18px

Perselingkuhan dengan Istri Anak Buahku di Perkebunan

Perselingkuhan dengan Istri Anak Buahku di Perkebunan

Ceritanya dimulai sewaktu saya ditugaskan sebagai staf di pabrik pengolahan minyak sawit di salah satu perkebunan di Sulawesi. Ini adalah kisah nyataku. Sebut saja namaku Alex, umurku saat itu 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staf yang baru pindah ke daerah perkebunan—di mana masyarakat yang tinggal sangat berjauhan, kecuali karyawan dan staf perkebunan yang sengaja ditempatkan dalam satu kompleks perumahan—saya mutlak dibutuhkan sebagai pendukung utama operasional yang sewaktu-waktu bisa dipanggil dalam waktu 24 jam.

Walaupun berstatus staf, karena perumahan sudah sebagian besar diisi oleh karyawan yang lebih dulu menempati, saya menempati rumah kopel kayu (dua rumah menyatu dalam satu bangunan) ketiga dari ujung, yang agak kecil dan sebenarnya merupakan fasilitas untuk karyawan biasa. Manajer pabrik sendiri menganjurkan agar karyawan yang sudah menempati rumah single beton—yang seharusnya diperuntukkan bagi staf bujangan maupun berkeluarga—dipindahkan. Namun demi mengambil hati para karyawan yang nantinya akan menjadi bawahan saya, akhirnya saya meminta izin untuk menempati rumah kopel ketiga dari pinggir, menghadap ke timur, berhadapan dengan rumah yang menghadap ke barat, dipisahkan oleh jalan besar yang belum diaspal tapi sudah dikeraskan.

Rumah tetangga sebelah kiri, yang agak berjarak dengan sebidang tanah kosong selebar satu rumah, ditempati oleh karyawan laki-laki yang sudah berkeluarga namun istrinya masih tinggal di rumah orang tuanya, jauh dari lokasi perkebunan. Biasanya dia pulang sekali sebulan untuk mengantarkan gaji bulanan sebagai nafkah anak istrinya.

Rumah sebelah kanan—pasangan kopelku—ditempati oleh karyawan laki-laki berumur 35 tahun, sebut saja namanya Nardi, bersama istrinya yang berumur 33 tahun, sebut saja Hartini. Hartini, walaupun bukan termasuk wanita kota, sangat modis dan mengikuti perkembangan zaman sesuai kemampuan ekonominya. Yang paling membuat saya kagum adalah bentuk payudaranya yang sangat berisi dan tubuhnya yang cenderung montok. Dengan kondisi rumah kopel kayu seperti itu, biasanya sepelan apa pun pembicaraan atau gerakan di dalam rumah akan terasa di rumah sebelah. Dan kebetulan saat itu Nardi masuk shift pertama di bawah pimpinan saya.

Karena saya masih bujangan dan bukan tipe yang rajin mengurus rumah, untuk makan biasanya saya pergi ke warung yang berada di luar lingkungan perumahan, berjarak sekitar 500 meter dari perumahan pabrik dan 50 meter dari pabrik itu sendiri. Untuk cuci pakaian, saya berusaha mencuci sendiri walaupun hanya sekali seminggu. Seringkali kalau sudah malam atau hujan, terpaksa saya tidak makan nasi, hanya mengandalkan mi instan yang direbus seadanya.

Mungkin karena kasihan, pada suatu sore sepulang kerja shift pertama, kami bertiga—saya, Nardi, dan Hartini—ngobrol di teras. Saat itu Nardi, yang menjadi bawahanku, menyarankan agar saya makan di rumahnya setiap hari dengan membayar secukupnya kepada istrinya. Akhirnya terjadi kesepakatan: saya makan setiap hari sekalian cuci pakaian, yang ditanggung Hartini.

Karena setiap hari berdekatan dan makan bersama, semakin lama hubungan kami pun semakin akrab dan tidak canggung lagi untuk ngobrol berdua tanpa suaminya. Awal kejadian bermula pada suatu sore sepulang kerja, sekitar pukul 16.00, saat Nardi masih lembur di pabrik untuk mencari tambahan. Saya dan Hartini duduk ngobrol di teras. Saat itu saya menanyakan kenapa mereka yang sudah menikah sembilan tahun belum punya anak. Dengan malu-malu, dia bercerita bahwa mereka sangat menginginkan anak; Hartini sudah periksa ke dokter dan dinyatakan tidak ada masalah, sementara suaminya tidak mau periksa karena merasa tidak ada kelainan fisik dan yakin kebutuhan batin istrinya sudah terpenuhi.

Dari situ, semakin lama pembicaraan kami semakin bebas. Saya bercerita bahwa saya pernah punya bekas pacar yang fisiknya agak montok seperti Hartini, dan iseng-iseng saya mengatakan bahwa biasanya wanita yang cenderung gemuk mempunyai payudara yang lembek dan turun, dengan rambut kewanitaan yang sedikit dan jarang.

Hartini membantah bahwa tidak semuanya seperti itu, dan dia sendiri mengatakan kondisi miliknya sangat bertolak belakang dengan yang saya katakan. Karena penasaran, saya bilang Hartini pasti bohong, tapi dia menyangkal. Dengan jantung berdebar keras, takut kalau Hartini marah, akhirnya saya memohon apakah dia bersedia memperlihatkannya. Demi menjaga agar tidak dianggap murahan, dia awalnya menolak keras. Lama-kelamaan, dengan rayuan dan alasan bahwa saya kangen pacar yang saat itu berada di Jakarta, akhirnya dengan pipi merah dia mengatakan saya boleh melihat, tapi dari jauh dan tidak boleh menyentuhnya.

Saya tentu saja dengan cepat menyetujuinya. Dengan gerak malas-malasan atau pura-pura berat hati, dia berjalan menuju kamar belakang, tak lupa menutup jendela belakang yang menghadap lahan perkebunan untuk berjaga-jaga dari orang yang kebetulan bekerja di sana. Kemudian dia berdiri sambil tersenyum malu-malu kepada saya yang tak mau melepaskan pemandangan indah itu. Saya mengatur posisi agar masih berada di teras, namun kepala saya melongok ke dalam rumah—seakan-akan bagi siapa pun yang melihat dari halaman atau jalan, kami sedang berbicara biasa. Jarak antara posisi duduk saya di perbatasan teras dengan posisi Hartini berdiri di kamar belakang hanya sekitar empat meter.

Dengan lagak seorang model, dia bergerak pelan-pelan membuka kaos birunya sambil berjalan ke kiri dan ke kanan secara perlahan, sesekali menghilang ke balik pintu kamar sehingga mata saya kadang tidak mampu mengikuti pemandangan yang mengasyikkan itu. Setiap kali dia mau ke arah balik pintu, saya berbisik pelan, "Tin, jangan sampai ke situ, aku nggak bisa lihat nih."

Sepertinya Hartini memang sengaja membuat saya penasaran. Kaos yang ditarik ke atas lalu dijepit ketiaknya memperlihatkan BH berwarna merah menyala yang seakan tidak mampu menutupi semua payudara montok putih yang menyembul keluar dari bagian atasnya, seolah-olah protes karena dijepit terlalu keras. Setelah didiamkan sekitar 30 detik, sambil tersenyum mengedipkan sebelah mata kepada saya, dia pun mulai membuka kancing depan BH-nya dan membiarkan cup-nya menjuntai ke bawah. (Belakangan saya ketahui bahwa Hartini berukuran 36, dan satu telapak tangan saya masih belum bisa menutupi sebelah payudaranya; dia memakai BH tanpa kancing di belakang.) Mata saya seakan mau keluar menyaksikan pemandangan itu, sementara dia sendiri tampak bangga melihat betapa terpesona saya memandang payudaranya dengan puting sebesar puntung rokok Sampoerna Mild berwarna cokelat kemerahan. Dalam 30 detik itu rasanya saya tidak bernafas, tak mau melepaskan pandangan, sampai akhirnya dia berseru pelan, "Udah ya, ntar lagi suamiku pulang."

Saya tidak dapat berkata apa pun saat itu. Sesudah merapikan pakaiannya, Hartini kembali ke teras seakan tidak terjadi apa-apa, sementara saya sudah pindah ke teras rumah saya sendiri. Setelah beberapa saat, perlahan dia berkata, "Jangan bilangin sama siapa-siapa ya?" Jelas dia sangat takut ketahuan orang lain.

"Jelas dong, masak aku bilangin sama orang. Aku juga menanggung risiko," jawabku.

Sesaat kemudian dari kejauhan kelihatan Nardi sudah pulang bersama teman-teman lembur. Kami pun berusaha berbicara normal, membicarakan hal lain. Setelah menaiki tangga, Nardi langsung menyerahkan tas bekalnya kepada Hartini, yang langsung membawa masuk sambil memberesi peralatan makan. Saya dan Nardi ngobrol sebagaimana layaknya bertetangga, walaupun dia tetap menaruh hormat karena bagaimanapun di pabrik dia adalah bawahan saya.

Malamnya saya terus memikirkan peristiwa sore tadi. Kenapa dia bersedia menunjukkan sesuatu yang seharusnya hanya boleh dilihat suaminya, padahal mengakui kebutuhan batinnya sudah terpenuhi? Dalam hati saya berniat untuk pergi lebih jauh, mengingat Hartini tidak marah.

Besoknya, dalam situasi yang sama sepulang kerja, kami ngobrol kembali, dan saya memberanikan diri memancing lagi.

"Kemarin memang benar ya, punya kamu memang bagus sekali, bukan karena BH."

Dia tersenyum manis sedikit malu, mungkin merasa bangga dengan pujian itu.

"Tapi saya nggak yakin bahwa rambut bawah kamu bukan seperti yang saya lihat punya bekas pacarku dulu."

Dengan masih tertawa kecil dia memperbaiki rambutnya dengan kedua tangan. "Kan kemarin aku bilang apa, sekarang minta ini, besok minta yang lain lagi dong. Awas lho, nanti ketahuan pacarmu yang sekarang di Jakarta, tau rasa deh."

"Nggak mungkin dia tahu, kecuali kamu yang bilanginnya."

Walaupun saya menjawab tidak perlu khawatir, dalam hati saya bertanya-tanya kenapa justru pacar saya yang dia khawatirkan, bukannya diri sendiri atau suaminya. Berkat bujukan dan rayuan, dia akhirnya berkata perlahan, "Tapi ingat ya, hanya sebentar dan sekali ini saja. Aku takut nanti ketahuan suamiku, bisa dibunuh aku nanti. Sekalian awasi orang lain, siapa tahu ada yang mau ke sini."

Saya hanya mengangguk cepat, tak sabar. Perlahan Hartini berjalan menuju kamar belakang sambil saya menikmati pemandangan dari belakang. Sesampainya di kamar, dia mengintip sekeliling luar rumah dari celah papan. Sebentar kemudian dia menaikkan rok katun hitam setinggi lutut sampai celana dalamnya yang merah kelihatan. Mata saya seakan tidak mau berkedip, takut melewatkan pertunjukan gratis itu. Dia menatap saya dengan mata gugup, seperti ingin mengakhiri pertunjukan itu.

"Lex, udah lihat kan?" teriaknya perlahan seperti berbisik.

"Kan belum dibuka, tadi udah janji boleh lihat dari jauh. Kalau nggak, aku aja yang buka ke situ ya?" sahutku perlahan.

"Jangan!! Jangan ke sini, di situ aja!" jawabnya dengan ketakutan.

Saya pun menganggukkan kepala. Kemudian dia melepaskan rok yang tadi diangkat hingga jatuh ke posisi semula, lalu kedua tangannya masuk dari bawah, menurunkan celana dalam sampai lepas. Dengan sebelah tangan masih memegangi celana dalamnya, Hartini mengangkat roknya kembali ke atas. Astaga—vaginanya seolah tertutupi oleh hutan hitam yang lebat. Dia menatap saya dan mengangguk dengan ekspresi meminta persetujuan agar selesai. Saya berusaha memperpanjang tontonan, tapi 15 detik kemudian dia langsung membungkuk dan memakai kembali celana dalamnya.

Dia kemudian membuka pintu kamar belakang untuk menghilangkan kecurigaan suaminya andaikan pulang, lalu langsung menuju dapur untuk memberesi makan malam. Kami tidak bertemu lagi sampai waktu makan malam. Dalam hati saya mulai yakin bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini apabila sudah terasa horny, saya melampiaskannya dengan masturbasi di kamar atau di kamar mandi.

Semenjak kejadian tersebut saya mulai berani memeluk, mencium, meraba, sekaligus menciumi payudaranya sewaktu giliran Hartini mengantarkan pakaian bersih dan menyusunnya di lemari pakaianku di kamar tidur. Biasanya sewaktu dia mau mengantar pakaian dan suasana tidak aman, dia sudah memberi kode jari di mulut. Apabila aman, hanya senyum kecil—itulah isyarat saya untuk bertindak. Di saat-saat seperti itulah saya biasanya bisa menikmati bibirnya maupun payudaranya.

Kadang karena terlalu gemas saya tanpa sadar mengisap putingnya sampai dia kesakitan dan berbisik, "Lex, jangan keras-keras. Emangnya nggak sakit."

Biasanya saya langsung minta maaf dan mengelus-elus payudaranya dengan mesra. Ada kalanya Hartini tidak mau dicium karena sedang memakai pewarna bibir—katanya kalau dicium bisa hilang, suaminya bisa curiga. Sampai-sampai sewaktu memberikan uang makan dan cuci pakaian, saya selalu menyisipkannya di antara payudaranya, menutup kembali BH-nya, dan mengakhiri semuanya dengan senyum dan ciuman.

Puncak perselingkuhan kami terjadi saat saya mau masuk shift sore. Shift sore masuk pukul empat, biasanya pulang tengah malam; kalau buah sawit sedang panen raya dan menumpuk, bisa diteruskan sampai pagi. Setiap shift sore biasanya saya akan pulang makan sekitar pukul tujuh atau delapan malam, bergantian dengan asisten saya, biasanya jatah satu jam. Dan Nardi, karena tidak punya kendaraan, malas pulang dan sudah membawa bekal dari rumah sore harinya.

Sore itu sekitar pukul dua siang saya sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat. Saya masih memakai handuk, bertelanjang dada di kamar, ketika Hartini datang sambil menaruh jari di atas bibir—pertanda tidak aman.

"Emang di mana suamimu?" bisikku.

"Itu masih lagi tidur di kamar," jawabnya perlahan.

Hartini pun berjalan menuju lemari pakaianku sambil mencubit puting payudaraku dengan tangan kirinya. Saya merasa geli dan mau membalas mencubit payudaranya. Dia mengelak sambil berbisik, "Jangan sekarang, ntar malam aja, waktu pulang makan."

"Di mana?"

"Ntar ke kamar saja langsung. Pintu belakang tidak kukunci, hanya ditutupkan saja."

"Tapi nanti jangan pakai apa-apa ya," godaku pelan sambil main mata.

Saya terdiam memikirkan kata-katanya. Sambil berjalan ke teras, saya masih sempat meraba pantatnya sampai dia menepiskannya. Saya kaget—ada apa Hartini malah mengundang saya malam-malam ke kamarnya?

Sampai di pabrik saya tidak berkonsentrasi dalam mengawasi karyawan, pikiran saya masih di sana. Saya sengaja agak lebih lama pulang makan malam, sekitar pukul 20.30, dan suasana perumahan sudah agak sepi karena gerimis sejak sore. Saya langsung menempatkan motor dinas ke belakang rumah agar tidak menyolok dari luar, lalu masuk dan menyalakan lampu sebentar. Dari celah papan, saya mengintip rumah sebelah—terlihat sangat gelap, karena kebiasaan mereka mematikan lampu waktu tidur. Orang yang melihat dari luar dan mendapati lampu sudah mati biasanya enggan bertamu.

"Tin... udah tidur ya? Ke sini dong?" teriakku pelan, dua kali. Hartini pun mendekat di balik papan pembatas dan berbisik, "Pintu belakang tidak dikunci, Alex aja yang ke sini."

Saya pun berjalan menuju belakang rumah sambil mematikan lampu ruang tengah, sehingga dari luar terlihat saya sudah kembali ke pabrik. Karena sangat gelap saya membiasakan mata dulu, baru mengawasi sekeliling. Kaos kerja saya berwarna putih, jadi saya membuka dan menggantungkannya di pintu belakang bagian dalam. Lalu dengan berjingkat-jingkat pelan saya menuju pintu belakang rumah Hartini. Dengan sangat hati-hati saya mendorong pintu, takut mengeluarkan suara, dan berjalan pelan-pelan sambil menahan nafas, takut getaran langkah kaki saya di lantai papan kedengaran.

Memasuki kamar depan, saya melihat Hartini tidur dengan memakai kain sarung sebatas dada dan kaos you can see berwarna pink, tampak jelas dari cahaya lampu jalan yang masuk dari celah papan kayu. Hartini berpura-pura memejamkan mata. Saya langsung jongkok di sampingnya dan meraba payudaranya tanpa membuka kain sarungnya. Dia melirik sambil tangannya mencubit pipi saya. Saya pun mencium bibirnya. Tak lama kemudian dia membalas, dan tangan saya mulai menurunkan kain sarungnya sambil menaikkan kaos sampai payudaranya terlihat penuh. Saat itu Hartini tidak memakai BH lagi, sesuai godaan saya siang harinya. Agak lama kami berciuman sambil tangan kananku meremas-remas kedua payudaranya. Kami berdua sudah sama-sama terangsang.

"Tin, mau nggak kita masukin? Ntar aku buang di luar deh," bisikku.

"Lex, jangan dibuang di luar," jawabnya pelan sambil memelukku lebih keras dan mencium pipi kiriku.

"Ntar kalau hamil gimana dong? Bisa bahaya kita."

Tangan kiriku masih terus memainkan putingnya. Tangan kananku memangku lehernya sambil menahan sebagian berat tubuhku karena saya masih jongkok.

"Biar aja. Aku kan punya suami. Kalau aku hamil kan wajar."

"Tapi kalau nanti anaknya lahir mirip aku, gimana? Suamimu bisa curiga loh."

Dia menatap saya memelas, seperti meminta pertolongan. Saya merasa kasihan melihat wajahnya.

"Tolongin aku ya, Lex. Pokoknya dikeluarkan di dalam aja. Aku tanggung kamu tidak akan apa-apa. Aku pengen hamil, Lex. Aku ingin buktikan kepada keluarga suamiku bahwa aku tidak mandul."

Sepertinya dia memohon. Saya ingat Hartini pernah bercerita bahwa beberapa keluarga suaminya diam-diam sudah menganjurkan agar suaminya mencari istri lain kalau ingin punya anak.

"Kamu sudah yakin?" Saya ingin menegaskan lagi.

"Iya, Lex, tolongin aku ya," bisiknya sambil langsung mencium bibirku.

Saya pun membalas ciumannya setelah yakin dia memang sangat menginginkannya. Sambil tetap berciuman, tangan saya mulai menarik turun kain sarungnya sampai lepas melewati kaki. Saya melepaskan bibir dan turun ke puting payudaranya sambil tangan kanan saya meraba pangkal paha. Celana dalam Hartini sudah agak basah. Hartini mendesah pelan sambil tangannya memeluk kepalaku, sesekali menekan ke arah payudaranya yang sedang saya putar-putar dengan lidah, sementara tangan saya menarik celana dalamnya turun—lepas dari kakinya, dibantu gerakan pantat Hartini yang terangkat.

Mataku sesekali melirik ke arah vagina yang lebat rimbunannya, dan tangan saya meraba-raba menyisihkan rambut lebat itu agar jari bisa masuk. Refleks tangan kiri Hartini menangkap tangan kananku dan menariknya ke atas tanpa melepaskannya lagi. Saat itu mulutku mulai turun ke arah perut, tetapi sesampainya di pusar Hartini menolak dan menahan kepalaku agar tidak turun ke bawah. Saya berusaha pelan-pelan menarik kepala sampai mulutku hampir menyentuh vaginanya. Tiba-tiba Hartini bangun duduk. Saya kaget dan takut dia marah. Sambil menatapku dia melingkarkan tangannya ke leherku dan berbisik, "Jangan cium, bau. Aku nggak mau dicium itu."

"Nggak bau kok, Tin, malah harum. Sebentar aja ya," jawabku merayu sambil mencium lehernya.

Hartini menggelinjing dan mendesah pelan. "Pokoknya jangan ya, Lex. Kamu masukin aja punyamu."

Tangannya meraba ke arah penisku yang sudah menegang, meskipun belum maksimum karena konsentrasi saya terus terpecah untuk mengawasi suara di sekeliling rumah. Saat itu saya masih memakai celana kerja. Hartini berusaha membuka gesper, tapi agak kesulitan. Saya bangun dan membuka sendiri sampai benar-benar telanjang. Lalu saya tunjukkan penisku kepada Hartini; dia membuang muka. Saya memegang kepalanya bermaksud agar dia mau mengoral, tapi dia bertahan tidak mau.

Akhirnya kami kembali berbaring di tempat tidur untuk menetralkan suasana sambil kembali memulai cumbuan. Setelah suasana kembali hangat, saya putuskan mengangkat kaki kananku untuk merenggangkan kedua kakinya. Sedikit demi sedikit kakinya mulai ngangkang sampai kedua kakiku bisa masuk, siap memasuki lubang surga. Tapi Hartini memelukku erat sampai mulutnya menyumpal mulutku dan berbisik, "Kita di lantai aja ya. Jangan di sini. Soalnya tempat tidurnya berisik nanti."

Tanpa menjawab saya langsung bangkit turun dari tempat tidur dan Hartini ikut bangun sambil membawa sebuah bantal, lalu berbaring merenggangkan kakinya di lantai. Saya yang sudah tidak sabaran langsung mengambil posisi. Tak lupa kaos pinknya saya buka sampai lepas melewati kepala. Tangan kanan saya memegang penis dan mengarahkannya ke vagina yang sudah banyak mengeluarkan cairan. Sesaat setelah menyentuh bibir vaginanya, kami berdua saling memandang—seakan-akan meminta persetujuan—dan mulutku mencium mulut Hartini, langsung dibalas sambil memeluk erat.

"Tin, aku masukin ya. Nggak nyesal kan?" bisikku kembali memastikan.

Hartini tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pelan, tapi terasa bahwa dia sudah merespons. Perlahan-lahan saya masukkan penis saya. Saya menahan nafas, begitu pun Hartini menikmati saat indah tersebut. Walaupun vaginanya sudah mengeluarkan banyak cairan, saya masih bisa merasakan betapa memasukinya terasa nikmat. Setelah masuk semua, saya diam sejenak sambil memandang wajah Hartini yang memejamkan matanya. Sesaat kemudian dia membuka matanya dan langsung membuang muka, merapatkan pelukannya sambil mencium leherku. Dengan bertumpukan kedua siku di lantai saya mulai menaik-turunkan pinggul, sampai terdengar bunyi dari lubang vagina Hartini seperti tepukan tangan di air.

"Plok... plok... plok..."

Beberapa lama saya menggenjot, tiba-tiba kedua kaki Hartini menjepit keras kedua kakiku sampai saya kesulitan mengangkat pinggul—setiap kali diangkat terasa berat karena pinggul Hartini pun ikut terangkat. Leherku digigit. Saya berpikir mungkin dia sudah orgasme. Jepitan kakinya semakin lama semakin lemah sampai akhirnya telapak kakinya sudah menapak lantai kayu kembali. Dia tidak menjawab, hanya mencari-cari mulutku dengan mulutnya dan melumat lidahku.

"Aku udah mau keluar nih, keluarin di luar aja ya?" bisikku sesaat setelah bisa melepaskan lidahku dari mulutnya, masih takut risikonya di kemudian hari.

"Tolongin aku, Lex... aku ingin sekali hamil." Suaranya seperti mau menangis meminta. Tangan kanannya sudah ditaruh di atas pantatku seolah menjaga agar nanti saya tidak melepaskan penis dari vaginanya.

"Ya udah, tapi kamu harus jaga rahasia ini baik-baik ya?" jawabku.

"Iya... iya... nggak usah khawatir. Tapi janji jangan dibuang di luar ya," bisiknya.

Saya tidak menjawab lagi tapi mulai menggenjot kembali; vaginanya sepertinya semakin kurang menjepit setelah orgasme tadi. Mulutku mengulum lidahnya. Beberapa saat kemudian aku membisiki telinganya, "Aku udah mau keluar," sambil genjotan semakin cepat dan tangan kanannya menekan pantatku semakin keras, kedua kakinya menekan belakang pahaku dari atas, tangan kirinya memeluk leherku dengan ketat—sampai akhirnya, "Ouch..." mulutku mengulum mulut Hartini seakan-akan mau menghabiskan saat itu, dan terasa ada yang keluar membasahi vagina Hartini.

"Croot... croot... croooot..."

Sampai rasanya tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan, baru saya menghentikan genjotan dan diam, bertumpukan kedua siku tangan sambil sengaja menumpukan penis ke vagina Hartini. Saya terdiam tidak bergerak, memandangi wajahnya yang terpejam. Kucium bibirnya dan berbisik, "Tin, aku balik ya. Kelamaan ntar orang lain bisa curiga."

"Makasih ya, Lex. Makan malamnya sudah aku taruh di rumahmu tadi sebelum kamu datang," jawabnya pelan.

Ketika saya mau melepaskan penis dari vaginanya, dia meraih leherku dan sesaat mencium bibirku dengan mesra. Setelah dilepaskan aku langsung bangkit berdiri dan mencari celana yang lupa kusimpan di mana. Hartini masih tiduran, merapatkan kakinya, memandang saya, lalu mengarahkan telunjuknya ke tempat tidur—tapi yang saya lihat malah celana dalamnya. Saya mengambilnya dengan tangan kiri untuk diserahkan kepada Hartini, tapi dia malah menarik tangan kananku dan menyambut celana dalamnya sambil menyuruhku jongkok pelan. Saya mengikuti saja tanpa tahu kemauannya. Hartini melap penis saya yang masih basah dengan cairan bercampur milik kami berdua menggunakan celana dalam putihnya. Saya tersenyum dan meremas payudaranya dengan tangan kiri. Kemudian telunjuknya menunjuk tempat celana saya tadi dilepaskan. Sesaat sesudah memakai celana, saya jongkok untuk mencium dia dan pamit sekaligus berterima kasih atas bonus cuci pakaian—dapat cuci penis pula. Dia tersenyum sambil mencubit pelan pipi kiriku.

Begitulah, sampai sekitar enam bulan kemudian kami sering melakukan hubungan suami-istri setiap ada kesempatan. Walaupun tidak setiap berhubungan Hartini mendapat orgasme—kadang saya merayu dengan alasan biar lebih cepat hamil, padahal sedang tidak menginginkannya atau takut ketahuan—yang penting birahi saya terpuasakan. Enam bulan kemudian saya menikah dan istriku menjadi ibu rumah tangga yang tinggal bertetangga dengan Hartini. Anehnya, empat bulan sesudah menikah istri saya hamil. Saya merasa kasihan kepada Hartini—meski kami berhubungan sekitar enam bulan layaknya suami-istri, dia belum juga hamil, bahkan sampai saya mutasi kembali ke Jakarta. Dia hanya sedih menatap kepergian kami sewaktu kami meninggalkan perumahan, tanpa kata-kata perpisahan.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya