18px

Pertama Kali Bertiga

Pertama Kali Bertiga

Istriku, Della, dan aku telah berumah tangga selama beberapa tahun lamanya. Sering, dalam tahun-tahun perkawinan kami, aku berfantasi tentang dia bercinta dengan pria lain โ€” seorang pria sempurna yang menyetubuhinya dengan hebat hingga membuatnya mengerang kenikmatan.

Dalam setahun belakangan ini, aku selalu mengungkapkan fantasiku saat berada di atas ranjang, dan dia selalu menjadi bergairah karenanya, diiringi seks yang liar dan multi-orgasme setiap kali kami mendiskusikannya. Masalahnya, jika di luar area ranjang, Della tidak pernah mau mendiskusikan hal tersebut denganku, hingga membuatku cukup frustrasi. Jika aku berusaha mengajaknya mendiskusikannya, dia langsung marah dan pergi meninggalkan ruangan. Della memang seorang wanita dengan latar belakang keluarga yang sangat ketat pendidikan agamanya.

Istriku Della saat ini berusia 35 tahun. Tinggi dan berat badannya yang rata-rata tetap terjaga bentuknya berkat rutinitasnya pergi ke pusat kebugaran dua kali seminggu. Payudaranya sedang-sedang saja, tapi memiliki puting susu yang cukup besar saat dia sedang dalam gairahnya. Yang paling membuatku bangga beristrikan dia adalah wajahnya yang sangat manis dan menarik, di samping kepribadiannya yang baik, dan senyumannya yang selalu dapat meredakan amarahku. Dia juga pasangan bercinta terbaik yang pernah kudapatkan.

Akhirnya, aku memutuskan bahwa untuk mewujudkan fantasiku tentang Della yang bercinta dengan pria lain, aku harus mencoba cara yang berbeda. Aku tahu bahwa dia sangat selektif terhadap pria. Selama perkawinan kami, ada sekitar empat atau lima pria yang mampu menarik perhatiannya โ€” semuanya dengan kepribadian yang unik, tinggi, gagah, dan menarik. Setelah sedikit "kembali ke masa lalu", aku akhirnya menjatuhkan pilihan pada seorang pria berumur sekitar tiga puluhan yang memenuhi deskripsi tentang sosok yang dapat menarik perhatian Della.

Aku bertemu dengannya saat sedang berkeliling di sekitar kota. Namanya Thomas, sangat gagah dan tinggi, dengan kulit kecoklatan yang menarik. Satu hal yang dapat menarik perhatian Della dari Thomas adalah selain sangat menarik dan berkharisma, dia juga seorang pria bertipe jantan dan "jalanan" โ€” sangat kontras dengan kami yang berpendidikan dan mapan.

Di salah satu kafe di sudut kota, saat pertama kali bertemu dengan Thomas, kukeluarkan selembar foto Della dan mengatakan padanya bahwa aku ingin dia bercinta dengan Della. Dia menyukai fotonya dan mengatakan bahwa dia mau, tapi pertama-tama kami harus membuat Della bersedia.

Kami membuat sebuah rencana agar Thomas dan Della dapat bertemu. Akhirnya kami memutuskan agar dia datang ke rumah keesokan malamnya, berpura-pura menjadi teman lama yang sekian tahun tak pernah bertemu dan sedang singgah di kota ini.

Malam yang kunantikan serasa tak kunjung tiba. Aku tenggelam dalam khayalan, membayangkan bagaimana malam itu akan berlangsung. Di samping rasa takutku kalau Della akan marah besar, aku lebih takut kalau dia tak bersedia berhubungan dengan Thomas.

Kuhabiskan waktu untuk menyalakan lilin, menghidupkan CD player, dan memilih lagu yang tepat untuk menjaga suasana hatinya. Kemudian kubujuk dia agar memakai sepatunya yang bertumit tinggi yang selalu menggairahkanku saat bercinta dengannya. Kurebahkan dia di atas karpet lantai ruang keluarga dan mulai mencumbu vaginanya selama kurang lebih lima belas menit hingga dia mendapatkan orgasme pertamanya.

Dia mulai hanyut dalam irama yang kubuat, hingga segera menjadi sangat basah saat aku mulai menyetubuhinya dengan gerakan lambat dan panjang. Aku mulai khawatir tak mampu bertahan lebih lama lagi saat orgasmenya yang kedua mulai terbangun โ€” ketika akhirnya Thomas mengetuk pintu depan.

Ketukan itu membuatnya langsung bangkit dengan sedikit ketakutan dan bertanya siapa yang mengetuk. Saat itu sekitar pukul sepuluh malam. Aku bilang tidak tahu, tapi akan segera mencari tahu dan mengusirnya pergi. Dia segera merapikan pakaiannya. Kutenangkan dia dengan mengatakan bahwa aku tak akan mengizinkan siapa pun masuk, hingga dia tenang dan kembali rebah di karpet sambil menggosok kelentitnya, menungguku kembali menyelesaikan apa yang telah kami mulai.

Kubuka pintu dan menjumpai Thomas yang telah berdiri di sana dengan maskulin, matanya bercahaya. Kukedipkan mataku padanya dan segera menyuruhnya masuk dengan tenang. Kubisikkan agar dia segera masuk ke ruang keluarga. Saat itu Della pasti sudah mendengar kedatangan kami.

Kami berjalan memasuki ruang keluarga dan kuperkenalkan Thomas pada Della. Dia memandanginya untuk beberapa waktu, bertanya-tanya siapa gerangan pria ini. Dia memandangku dan Thomas bergantian. Aku takut dia akan marah, tapi dia mengejutkanku โ€” dengan tenangnya dia berdiri dan membiarkan pakaiannya yang berantakan terjatuh di karpet, kemudian berjalan mendekat dan memberi Thomas sebuah pelukan, sebelum berbalik dengan pantat dan payudaranya bergoyang saat dia berjalan kembali duduk di karpet.

Belakangan baru aku tahu kalau dia sudah menyadari, saat aku menjawab ketukan pintu itu, bahwa aku sudah merencanakan ini semua. Saat pertama kali dia melihat Thomas, dia tahu bahwa aku telah mengharapkan pria ini datang dan bercinta dengannya. Dia akhirnya memutuskan untuk melakukannya setelah mengetahui bahwa Thomas adalah pria yang menarik dan dia sudah siap untuk itu.

Setelah dia duduk di atas karpet, kami bertiga akhirnya juga duduk sekitar satu jam agar merasa nyaman berbicara tentang sesuatu selain seks, meskipun kami dapat merasakan aura seksualnya semakin terbangun. Della duduk dengan tenang meskipun hanya memakai sepatu bertumit tingginya, dengan payudaranya terpampang bebas di depan kami berdua dengan sangat menggoda. Aku memergoki Thomas memandangi payudaranya dengan bernafsu. Della tampaknya menikmati pengalaman ini karena dia menggoda kami berdua dengan mengatakan bahwa wajah kami memerah dan terangsang. Dia terlihat sangat santai dan mengontrol situasi, hingga sangat membuatku terkejut.

Terlihat tonjolan besar di celana Thomas โ€” ukuran penisnya di baliknya terlihat besar. Belakangan Della mengatakan padaku bahwa dia menyadari hal itu juga, hingga itu membuatnya sangat terangsang dan membantunya memutuskan untuk mau bercinta dengan Thomas. Tidak ada seorang pun yang tergesa-gesa meskipun aku sangat ingin melihat Thomas berada di antara pahanya. Della tampak sangat menikmati setiap waktunya dan melakukannya dengan perlahan, hingga membuatku frustrasi. Ini menuju pada titik di mana aku mengharapkan fantasiku menjadi nyata.

Saat Della akhirnya benar-benar merasa nyaman, dia rebah tengkurap dan meminta agar punggungnya dipijat. Ini adalah tanda yang kami tunggu-tunggu, dan dalam keadaan ini tak mengejutkanku jika Della lah yang mengambil inisiatif tersebut. Dengan cepat aku memberi Thomas kesempatan memijat paha dan pantat Della, sedangkan aku dengan berdebar terfokus pada leher dan bahunya. Kubiarkan Thomas memberikan akses menyeluruh terhadapnya.

Thomas mulai membelai pahanya dengan lembut. Setelah beberapa saat, tangannya mulai bergerak naik hingga semakin mendekati vaginanya. Tubuh Della sering menggelinjang saat dia melakukan pekerjaannya, tapi dengan cepat Della menyembunyikan reaksinya. Setelah beberapa menit, Thomas memindahkan sasarannya dan mulai meremas pantat Della dengan kedua tangannya. Dapat kulihat area di sekitar vagina Della sudah menjadi basah saat Thomas menjalankan aksinya.

Akhirnya Thomas kembali pada gerakan awalnya pada bagian dalam paha Della dan membiarkan jarinya berada di dekat vaginanya. Dia benar-benar tahu apa yang sedang diperbuatnya dan tahu reaksi yang diberikannya terhadap Della, yang mulai menekankan pinggulnya dengan pelan ke karpet. Mereka berdua terlihat sangat menikmati permainan kucing dan tikus ini. Dapat kulihat penis Thomas mendesak keluar dari celananya hingga membuat celananya seakan hendak robek. Dengan cepat diturunkannya risletingnya dan segera mengeluarkan penis itu.

Akhirnya dia tak mampu menahannya lebih lama lagi, hingga bergerak menaiki tubuh Della dan mulai menggosokkan penisnya naik turun di belahan pantat Della. Dapat kukatakan bahwa Della berada dalam dunianya sendiri saat itu. Jika aku pernah berfantasi tentang dia yang bercinta dengan pria lain, mereka sedang mewujudkannya saat ini. Della sangat sensitif saat bercinta dan dia bisa merasakan betapa besar dan kerasnya penisnya yang menekan pada pantatnya itu. Dengan pelan Della mulai menggoyangkan pantatnya pada penis itu dengan mata terpejam, tapi apa yang tergambar pada wajahnya memberitahukanku bahwa apa yang tengah dirasakannya sungguh menakjubkan.

Tak lama kemudian, kulucuti pakaianku dan bergerak ke sofa di depan Della. Dengan cepat Della bangkit dan bertumpukan kedua lengan dan kakinya, mulai menghisap penisku. Della sungguh sangat terbakar gairahnya hingga dimasukkannya seluruh batang penisku sampai menyodok di tenggorokannya. Dengan posisinya itu, pantat Della tepat berada di depan Thomas. Della sepertinya memang menginginkan Thomas berada di belakangnya, tepat di belakang vaginanya yang sudah gatal. Aku tahu bahwa Della terlalu malu untuk "meminta", begitu pula denganku agar Thomas segera menyetubuhinya, dan dengan cara inilah Della mengungkapkannya. Dan Thomas mulai membuat langkah pertamanya!

Aku mengisyaratkan pada Thomas untuk melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Aku tahu bahwa dia memiliki tubuh yang tegap, dan saat dia melepaskan pakaiannya, tubuhnya terlihat sangat menakjubkan. Aku tahu Della juga akan menyukai bentuk tubuh Thomas, apalagi penis besarnya nanti saat dia memalingkan wajahnya ke belakang.

Penis Thomas perlahan tumbuh membesar saat dia melepaskan pakaiannya. Kupegang bahu Della, menghentikan hisapannya pada penisku, dan menyuruhnya berbalik menghadap Thomas yang telah berlutut di hadapannya. Rasa cintaku padanya sungguh meluap saat ini. Dia menerima Thomas dan menggenggam bola zakarnya dengan tangannya yang halus, lalu memasukkan penis Thomas yang masih belum ereksi penuh ke dalam mulutnya. Penis Thomas dengan cepat mengeras dalam mulutnya.

Dia suka menghisap penisku hingga ke tenggorokannya, tapi saat dia mencoba memasukkan penis Thomas sampai ke tenggorokannya, dapat kulihat dia mengalami kesulitan dengan ukurannya dan hampir tersedak untuk beberapa waktu. Tapi itu malah membuatnya semakin terangsang hingga dia terus berusaha memasukkannya sampai tenggorokannya dapat beradaptasi dengan ukurannya.

Belakangan Della menceritakan padaku bahwa jika saja ukuran penis Thomas satu inci saja lebih panjang, dia tak akan mungkin dapat menampungnya. Saat Della telah sibuk dengan "pekerjaannya", kusingkirkan hingga lepas celana dalamnya dan mulai menggosok vaginanya dari belakang. Salah satu fantasiku terbesar adalah menggosok Della saat dia sedang menghisap penis besar pria lain, dan sekarang aku tahu bahwa aku memang sangat menyukainya. Kehangatan cengkeraman dinding vagina Della langsung kurasakan begitu kulesakkan penisku ke dalamnya.

Bersambung.

โ† Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya โ†’