18px

Bab 1

Perjalanan Tak Terduga Bersama Johan

Kisah ini juga true story.

Dimulai saat Winda, seorang ibu muda berusia 26 tahun yang telah bersuami dan mempunyai seorang anak berumur 1 tahun, ditempatkan di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Demi kariernya di sebuah bank swasta pemerintah, ia terpaksa bolak-balik Padang–Lubuk Sikaping setiap akhir minggu untuk mengunjungi sang suami yang menjadi dosen di sebuah universitas di kota Padang.

Awal Winda mengenal Johan adalah sejak Winda kos di rumah milik kakak perempuannya. Winda tidak begitu kenal dekat; ia hanya menganggukkan kepala saat bertemu dengannya. Dia pun begitu juga pada Winda. Jadi mereka belum pernah berkomunikasi langsung. Sebagai adik pemilik rumah tempat kosnya, Winda berusaha menempatkan diri seakrab mungkin. Apalagi sifatnya yang suka menyapa dan memberi senyum pada orang yang dikenalnya. Winda tahu diri sebab ia adalah pendatang di daerah yang cukup jauh dari kota tempat ia bermukim.

Begitu pula latar belakang Johan—Winda tidak begitu tahu, mulai dari statusnya, usianya, juga pekerjaannya. Perkenalan mereka terjadi saat Winda hendak pulang ke Padang.

Saat itu hari Jumat sore sekitar pukul 17.30. Winda tengah menunggu bis yang akan membawanya ke Padang; di depan rumah kosnya itu memang jalan raya Lintas Sumatera, sehingga bis umum dari Medan sering melewatinya. Tidak seperti biasanya, meskipun jam telah menunjukkan pukul 17.50, bis tak kunjung lewat. Winda menjadi gelisah karena biasanya bis ke Padang amatlah banyak. Jika tidak mendapat yang langsung ke Padang, Winda biasanya transit di Bukittinggi dan naik travel dari sana.

Kegelisahannya saat menunggu itu dilihat oleh ibu pemilik kos. Ia lalu memanggil Winda dan mengatakan bahwa adiknya, Johan, juga mau ke Padang membawa muatan yang akan dibongkar di sana. Dengan sedikit basa-basi Winda berusaha menolak tawarannya, namun mengingat ia harus pulang dan bertemu suami serta anaknya, tawaran itu akhirnya Winda terima. Begitulah, Winda pun naik truk Johan menuju Padang.

Selama perjalanan, Winda berusaha bersikap sopan dan akrab dengan lelaki adik pemilik kosnya itu—yang akhirnya ia ketahui bernama Johan, berusia sekitar 45 tahun. Mereka terlibat obrolan yang semakin akrab, saling bercerita mulai dari pekerjaan Winda hingga pekerjaan Johan sebagai sopir truk antardaerah. Johan bercerita tentang pengalamannya mengunjungi berbagai daerah di Sumatera dan Jawa, juga tentang suka duka sebagai sopir, termasuk stigma orang-orang tentang sopir yang kerap beristri di setiap daerah. Winda mendengarkannya dengan baik dan memberikan tanggapan seadanya—dapat dimaklumi karena ia yang dibesarkan dalam keluarga pegawai negeri tidak begitu tahu kehidupan sopir.

Winda pun bercerita tentang pekerjaannya di bidang perbankan. Johan sempat memuji keberanian Winda yang mau ditempatkan di luar daerah dan rela meninggalkan keluarga di kota Padang. Winda pun memuji ketekunan Johan bekerja mencari nafkah tanpa menggantungkan hidup pada keluarga kakaknya yang cukup berada. Johan bercerita bahwa truk yang ia sopiri itu milik kakaknya—setelah kakaknya dan suaminya pensiun dari guru—sementara anak-anak kakaknya sudah berkeluarga dan bekerja di berbagai kota di Sumatera maupun Jakarta.

Selama perjalanan itu mereka semakin akrab. Winda sempat bertanya tentang keluarga Johan. Ia tampak sedih; menurutnya sang istri minta cerai dan membawa serta dua orang anaknya. Istrinya meminta cerai karena hasutan dari keluarganya bahwa seorang sopir suka menelantarkan keluarga. Johan menceritakan sebab-musabab perceraiannya dengan lengkap. Bagi Winda saat itu hal tersebut tidaklah begitu penting, namun sebagai lawan bicara yang baik selama di perjalanan, ia memilih mendengarkan saja. Hingga akhirnya Winda tiba di dekat rumahnya di Padang.

Winda dijemput suaminya di perempatan jalan by-pass itu. Ia sempat mengenalkan Johan pada suaminya dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Tak lupa Winda menawarkan singgah untuk makan, namun Johan dengan sopan menolak dengan alasan muatan truknya harus segera dibongkar. Dan mereka pun berpisah di perempatan by-pass itu.

Semenjak mengenal Johan, Winda akhirnya sering menumpang truknya ke Padang. Ia tidak lagi khawatir jika tidak ada bis umum. Sejauh itu, keakraban mereka masih dalam batas-batas yang ditentukan norma masyarakat Minang. Kadang dalam perjalanan jika lapar, mereka singgah untuk makan, dan Winda selalu berusaha membayar—sebab sebagai wanita ia tidak enak jika semuanya menjadi tanggungan Johan. Winda tidak mau terlalu banyak berutang budi. Masa sudah gratis tumpangan, makan gratis pula?

Kejadian pulang ke Padang bersama Johan seolah telah biasa bagi Winda. Kadang kalau Johan tidak ke Padang, hanya ke Bukittinggi, Winda ikut menumpang dan dari sana naik travel atau bis. Winda pun akhirnya menganggap Johan seperti kakaknya sendiri, karena ia sering memberinya petuah tentang hidup—misalnya harus banyak sabar jadi istri. Terkadang Winda membawakan oleh-oleh untuk ibu kos kakak Johan jika pulang, dan terkadang menyisihkan sedikit untuk Johan pula; meski harganya tidak seberapa, ia amat senang.

Selama dua bulan itu Winda selalu bersama Johan jika ke Padang. Lalu mulailah Johan bersikap aneh. Ia mulai sering bicara jorok dan tabu, berani bertanya tentang bagaimana Winda berhubungan dengan suami, berapa lama suaminya bisa bertahan, dan berapa kali seminggu mereka berhubungan. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu saja membuat Winda risih dan tidak enak hati. Kadang ia berpura-pura tidur jika Johan mulai bicara hal-hal yang tidak pantas. Meskipun demikian, Winda bersyukur bahwa hingga saat itu Johan tidak macam-macam padanya secara fisik. Winda memaklumi mungkin Johan sedang stres akibat hidupnya yang sendiri, namun ia tidak menanggapinya—seperti angin lalu saja.

Hingga suatu saat, saat Winda pulang bersamanya untuk kesekian kalinya, Johan berusaha memegang jemarinya. Winda tentu saja kaget, cemas, sekaligus takut. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Johan.

"Da jaan da, Winda alah balaki dan punyo anak ketek, apo uda ndak ibo membuek Winda kecewa (bang jangan bang, Winda punya suami dan anak yang masih kecil, apa abang tega membuat Winda kecewa)?" ucap Winda. Ia juga mengancam akan mengadukan perlakuan itu kepada kakaknya. Johan pun melepaskan tangannya yang akan kembali meraih jemari Winda.

"Cukuik sampai disiko sajo da, Winda indak ka manumpang oto uda lai (Winda tidak akan menumpang truk abang lagi)," kata Winda. Hingga sampai di Padang, Winda hanya berucap terima kasih lalu diam. Ia masih kesal. Johan pun tampaknya agak takut, meski Winda tidak tahu apa yang membuatnya berubah seperti itu.

Hampir sebulan Winda tidak melihat Johan di rumah kakaknya, meski truknya masih nongkrong di halaman samping rumah induk. Selama itu Winda pulang naik bis yang kadang transit di Bukittinggi. Ia tidak tahu ke mana Johan pergi, namun saat menanyakan pada ibu kosnya, ia diberitahu bahwa Johan sedang mengunjungi mantan istrinya untuk menjenguk anaknya. Winda pun larut dengan rutinitas seperti biasa.

Namun hatinya yang tadinya kesal, dongkol, dan marah kepada Johan tanpa disadari mulai berubah. Tiba-tiba saja Winda malah sangat ingin bertemu dan ingin menumpang pulang dengan truknya. Ia seakan rindu berat.

Hari Jumat sore itu, masih mengenakan pakaian kerja dan penutup kepala, Winda pun mau saja diajak pulang bersama Johan yang mengantarkan muatan truknya ke Padang. Mereka berangkat pukul setengah lima. Dalam perjalanan, lelaki berbadan tegap itu kembali bicara tentang hubungan laki-laki dan perempuan serta sifat perempuan yang memiliki libido tersembunyi. Kali ini Winda malah mendengarkan dengan seksama dan sesekali memberi komentar. Sepertinya wanita muda itu tidak peduli lagi akan omongan jorok Johan.

Hingga senja. Sekitar pukul tujuh lebih mereka turun mampir di sebuah rumah makan di pinggir jalan di Bukittinggi untuk beristirahat dan mengisi perut. Saat itu Winda membiarkan tangannya digandeng Johan saat mereka berjalan ke dalam. Mereka makan dengan lahapnya. Setelah makan, mereka berkemas dan berangkat melanjutkan perjalanan menuju Padang.

Mobil mulai jalan meninggalkan rumah makan. Saat melewati daerah Bukit Ambacang—daerah yang dulunya tempat pacuan kuda—karena perut sudah kenyang dan dinginnya udara malam yang berembus dari celah kaca mobil, Winda mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, tetapi karena jalan yang tidak rata, kepalanya sering terantuk. Johan pun menawarkan agar Winda mendekat ke arahnya dan bersandar di bahunya.

"Win, daripado adiek ndak bisa lalok, labiah elok cubo sanda an kapalo di bahu uda (Winda, daripada tidak bisa tidur, lebih baik rebahkan kepalamu di bahu abang)," kata Johan.

"Ndak usahlah da, kan uda sadang manyopir, beko malah mambuek uda ndak bisa manyopir elok-elok, apolagi iko kan lah malam (tidak usahlah bang, kan abang sedang nyetir, nanti malah bikin abang tidak bisa nyetir dengan baik, apalagi ini sudah malam)," kata Winda menolak dengan halus, padahal saat itu ia sudah mengantuk berat.

Dengan sebelah tangannya Johan meraih tangan wanita muda itu dan menariknya agar mendekat, hingga duduk mereka menempel bersisian, hanya dibatasi handel persneling mobil. Winda akhirnya menurut dan merebahkan kepalanya di bahu lelaki tersebut. Ia terlelap sesaat. Padahal hati kecil Winda berbisik bahwa itu salah besar, dan ia sangat tahu itu amat tidak boleh. Namun Winda juga merasakan dorongan yang jauh lebih besar untuk membiarkan itu terjadi.

Saat terpejam dalam keadaan setengah tertidur, tanpa Winda sadari, tiba-tiba sebuah kecupan menerpa pipi dan bibirnya. Wanita muda itu kaget dan langsung bereaksi, menolak muka Johan dengan tangannya. Johan pun menghentikan kecupannya, meski tangan kirinya masih merangkul bahu Winda agar tetap rapat menempel pada dirinya. Winda berusaha melepaskan tangan Johan dari bahunya dan mengingatkan agar ia konsentrasi ke jalan.

"Da sadarlah da, iko kan di jalan raya bisa cilako beko, caliak tu mobil lain kancang-kancang (bang sadar, ini jalan raya bisa kecelakaan, mobil lain pada ngebut tuh)," kata Winda mengingatkan. Johan pun menurut dan kembali berkonsentrasi mengemudikan truknya.

Tidak lama kemudian, saat truknya berjalan perlahan karena macet di daerah Padangpanjang, tiba-tiba bibir berkumis Johan menghampiri bibir tipis Winda yang masih merebahkan kepalanya di bahu Johan, dan mengecupnya sekilas. Winda langsung terbangun dan duduk kembali menjauh. Perasaannya sangat dongkol, tak bisa berkata-kata apalagi berbuat kasar.

"Eh da Johan ko ndak mangarati juo, Winda mintak jaan di ulangi, badoso da, apo kato urang beko kalau mancaliak tadi (eh bang Johan ini tidak juga mengerti, Winda mohon jangan diulang lagi, dosa bang, apa nanti kata orang jika melihat kita saat itu tadi)?" Namun Johan sang sopir tetap santai-santai saja, seakan-akan Winda mengizinkannya.

"Abihnyo Winda mambuek uda galigaman (habis Winda bikin abang gemas)," jawabnya sambil meminta maaf.

Kembali Winda diam membisu selama perjalanan, tidak menggubris apa pun yang Johan katakan. Kembali tangan kiri Johan meraih bahu Winda untuk merengkuhnya agar rebah lagi di bahunya. Selama perjalanan itu Johan tidak lagi menciumi Winda, hanya meremas-remas jari lentiknya dan mengecupi kepalanya yang masih mengenakan penutup kepala. Rasa hangat dan nyaman menghampiri perasaan Winda saat itu.

Hingga...

Saat truk mereka memasuki wilayah jalan by-pass yang gelap itu, dekat simpang bandara yang baru, lelaki itu melambatkan laju truknya dan kembali menciumi serta melumat bibir wanita muda itu. Herannya, kali ini Winda malah membiarkannya saja. Jujur diakuinya ada desir-desir gairah yang mulai bangkit. Lalu Johan menghentikan truknya di tepi jalan dan kembali menciumi, melumat bibir sebelah bawah milik Winda dengan lebih bergairah, mengelitiki setiap ujung bibir tipis itu dengan tekun. Sedikit demi sedikit gairah dalam tubuh wanita muda tersebut bangkit. Winda membalas setiap lumatan bibir Johan, membuka mulutnya memberikan keleluasaan pada lidah Johan untuk menikmati kebasahan di dalamnya. Lidah mereka saling berpilin, membelit di dalam. Tangan kanan Johan merayap masuk ke dalam kaos panjangnya melalui bagian bawah, bergerak naik menemukan bukit padat yang membusung di dadanya, dan meremas serta memijit bukit itu dari luar bahan pembungkusnya. Wanita muda tersebut seolah tak mampu menolaknya. Winda berusaha melepaskan tangan Johan, namun keinginannya dikalahkan oleh hasratnya yang telah terpicu. Dirasakannya begitu hangat dan cekatan tangan lelaki itu mengirimkan berjuta-juta sengatan birahi di sana. Tubuh indahnya mulai menggeliat dalam dekapan Johan, di dera nikmat pada sekujur pori-porinya. Selang sekitar dua puluh lima menit kemudian Johan menghentikan perbuatannya.

"Indak usahlah disiko, daerah iko agak angek, acok tajadi parampehan (jangan di sini, daerahnya rawan, sering terjadi perampokan)," ujarnya khawatir.

Winda diam, membenahi pakaiannya—kaos dan penutup kepalanya—juga membenahi napasnya yang sempat memburu disertai gairahnya yang sempat meninggi. Lagipula persimpangan arah ke rumahnya telah dekat. Mobil Mitsubishi kuning itu pun kembali bergerak. Winda terdiam selama perjalanan menuju persimpangan rumahnya. Ada penyesalan dalam dirinya karena bisa terlibat sejauh itu, namun rasa penyesalan itu seakan terhapuskan oleh rasa yang timbul akibat perlakuan lelaki tersebut padanya. Begitu sampai di rumah sekitar pukul setengah sepuluh malam itu, Winda langsung mandi. Ternyata suaminya masih berada di kampus.

Malam itu Winda bersetubuh dengan suaminya. Ia heran—malam itu ia kurang bergairah, seolah hanya terpaksa menjalankan kewajiban saja.

"Alah lamo awak indak bahubuangan diak (sudah lama kita tidak berhubungan, Dik)," kata suaminya. Winda merasa berutang pada suaminya karena memang dalam minggu itu mereka belum berhubungan badan. Dengan enggan Winda pun menuruti keinginan suaminya. Di ranjang mereka malam itu, di tengah kesibukan suaminya, tiba-tiba datang sekelebat bayangan berupa sosok Johan. Langsung gairah dan nafsunya mereda. Winda kehilangan gairah di tengah pergumulan mereka, namun demi menjalankan tugasnya sebagai istri, ia berpura-pura menikmati hubungan itu hingga selesai.

Aktivitas Winda kembali seperti biasa hingga ia kembali ke Pasaman dan bekerja seperti biasanya.

Hari itu hari Selasa. Saat ia pulang ke kosnya, didapatinya rumah dalam keadaan kosong. Rupanya sang ibu kos beserta suaminya berangkat ke Palembang mengunjungi salah seorang anaknya di sana. Praktis hanya Winda yang berada di rumah itu. Johan pun tidak kelihatan. Besoknya, pada hari Rabu, Johan muncul namun tidak dengan truknya.

"Oto sadang di pelo-an di bengke (truk sedang diperbaiki di bengkel)," ujarnya menerangkan kepada Winda yang bertanya soal truknya. Malam itu Johan mengajak Winda.

"Win, alah makan Win (Win, sudah makan)?" tanya Johan.

"Alun lai da (belum bang)," sahut Winda.

"Kalua awak makan lah, ado tampek nan rancak untuk makan, daerahnyo dingin jo tanang (ayo kita makan keluar, ada tempat makan yang bagus, daerahnya dingin dan tenang)," terang Johan mengajak wanita muda tersebut.

"Ndak baa do da (boleh bang)," sahut Winda. "Tapi jan lamo-lamo yo da (tapi tidak lama ya bang)?" sambung Winda.

Lalu Winda pun masuk ke kamarnya dan berganti pakaian—mengenakan kaos panjang lengan berwarna merah muda dan jaket, serta celana panjang berbahan katun hitam—kemudian berangkat bersamanya. Kebetulan ada mobil kakaknya yang ditinggal, sebuah Toyota Starlet berwarna merah. Mereka berangkat sekitar pukul tujuh malam. Tempat yang dituju terletak agak jauh ke arah Medan, masih di wilayah Lubuk Sikaping, sekitar satu jam perjalanan dari ibu kota kabupaten. Saat itu Johan mengenakan kaos oblong dan jins biru.

Mereka makan di sebuah warung makan dari anyaman bambu menyerupai saung, berdinding setinggi bahu orang dewasa. Mereka makan ikan bakar dan duduk secara lesehan, dengan Winda di sisi kanan Johan. Memang tempatnya amat romantis—lampunya redup dan bunyi jangkrik meningkahi suasana makan mereka. Mereka makan, berbincang, bercanda, dan sesekali saling menyuapi. Setelah makan, mereka duduk bersantai.

Mereka mulai saling berciuman dan berpelukan erat. Winda terlena oleh suasana. Ia rebah di pangkuan Johan.

Winda memegang lengan Johan. Wajah mereka saling tatap dalam senyuman. Perlahan Johan membelai wajah wanita muda tersebut, merabai kehalusan kulitnya. Wajahnya menunduk turun mendekati wajah Winda. Winda merasakan jantungnya berdegup kencang. Johan mengecup kepala Winda yang masih tertutup, turun ke keningnya, terus ke pipi yang licin, dan bergerak naik menjumpai sepasang bibir lembut yang memerah. Dikecupnya perlahan. Winda memejamkan matanya saat bibir berkumis lelaki itu mulai melumat bibir tipisnya. Awalnya Winda hanya diam, namun akhirnya ia mulai menerima dan bereaksi, mengikuti alunan gairah yang diberikan Johan.

Lidah mereka telah saling belit dalam kebasahan mulut Winda. Sementara tangan kiri Johan mulai merayap—awalnya mengelus leher bagian dalam, terus turun masuk lewat lubang kerah ke arah dada dan masuk ke balik bra, meremas puting bukit padatnya yang membulat dengan perlahan. Rabaan tangan kanan Johan merayap di sepanjang batang paha Winda, mengelusnya bergantian paha kiri dan kanan, menurun pada bagian dalamnya dan mengelusnya dengan lembut. Lecutan gairah segera meletup dalam diri Winda. Napasnya mulai memburu, tersengal-sengal.

Kurang lebih satu jam kemudian baru mereka pulang ke rumah. Saat di mobil dalam perjalanan pulang, sekitar lima menit berjalan, mobil Starlet merah itu sengaja dihentikan Johan. Di dalam mobil, masih di kursi depan, Johan kembali meraba wajah lalu dada Winda yang saat itu masih terbungkus kaos panjangnya. Johan pun melumat bibir tipisnya. Winda hanya bisa diam meski lidah Johan dengan leluasa telah mengait-ngait lidahnya dalam mulutnya... agak lama... sebelah tangan Johan lalu berusaha masuk ke dalam celana panjang katun yang Winda kenakan, menyentuh bagian kewanitaannya dari luar pakaian dalamnya. Winda seperti tersengat, geli.

"Jaan lah da... Winda alah punyo laki jo anak (jangan bang, Winda sudah punya suami dan anak)," ujar Winda lirih. "Winda malu..." tambah Winda mencoba menahan keinginan Johan di sela nafsunya yang hampir membakar dirinya.

Johan pun menurut dan kembali menghidupkan mesin mobil, berangkat menuju rumah. Begitu sampai, mereka langsung masuk rumah. Winda masuk ke kamar paviliunnya. Sedangkan Johan pergi lagi dengan alasan ada urusan. Padahal saat itu Winda sudah sangat terangsang; batinnya menuntut pelepasan, dan kalaupun dia datang menemuinya kembali untuk menuntaskan apa yang telah mereka mulai, Winda pun takkan kuasa menolaknya. Tetapi tampaknya Johan memang tengah berusaha memancingnya. Paginya Winda pun kembali menjalankan aktivitasnya di kantor seperti biasanya.

Malamnya—malam Jumat itu—mereka kembali makan malam bersama di luar, namun tidak di tempat yang kemarin. Dengan arah yang sama ke arah Medan, tapi berbelok ke kanan. Suasana tempatnya seperti umumnya restoran, ada beberapa orang singgah untuk makan, tidak terlalu ramai. Winda memaklumi Johan mengajaknya ke luar kota agar mereka tidak kepergok oleh temannya ataupun teman sekantornya. Malam ini mereka hanya makan saja, tanpa kemesraan seperti kemarin malam. Mereka hanya saling berpegangan tangan. Dan setelah itu mereka langsung pulang.

Malam Jumat itu Winda telah jatuh dalam pelukan dan takluk pada keperkasaan Johan di atas ranjang. Semalaman mereka berhubungan hingga pagi.

Pagi harinya Johan bangun lebih dahulu, meninggalkan Winda yang masih terlelap di ranjang yang telah acak-acakan. Saat Winda bangun, ada sedikit rasa sesal di hatinya; selangkangannya terasa sedikit nyilu. Masih tertera dalam benaknya bagaimana perlakuan Johan pada setiap sudut tubuhnya, terutama saat-saat penetrasi yang dramatis. Pagi Jumat itu Winda mandi sebersih-bersihnya, berusaha agar jejak-jejak di tubuhnya hilang. Jejaknya mungkin bisa hilang, tapi nikmatnya tidak akan pernah hilang; sprei tempat tidurnya pun direndamnya sekalian.

Winda masuk kantor pagi Jumat itu seperti biasanya. Dari kantor ia menelepon ke Padang, memberi tahu suaminya bahwa ia tidak bisa pulang karena ada urusan kantor yang harus dibereskan—demikian alasannya. Winda berbohong, berusaha mendapatkan tenggang waktu yang cukup untuk menghilangkan jejak memerah di tubuhnya.

Di kantor, seperti biasa, Winda menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan baik hingga sekitar pukul setengah lima sore Jumat itu. Segera ia pulang. Sesampainya di rumah, wanita berkulit putih itu langsung menuju kamar mandi, mencuci pakaian dan sprei yang telah direndamnya pagi itu, lalu mandi. Ia terlihat segar dan cantik sore itu.

Kembali di dalam rumah paviliunnya, Winda berkutat di dapur memasak untuk dirinya sendiri, lalu membereskan kamarnya, merapikan semua yang dianggapnya tidak pada tempatnya.

Senja itu sekitar pukul enam sore, Johan datang. Tanpa bicara sepatah pun ia langsung menuju rumah induk dan terdengar mandi. Sesaat kemudian, mengenakan kemeja panjang, Johan mendatangi wanita muda yang tengah duduk di ruang tamu paviliun kamarnya itu. Sambil berdiri di pintu ia bertanya pada Winda.

"Winda, indak pulang ka Padang (Winda, pulang ke Padang 'gak)?"

"Ma bisa Winda pulang... (mana bisa Winda pulang)..." sahut Winda sewot sambil berdiri di pintu paviliun. "Winda alun siap ka Padang, takuik pado kasalahan malam kapatang (Winda belum siap ke Padang, masih takut pada kesalahan yang terjadi malam kemarin)," tambah wanita bertubuh sintal itu. "Di badan ko panuah jajak pa-buek-an uda (di tubuh ini penuh jejak perbuatan abang). Apolai jikok uda Winda mintak jatah, bisa kiamat beko (apalagi jika suami Winda minta jatah, bisa kiamat)," ujarnya menerangkan.

Johan hanya tersenyum dan duduk di sebelah kanan Winda. Lalu ia berkata, "Uda ka pai ka Medan malam ko (abang mau pergi ke Medan malam ini), untuk 3 hari se nyo (untuk tiga hari)." Kemudian dia meraih jemari wanita muda tersebut. "Uda sayang bana ka Winda (abang sangat menyayangi Winda)."

Winda diam saja, merasa percuma untuk menolak karena sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan—hubungan yang tercipta di antara mereka sudah tak ada batas lagi sejak malam Jumat yang bergelora kemarin.

Johan berjalan menghampiri Winda yang duduk dengan tangan berada di pangkuannya, memandang ke depan. Mengajaknya duduk di sebelah kirinya, lebih dekat pada sofa di ruangan itu. Kedua tangan Johan berada pada bahu kiri Winda, perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup. Bibir berkumisnya berlabuh pada kening wanita bertubuh sintal itu. Winda diam membiarkan saja; bibir berkumis tersebut meluncur turun di sepanjang pipi halusnya sambil tak henti mengecup, dari dahinya menuju dagu yang lancip, naik ke atas menemukan kedua bibir lembut wanita muda dan langsung melumatnya.

Beberapa saat Winda membiarkan dan menerima saja perlakuan Johan pada bibirnya. Lelaki gagah itu kini menjulurkan lidahnya, menelusuri permukaan lembut bibir Winda mili demi mili, mendesak kedua bibir tersebut agar memberikan jalan, menelusuri setiap permukaan gusi dengan lembut dan perlahan. Kedua bibir wanita muda itu membuka perlahan; Johan pun terus mengulum rongga mulutnya beberapa saat hingga Winda tergerak membalasnya—mulai menghisap. Kedua tangan Johan dengan nakal menjamah dada Winda yang saat itu masih berpakaian lengkap. Winda menengadahkan kepalanya menyambut dengan sukacita. Tubuhnya mulai bersandar ke bahu lelaki tersebut, mengikuti saja setiap tindakannya, tubuhnya menggeliat-geliat dalam geli yang memabukkan.

Lalu Johan melepaskan pagutan pada bibirnya. Ia berdiri melangkah ke arah pintu, menutupnya, dan kembali ke arah wanita muda tersebut. Ditariknya tangan kanan Winda untuk masuk ke kamarnya. Dalam cahaya lampu yang terang, Winda tak sedikit pun berusaha menolak. Winda direbahkan di ranjang biru muda dalam kamarnya, terlentang... lalu Johan melepaskan busana Winda termasuk pakaian dalamnya yang berwarna putih, juga celana panjang berikut pakaian dalam biru tua yang membungkus pertemuan pahanya—dengan cepat dan tergesa-gesa, melemparkan semuanya di lantai. Winda hanya memandang dengan napas yang mulai tak teratur. Ada ketakutan dan keinginan kuat yang bercampur. Winda tahu Johan ingin melakukannya lagi, sama seperti keinginannya sendiri. Masih terpatri kuat dalam benaknya kejadian malam sebelumnya yang sangat melenakannya. Winda terlentang pasrah, tubuh Johan mulai menindih, dan kedua kaki wanita muda itu dibukanya. Winda yang tengah memeluk bahu lelaki itu, tak sadar saat Johan telah memasukkan kejantanannya. Hanya rasa nyilu terbit dari pertemuan pahanya, tubuhnya terlonjak ke kiri dan ke kanan. Lelaki itu bergerak perlahan, menghunjamkan pinggulnya pada pertemuan kedua paha Winda yang kakinya terbuka lebar, dengan tempo yang teratur. Pinggul wanita muda itu menyentak ke atas, menyambutnya, menjemput hunjaman batang kokoh tersebut... hingga akhirnya Johan menghunjam dengan kuat, mendesakkan kejantanannya sedalam-dalamnya, menggeram... dan mencapai klimaks. Melepaskan semuanya di dalam tubuh wanita muda itu. Lalu tubuhnya jatuh masih di atas tubuh wanita berkulit putih tersebut. Padahal Winda belum apa-apa. Setelah sampai klimaks Johan pun berdiri, mengenakan pakaiannya kembali, menjauh darinya masih dalam kamar tersebut.

"Uda ka pai ka Medan, jadi tadi itu adolah raso nan ndak uda sampaikan ka Winda (abang akan ke Medan, jadi tadi itu adalah rasa yang ingin abang sampaikan pada Winda)," ucap Johan. "Uda minta maaf, uda tau Winda alun apo-apo, lain wakatu uda ndak mamuehkan diek Winda (abang minta maaf, abang tahu Winda belum apa-apa, lain kali abang akan memuaskan Dik Win)," tambah lelaki berkulit gelap tersebut.

Winda merasa aneh—Johan malah minta maaf karena persetubuhan itu hanya memuaskan satu pihak saja. Johan minta izin berangkat malam itu kira-kira pukul sembilan malam. Malam itu Winda tinggal sendiri di kamarnya, ada rasa kecewa karena merasa hanya menjadi sarana pelampiasan nafsu Johan saja.

Sabtu itu Winda tetap di rumah, merapikan rumah dan membereskan pakaian untuk bekerjanya Senin nanti. Pukul sepuluh pagi suaminya menelepon, mengatakan bahwa ia dan anak mereka akan ke Bukittinggi hari Sabtu itu dan sekalian singgah di tempatnya. Suaminya datang sekitar pukul tiga sore bersama anak dan mertua Winda. Seharian itu Winda asyik bersama anak dan suaminya—jalan-jalan di daerah itu. Tak sedikit pun ada kesempatan bagi mereka untuk bermesraan. Minggu sore sekitar pukul lima suaminya pulang ke Padang. Winda pun kembali larut dengan rutinitas.

Saat itu Winda baru pulang dari kantor sekitar pukul lima sore. Masih sendirian karena kakak Johan belum pulang, Winda pun mandi membersihkan badannya yang capai setelah seharian bekerja. Selasa malam itu Johan pulang. Ia langsung ke rumah dan mandi. Saat itu Winda mengenakan kimono tidur berikut penutup kepala seperti biasa dan celana panjang bermotif bunga. Johan yang mengenakan celana pendek dan kaos kutang lalu menemui Winda di kamarnya dan mengajak makan, di dalam rumah kakaknya, sebab ia membawa oleh-oleh makanan yang dibeli di jalan. Winda yang lapar akhirnya mau menemaninya makan senja itu.

"Win, uda bali nasi jo gulai kambiang di tampek langganan, lamak mah, kawani uda makan yo (Win, abang beli nasi dengan gulai kambing di tempat langganan, ini enak, kawani abang makan ya)?" kata Johan. Winda menurut saja dan menyajikan makanan itu untuk mereka makan malam itu. Setelah makan, Winda merasakan makanan itu amat terasa 'panas'—maklum, gulai kambing—tubuhnya memanas, peluhnya keluar hingga keningnya basah. Johan pun begitu.

Setelah makan, mereka duduk berhadapan masih di dalam rumah itu. Winda menceritakan tentang kedatangan suaminya hari Sabtu itu kepada Johan. Johan hanya tersenyum simpul dan tidak sedikit pun merasa iri atau cemburu mendengar penuturan wanita muda berkulit putih itu. Kemudian ia berdiri dan meraih tangan kanan Winda, menariknya ke arah kamarnya. Winda agak keberatan, berusaha melepaskan tangannya karena tidak terbiasa.

"Ado apo kok Winda di bao ka siko da (ada apa kok Winda dibawa ke sini)?" tanya Winda jengah.

"Ado sasuatu untuak Winda (ada sesuatu buat Winda)," jawabnya.

Winda dengan sedikit menahan diri melangkah ke kamar yang terletak di sebelah kiri, terpisah dari rumah induk berlantai kayu itu, bergandengan tangan. Dimintanya Winda duduk di tepian kasur spring bed dalam kamar itu, kakinya menjuntai. Winda duduk saja mengikuti permintaannya karena Johan memohon dengan amat sangat; tak terbersit sedikit pun dalam benak wanita cantik itu akan hal-hal yang dapat terjadi. Spring bed-nya berlapis satu, sudah lusuh dan jarang dicuci sepertinya; bau rokok dan minuman tercium dari kamar yang agak kotor itu, banyak puntung rokok dan botol-botol minuman di sana-sini.

Kemudian Johan mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja—sebuah kotak berwarna hitam. Rupanya ia baru saja membeli sebuah kalung berwarna seperti emas putih. Winda merasa tersanjung atas sikapnya itu.

"Iko hadiah (ini hadiah)," katanya. "Uda mintak Winda mamakainyo kini juo (abang minta Winda mau memakainya sekarang juga)," pintanya.

Winda berusaha menolak. "Indak usahlah da, malu..." katanya dengan tersipu-sipu. Namun Johan yang saat itu berdiri di depannya terus memaksa. Akhirnya dengan terpaksa Winda membiarkan lelaki itu bergerak ke belakang untuk memasangkan kalung itu. Winda pun menurut, malah membantunya. Johan melepas penutup kepala Winda yang diletakkannya di atas ranjang, serta melepas kalung yang selama itu melilit di lehernya. Kemudian diberikannya kalung lama itu ke tangan Winda, dan dipasangkannya kalung berwarna putih itu pada leher mulusnya dari arah belakang. Mulai saat itu Winda memakai kalung pemberian Johan.

Setelah kalung putih terpasang, Johan mulai menciumi dan mengelus tengkuk sebelah kanannya. Tangan satunya merangkul pinggang Winda dari belakang. Winda merinding, kepalanya menunduk karena geli. Ia berusaha menolakkan kepala Johan dengan tangan kanannya, namun Johan terus saja menciumi tengkuknya—Winda kegelian. Tangan kiri Johan sudah tidak berada di bahunya lagi; ia bergerak melalui ketiak ke depan, menuju bukit padat yang membusung di dada Winda.

"Uhhh..." Winda mengeluh merasakan gairahnya kembali terbit. Jemari kedua tangannya memilin bukit padat yang membusung di dada Winda yang saat itu masih terbalut kimono dan pakaian dalamnya. Winda berusaha melepas tangan Johan yang berada di dadanya, namun tidak bisa karena tenaga lelaki tersebut kuat tak tergoyahkan. Hingga kancing kimono itu akhirnya dilepaskan Johan. Winda diam saja hingga pakaian tersebut jatuh ke lantai. Lelaki itu membaringkan tubuh sintal yang terbuka di atas ranjang. Hanya dua buah cup berwarna hijau muda polos berukuran 34B yang masih menutupi bukit padat yang membusung indah di dadanya.

Perlahan Johan menciumi belahan dada yang memutih mulus itu. Mata Winda memicing menikmati rasa geli yang timbul.

"Ahh..." rintih wanita muda tersebut tak henti-hentinya. Hingga akhirnya penutup dada Winda lepas, membebaskan bukit padat di dadanya bersentuhan dengan udara bebas. Johan membalikkan tubuh Winda menyamping hingga mereka berhadapan; tangannya meraih ke belakang, pengait penutup dada Winda dilepaskan berikut kimononya. Tak sedikit pun wanita muda itu berusaha melarang atau menolak, karena dirinya pun sudah tak punya lagi yang harus dipertahankan. Saat itu pakaian atasnya sudah lepas, tubuh mulus memutih itu telanjang hingga pinggang. Pikirannya kosong. Hanya tinggal celana panjang yang masih pada tempatnya. Kembali Johan membalikkan tubuh mulus itu menelentang, lalu mulai menarik celana tersebut. Winda membiarkan saja, menatap sendu pada wajah lelaki gagah itu—malah membantu mempermudah dengan mengangkat pinggul hingga pakaian dalamnya yang berwarna putih polos pun meluncur turun pada kedua tungkai mulusnya dan lepas di lantai. Winda telanjang dan terkulai pasrah, di dera nafsunya yang mulai bergelora.

Johan pun berdiri, melepas semua kain yang melekat di tubuhnya, dalam tatapan pasrah Winda yang terlentang dan telanjang. Lalu rebah di samping kirinya. Winda pun mulai menginginkannya—mungkin karena pengaruh makanan tadi yang membuat tubuhnya seakan amat panas bergairah. Johan bergerak, membelai dari dada hingga pusat kewanitaannya. Jari tangan kanannya masuk ke dalam lipitan kewanitaan yang basah, dibantu oleh kedua kaki Winda yang membuka memberikan jalan. Winda hanya bisa menatap mata Johan, menggeliat bak cacing kepanasan, dan merintih.

"Ohh..." Lalu Johan berdiri—dalam tatapan Winda pada punggungnya—dan mengambil sebuah botol berwarna hitam yang terletak di atas lemarinya, lalu kembali duduk di samping kiri wanita muda yang telah telanjang itu. Dituangkannya isinya yang berwarna merah ke atas perutnya hingga dada dan lehernya—amat wangi. Lalu ia menjilat cairan itu yang sudah tumpah di atas kulit perut dan noktah pusarnya hingga leher. Ada rasa geli dingin dan gairah yang Winda rasakan dalam sinar lampu kamar yang terang benderang. Ia menjilatinya hingga tandas, lalu kepala Johan turun meluncur ke arah kewanitaannya. Tubuhnya kembali berada di lantai, dengan kedua tangan tak henti-hentinya menggeluti bukit padat pada dada wanita bertubuh sintal tersebut. Spontan kedua kaki Winda membuka—dirinya terangsang hebat.

Saat dirinya diam menikmati, Johan pun membuka kewanitaan Winda dengan jemari tangan kanannya, lalu menjilatnya dengan lidahnya yang terasa kasar. Wanita bertubuh mulus itu hanya bisa menggeliat dan merintih-rintih, memiringkan tubuh karena nikmat dan geli yang dirasakan bersamaan, menarik kepala lelaki itu. Dengan intens lidah Johan terus bermain di liang kewanitaan wanita bertubuh sintal tersebut, menggelitiki bagian lembut yang memerah muda dan telah membengkak itu. Tampaknya ia amat ingin menyempurnakan dan menuntaskan gairah yang makin membulak-bulak yang melanda tubuh sintal itu. Beberapa saat kemudian Winda... orgasme! Tubuhnya mengejang, pinggulnya menelikung ke atas sambil merintih dengan keras. Saat itu Winda hanya bisa memicingkan mata, kejang, dan merintih—semua cairan kewanitaan miliknya dihisap Johan.

Johan bangkit dan memandang wanita sintal yang terbaring bersimbah keringat. Tangannya yang berbulu kekar membuka kedua kaki Winda yang mulai merapat kembali, lalu meraih tangan kanan Winda—tiba-tiba saja Winda merasakan dan memegang sebuah tonggak yang kuat. Rupanya Johan menarik tangan wanita muda itu agar memegang batang kejantanannya yang kokoh. Winda takjub karena ukurannya yang luar biasa. Karena agak takut, dilepaskannya kembali. Namun Johan dengan cepat menarik tangan wanita berkulit putih itu agar kembali memegangnya. Winda menggenggamnya sambil memandang ke wajah lelaki yang terbaring di sampingnya dengan rasa khawatir, beberapa saat kemudian Winda melepaskannya kembali.

Lalu Johan merangkak di atas tubuhnya yang telah lemas dan terlentang. Kedua kaki wanita muda dibukanya dan ia berjongkok, memposisikan kejantanannya tepat pada lipitan basah Winda. Menggesek-gesekkannya, Winda pun turut bergerak, menggeser pinggulnya agar ujung membola batang kokoh itu tepat pada lipitan kewanitaannya. Winda memicingkan mata—yang ada hanya perasaan geli dan ingin cepat-cepat dimasuki saja. Lalu batang kaku itu masuk pelan-pelan dengan lancar; awalnya geli, basah, dan sebentuk benda hidup masuk. Sudah tidak sakit lagi.

"Uhh..." erang Winda. Tubuh Winda terlonjak saat langsung mentok. Kedua kakinya tetap terbuka. Kembali seluruh tubuh wanita itu dieksplorasi Johan dengan tangannya hingga Winda merasa sangat bergairah. Sementara itu kedua tangan wanita muda bertubuh sintal itu dibukanya dan jari-jari mereka pun saling menggenggam di samping bahu telanjang wanita muda itu. Lidahnya menggigit dan menjilati bukit padat berikut puncaknya di dada wanita berkulit putih itu perlahan, bergantian sebelah kiri dan kanan. Lalu lelaki itu bergerak—menarik pinggulnya perlahan, sehingga lipitan kewanitaan Winda seperti tertarik keluar, dan sebaliknya saat batang kokoh tersebut menusuk ke dalam. Kepala wanita muda terlempar ke kiri dan ke kanan saking nikmatnya rasa yang menderanya. Pinggul padatnya bergerak menyambut dengan memutar di bawah karena terangsang hebat, sesekali menyentak ke atas ke bawah pada setiap hujaman.

"Ahh..." klimaks kembali menghampiri wanita muda tersebut. Ada rasa seperti tersengat listrik; tubuhnya melengkung ke atas dan kedua kakinya menjepit pinggang Johan di belakang. Seluruh tubuhnya mengeletar dengan pinggul yang bergerak liar. Winda ingin ia berlama-lama dan tidak cepat klimaks. Kewanitaannya berdenyut-denyut seolah menjepit merapat dengan kuat, membuat Johan amat bernafsu dan bergerak makin cepat. Beberapa kali, kira-kira lima belas menit kemudian, Johan semakin cepat dan menumpahkan spermanya sambil menggeram. Ada rasa hangat yang tumpah dalam kewanitaan Winda, di rahimnya.

Johan pun mendiamkan kejantanannya di dalam beberapa saat, lalu menggelosoh ke samping. Kepuasan terpancar pada wajah wanita muda tersebut. Semburat memerah terbit di wajahnya. Berpelukan, mereka terbaring di atas ranjang yang telah basah dan acak-acakan. Winda terpejam dan merasakan kehangatan pada kewanitaannya. Winda puas.

Kemudian Johan berdiri dan melangkah masuk ke kamar mandi. Winda hanya memandang, terlentang dan telanjang dengan kaki masih terbuka, yang ada dalam pikirannya saat itu hanya rasa lepas, puas, tubuh capai, dan kehabisan tenaga. Rupanya ia baru saja mandi; saat Winda melihatnya keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk di pinggang, Johan pun meminta Winda membersihkan diri. Winda pun menurut dan beranjak ke kamar mandi, telanjang.

Dalam kamar mandi itu Winda mengguyur tubuhnya dengan air dingin—segar sekali rasanya. Sewaktu menyabuni, tak sedikit pun terbayangkan perlakuan Johan pada bagian-bagian tubuh mulusnya; yang penting tubuhnya bersih dan tidak ada keringat ataupun sisa bau tubuh Johan.

Lalu Winda melongok ke luar kamar mandi dan meminta handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya. Johan mendekat memberikan handuk yang ia pakai untuk menutupi dan mengeringkan tubuh wanita muda yang basah setelah mandi. Winda melangkah keluar dari kamar mandi mengenakan handuk berwarna biru muda yang agak kotor dan bau—mungkin jarang dicuci—namun Winda tidak mempunyai pilihan.

Di kamar, Winda pun mencari-cari untuk mengenakan pakaian dalamnya, namun tidak ada. Ia bertanya, dan akhirnya carik segitiga itu dapat ditemukan Johan tergeletak di sudut ranjangnya. Winda tidak sadar bahwa benda kecil itu tadinya terlempar oleh perbuatan mereka berdua. Johan berdiri mendekatinya. Winda berusaha merebut kain segitiga penutup itu dari tangan Johan. Sambil bercanda Johan melemparkan benda itu ke atas ranjang. Winda bergerak cepat meraihnya—hampir dapat, namun tak diduganya handuk yang melilit tubuh sintalnya terlepas.

"Aw, ah, ah, uda (aw, ah, ah, abang)!" Winda menjerit manja. Winda kembali telanjang, berusaha menutup pertemuan pahanya dengan tangannya. Johan yang telah mengenakan celana dalam itu kembali memeluknya. Winda pun terjerembab jatuh ke atas ranjang dan langsung ditindih oleh tubuh besarnya yang masih lembab sehabis mandi.

Johan berusaha menciumi bibir wanita menggairahkan tersebut. Winda yang gelagapan tak menduganya menerima perlakuan itu sehingga mereka saling kulum. Saat itu Winda pun tidak mau kalah, membalas setiap hisapan lidah Johan. Sementara kedua tangan Winda berada di samping kepalanya, naluri tangan Winda mendekap bahunya. Di bawah, Winda hanya bisa membalas perlakuan bibir dan lidah Johan, meskipun kedua kakinya telah membuka, menempatkan tubuh Johan di antaranya.

Tangan kirinya lalu meraih bukit padat membulat di dada Winda dan meremasnya; bibir berkumis lelaki itu pun memberi gigitan kecil pada bukit padat yang membusung di bagian kanan sehingga Winda mulai bernafsu lagi dan mengikuti tindakan lelaki itu serta membalasnya. Tangan kiri Johan lalu menyelusuri perut turun ke arah bawah pusar, menemukan gundukan hangat kewanitaan Winda, dan jarinya masuk ke dalam. Winda semakin tidak karuan, sudah mulai basah, gejolak tubuhnya menegang, mendesah.

Sementara tangannya masih meremas kedua bukit membusung di dada Winda yang puncaknya semakin menjulang, tubuh Johan turun—membuat rasa basahnya semakin menjadi-jadi saat kepala Johan ikut turun, menjilat seluruh isi kewanitaannya. Winda tentu saja menjepit kepalanya karena rasa geli, gairah, dan rasa yang seakan meledak di dalam tubuhnya, sementara kedua tangannya berada pada kepala lelaki tersebut, menarik dan menjambak rambutnya. Winda mendengus.

"Mnnnh, ah, mm, ugh..." Winda mulai merasakan ada aliran basah mengalir dari dalam kewanitaannya.

Kemudian Johan bangkit dan berdiri, memposisikan tubuhnya sejajar di atas tubuh indah wanita muda tersebut—tubuhnya telah telanjang juga, rupanya saat merangsang Winda, Johan juga melucuti pakaian dalamnya sendiri. Dengan kedua tangannya diraihnya kedua kaki wanita muda itu dan membukanya, sementara Winda hanya bisa memegang dengan erat kain sprei. Johan mengarahkan batang kokoh kejantanannya, bersiap memasuki tubuh wanita muda yang telah terkangkang pasrah itu. Winda tak berani memandang ke bawah dan hanya menatap ke samping karena agak malu, khawatir, dan jengah. Perlahan Winda merasakan sebentuk batang yang kokoh tengah memasuki tubuhnya di bawah. Wanita muda itu menggigit bibir bawahnya karena masih terasa seret dan nyilu. Tak dapat lagi ia hentikan karena telah mulai masuk—rasanya panas dan kaku. Lelaki itu bergerak memajukan pinggulnya, mendorong batang tegangnya hingga masuk semuanya.

"Ou, uhh..." erang Winda saat batang tegang yang kaku itu amblas terbenam. Tubuhnya menggigil, matanya memicing, dengan tangan mencengkeram sprei. Winda tahu keseluruhan batang tegang Johan telah terbenam amblas dalam kewanitaannya saat terasa selangkangan lelaki itu berbenturan dengan pertemuan kedua paha Winda. Johan diam beberapa saat. Perlahan ditariknya kembali—terasa lipitan kewanitaannya tertarik kembali. Saat Winda mulai merasakan nyaman dengan batang tegang itu di dalamnya, ia mendesah keras.

"Ouhh..." Baru beberapa sentimeter—kira-kira seperempat bagian—yang keluar, Johan mendorong pinggulnya lagi, sangat perlahan, hingga mentok. Rasanya hangat, masih ada sedikit rasa tebal dan nyilu.

Johan menarik kembali lagi beberapa saat hingga berulang-ulang. Gerakannya semakin cepat.

"Uu, auuu, ugh, ugh..." Winda mendesah dengan cepat. Meski tanpa ada gerakan berarti dari tubuh wanita muda bertubuh indah itu karena sudah merasa capai dan otot pinggulnya serasa kaku, ia sangat menikmati persetubuhan ini. Winda menjadi agak malu karena saat Johan bergerak memacu pinggulnya terdengar ada kecipak bunyi-bunyian pada pertemuan kedua selangkangan mereka yang telah basah oleh keringat. Hingga sekarang Winda masih merasa malu pada dirinya sendiri apabila mengingat itu.

Beberapa saat kemudian Winda mengerang keras dengan serak, matanya terpejam dan meledak; tubuhnya menegang kejang, melentingkan punggungnya ke atas bak ulat tertusuk duri, menjepit ketat pinggul Johan dengan kedua kakinya yang saling berkait di belakang. Bagian dalam kewanitaannya kembali berkedut-kedut. Jiwanya serasa ringan, terbang melayang, lalu terkulai capai.

"Oh, ahhhhh, aduh, duh..."

Johan masih terus bergerak, menghujamkan batang tegangnya pada kelembutan basah kewanitaan Winda tak berhenti, malah semakin cepat. Winda sudah sangat lemah saat itu, hanya terlentang, terkangkang pasrah. Kedua tangannya tergolek tidak berdaya. Hanya suara kecipak pertemuan kelamin mereka dan napas Johan yang memburu yang riuh terdengar dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian Johan menyusul—seraya menggeram ia menyentakkan pinggulnya ke bawah dengan kuat, membuat pinggul wanita muda itu terbenam dalam kelembutan ranjang, menyemburkan cairan kental yang hangat miliknya di dalam kewanitaan Winda. Lalu iapun rebah lagi di atas tubuh wanita bertubuh sintal itu beberapa saat sebelum menggelosoh ke samping.

Pukul dua dini hari itu Winda meminta diantar kembali ke kamarnya, namun Johan memaksanya tidur di situ.

"Da, Winda ka kamar malam iko yo (bang, Winda ke kamar malam ini ya). Beko uni uda pulang baa pulo? Bisa gawat da (nanti kakak abang pulang bagaimana? Bisa gawat bang)," kata Winda tetap ngotot. Winda takut jika tiba-tiba kakak Johan pulang sementara dirinya berada di dalam kamar adiknya.

"Kan Winda masiah latiah, disiko sajo lah. Uni pulangnyo indak mungkin malam ko (kan Winda masih lelah, di sini sajalah, kakakku pulangnya tidak mungkin malam ini kok)," sahut Johan.

"Winda indak namuah lalok disiko, kalau di caliak urang lain tantang awak apo pulo katonyo beko (Winda tidak mau tidur di sini, nanti jika dilihat orang lain tentang kita bagaimana)?" kata Winda menerangkan.

Dengan berat hati dan malas-malasan Winda pun melangkah—diantar Johan ke kamarnya, meski tidak terlalu jauh. Untungnya jalan menuju kamarnya tidak ada lampunya sehingga tidak ada orang yang tahu. Saat sampai di pintu paviliunnya, Winda masuk, namun dengan nakal tangan Johan masih sempat meraih dada membusung Winda yang langsung ditepisnya. Saking lelahnya, Winda tidak teliti bahwa pakaian dalamnya masih tertinggal di kamar Johan. Ia berbisik pada Johan.

"Da, sarawa Winda lupo (bang, pakaian dalam Winda lupa)."

Dengan tersenyum Johan berkata, "Bisuak lah uda anta-an, maleh bulak baliak (besok abang antarkan, malas bolak-balik)." Begitu tahu Winda tidak mengenakan pakaian dalamnya, tangan Johan langsung meraih ke bawah, berusaha meraba kewanitaan Winda yang tertutup pakaian tidur.

"Malu da, iko kan dilua (malu bang, ini kan di luar)," kata Winda.

Winda kemudian mencuci muka dan berbaring. Ia langsung tertidur karena kelelahan yang amat sangat akibat persetubuhan tadi. Dan esok harinya ia kembali bekerja seperti biasa. Winda juga sudah lupa soal pakaian dalamnya yang tertinggal di kamar Johan. Setelah Johan mengatakan akan menyimpannya di tempat yang aman, Winda pun tidak khawatir lagi.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya