang tuaku untuk membantu menjaga rumah mereka karena letak rumah kami yang berdekatan — hanya sekitar 15 menit naik ojek. Karena hanya aku yang bisa dipakai kapan saja saat itu, orang tuaku menyuruhku untuk menjaga rumah Om Rudi dan Tante Yok. Kebetulan sekali, begitu pikirku waktu itu. Aku bisa lihat-lihat segala macam foto keluarga mereka, dan yang utama tentunya foto Tante Yok.

Kira-kira sekitar satu minggu aku bertugas jaga rumah mereka, ketika tiba-tiba pada hari ketujuh Tante Yok terpaksa kembali sendirian karena ia harus mengurus sesuatu yang penting. Waktu itu ia kembali sudah menjelang malam, sekitar pukul tujuh. Aku sedang menonton TV saat dia pulang. Terus terang aku cukup kaget dan deg-degan karena aku hanya berdua saja dengan perempuan yang sering jadi tamu mimpiku ini.

Tante Yok langsung memasak untuk menyiapkan makan malam, dan aku menawarkan diri untuk membantunya. "Boleh, makasih banget lho Barry," katanya. Waktu aku bantu, tanpa sengaja ia sedang duduk membersihkan bahan makanan sementara aku berdiri mencuci pisau dan sebagainya. Bajunya tersingkap sehingga aku melihat buah dadanya meski tidak sepenuhnya — ukurannya sedang, putih, dibungkus BH berukuran sedang. Buah dadanya bergoyang seirama dengan gerakannya. Ketika aku sedang begitu, ia menoleh dan tersenyum padaku, rasanya senyumnya adalah senyum yang paling manis di dunia saat itu.

"Kenapa Barry?" tanyanya.
"Nggak apa-apa kok Tante," jawabku.

Kemudian kami masing-masing mandi di kamar mandi terpisah. Aku selesai duluan dan karena aku biasanya tidur di kamar Om Rudi dan Tante Yok, aku masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaian sehabis mandi. Tak tahunya dia baru selesai mandi dan cuma memakai BH dan celana dalam, sedang memilih baju. Darahku serasa naik ke kepala. Dia kaget dan sedikit menjerit.

"Aduh Barry, entar dulu ya, Tante lagi pakaian nih!" katanya, tapi tidak ada nada marah dalam suaranya.

Aku keluar, tapi tak bisa melupakan apa yang kulihat. Di cermin lemarinya, aku sempat melihat tubuhnya — buah dada yang tidak begitu besar tapi menggantung ditutupi BH-nya, ketiak berbulu hitam lebat di pangkal lengan yang putih, perut yang padat dan ranum, pusar yang masuk ke dalam, pinggul yang sedikit gemuk tapi masih sintal, dan paha yang ditutupi celana dalam coklat — mulus, putih, dan padat.

Makan malam kami biasa saja, suasana kaku karena insiden tadi. Kami jadi diam-diaman. Selesai makan, aku berkata kepada Tante Yok.

"Tante, nanti jam sembilanan aku pulang ya."
"Oo, kok buru-buru Barry? Besok pagi aja, malam ini menginap di sini dulu. Tante di sini juga agak lama, sekitar dua minggu," katanya.

Aku takut semakin lama di situ, semakin ngeres pikiranku, jadi aku berkeras untuk pulang. Akhirnya dia menyerah dan bilang oke. Tapi malangnya — atau mestinya kusebut pucuk dicinta ulam tiba — keadaan berkata lain. Tidak lama setelah kami makan bersama, turun hujan deras sekali sampai bertiup angin. Jelas aku tidak mau sakit, jadi malam itu aku menginap lagi di rumahnya bersama Tante Yok. Aku tidur di kamar Lia, sepupu jauhku, dan dia tidur di kamarnya.

Sebelum tidur kami mengobrol. Tante Yok bercerita tentang bisnis Om Rudi di Surabaya, dan aku bercerita tentang rencana mengambil kursus agar lebih siap untuk bekerja. Ternyata Tante Yok lupa duduk sopan lagi sehingga pahanya tersingkap cukup jauh — aku melihat pahanya yang mulus, dan mulai membayangkan menindihnya, bersetubuh dengannya.

Pas malam itu hujan belum berhenti dan tetap deras. Kami mulai tidur. Di kamarku aku tidak bisa tidur — aku terus memikirkan Tante Yok. Tiba-tiba terdengar suara gedubrak dan jeritan Tante Yok. Aku loncat dan memburu ke kamarnya. Dia menjerit karena ada ular masuk ke kamarnya. Maklum, lokasi rumah itu ada di pinggiran Jakarta Selatan dan waktu itu masih banyak tanah kosong. Ularnya sudah ada di tempat tidur. Tante Yok sudah panik dan histeris. Aku bergegas ke dapur mengambil golok, kupotong ularnya, lalu kubuang ke depan. Ternyata itu ular sawer yang kena hujan angin.

Aku duduk di sisi ranjang Tante Yok yang sedang diam karena shock. Seperti dalam film yang pernah kulihat, kupegang tangannya. "Tante, udah nggak ada apa-apa lagi, udah aman kok." Tiba-tiba dia meraup dan menyembunyikan kepalanya di dadaku. Dengan sedikit berdebar aku memeluknya. Aku benar-benar nervous karena Tante Yok yang selama ini aku impikan kini ada dalam pelukanku. Bisa kurasakan badannya, kuelus-elus punggungnya, bisa kucium wangi rambutnya yang harum dan subur terawat. Aku tidak bisa berbicara apa-apa. Terus kuhibur dia dengan mengusap-usapnya, menenangkannya dengan kata-kata pelan.

Tiba-tiba ia menengadah melihat kepadaku. Di tengah remang cahaya lampu kamar yang cuma 10 watt, aku melihat dia — matanya sayu, mulut sedikit terbuka, bibir yang ranum, merah, basah, dan matang; nafasnya yang hangat dan harum menderu di wajahku.

"Makasih Barry, Tante bener-bener kaget tadi. Aduh, makasih banget ya?"
"Nggak apa-apa kok Tante, aku juga kebetulan belum pules banget," kataku tertawa.

Ketika aku mau beranjak dan melepaskan pelukanku dengan agak menyesal, aku baru memperhatikan Tante Yok sepenuhnya. Ia sangat cantik dengan baju tidurnya yang berwarna lembut, tanpa lengan sehingga memperlihatkan pangkal lengannya yang putih dan berisi, serta ketiaknya yang berbulu hitam keriting lebat dengan aroma harum deodoran. Dengan perasaan campur aduk aku mulai beranjak keluar kamar.

Di balik pintu kamarnya aku berhenti dan merenung. Aku merasa betul-betul menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia tadi ketika memeluk Tante Yok. Badannya begitu montok, padat, dan harum khas seorang wanita matang. Coba saja aku bisa menciumnya, menelanjanginya, dan mulai menyetubuhinya...

Saat aku sedang gila oleh pikiranku, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan dia berdiri memanggilku pelan dan lembut, "Barry..." Aku berbalik dan sedikit tertegun. Tante Yok berdiri di depan pintu dengan pandangan sayu, begitu cantik di mataku — muka putih dan mulus, pipi sedikit kemerah-merahan, bibir merah dan sensual, rambut yang agak panjang terurai hampir mencapai pinggang.

"Apa Tante?" jawabku.
"Tante takut tidur sendiri, takut nanti ularnya dateng lagi. Kamu sudah tidur?" Dia diam sejenak, lalu menundukkan kepala dan bertanya, "Kamu mau kan temani Tante tidur di sini malam ini?"

Aku seperti kejatuhan bulan saja. Tante Yok yang selama ini aku gila-gilai kini memintaku tidur menemaninya.

"Boleh Tante, tapi kan tempat tidurnya cuma satu, jadi gimana?"

Dia tersenyum mendengar pertanyaanku. "Pokoknya beres Barry, kamu nggak usah takut." Sambil berkata demikian, Tante Yok melemparkan senyum manis kepadaku dan mengedipkan sebelah matanya menggoda. "Yuk, anginnya dingin, di kamar lebih hangat."

Saat itu aku merasa panas dan dingin sekaligus — takut karena ini pengalamanku pertama tidur sekamar dan seranjang dengan wanita yang bukan ibuku, senang karena aku dapat tidur seranjang dengan Tante Yok yang sering aku lamunkan, dan cemas takut ketahuan Om Rudi.

Aku nekat dan melangkah masuk. Tante Yok sedang berbaring pada sisi seberang jendela. Tempat tidurnya ukuran besar sehingga aku dapat tidur pada sisi jendelanya. Kamarnya sejuk karena ada AC yang bercampur dengan udara hujan. Aku membaringkan diri dengan perasaan campur aduk — Tante Yok yang selalu aku impi-impikan kini berada begitu dekat, dalam situasi yang paling pribadi. Dia tidur menghadap ke tengah sedang aku memunggunginya.

"Barry..." panggil Tante Yok lembut, tangannya meraih bahuku. Aku membalik dengan perasaan kacau.
"Ya Tante?" jawabku.
"Kamu benar-benar lelaki yang hebat, berani sekali. Tante kagum sama kamu, makasih ya sudah kamu tolong." Tante Yok tersenyum manis kepadaku.

Aku tersipu mendengar pujiannya. Ketika aku menaikkan pandangan, ternyata Tante Yok masih menatapku — pandangannya agak lain dari yang biasa kulihat kalau ia berkunjung ke rumahku.

"Malam ini..." bisiknya, "kamu akan Tante kasih hadiah terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante dan bantu jagain rumah ini." Ia diam sejenak.
"Hadiah apa Tante?" tanyaku tidak sabar. Ia tersenyum.
"Apa yang paling kamu ingini untuk Tante berikan kepadamu?"

Lidahku kaku. Dalam hati aku menjawab: aku ingin menyetubuhi Tante, ingin merasakan bagaimana rasanya memasuki tubuh Tante. Tapi tentu saja aku tidak berani berkata demikian, hanya menatapnya bingung.

Ia mengelus kepalaku dengan sebelah tangannya dan berkata, "Kamu sudah melihat Tante habis mandi tadi sore kan?"
Aku gugup. "Tapi aku nggak sengaja Tante, sungguh, aku minta maaf."
Ia tertawa. "Tante sudah maafkan. Kamu senang?"
"Ya senang juga Tante," jawabku jujur.
Tante Yok tertawa kecil lalu berkata lagi, "Kamu mau lihat lagi nggak? Kalau kamu janji tidak cerita kepada siapa pun — termasuk orang tua kamu, Om Rudi, anak Tante — kamu boleh lihat lagi Tante seperti tadi. Mau nggak?"

Jantungku berdegup kencang. Tanpa berpikir lagi aku langsung mengangguk berulang kali.

Tante Yok tersenyum melihat tingkahku, lalu mendekatkan wajahnya kepadaku sehingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan harum di hidungku. "Kalau kamu mau berjanji, Tante akan kasih tahu hadiah yang Tante bilang tadi." Ia diam sebentar, lalu melanjutkan, "Malam ini... Tante akan ajarin kamu jadi laki-laki dewasa sebagai rasa terima kasih Tante." Tante Yok menunduk malu setelah berkata demikian.

Ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Tante Yok pun menginginkan aku!

"Gimana Barry, kamu mau?" Tante Yok bertanya pelan.
"Aku mau Tante, tapi..."
"Tapi kenapa Barry?" tanyanya sambil memegang bahuku.
"Aku masih hijau Tante, aku takut Tante hamil, takut kalau Om Rudi tahu, takut kalau ternyata aku nggak bisa memuaskan Tante."

Tante Yok merengkuhku dalam pelukannya sambil berbisik di telingaku. Pelukannya terasa hangat, bau harum dari badannya tercium. "Serahkan semua risikonya kepada Tante, Barry. Pokoknya malam ini akan jadi malam yang tak terlupakan buat kamu."

Lalu ia melepaskan pelukannya dan berdiri memunggungiku sehingga ritsluitingnya menantang untuk kubuka. Dengan memberanikan diri aku mulai menyentuh kepala ritsluitingnya dan menariknya ke bawah, terus ke bawah. Baru kusadari bahwa ritsluting yang hanya 40 cm itu terasa sangat panjang dalam situasi seperti ini. Punggungnya yang putih terbuka di hadapanku, dengan tali BH yang masih terikat.

Ketika aku memberanikan diri menyentuh tali BH-nya, Tante Yok membalikkan badan, melihat kepadaku, tersenyum, dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Wajahnya sangat dekat. Bibirnya mulai mengarah dan bibirku mulai mengarah tepat ke arahnya — dan kami pun berciuman.

Aku merasa seperti di dalam mimpi. Aku berhasil mencium Tante Yok! Mulutnya terasa hangat dan basah. Bibirnya mulai bergerak liar mengulum bibirku. Lidahnya mulai keluar dari sarangnya dan mencari lidahku. Hup! Lidahku tertangkap, lalu dengan tak kenal ampun dikulumnya, ditariknya masuk ke dalam rongga mulutnya sehingga mulut kami seolah-olah menjadi satu. Aku mencoba menarik lidahnya, ia mempertahankan, aku tarik lagi, ia bertahan — lalu, "Aaahh!" dengan menjerit ia menyerah dan membiarkan aku mengulum lidahnya, menjilati langit-langit mulutnya, sementara bibir kami saling melumat dan mengunyah. Entah berapa lama kami berciuman, namun jelas itu adalah ciuman yang tak terlukiskan nikmatnya.

Ketika bibir kami berpisah dengan bunyi yang sangat keras — tanda bahwa kami telah menempelkannya dengan sangat erat — Tante Yok memandangku dengan nanar. "Barry, bahkan Oom Rudi pun nggak sanggup mencium Tante seperti itu." Ia meraihku kembali dan kami berciuman dengan ganasnya, saling menyerang, mengulum, menjilat, menggigit. Kulumatkan bibirnya hingga Tante Yok mengerang-ngerang. Ketika aku lengah ia yang menjadi agresor, melumatkan mulutku dan mengintervensi rongga mulutku. Tiba-tiba ia menyemprotkan ludahnya kepadaku dan tanpa pikir panjang aku langsung kumur-kumur dan menelannya. Ludahnya pun terasa begitu hangat dan nikmat.

Bersambung . . . . .

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya