Pengorbanan Seorang Ibu (Bagian 5)
Pengorbanan Seorang Ibu (Bagian 5)
Beberapa minggu setelah kejadian pertama dengan Basuki, aku sudah berpikir. Aku rasa anakku yang kedua, Banu, juga harus mendapatkan jatah seperti kedua saudaranya. Tidak adil rasanya jika dia tidak mendapatkannya. Lagipula, semua yang aku lakukan sudah telanjur jauh — mengapa tidak kuteruskan saja. Hanya saja aku belum menemukan cara yang tepat untuk meminta Banu. Mungkin aku sudah terkena kelainan seksual karena aku sangat menikmati hubunganku dengan anak-anakku sendiri. Tapi biarlah, daripada harus menjajakan diri, aku pikir lebih baik begitu. Kesempatan untuk bersetubuh dengan Banu akhirnya datang ketika kedua saudaranya sedang tidak ada di rumah.
Bari sedang ke rumah temannya, sedangkan Basuki pergi ke kota lain selama beberapa hari. Otomatis aku tidak mendapat kepuasan selama beberapa hari itu, karena aku tidak disentuh oleh kedua anakku yang telah menjadi pemuas nafsuku. Aku tidak mampu lagi menahan nafsu untuk bersetubuh, dan aku tidak mau bersetubuh dengan orang lain yang tidak aku kenal. Aku bingung. Sampai ketika aku sedang duduk di ruang tengah, aku melihat Banu yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek. Aku terkesiap. Ternyata tubuh Banu tidak jauh berbeda dengan kedua saudaranya — atletis dan mengagumkan. Hasratku yang sudah sampai ke ubun-ubun menggelapkan nuraniku. Aku berpikir, biarlah sekalian aku nikmati tubuh semua anak-anakku. Tanpa pikir panjang, aku pun memanggil Banu.
"Banu, kemari sebentar, Nak," panggilku.
Banu menoleh ke arahku dan berjalan menghampiri.
"Ada apa, Bu? Banu baru mandi nih. Mau pakai baju dulu," kata Banu.
"Tidak usah pakai baju, Nak. Kemari sebentar. Ibu mau bicara dengan kamu," kataku meyakinkan.
"Tapi, Bu, Banu kedinginan. Banu mau pakai baju dulu," jawab Banu ngotot.
"Sudah, nggak usah membantah Ibu," kataku sambil berdiri dan menarik tangan Banu untuk mendekat.
"Duduk di samping Ibu," kataku lagi.
Banu pun akhirnya menurut dan duduk di sampingku. Aku pandangi tubuh setengah telanjang yang duduk di sampingku. Sempurna — itulah yang ada di benakku saat ini.
"Boleh Ibu tanya, Nak?" tanyaku.
"Ya, tentu saja boleh, Bu. Emang ada apa?" Banu balik bertanya sambil matanya memandangku penuh selidik.
"Kamu sudah punya pacar, Nak?" tanyaku basa-basi.
"Ya belum, Bu. Emang kenapa sih Ibu tanya itu?" jawab Banu.
"Jadi kamu belum pernah ciuman, dong?" tanyaku memancing.
Banu kelihatan heran dengan pertanyaanku. Dia hanya diam beberapa saat.
"Ya belum pernah. Kok Ibu tanya begitu sih? Ada apa?" tanya Banu heran.
"Nggak kok. Kalau memang belum pernah, Ibu cuman ingin mengajari kamu ciuman — itu pun kalau kamu mau," jawabku.
"Ibu serius? Ibu nggak sedang bercanda kan?" tanya Banu lagi dengan nada tidak percaya.
Aku hanya menganggukkan kepala, lalu mendekatkan tubuhku kepadanya. Kepala kami begitu dekat sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, lalu kutempelkan. Banu hanya diam saja dan tidak bereaksi. Aku mencoba lebih aktif lagi — kudekap tubuhnya sehingga tubuh kami bersatu.
"Kalau ciuman, bibirnya dibuka sedikit, Nak," pintaku karena bibir Banu masih tertutup rapat.
Kucium lagi bibirnya. Dia membuka bibirnya sedikit sehingga aku bisa memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku dan lidahnya beradu di dalam mulutnya. Sesekali kusedot mulutnya untuk mendapatkan sedikit air ludahnya, lalu kutelan — terasa nikmat. Setelah sekitar lima belas menit kami berciuman dengan mesranya, kulepaskan dekapanku pada tubuhnya. Banu seperti tidak rela untuk melepaskan aku.
"Bagaimana, Nak? Kamu suka?" tanyaku.
"Enak sekali, Bu. Boleh lagi? Banu masih pengen nih," kata Banu sambil terengah-engah.
"Boleh saja, Nak. Bahkan lebih juga boleh kok," kataku.
Aku berdiri di hadapannya. Lalu perlahan-lahan aku menurunkan resleting dasterku, menanggalkannya, dan membuangnya ke samping sofa. Sekarang aku hanya menggunakan BH dan celana dalam. Kulihat Banu terkesiap dan menelan ludah melihat pemandangan di depannya. Aku melangkah mendekat ke arahnya dan mendekatkan wajahku. Kami pun berciuman kembali. Kali ini Banu sudah lebih mahir — dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Lidah kami bertautan seperti dua ekor ular yang sedang bertarung.
Hanya suara desahan kami berdua yang memenuhi ruangan itu. Kupegang tangan kanannya dan kuarahkan ke buah dadaku yang masih terbalut BH. Secara alami tangan Banu mulai meremas-remas payudaraku dari luar BH. Aku semakin terangsang saat tangannya meremas payudaraku. Tangan kiriku mengusap-usap bagian luar celananya.
"Buka BH Ibu, sayang... ohh," pintaku sambil mendesah.
Tanpa diminta dua kali, tangan Banu dengan cekatan membuka kaitan BH-ku. Kini di depan wajahnya terpampang dua bukit kembar yang sangat ranum dan menggairahkan.
"Bu, susu Ibu gede sekali, ukuran berapa sih, Bu?" tanya Banu takjub.
"38B, sayang. Gede kan? Kamu suka, sayang?" jawabku penuh nada kebanggaan.
"Pegang susu Ibu, sayang," pintaku sambil mendekapkan tangannya ke payudaraku.
Mungkin ini yang disebut nafsu alami. Secara otomatis tangannya mulai meremas-remas payudaraku. Aku hanya bisa mendesah tak karuan mendapat perlakuan seperti itu. Tak hanya meremas-remas, sepuluh menit kemudian Banu secara naluriah mulai mengecup dan menjilati kedua gunung kembar yang ada di depannya.
"Ahh... enak... sayang... terus... emmpphh..." aku meracau tak karuan mendapat perlakuan seperti itu.
Kini hanya sehelai celana dalam yang melekat di tubuh kami. Tak sabar, kujauhkan kepala Banu dari kedua gunung kembarku dan kusuruh Banu duduk di sofa. Peluh membasahi tubuh kami berdua meskipun permainan baru saja dimulai. Aku berjongkok di antara kedua belah pahanya yang terbuka. Kupandangi tonjolan besar yang berada dalam celana dalamnya. Kuusap-usap bagian luarnya. Banu menggelinjang mendapat perlakuan seperti itu. Perlahan kupegang pinggiran celana dalam Banu dan berusaha melepaskannya dari tubuhnya.
Sebuah pemandangan yang sangat indah bagiku terpampang begitu saja ketika celana dalam itu sudah lepas. Kini Banu sudah telanjang bulat. Alat kelaminnya yang sangat besar, dengan panjang sekitar delapan belas sentimeter dan diameter yang cukup besar, membuatku menelan ludah. Kupegang dengan tangan kananku dan kuelus-elus perlahan. Banu hanya mendesah mendapat perlakuan itu. Kudekatkan wajahku, kukecup ujungnya yang merekah, lalu kujilati. Banu semakin tidak karuan. Lima menit kemudian, kumasukkan ke dalam mulutku dan kumulai mengoral Banu.
"Ohh... enak, Bu... terus..." Banu mendesah.
Kumasukkan ke dalam mulutku dan secara bergantian mengocoknya dengan tangan kananku sambil menjilati buah pelirnya. Setelah itu kumasukkan lagi ke dalam mulutku, lalu kumaju-mundurkan mulutku, sementara tanganku meremas-remas kedua pelirnya dengan lembut.
"Enak... Bu... terus..."
Kata-kata semacam itu terus-menerus keluar dari mulut Banu. Sekitar sepuluh menit kemudian Banu memegang bagian belakang kepalaku seakan-akan tidak mau melepaskan hisapan mulutku.
"Bu... mau... keluar... cepat..." teriak Banu.
Aku semakin mempercepat gerakanku. Tidak lama kemudian aku merasakan denyutan-denyutan yang menandakan Banu akan mencapai puncak.
"Keluarkan, sayang, keluarkan di mulut Ibu," kataku di antara desahan nafas kami dan di antara kesibukanku mengoral.
Creet... croot... creet... mungkin sebanyak sembilan atau sepuluh semprotan sperma Banu memenuhi rongga mulutku. Hampir saja mulutku tidak mampu menampungnya. Wangi dan gurih — itulah yang aku rasakan. Banu duduk telentang dan bersandar di sandaran sofa dengan nafas yang terengah-engah. Aku lalu duduk di sampingnya dan kubiarkan dia istirahat dulu; aku tidak ingin terburu-buru meskipun nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun. Ini adalah yang pertama baginya, dan aku ingin kepuasan untuk kami berdua.
"Kamu capek, Nak? Spermamu tadi benar-benar lezat. Ibu sangat menikmatinya," sanjungku. Banu hanya tersenyum mendengar sanjunganku.
Setelah kulihat Banu sudah mulai tenang, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Seperti sudah mengerti yang kumaksud, Banu juga mendekatkan wajahnya. Mulut kami bersatu dan kami berciuman. Kubuka sedikit mulutku, begitu juga Banu. Lidahnya mulai masuk ke dalam mulutku dan menyapu seluruh rongganya. Kedua lidah kami beradu, saling membelit dan saling menjilat. Kudekap tubuhnya erat sementara Banu memegang bagian belakang kepalaku. Kurasakan kedua gunung kembarku bersentuhan dengan dada bidangnya. Banu berusaha menidurkan aku di sofa sambil kedua tangannya bergerilya di seluruh tubuhku. Sekarang aku telentang di sofa dan Banu berada di atas menindihku.
"Ludahi Ibu, Nak. Ibu haus. Ludahi Ibu," pintaku.
Banu menjauhkan sedikit mulutnya dari mulutku. Mulut Banu mengecap-kecap, berusaha mengumpulkan air ludah sebanyak-banyaknya. Setelah dirasa cukup, Banu mendekatkan kembali mulutnya ke mulutku. Kubuka mulutku lebar. Perlahan Banu membuka mulutnya dan air ludah mengucur keluar. Kusatukan mulutku dengan mulut Banu dan kutampung semua air ludahnya. Kukatupkan mulutku lalu kukecap-kecap sebentar kumpulan air ludah itu, kemudian kutelan. Kudekap kepalanya dan kami berciuman kembali. Kurasakan di bawah, alat kelaminnya kembali menegang. Sesaat kemudian, kulepaskan dekapanku lalu kudorong tubuh Banu ke bawah.
"Buka celana dalam Ibu, Nak. Ayo lakukan," pintaku.
Bersambung . . . .