Permainan Bondage Bersama Lia
Permainan Bondage Bersama Lia
Aku mempunyai seorang teman wanita yang sedang menghadapi masalah keluarga. Namanya Lia. Dia baru saja bercerai dengan suaminya. Dia cantik, tinggi semampai, langsing, dan berumur sekitar 35 tahun. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, mungkin karena kesibukan masing-masing. Lia bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Suatu hari, aku sedang berjalan-jalan di sebuah mal di wilayah Jakarta Selatan ketika kulihat seorang wanita yang wajahnya sangat familiar, sedang window shopping di sebuah department store. Setelah kuingat-ingat, kusadari bahwa wanita itu tak lain adalah Lia. Tanpa menunggu lama, aku pun menghampirinya.
"Halo, apa kabar, Lia?"
"Hei, kamu! Apa kabar juga? Sama siapa kamu di sini?" jawabnya.
"Sendiri. Lagi lihat-lihat apa? Sudah lama sekali kita nggak ketemu. Makin cantik saja kamu. Kudengar tentang perceraianmu โ maaf ya," lanjutku.
Lia lalu berkata, "Terima kasih. Kamu mau ke mana? Kalau nggak ada acara dan nggak sibuk, mau temani aku makan siang sambil ngobrol-ngobrol?"
Kebetulan aku sedang lapar dan ingin juga berbincang dengannya.
"Mau, aku nggak ada kegiatan kok. Pengin makan apa dan di mana?" tanyaku.
"Apa kamu ada ide?" ia balik bertanya.
"Terserah kamu saja," kataku.
Kemudian kami berdua mencari sebuah kafe yang tidak terlalu ramai.
"Sudah lama banget ya nggak kongko-kongko, ke mana saja sih kamu? Sombong ya," katanya setelah kami duduk.
Kami lalu berbincang-bincang tentang masa lalu, berbagi pengalaman soal pekerjaan, diselingi gosip-gosip terkini. Kami pun memesan makanan. Pembicaraan terus mengalir sambil kami menyantap makan siang. Setelah menghabiskan makanan utama, aku memesan kopi dan Lia minta ice cream. Dia lalu berkata ingin curhat tentang masalahnya. Aku pun mempersilakan dan berusaha menjadi pendengar yang baik. Dia menceritakan betapa kesalnya dia terhadap laki-laki, terutama bekas suaminya. Menurutnya semua laki-laki brengsek, dan dia ingin melampiaskan kekesalan itu, namun tidak tahu bagaimana caranya. Aku berusaha menghibur, mengatakan tidak semua laki-laki brengsek, dan bahwa masalah yang dia hadapi adalah cobaan. Aku memintanya untuk bersabar dan tabah.
Mendengar dia berkata ingin melampiaskan kekesalannya, aku bertanya apa yang ada di pikirannya. Dia tidak bisa menjawab โ mungkin memang tidak tahu, atau tidak ingin memberitahu. Kemudian aku menyinggung tentang suatu permainan yang dikenal dengan istilah "bondage". Dia pun bertanya.
"Apa sih itu?"
"Bondage adalah permainan di mana satu pihak menjadi submissive dan pihak lainnya menjadi dominan," kujelaskan. "Si submissive akan diikat oleh si dominan, dan setelah terikat, si dominan bisa mempermainkan si submissive sesuka hati. Si dominan bisa melakukan berbagai macam bentuk ikatan โ dari posisi hogtie, frogtie, diikat di kursi, di meja, di kasur, dan sebagainya."
"Aduh, aneh sekali ya, tapi kok menarik," sapa Lia.
Dia lalu bertanya, "Siapa yang akan menjadi submissive dan siapa yang menjadi dominan?"
Kujawab, "Karena kamu yang lagi punya masalah dan sedang kesal terhadap laki-laki, bagaimana kalau aku menawarkan diri menjadi submissive dan kamu yang menjadi dominan?"
Aku memang selalu senang dan bergairah jika diikat oleh wanita.
Tanpa pikir panjang, Lia langsung menjawab, "Aku setuju. Akan kuikat kamu sekuat-kuatnya."
Lalu dia bertanya, "Bagaimana kalau kita sekarang pulang ke rumahku dan melakukannya?"
"Sabar dulu dong," kujawab. "Kamu kan perlu persiapan. Apa kamu sudah punya tali dan peralatan lainnya?"
"Aku punya banyak selendang yang bisa kupakai untuk mengikat kamu," jawab Lia.
"Boleh saja pakai selendang, tapi mungkin kamu juga mau mengikatku dengan tali. Aku senang lho diikat dengan tali-tali yang panjang dan banyak," kataku.
Kulihat kekecewaan di wajahnya mendengar jawabanku.
"Siapkan dulu alat-alatnya, setelah itu hubungi aku, oke?" pintaku.
"Oke deh. Besok aku akan beli tali yang banyak โ yang panjang-panjang. Selain tali, apa lagi yang harus aku beli?" tanyanya.
"Pikirkan sendiri dong, kan kamu yang mau mengikatku. Coba browsing ke situs-situs bondage di internet โ di situ kamu akan dapat inspirasi, cara dan teknik mengikat, serta alat-alat apa saja yang bisa dipakai dalam permainan ini," kataku.
Kami pun bertukar nomor HP.
Lia lalu berkata, "Akan kuikat kamu sekuat-kuatnya sehingga tidak bisa lepas โ dan aku ikat kamu tidak sebentar, nggak cuma 1 atau 2 jam lho."
"Oke, aku tunggu ya." Aku pun memberikannya beberapa nama situs bondage di internet. Kami pun berpisah.
Keesokan harinya HP-ku berdering. Di layar tertera nama Lia.
"Halo, apa kabar," sapaku.
"Aku lagi bergairah nih sekarang mau melakukan sesuatu untuk permainan yang kita bicarakan kemarin," jawabnya. Lalu Lia bertanya, "Apakah kamu ada waktu menemani aku pergi belanja ke suatu tempat?"
"Ada. Bagaimana kalau kamu jemput aku di kantor jam 3 sore?"
"Oke, kalau begitu aku akan ke kantormu."
Waktu itu baru jam 1.30 siang.
"Kalau begitu aku sekarang ke sana ya?" katanya.
"Oke, aku tunggu."
Setelah menutup telepon, aku bertanya-tanya mau beli apa sih Lia sampai minta ditemani. Belum jam 3, Lia sudah datang menjemput.
"Mau belanja apa sih, dan kenapa pakai minta ditemani segala?" tanyaku.
"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu," jawabnya.
Baru kusadari bahwa "belanja" yang dimaksudnya bukan belanja bahan makanan, melainkan membeli alat-alat yang diperlukan untuk permainan itu. Aku pun menunjukkan sebuah toko ke Lia tempat kita bisa membeli tali-temali. Kami berhenti di ACE Hardware, lalu masuk dan langsung menuju ke rak tali. Aku menunjukkan kepada Lia tali-tali yang lembut namun kuat, yang biasa dipakai dalam permainan ini. Setelah sepakat soal jenis tali yang akan digunakan, kami meminta petugas di sana memotong tali-tali itu menjadi beberapa utas dengan panjang berbeda-beda, dari 4 meter hingga 15 meter. Tak kusangka Lia membeli cukup banyak.
"Buat apa tali sebanyak itu?" tanyaku.
"Kan kemarin kamu bilang mau diikat dengan banyak tali. Mungkin banyaknya versi kamu beda dengan yang aku punya," jawabnya.
Setelah selesai membayar, Lia mengantarku kembali ke kantor. Dalam perjalanan pulang, Lia mengusulkan agar permainan bondage dilakukan sehabis aku pulang kerja. Karena kesibukanku, kuusulkan besok saja. Kebetulan besok hari Sabtu dan aku tidak bekerja. Lia pun setuju dan berkata, "Aku sudah nggak sabar menunggu besok."
Aku hanya tersenyum. Kami pun sampai di kantorku dan berpisah. Sebelum pergi, Lia berkata, "Aku masih perlu beli tambahan peralatan dan akan kupersiapkan semuanya hari ini supaya besok pagi sudah siap."
"Besok pagi jam berapa? Jangan terlalu pagi ya, aku mau bangun agak siangan," pintaku.
Tanpa peduli dengan apa yang baru kukatakan, Lia menjawab, "Sampai besok pagi," lalu pergi.
Hari Sabtu, jam 7 pagi, aku terbangun oleh dering HP. Di layar tertera "Lia". Kupikir mungkin dia mau mengubah waktu yang sudah disepakati.
"Halo," sapaku.
"Halo, baru bangun ya?" sapanya.
"Ya, ada apa? Nggak jadi ya hari ini jam 9?"
"Iya, nggak jadi jam 9 โ tapi jam 8 pagi. Aku sudah nggak sabar menunggu dan semalam aku nggak bisa tidur memikirkan kamu. Aku sudah browsing ke situs-situs bondage dan rasa aku sudah mampu dan yakin bisa melakukan permainan ini."
Lia melanjutkan, "Sekarang aku berangkat jemput kamu ke rumah ya. Cepat mandi karena aku tidak mau menunggu lama-lama. Jangan lupa makan pagi supaya tidak kelaparan."
Belum sempat aku berkata apa-apa, Lia menutup teleponnya. Kubutuhkan waktu 15 menit setelah itu untuk mandi, berganti pakaian, dan sarapan. Jam 7.30 HP-ku kembali berdering.
"Aku sudah di depan rumahmu, ayo cepat keluar."
Aku pun bergegas keluar dan masuk ke mobilnya. Diciumnya kedua pipiku dan dia berkata, "Selamat pagi. Sudah siap mental untuk aku jadikan pelampiasan kekesalanku terhadap laki-laki?"
"Siapa takut!" kujawab.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat yang dituju. Sebelum tiba, Lia mengatakan sesuatu.
"Untuk menjaga kerahasiaan tempat ini, terpaksa aku harus menutup matamu."
Mobil pun dihentikan di pinggir jalan. Lia mengambil bandana dari laci dan memakaikannnya di mataku, melilit sekuat-kuatnya dan memutarnya beberapa kali di kepalaku. Kurasakan lilitan yang sangat kuat โ sekarang aku tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan. Di ujung lilitan itu, ditaruhnya pin agar bandana tidak terlepas. Tidak puas dengan itu, diambilnya lakban dan diputar-putarkan di atas bandana beberapa kali untuk memastikan tidak melorot.
Setelah selesai dengan bandana, Lia memasangkan kacamata hitam di wajahku agar tidak menimbulkan kecurigaan dari luar. Untungnya mobilnya memakai kaca film yang sangat gelap. Sebelum mobil dijalankan kembali, Lia memasangkan borgol di kedua tanganku yang diletakkan ke belakang badan.
"Permainan belum dimulai ya โ ini hanya tindakan preventif agar kerahasiaan tempat permainan tetap terjaga," katanya.
"Oke, aku ngerti. Bandananya kuat banget sih, longgarkan sedikit dong!" kataku.
"Ah, kamu seksi sekali terlihat begitu. Kalau begini saja sudah membuatku bergairah, apalagi nanti kalau kamu sudah terikat?" jawab Lia dengan nada mengejek.
Jam 7.45, kami sampai di tempat yang dituju. Pintu pagar dibuka oleh pembantunya dan mobil langsung masuk ke garasi. Lia keluar dan menyuruh pembantunya membelikan beberapa makanan di pasar.
Bersambung...