18px

Penyesalan Tiada Akhir — Bagian 3

Penyesalan Tiada Akhir — Bagian 3

Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui, aku memang sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya 'KO'. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan.

"Yah...?" panggilku menghiba.
"Apa, Sayang?" jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa.
"Cepetan..."
"Sabar, Sayang. Kamu ingin Ayah berbuat apa?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.

Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka. Namun ayah sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku sendiri. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya, sementara aku benar-benar sudah tak tahan mengekang birahi.

"Reni ingin Ayah segera masukin..." kataku akhirnya, dengan terpaksa.

Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!?

"Apanya yang dimasukin?" tanyanya lagi, seperti mengejek.
"Akh, Ayah. Jangan siksa Reni...!"
"Ayah tidak bermaksud menyiksa kamu, Sayang."
"Oohh, Ayah... Reni ingin Ayah masukin kontol Ayah ke dalam memek Reni... uuggh..." Kali ini aku sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar — saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu.

Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Hampir tak percaya bahwa ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, aku memang sangat menginginkannya segera.

"Baiklah, Sayang. Tapi pelan-pelan ya," kata ayahku dengan penuh kemenangan, setelah berhasil menaklukkan diriku.

"Uugghh..." aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar.

Aku menunggu cukup lama hingga kontol ayah memasuki diriku sepenuhnya. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol ayah cukup panjang juga. Aku sampai menahan napas saat batangnya terasa mentok di dalam — rasanya sampai ke ulu hati. Baru setelah seluruh batangnya amblas, aku bisa bernapas lega. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua, tiga tusukan berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liangku membuat kontol ayah keluar-masuk dengan mulus. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku — meliuk perlahan, naik-turun mengikuti irama tusukannya.

Gerakan kami semakin lama semakin cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku adalah tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Ayah tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga, merasakan kenikmatan yang luar biasa. Batang ayah menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa, hingga gesekan itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.

"Aduuhh... auuffhh... nngghh..." aku merintih, melenguh, dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.

Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas ranjang. Ia begitu hebat dan jantan. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya, meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan masalah besar nantinya. Saat itu aku sudah tidak peduli dan tidak akan menyesali kenikmatan yang kualami.

Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitif. Aku meregang tak kuasa menahan desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku, sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik-turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras seiring gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncak. Melihat reaksiku, ayah mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang keluar-masuk dengan cepatnya seakan tak mempedulikan bahwa liangku yang sempit bisa terkoyak akibatnya.

Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat — aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat tampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuhnya untuk mendekapnya. Di saat-saat kritis itu, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya hingga menindih tubuhku. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong — tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya.

"Ayah... oohh... Yaahh..." hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.

"Sayang, nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu merasakan kepuasan yang belum pernah kamu alami sebelumnya," bisik ayah dengan mesranya.
"Ayah sayang padamu, Ayah cinta padamu. Ayah ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..." lanjutnya tanpa henti.

Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi? Mengapa keindahan ini kualami bersama ayahku sendiri — meski ayah tiri, tetapi sudah seperti ayah kandungku sendiri? Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Ayah terkejut melihat ini.

"Reni, Sayang, kenapa menangis?" bisiknya tergesa.
"Maafkan Ayah kalau telah membuatmu menderita..." lanjutnya seraya memeluk dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

Aku semakin sedih merasakannya. Namun ini bukan hanya kesalahannya. Aku pun berandil besar. Aku tidak bisa menyalahkannya seorang diri; aku harus jujur dan adil menyikapinya.

"Ayah tidak salah. Reni yang salah."
"Tidak, Sayang. Ayah yang salah," katanya bersikeras.
"Kita, Yah. Kita sama-sama salah," kataku, sekaligus memintanya tidak memperdebatkan masalah ini lagi.
"Terima kasih, Sayang," kata ayahku seraya menciumi wajah dan bibirku.

Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya — sampai saat ini ayah belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti punya utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku sadar mengapa aku menjadi antusias melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini — toh ayah tidak akan selamanya berada di sini, ia harus pulang ke kampungnya. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ini yang terakhir kalinya.

Pikiran ini justru membuat gairahku semakin membara. Apalagi sejak tadi ayah terus menggerakkan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku menjadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menciumi wajah, bibir, dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselimoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu — lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut, tanganku mengocok batangnya. Kulirik ayah; kelihatannya ia menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku tepat berada di atas batangnya.

"Akh, Sayang!" pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liangku.

Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda — melompat-lonjak binal. Aku tidak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada pelanggannya. Tetapi aku tak peduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak naik-turun, sesekali meliuk seperti ular — persis gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar ala penyanyi dangdut. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki, khusus kupersembahkan kepada ayahku sendiri.

"Ouugghh... Renii... luar biasa!" jerit ayah merasakan hebatnya permainanku.

Pinggulku mengaduk-aduk lincah dan liar tanpa henti. Tangan ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin. Ia lalu bangkit setengah duduk dan membenamkan wajahnya ke dadaku — menciumi puting susuku, menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh sehingga lengket satu sama lain. Aku terus mengaduk-aduk pinggulku; ayah menggoyangkan pantatnya. Tusukan kontolnya semakin cepat seiring liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat.

Seprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya; selimut, bantal, dan guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku.

Tak selang beberapa detik, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini — aku ingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris, sudah tidak peduli suaraku terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Dan upayaku tidak percuma. Tubuh ayah mulai mengejang-ngejang; ia mengerang panjang, menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.

"Eerrgghh... oouugghh!" ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar.

Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar tidak terpental. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku — semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Aku pun tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendorong pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayahku.

Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk, sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka.

"Oohh... ayaahh... nikmaatthh!" jeritku tak tertahankan.

Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga — terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari satu jam. Gila! Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya.

Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Tiba-tiba perasaanku terusik — sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar. Namun aku terlalu lelah untuk memperhatikannya, dan akhirnya tertidur dalam pelukan ayahku, melupakan semua konsekuensi yang akan datang di hari-hari berikutnya.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya