Permainan Gairah Tiga Insan
Permainan Gairah Tiga Insan
"Mbak Lily? Saya Rino, temannya Rio," sapanya.
Agak bingung juga aku — di satu sisi aku membutuhkannya, apalagi dengan penampilannya yang begitu seksi, sementara di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang.
"Sebentar ya," kataku menutup pintu kembali.
Terus terang aku tidak tahu bagaimana menentukan sikap. Sebenarnya aku tidak keberatan melayani mereka berdua — malah itu yang kuharapkan — tapi bagaimana dengan Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu kukenal? Tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang businesswoman profesional. Aku bingung memikirkannya.
"Kudengar ada bel pintu, ada tamu kali," kata Pak Edwin dari ranjang.
"Eh... anu... enggak kok, Pak," jawabku agak terkejut dan terbata.
"Jangan panggil Pak kalau suasana begini. Apalagi dengan apa yang baru saja terjadi — panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua."
"Iya, teman lama. Nggak penting sih, tapi kalau Bapak keberatan aku suruh dia pulang, biar besok dia kesini lagi," kataku.
"Ah, nggak apa-apa kok. Santai saja," jawabnya ringan.
Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu. Kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis — usia paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.
"Di dalam ada rekanku. Bilang saja kamu teman lama, dan apa pun yang terjadi nanti — suka atau tidak suka — kamu harus terima. Bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa-apa, kamu harus menurut, nanti aku telepon lagi. Aku mohon pengertianmu," kataku pada Rino dengan tegas.
"Nggak apa-apa, Mbak. Aku ikuti saja permainan Mbak Lily. Aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok, Mbak, pandai membawa diri," katanya. Lalu kupersilahkan masuk.
Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang dengan berselimut. Aku jadi canggung di antara dua laki-laki yang baru kukenal ini, sampai lupa mengenalkan mereka berdua. Basa-basi kutawari Rino minuman. Tiba-tiba Edwin bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget, lalu melihat ke Rino yang hanya membalas dengan senyum nakal.
"Wah, ngganggu nih," celetuk Rino.
"Ah, enggak — udah selesai kok," jawabku singkat.
"Baru akan mulai lagi. Kamu boleh tinggal, atau ikutan, atau pergi — terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily," teriak Edwin dari kamar mandi. Entah basa-basi, bercanda, atau serius, aku tidak tahu.
"Rio udah cerita sama aku mengenai Mbak," bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin.
Edwin keluar dari kamar mandi dengan tetap telanjang. Dia mendekatiku, menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku — tanpa mempedulikan keberadaan Rino, dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman. Tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba-raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku secara bergantian. Kuremas-remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.
Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi. Entah kapan dia melepas baju, tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya — benjolan di baliknya sungguh besar, seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya. Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut, menambah kesexy-annya. Melihat potongan tubuhnya, berahiku cepat naik di samping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku. Kupejamkan mata sambil menikmati cumbuan Edwin.
Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kurasakan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang. Kubuka mata — ternyata Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba-raba, Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku, membuatku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas-bawah, depan-belakang secara bersamaan. Terutama yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku.
Mereka merebahkan tubuhku di ranjang — Edwin tetap berkutat di vaginaku sementara Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang. Agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuatku semakin ingin cepat menikmatinya. Kukocok-kocok untuk mendapatkan ketegangan maksimum dari penisnya.
Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie. Rino secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku, persisnya ke mulutku.
Untuk kedua kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok dengan keras hingga penis Rino menyentuh pipiku. Kuremas penis itu ketika Edwin dengan gairahnya mengobok-obok vaginaku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku. Meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku, kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum penis Rino dengan gairah segairah kocokan Edwin padaku. Rino memegang kepalaku dan menekan dalam-dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok, tangan Edwin meraba-raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Rino tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku.
"Eegghhmm... eegghh," desahku dari hidung karena mulutku tersumbat penis Rino.
Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya. Rino lalu menggantikan posisi Edwin. Dengan mudahnya dia melesakkan penisnya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin. Kini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh — ada perasaan menggelitik ketika penis Rino menyentuhnya. Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan, seakan menikmati gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat. Tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk ke dalam, mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin.
Ada kenikmatan yang berbeda antara Edwin dan Rino, tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang. Edwin entah ke mana — dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan.
Rino lalu membalikku. Kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku dengan tubuh sexy-nya lalu kembali dia memasukkan penisnya. Dengan sekali dorong ambles tertelan vaginaku. Dengan cepat dan keras dia mengocokku — penisnya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk-aduk isi vaginaku. Aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.
"Eehh... yes... fuck me hard... yes," desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu.
Sambil mendesah, kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tidak lebih dari 26 tahun — membuatku makin kelojotan dan tergila-gila dibuatnya. Kulihat Edwin berdiri di samping Rino. Tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom — menurutku aneh, ada aksesori di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkalnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.
Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat. Agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya di saat-saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu. Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Edwin menggantikan posisinya. Begitu penisnya mulai melesak masuk ke dalam, tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya. Tapi begitu penisnya masuk semua, mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan — ternyata kepala kondom itu langsung menggesek-gesek klitorisku saat Edwin menghunjam tajam ke vaginaku. Klitorisku seperti digelitik-gelitik saat Edwin mengocok vaginaku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.
Edwin merasakan kemenangan ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mengangkangkan kakinya di kepalaku. Disodorkannya penisnya ke mulutku — aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut. Kucium aroma vaginaku yang masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu. Sementara kocokan Edwin di vaginaku makin menggila — kenikmatannya tak terkirakan — tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan penis Rino yang keluar-masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan di bawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.
Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku. Tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku. Denyutannya seakan melebarkan vaginaku karena terasa begitu membesar saat orgasme, membuatku menyusul beberapa detik kemudian. Kugapailah kenikmatan puncak dari permainan seks — kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Edwin. Tahu bahwa Edwin telah mendapatkan kepuasannya, Rino beranjak menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama karena dia memintaku untuk berada di atas dan kuturuti permintaannya.
Rino lalu telentang di sampingku. Kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti. Aku langsung mengocok penisnya dengan gerakan menaik-turunkan pantatku. Buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya — diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino. Makin dia melawan, makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Edwin, tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino. Denyutanku seolah meremas-remas penis Rino di vaginaku.
"OUUGGHH... yes... yes... yes!" teriakku.
Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah. Tubuhku ambruk di atas dadanya sambil tetap mengocokku — dia memeluk tubuhku dengan erat. Kini aku cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya. Kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku, terutama kepala penisnya yang membesar hingga mengisi semua vaginaku.
"Oouuhh... yes... I love it!" teriakku saat merasakan orgasme dari Rino.
Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang, dan lemaslah batang penis di vaginaku itu.
Kami berpelukan beberapa saat. Kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya. Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku, tangannya ditumpangkan di buah dadaku. Kurasakan hembusan napasnya di telingaku.
"Mbak Lily sungguh hebat," bisiknya pelan di telingaku.
Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.
Akhirnya kami dikagetkan bunyi "beep" satu kali dari jam tangan Rino — yang berarti sudah jam 1 malam.
"Rino, kamu nginap sini ya, temenin aku. Koh Edwin, kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah, kuminta ikut nemenin juga. Gimana?" pintaku.
"Dengan senang hati," jawabnya gembira. Rino hanya mengangguk sambil mencium keningku.
Kami bertiga rebahan di ranjang. Kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, sementara Rino memelukku dari belakang. Tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku. Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan — aku berada di tengah di antara dua laki-laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.
Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku. Kubuka mata untuk menepis kantuk — ternyata Rino berusaha memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang dengan posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku. Aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin sementara Rino mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas-remas buah dadaku. Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya. Sepuluh menit kemudian kurasakan denyutan kuat dari penis Rino — pertanda dia orgasme. Tanpa menoleh ke Rino, aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Edwin sudah bangun. Dia memintaku menghadap ke Rino — ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi, sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas.
Berbeda dengan kocokan Rino yang pelan-pelan, Edwin melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan. Cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.
Bersambung...