18px

Perselingkuhan Istri Muda (Bagian 2)

Perselingkuhan Istri Muda (Bagian 2)

Dengan berdebar-debar aku bergegas mengintip dari pintu—ternyata Anita! Ketika aku bukakan pintunya, Anita langsung bergegas masuk meninggalkan aku di depan pintu sambil terbengong-bengong. Hari itu Anita menggunakan kaus hitam berkerah rendah dilapisi dengan blazer coklat tua, dengan rok berbahan kulot bercorak coklat tua. Begitu sudah di dalam, Anita langsung membuka blazer-nya yang ternyata memperlihatkan kausnya berlengan buntung—menambah kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Sementara aku hanya menggunakan T-shirt dan celana pendek. Kemudian dia duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke TV.

"Kenapa sih lu, bengong gitu liatin gue?" kata Anita.

"Nggak, cuma heran aja sama lu—masuk ke dalam tanpa ngomong, buka blazer terus duduk nonton TV."

"Siapa yang mau nonton, gue kan baru dateng. Sori, yah, gue nggak nyapa lu dulu—malah nyelonong masuk. Terus terang gue bingung, jantung gue deg-degan nih," kata Anita.

Aku pun menyadari suasana seperti itu, kemudian menawarkan minum kepada Anita untuk mengendurkan suasana yang kaku. Setelah aku membuatkan teh yang diminta Anita, aku pun duduk di bawah sambil bersandar ke tempat tidur. Anita yang berada di dekatku meminum teh suguhanku sambil tetap duduk di pinggir tempat tidur. Posisi ini membuatku bisa mudah memperhatikan lekuk kakinya yang bagus—yang sejak dulu aku kagumi—karena tepat berada di samping mukaku. Putih bersih tanpa noda. Sekali-kali aku membuka pembicaraan dengan topik yang umum saja, maksudnya hanya untuk mengendurkan suasana. Ternyata aku berhasil—aku dapat melihat bahwa Anita sudah bisa relaks dengan suasana ini karena dapat menimpali pembicaraanku dengan cepat dan sekali-sekali tertawa mendengar celotehanku.

Setelah Anita minum teh, dia berdiri dan meletakkan gelasnya di atas meja di samping TV, kemudian duduk di bawah, di samping kananku dengan bersandar pada tempat tidur. Sambil terus berbicara, aku mencoba memeluk pundaknya dari samping dan tangan kiriku memegang tangan kirinya. Sambil terus kami berbicara, aku mencoba merasakan kehalusan kulitnya dengan sentuhan-sentuhan halus ujung jariku—dari pundak turun ke telapak tangannya, silih berganti. Sentuhan-sentuhan lembut yang aku lakukan tidak dipungkiri membuat Anita terpengaruh, walaupun dia tetap saja berbicara. Terbukti bulu-bulu pada tengkuknya terlihat berdiri karena ulahku itu. Ditambah lagi sekali-kali aku mencium pundaknya.

Sentuhan tangan kananku yang tadi menyentuh tangannya, kini berpindah ke perutnya, sementara tangan kiriku masih memberi sentuhan pada tangan kirinya. Sentuhan pada perutnya terus beranjak naik, sampai aku menyentuh payudaranya walau masih dibalut dengan bra dan kausnya. Lama aku melakukan aksi tersebut sambil memberikan sentuhan dari luar.

Kemudian tanganku itu turun kembali ke bawah lalu menyusupkan ke dalam kaus Anita. Sentuhan pada perutnya aku berikan langsung tanpa halangan dari kausnya—terus naik ke atas sampai aku menemukan payudaranya yang masih terbungkus bra. Begitu kenyal dan nikmat sekali rasanya meremas-remas payudaranya dengan lembut; kemudian aku berusaha mencari-cari putingnya sambil terus meremas lembut serta memberi kecupan pada pundaknya. Anita yang sudah mulai merasakan perbuatanku itu, sambil memejamkan matanya dan sudah terdiam sejak tadi, tiba-tiba menepis ulahku sambil menarik tanganku dari balik kausnya.

"Sudah, yah..." kemudian dia mengecup bibirku, yang dijawab dengan lumatanku sambil terus memberi sentuhan.

Kali ini yang menjadi sasaranku adalah kakinya, karena posisi Anita agak sedikit miring ke arahku. Sedikit demi sedikit tanganku meraba dan menyentuh kakinya sampai aku menyusupkan ke balik roknya. Di dalam roknya tanganku mulai mencari-cari pangkal pahanya yang masih tertutup dengan celana dalamnya.

Rangsangan yang aku berikan mungkin menambah panas suasana karena Anita menyambut lumatanku dengan bergairah. Kemudian tangannya mulai meraba-raba gundukan di balik celana pendekku yang sejak dari tadi menegang hebat—yang kemudian aku bimbing tangannya untuk memasukkan ke dalam celanaku. Aku terus melanjutkan aksi di dalam roknya. Aksinya yang memijat nikmat penisku dari dalam celana membuatku bernafsu sekali.

Aku pun menyudahi lumatanku dan kecupanku pada lehernya, lalu langsung menurunkan kepalaku ke bawah untuk memberi kecupan dan jilatan kecil pada kedua kakinya. Dari bawah, terus ke arah pangkal kaki, sedikit demi sedikit aku memberi sentuhan, kecupan, dan jilatan pada kedua kakinya. Sampai akhirnya di pangkal kakinya, dengan menyibakkan roknya sedikit demi sedikit, akhirnya aku dapat melihat celana dalamnya yang berwarna coklat muda. Aku pun lebih bernafsu untuk memberikan jilatan di sekitar pangkal pahanya.

Begitu aku berniat untuk menurunkan celana dalamnya, Anita tiba-tiba berdiri dan duduk di pinggir tempat tidur. Posisi aku yang sudah terlanjur memegang karet celana dalamnya malah membuat turun agak ke bawah karena Anita berdiri. Anita yang tahu hal itu langsung menurunkan roknya dan duduk di samping tempat tidur.

"Kita jangan sampai ML, yah?" kata Anita.

"Memangnya kenapa? Tuang spermanya gimana? Gini aja—gue akan merangsang lu sampai keluar, setelah itu gue masukin punya gue dan tumpahkan sperma gue di dalem. Gimana? Soalnya kalau numpain doang mah, yang enak gue aja dong?" pintaku kemudian.

"Sama aja donk kita ML?"

"Nggak lama kok—paling kalau gue sudah nafsu banget kayak gini, paling lama semenit!" sergahku. "Makanya lu gue buat klimaks dulu, baru gue masukin."

"Tapi..." belum sempat Anita meneruskan aku sudah melumat bibirnya yang seksi itu sambil tangan kiriku meraba-raba selangkangannya dari balik rok. Terasa basah di situ. Karena lumatanku di bibirnya dan rangsanganku dari bawah, Anita merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi kaki yang menjuntai ke bawah tempat tidur.

Aku pun masih terus bergerilya, atas-bawah. Kemudian aku menurunkan arah seranganku ke bagian bawahnya—dari leher, pundak, kuremas payudaranya, terus ke perutnya, sampai dengan aku menyibakkan kembali roknya. Di situ aku melihat posisi celana dalamnya yang sudah merosot ke bawah, walaupun masih di atas dengkul, tapi sudah memperlihatkan bulu-bulu yang hitam dan halus serta terawat dengan rapi.

Untuk beberapa saat aku masih kagum dan takjub dengan pemandangan itu. Dari posisi di samping Anita, akhirnya aku memberi sentuhan halus melalui bibir dan kecupanku di sekitar selangkangannya. Sedikit demi sedikit memberi kecupan dan sentuhan, terus turun ke kakinya—sampai aku turun dari atas tempat tidur memberi kecupan pada kakinya yang menjuntai ke bawah. Kemudian masih terus mengecup kakinya dari bawah terus ke atas lagi, dan sedikit demi sedikit aku menarik turun celana dalamnya sambil memberi kecupan dan jilatan kecil pada sekujur kaki indahnya yang aku kagumi itu.

Setelah celananya aku lepas, dalam posisi duduk di bawah dan menghadap ke arah selangkangan Anita, aku membuka kakinya lebar-lebar kemudian dengan meletakkan kedua pahanya di atas pundakku, aku langsung melahap vaginanya yang terawat sangat rapi sekali. Dengan kulit bersih dan bulu yang halus, vagina yang dimiliki Anita sangat bagus sekali—membuatku jadi bernafsu sekali dan ingin sekali menyetubuhinya. Aku melumat vaginanya dengan sangat bernafsu sekali sampai terdengar erangan lepas Anita yang sudah tidak tertahankan sambil menggeliat ke kiri dan ke kanan.

Erangan-erangan Anita tersebut membuatku lupa dan terus melumat dan menjilat vagina nan indah itu sambil memberi elusan kepada kedua pahanya dengan kedua tanganku. Elusanku itu kemudian beralih ke atas—dari balik kausnya aku memberi sentuhan-sentuhan ke perutnya, sampai akhirnya aku memeras halus kedua payudaranya yang sebelumnya sudah aku keluarkan dari cangkir bra yang hanya menutup setengah dari payudaranya. Remasan halus yang aku berikan memberikan nuansa kenikmatan tersendiri bagiku.

Karena selain kulitnya yang sangat halus, ukuran dan kekenyalannya membuatku makin bernafsu untuk menyetubuhinya, walaupun aku belum melihat payudaranya secara langsung karena masih tertutup di balik kaus.

Setelah beberapa menit, tiba-tiba Anita mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan kedua kakinya menjepit kepalaku ke arah selangkangannya. Sambil setengah teriak yang tertahan Anita berkata, "Nnnto... aku mau keluarr... Aduhh!!" kemudian Anita mengejang untuk beberapa saat.

Aku yang masih terus melahap vaginanya merasakan ada cairan yang keluar dari dalamnya. Setelah Anita terhempas lemas, aku masih saja membersihkan cairan cinta yang keluar dari dalam vaginanya. Setelah itu baru aku merangkak naik sambil menyibakkan kausnya untuk melihat payudaranya—setelah terlihat, aku menjilatinya dengan lahap. Anita yang masih keletihan setelah orgasme yang pertama hanya terlihat pasrah saja.

Karena aku sudah sangat bernafsu sekali, aku langsung melepas celanaku. Rotan ku yang sudah sangat keras memang sedari tadi sudah membuatku tidak nyaman. Dalam keadaan Anita yang pasrah tersebut, aku langsung memasukkan penisku ke dalam lubang cinta milik Anita. Seret, tapi nikmat sekali.

"Aduh! Ahh..." desah Anita sambil memejamkan matanya.

Sedikit demi sedikit aku masukkan, kemudian aku tarik sedikit, aku masukkan lagi yang lebih dalam—yang akhirnya aku menyodoknya dalam-dalam sampai mentok dengan pangkal penisku. Kami pun menyatu dan keinginanku tadi untuk menyetubuhinya sudah terpenuhi. Karena desahan-desahan Anita yang membuatku sangat bernafsu sekali, sambil memeluk tubuh Anita yang masih berpakaian lengkap, aku segera menggenjot tubuhnya dengan cepat. Akhirnya dengan hitungan cepat pula, aku pun sudah tidak tahan untuk menyemburkan lahar panasku. Aku langsung mendekap Anita kencang-kencang sambil menekan dalam-dalam penisku ke dalam vaginanya.

"Ahh... gue keluar." Aku pun menyemburkan cairan cintaku di dalam rahim Anita. Perasaan nikmat menjalar di dalam tubuhku. Untuk beberapa saat aku masih mendekap tubuh Anita karena belum mau melepaskan rasa nikmatku itu. Beberapa saat kemudian aku pun bergulir terlentang di samping Anita. Sambil memegang tangannya, aku pun berkata,

"Enak banget punya lu, Nit. Untung lu bukan istri gue—kalau istri gue, ntar gue jadi males ke kantor gara-gara nafsu terus sama lu."

"Hehehe, punya lu juga enak kok. Cuma sayangnya cepet amat!" kata Anita. "Sepertinya barang lu itu lebih besar deh dari punya Randy—soalnya gue ngerasa agak mampet di vagina gue."

"Masa sih? Ah, lu bisa-bisanya aja. Emang sih, tadi cepet banget. Abis gue sudah nafsu banget pingin nyetubuhin elu. Lagian tadi kan lu bilang nggak mau ML—jadi daripada waktu gue sudah nafsu banget dan sudah masukin barang gue tiba-tiba lu nolak atau kabur, kan gue yang rugi. Mending gue nyetubuhin elu dengan cepat; yang penting nafsu gue tersalurkan. Kalau mau yang lama, ntar aja kita coba lagi, yah?"

"Hahaha, emang dasar lu! Emang lu nggak capek?" kata Anita sambil tertawa renyah—saking gemasnya membuatku langsung melumat bibirnya yang seksi itu. Lama aku melumatnya, yang kemudian aku bangun meninggalkannya untuk pergi membersihkan penisku di kamar mandi.

Di kamar mandi aku membersihkan sisa-sisa cairan cintaku yang masih melekat dengan air hangat shower. Tidak lama setelah aku masuk ke dalam kamar mandi, Anita ikutan masuk untuk membersihkan cairan cintaku yang keluar dari vaginanya. Sambil mengangkat kaki kanannya ke atas closet dan menghadap ke cermin besar, Anita membersihkan vaginanya dengan tisu WC. Sementara aku yang sedang mengeringkan penisku dengan handuk terus memperhatikan kaki jenjang yang indah itu dan aktivitas Anita. Kakinya yang putih bersih nan indah itu terlihat apik sekali kalau dilihat dari belakang—yang tiba-tiba membuat libidoku naik.

Rupanya Anita juga memperhatikan aku melalui pantulan cermin di depannya (shower berada di depan cermin). Dia tersenyum melihat aku tidak berkedip melihat dirinya. Senyumannya itu, aduh.

"Nit, jangan senyum-senyum gitu, napa?" kataku dengan gemas.

"Lhaa, emang kenapa? Kan lu juga ngeliatin gue terus, kan?" kata Anita.

Aku menghampiri Anita yang masih sibuk membersihkan cairan yang merembes di paha sisi dalam.

"Kok dibersihkan, Nit? katanya mau dijadiin?"

"Cuma yang di luar aja, kok. Lagian nggak enak kalau buat jalan, ada sperma di paha gue."

Sambil Anita bicara, aku mencium lehernya yang putih itu sambil memeluknya dari belakang.

"Ihh, geli donk!" protes Anita karena membuatnya tidak leluasa membersihkan pahanya. Aku nggak peduli—sambil jongkok malah terus menciumi kakinya yang terangkat itu sambil tangan kiriku mengelus sekujur kakinya yang berpijak di lantai, kemudian sedikit demi sedikit terus ke atas, sampai kemudian aku menciumi lehernya kembali. Dalam posisi berdiri dan setengah memeluk dari belakang, aku terus-menerus menciumi Anita yang sudah mulai terpejam dan menikmati sentuhanku itu. Kemudian tangan kananku menuju selangkangannya dan bermain-main dengan lembut pada bulu-bulu halus dan sekitar vaginanya, sementara tangan kiriku menyusup ke dalam kausnya mencari daging-daging kenyal yang tertutup bra.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya