Persahabatan (Bagian 2)
Persahabatan (Bagian 2)
Dengan sigap dia membuka kemeja dan kaos dalamnya, sehingga terlihatlah dadanya yang bidang dan ditumbuhi bulu-bulu lebat. Pemandangan itu membuatku ingin berbaring di atasnya karena udara AC mobil yang terasa sangat dingin. Tidak lama kemudian dia sudah tinggal bercelana dalam, dan akhirnya celana dalam itu pun dilepaskannya.
Untuk pertama kalinya aku melihat batang penis laki-laki dewasa. Di bagian ujungnya tampak seperti topi baja berwarna merah yang berkilat-kilat, sementara di pangkalnya tumbuh bulu-bulu lebat yang seolah menyambung dengan bulu di dadanya. Dia memegang batang penisnya. Kutaksir panjangnya sekitar 17,5 cm.
Sejenak kami terdiam. Kak Iwan perlahan mengocok batang penisnya, lalu menyuruhku memegangnya. Dengan takut dan gemetar, kupegang batang penisnya yang ternyata sangat keras. Kuelus ujungnya. Lalu Kak Iwan pindah ke kursi tengah mobil Kijang, sementara aku masih di depan, dan dia menyuruhku ikut pindah ke sana.
Yang membuatku terkejut, dia menyuruhku turun lebih dulu dari pintu depan dan masuk kembali melalui pintu tengah. Memang suasana cukup sepi, tetapi tidak benar-benar sepi—masih ada satu atau dua mobil yang lewat, sementara hujan rintik-rintik mulai turun. Sejenak aku keberatan, namun Kak Iwan memaksa dengan alasan ingin melihat keindahan tubuhku saat berdiri dan berjalan. Apa boleh buat, sudah terlanjur basah, ya sudah nyemplung sekalian, pikirku.
Aku menuruti permintaannya. Turun dari mobil tanpa selembar kain pun, lalu masuk kembali melalui pintu tengah dan duduk di samping Kak Iwan. Dia memelukku dan berkata bahwa ini adalah kasih sayang murni dari seorang sahabat. Lalu dia menyuruhku menggenggam batang penisnya yang keras. Terasa hangat di tanganku. Sementara tangan kirinya merangkul dan sesekali memegang payudaraku yang kiri, tangan kanannya memegang payudaraku yang kanan—dan tanpa kusadari, tangan kiriku mulai mengocok batang penisnya.
Perasaanku semakin tidak karuan: ada rasa nikmat, ada rasa takut, pokoknya campur aduk. Aku merasakan ada cairan yang keluar dari vaginaku sehingga jok tengah mobil Kijang itu menjadi basah. Aku tahu itu bukan pipis, melainkan air kenikmatan yang kurasakan.
Tidak lama Kak Iwan berkata, "Susi, maukah kamu mencium penis Kakak? Bukankah ini penghargaan tertinggi yang Kakak berikan kepada seorang sahabat? Percayalah, tidak ada seorang pun yang Kakak berikan kesempatan ini selain istri Kakak dan kamu, karena ini bersifat pribadi dan sangat berharga buat Kakak."
Aku hanya diam sejenak, lalu mengangguk tanda setuju.
Kucium ujungnya, kucium batangnya, namun Kak Iwan menyuruhku untuk mengulumnya. Sungguh, ini adalah pengalaman pertamaku dengan seorang lawan jenis tanpa busana. Dia pun memintaku menjilati, mengulum, dan mengocoknya dengan mulutku. Tidak sampai di situ, dia juga menyuruhku menghisap batang penisnya—semuanya dengan dalih persahabatan. Aku berpikir, apa salahnya memberikan yang terbaik untuk seorang sahabat?
Setelah kurang lebih lima menit aku melakukan empat hal sekaligus—mengulum, menghisap, mengocok, menjilat—dia menyuruhku turun dari mobil dan berjongkok di luar, sementara dia duduk di jok tengah. Posisi itu membuat segalanya lebih leluasa. Dia mulai mengerang dan mendesah keenakan, dan aku pun semakin cepat mengocok batang penisnya di dalam mulutku, sementara kedua tangannya mempermainkan puting payudaraku.
Tidak lama kemudian dia memberi tahu bahwa dia sebentar lagi akan ejakulasi. Dia mencabut penisnya dari mulutku dan menanyakan apakah aku mau meminum spermanya. Aku menjawab dengan tegas tidak mau, karena aku takut hamil. Kak Iwan tersenyum dan menyuruhku mengulum penisnya kembali. Kira-kira tiga menit aku melakukannya, lalu dia menarik batang penisnya dan menyemprotkan spermanya yang kental dan putih ke arah payudaraku. Sejenak aku kaget—kedua payudaraku berlumuran cairan kental hangat—sementara dia masih mengocok batang penisnya sendiri sambil mendesah-desah kenikmatan.
Selesai, dia menyuruhku menjilati dan menelan sisa-sisa sperma yang ada di ujung penisnya. Aku melakukannya dengan sedikit jijik karena ini pertama kalinya. Kemudian aku berdiri dan berjalan ke pintu depan mobil Kijang, dengan tetesan sperma yang masih menempel di kedua payudaraku. Kubersihkan dengan tisu, lalu kukenakan kembali pakaianku, sementara Kak Iwan masih terduduk lemas di jok tengah dengan penis yang sudah mengecil.
Akhirnya, setelah dia selesai berpakaian, aku diantarnya pulang. Sepanjang jalan dia mengucapkan terima kasih atas kesediaanku. Aku merasa senang telah memberikan kebahagiaan kepada sahabatku. Sejak pertemuan terakhir itu aku sudah tidak mau lagi menemuinya, karena aku sadar bahwa aku hanya dijadikan objek pemuas nafsu seksnya.
Hari berganti dan aku pun lulus dari tempat kursusku. Aku mulai melamar pekerjaan ke mana-mana—amat sulit di Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan yang enak dengan gaji pantas. Suatu hari aku melamar di sebuah tempat yang ternyata menjual jajanan, dengan counter-counter kecil di berbagai mal dan plaza di Jakarta. Aku pikir tidak ada salahnya mencoba bekerja sebagai penjaga counter.
Singkat cerita, aku diterima dan ditempatkan di counter makanan di Senayan. Sebagai penjaga counter, kesabaran tinggi mutlak diperlukan. Pembelinya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jam kerjaku pukul 10.00 hingga 21.00. Pulang malam adalah risiko baru yang harus kuhadapi, dan aku tahu ini bukan pekerjaan yang ingin kujalani selamanya.
Setiap malam aku biasa pulang bersama temanku yang bernama Dewi. Namun malam itu Dewi sudah lebih dulu dijemput pacarnya, sehingga aku pulang sendiri. Seperti biasa aku menunggu bus. Tanpa kuduga, berhenti sebuah jeep CJ-7 di depanku—dan di dalamnya adalah Kak Iwan, pria yang dulu pernah menjadikanku pemuas nafsunya.
Sejenak aku bingung harus bagaimana. Namun dia segera membukakan pintu dan menyuruhku masuk. Agar tidak mengundang perhatian orang lain, aku pun segera masuk dan duduk di sampingnya, lalu mobil melaju ke arah rumahku.
"Sudah lama kita nggak ketemu, ke mana aja?"
"Ya beginilah, saya sedang mencari kerja. Sekarang sudah bekerja di sana."
"Kerja apa?"
"Menungguin counter makanan."
"Oh, jadi penjaga stand?"
"Iya."
"Saya kangen sama kamu. Sejak kejadian itu aku terus mencarimu, tapi tidak pernah ketemu."
"Untuk apa mencari aku?"
"Saya merasakan perasaan yang tidak karuan semenjak kejadian itu."
"Maksud Kakak?"
"Saya merasa benar-benar mendapatkan kepuasan sejati dari kamu, walau kamu masih tetap menjaga kesucianmu."
"Aku sudah tidak mau membicarakan soal itu lagi."
"Bukan begitu. Maksudku, apakah kamu masih tetap menjaga kesucianmu hingga hari ini?"
"Iya. Dan akan terus kujaga sampai menikah."
"Ya sudah, itu prinsip yang sangat bagus."
"Sebenarnya mau Kakak apa, sih?"
"Mau Kakak itu begini," katanya, sambil menarik tangan kananku untuk ditempelkan ke penisnya.
Aku kaget setengah mati. Ternyata dari tadi Kak Iwan telah mengeluarkan penisnya dan menutupinya dengan kemejanya. Sejenak aku ragu, lalu kuberanikan diri untuk menggenggamnya. Harus kuakui, semenjak aku mengenal penis laki-laki, keinginan untuk memegang atau menghisapnya lagi selalu ada. Apalagi ketika dia sampai ejakulasi dan spermanya tumpah di atas tubuhku—rasanya benar-benar sensasi yang tak terlupakan.
"Aku sudah lama sekali ingin merasakan ini dari kamu."
"Loh, memangnya istri Kak Iwan tidak bisa melakukannya?"
"Bisa, tapi kalau kamu yang memegang rasanya berbeda."
"Ah, bisa saja."
"Ayo dong, Sayang. Kocok perlahan-lahan."
Aku mulai mengocoknya sedikit, sementara dia menikmatinya sambil menyetir. Tidak lama mobil pun dipinggirkan dan berhenti di salah satu sisi jalan dekat RS Pertamina. Dia membuka celananya lebih lebar dan memintaku kembali memberikan hisapan serta gelitikan lidahku pada penisnya. Kumasukkan seluruh batang penisnya ke mulutku. Kugerak-gerakkan lidahku di dalam sehingga dia mengerang dan mendesah kenikmatan.
Mungkin karena suasana yang kurang nyaman, tidak lama penis Kak Iwan sudah memuntahkan spermanya ke dalam mulutku. Dengan sedikit jijik dan mual, aku berusaha menelan semua cairan putih kental itu. Bahkan dengan sedikit bernafsu, kujilat bersih semua sperma yang tersisa.
Setelah semuanya selesai, aku pun diantarnya pulang. Sebagai tanda persahabatan, Kak Iwan memberiku sejumlah uang. Sejak saat itu aku menyadari mengapa para pekerja seks bisa cepat kaya—uang yang diberikan memang cukup banyak untuk membuat para pria itu terpuaskan. Semenjak itu, aku pun mulai membuka diri untuk memberikan layanan oral kepada para pria yang berminat.
TAMAT