Perjalanan Malam dan Godaan Tak Terduga
Perjalanan Malam dan Godaan Tak Terduga
Aku memang bernafsu gede—begitu teman-teman menjulukiku—sebab asal ada gadis yang mau sama aku, pasti langsung aku aja, entah itu di mana. Berikut ini pengalamanku dengan seorang gadis yang baru aku kenal.
Sebenarnya aku kurang begitu tertarik dengan acara rembugan keluarga yang terasa amat menjemukan, karena aku lebih tertarik pada dunia IT yang memang pada tahun itu demam internet di Jogja benar-benar mencapai puncaknya dengan munculnya banyak warung internet laksana jamur di musim hujan. Singkat kata, aku segera memesan tiket bus malam jurusan Bekasi. Karena aku sudah mengenal salah satu stafnya, mudah bagiku untuk mendapatkan tempat duduk yang kuinginkan.
Keesokan harinya aku berangkat dari terminal Umbulharjo yang kini sudah rata dengan tanah. Ternyata penumpang sore itu teramat sepi—hanya beberapa orang saja, praktis kami bebas memilih tempat duduk sesuai keinginan.
Pada jam 17.00 tibalah bus di pool pemberhentian di kantor pusat mereka di Kutoarjo, Jawa Tengah. Di sini kami cukup lama berhenti karena ada beberapa penumpang baru. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan para penumpang baru itu karena mereka semua rombongan dari beberapa keluarga.
Tanpa sengaja perhatianku terarah pada seorang gadis yang langsing—tinggi badan 160-an, rambut sepunggung, kulit sawo matang. Ternyata dia berangkat bersama kakaknya yang telah bersuami. Gadis itu duduk di bangku tengah—kalau tidak salah seat 11-12—dia duduk sendiri, sementara kakaknya duduk di seat 7-8 tepat di depannya.
Dikarenakan para penumpang baru banyak yang lanjut usia, muncullah jiwa sosialku untuk memberikan tempat dudukku kepada mereka. Kemudian aku pindah agak ke belakang ke seat 15-16, tepat di belakang gadis yang baru saja naik.
Pada jam 17.30 bus mulai berangkat kembali, meneruskan perjalanan menuju arah matahari terbenam, hingga akhirnya kota demi kota terlewati, jembatan demi jembatan terlalui.
Tanpa disadari aku terserang kantuk hingga akhirnya tertidur, tapi agak sulit bagiku untuk tidur mengingat jalur selatan Jawa Tengah yang sempit sehingga rem mendadak sering terjadi dan membangunkanku.
Saat itu pikiranku mulai ngeres dan mulai membayangkan yang tidak-tidak—yang selalu muncul hanyalah bayangan gadis yang duduk di depanku. Tapi aku masih bisa kutahan karena para penumpang juga masih banyak yang ngobrol.
Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 00.30. Saat itu perjalanan sudah mulai memasuki wilayah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Saat itulah pikiran kotor mulai menggerakkan tangan isengku. Aku menaruh tanganku di sandaran tempat gadis itu duduk, perbuatan iseng itu kulanjutkan dengan mulai menyentuh rambutnya dan membiarkan kepalanya menempel di tanganku.
Aku mulai melihat kiri-kanan untuk mengamankan situasi. Kemudian aku melihat melalui celah antara bangku untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar tidur. Aku tertarik pada tonjolan di dadanya—aku memperkirakan dia memakai bra 34A, cuma perkiraan karena cupnya tidak terlalu besar.
Semakin lama aku semakin berani menaruh tanganku di belakang kepalanya. Berkali-kali dia merasa terganggu dengan tanganku hingga sering memperingatkanku.
"Mas, tolong tangannya."
Berkali-kali dia memperingatkanku untuk tidak mencoba mengganggunya, tapi perbuatan itu terus kuulangi. Mungkin karena sudah jenuh memperingatkanku, dia akhirnya cuek saja.
Saat inilah ibarat pepatah "dikasih hati minta jantung" mulai berlaku. Dengan perlahan aku mencoba melewatkan tanganku melalui celah antara bangku untuk memegang dadanya yang masih terbungkus. Dalam pikiranku—benar-benar hangat. Saat itu gairah mulai bergejolak dan menyebabkan berbuat lebih nekat. Kuulangi terus, kadang mencoba meremasnya perlahan.
Tapi aku selalu waspada kalau-kalau dia terbangun. Aku makin gelap mata, terus menyentuh dan sesekali meremas dadanya. Ketika dia terbangun, aku dengan cepat menarik tanganku, tapi aku yakin dia pasti mengetahui kalau aku memegang dadanya berkali-kali.
Kemudian dia mengambil jaket untuk dijadikan selimut sekaligus tameng untuk menutupi tubuhnya dari tanganku yang kreatif. Aku selalu mengawasi keadaannya dari belakang—ketika jaket penutupnya mulai bergeser, aku memulai aksiku berkali-kali, hingga batang kejantananku mulai mengeras.
Ketika aku mencoba mengulangi untuk menyentuh dadanya, tiba-tiba dia terbangun dengan cepat dan menangkap basah aku.
"Mas...!!" Dengan wajah ketus dia memandangiku seolah penuh kebencian. Aku benar-benar habis—sangat khawatir kalau-kalau dia melapor pada awak bus atau pada kakaknya.
Kemudian aku berpura-pura tidur, tapi ternyata dia tidak melaporkan aku. Aku semakin curiga dan semakin yakin bahwa selama setengah jam aku bergerilya, dia sengaja membiarkanku.
Dengan cepat aku mengambil inisiatif untuk duduk di sebelahnya dengan alasan meminta maaf.
"Mbak, saya minta maaf atas perbuatan saya tadi. Saya benar-benar khilaf."
"Awas, jangan coba mengulanginya lagi," jawabnya.
Aku menjadi tenang. Kemudian aku berusaha memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Walau dengan nada yang sedikit ketus, akhirnya dia memperkenalkan diri dan kami pun berkenalan. Ternyata dia bernama Andini, berusia 26 tahun—alumni sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi swasta di Jakarta. Dia mengatakan kalau dia bekerja di Cikampek dan memang naik bus untuk tujuan tersebut.
Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu. Waktu itu jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan perjalanan sudah berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Aku semakin berpikir taktis—sebentar lagi Cikampek akan menyambut.
Aku mulai bertanya, "Mbak, tadi kenapa kok waktu saya pegang dadanya diam aja? Pura-pura nggak terasa ya?"
"Lah, orang tidur kan nggak terasa," dia menjawab.
"Ah, yang bener? Tapi tadi kenapa pake acara ditutupi jaket segala?" Tanpa henti aku berkata lagi, "Udah jujur aja, Mbak Andini. Suka kan digituin?"
Akhirnya dia mengaku, "Ihh, perempuan mana yang nggak suka kalau dipegang cowok? Lesbi aja kali yang nggak suka." Dia meneruskan, "Kamu sih, pegang-pegang dada cewek sembarangan, main nyolong aja, emangnya maling."
Kemudian aku langsung mengambil tindakan dengan memegang tangannya.
"Tangan Mbak dingin banget sih."
"Iya nih, AC-nya dingin banget," jawabnya.
Setelah beberapa menit pegangan tangan, aku memberanikan diri menuntun tangannya untuk memegang kemaluanku yang amat keras yang masih terbungkus celana. Beberapa kali dia menolak, bahkan sempat memelototi aku, sampai pada usaha terakhir.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba—aku merasa kaget ketika dia mencoba memasukkan tangannya ke dalam celanaku. Dengan cepat aku melepas jaketku dan menutupinya menggunakan jaket.
Aku merasa kelojotan. Tangannya yang halus mengocok-ngocok batangku dengan perlahan tapi terasa nikmat, kadang sampai meringis keenakan. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di pundak kananku.
Aku langsung mencium bibirnya, kulumat tanpa ampun tapi tetap menjaga agar tidak bersuara. Saat kulumat bibirnya, dia bersuara pelan, "mmm...fff..." menahan nafas.
Tangan kananku mulai mencoba memeluknya, kemudian tanganku masuk ke dadanya. Aku langsung meremasnya perlahan dan memelintir puting susunya. Tangannya semakin cepat mengocok-ngocok penisku sampai aku hampir tak mampu menahan suara.
Kemudian dia berbisik, "Jangan dada melulu dong."
Dengan cepat tanganku kumasukkan ke celananya dan—ahhhhh—aku menemukan semak belukar, kemudian menuruni bukit dan menemukan danau kenikmatan. Dengan perlahan aku menggesekkan jariku, kemudian mencoba memasukkan jari tengahku ke dalam liang yang hangat.
Aku semakin nekat. Dengan agak memaksa aku menaikkan sweaternya dan mengeluarkan payudara dari bungkusnya. Seperti bayi sehat yang haus, aku hisap putingnya kuat-kuat hingga dia mendesah pelan, "ssshhh..."
Sepertinya gadis 26 tahun itu tak kalah agresif. Tangannya semakin cepat mengocok penisku tanpa ampun.
Dia berbisik, "Aku keluar..."
Tanpa aku memperdulikannya, aku terus menghisap dan menjilati putingnya diselingi gigitan kecil gigi seriku, bergantian kiri dan kanan. Memang saat itu aku merasakan ada cairan deras yang keluar dari vaginanya—cairan hangat dan kental, khas aroma kewanitaan.
Kemudian dia berbisik, "Nanti kalau mau keluar, bilangnya ya—biar aku telan semua spermamu."
"Iya, sebentar lagi keluar..." tiba-tiba kocokannya semakin cepat.
"Hampir keluar, say..."
Dengan cepat dia mengocok diselingi kuluman nikmat, dan akhirnya—"ssshhhhhhhhh... hmmffffff"—sambil menahan suara, nafsu angkara itu tertumpahkan dalam bentuk cairan hangat dan kental. Dia menghisapnya dengan kuat, memaksa agar semua cairan keluar dan menjilati ujungnya. Andini benar-benar menelan seluruh cairan yang keluar dari batang kejantananku.
Kemudian aku mengambil air mineral untuk segera diminum oleh Andini. Kami hanya tersenyum, kemudian dia mencium pipiku dengan mesra sambil memberikan kartu namanya.
Akhirnya bus berhenti di Cikampek pada jam 03.45. Andini beserta keluarganya turun. Saat akan meninggalkan bangku, dia berbisik, "Jangan pernah lupakan Andini Kusumawardan, yaaaa..." menyebutkan nama yang sama dengan yang tertera pada kartu namanya.
Aku hanya tersenyum tanpa bisa berbicara lagi, dan itulah kenangan yang sampai saat ini tak pernah terlupakan.