Pertemuan Tak Terduga di Bisnis Terlarang
Pertemuan Tak Terduga di Bisnis Terlarang
Sudah lama aku mengenal tamuku yang bernama — sebut saja — Dibyo, seorang Chinese yang bekerja sebagai tenaga pemasaran di Maspion. Dia merupakan salah satu tamu langgananku yang pada mulanya adalah teman biasa dalam bisnis jual beli mobil bekas, pekerjaan "sampingan" sekaligus kamuflase. Dia mengetahui profesiku yang lain secara kebetulan, tatkala diajak teman-temannya untuk "hunting" — dan ternyata salah satu gadis yang dibooking adalah aku, melalui seorang GM. Jadi aku sama sekali tidak menyangka akan "kepergok" seperti ini, begitu juga dia tidak menyangka bertemu aku dalam posisi seperti ini. Tentu saja kami berdua terkejut, tapi sama-sama tidak mungkin mengelak.
Aku kenal istri dan keluarganya, termasuk adik-adiknya, karena kami memang sangat dekat. Sungguh suatu keadaan yang sama sekali lain dan tidak disangka sebelumnya. Aku merasa begitu rikuh, dan kulihat dia juga mengalami hal yang sama. Ingin rasanya aku lari keluar kembali ke mobilku, tapi tentu saja si GM akan kecewa dan mencoretku dari daftarnya — padahal GM itu banyak memberiku order dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Harapan satu-satunya adalah aku tidak melayaninya.
Dia ditemani kedua temannya, begitu juga aku dengan dua gadis lain yang dikirim oleh GM yang sama. Saat kami dikenalkan satu per satu, tertangkap sorot mata aneh menatapku tajam. Aku tidak bisa menerjemahkan sorot mata itu; dengan tersipu malu dan wajah bersemu merah aku memalingkan tatapanku, tak sanggup melawannya.
Tanpa memberi kesempatan pada teman-temannya, dia langsung memilihku, membuatku semakin bertambah rikuh. Rasanya tidak mungkin melakukan hal ini dengan orang yang selama ini kukenal sebagai teman dalam batas pertemanan. Tak tega rasanya menghianati Wenny, istrinya yang kuanggap sebagai seorang teman.
Berenam kami menuju Stasium di Tunjungan Plaza. Sepanjang jalan aku dan Dibyo terdiam tanpa bicara, sejuta kecamuk dalam pikiran masing-masing, tidak tahu harus mulai dari mana. Sungguh berbeda dengan kedua temannya yang penuh canda dan tawa bersama kedua gadisnya.
Aku tahu bahwa aku harus bertindak profesional, tapi dalam bisnis ini, emosi dan perasaan tetap memegang peranan yang besar. Itu manusiawi.
Keadaan sedikit tertolong karena dia harus menyetir BMW-nya sehingga kekakuan kami tidak terlalu terbaca teman-temannya. Mereka pasti mengira si Dibyo diam karena berkonsentrasi pada setiran, tidak memperhatikan bahwa tak sejengkal pun tubuhku disentuhnya — tidak seperti mereka di belakang yang tangannya sudah menggerayang ke seluruh tubuh pasangannya masing-masing.
Detak pekik house music dan geliat birahi para pengunjung di lantai dance pun tidak mampu mencairkan kekakuan di antara kami. Bahkan saat lagu "Lemon Tree" kesukaanku berkumandang nyaring, tetap tidak mampu menggerakkan kakiku menuju lantai dansa. Begitu kaku. Begitu juga Dibyo yang tidak berani mengambil inisiatif mengajakku turun — kalau saja dia mengajakku, pasti aku tidak kuasa menolak, tapi hal itu tidak terjadi. Padahal sudah sering kali aku turun bersamanya saat pergi ke diskotik bersama istrinya.
Butir-butir ekstasi yang mereka bagikan hanya kugenggam di tanganku. Kami sama-sama terpaku membeku dalam panasnya alunan hentakan house music.
Pukul 01.00 kami meninggalkan diskotik menuju Hotel Tunjungan yang hanya bersebelahan dengan kompleks pertokoan itu. Tiga jam yang panjang kujalani dalam kebekuan — tak seujung rambut pun dia menyentuhku, apalagi mencium atau meraba tubuhku, meskipun kesempatan itu sangat luas terbentang.
Ketika kami memasuki kamar masing-masing, kekakuan di antara kami masih ada, bahkan terasa semakin membeku. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku nggak nyangka kalau kita bisa bertemu dalam keadaan seperti ini," katanya setelah menyalakan rokoknya. Itulah kata pertama yang ditujukannya padaku sejak bertemu empat jam yang lalu.
"Aku juga," jawabku singkat, sedikit bergetar. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku — kebiasaanku kalau sedang gugup.
"Selanjutnya gimana nih?" tanyanya, entah pura-pura entah memang karena rikuh.
"Terserah kamu saja, aku ikut," jawabku masih bergetar.
Dibyo beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku, lalu duduk di sampingku. Jantungku berdetak kencang dan semakin kencang saat dia memelukku. Bukan pertama kali dia memelukku seperti ini — bahkan mencium pipiku pun sudah sering dia lakukan, meski di depan istrinya. Tapi semua itu tentu saja dalam konteks yang berbeda.
Aku hanya diam sambil meremas tanganku semakin erat ketika dia mulai mencium pipiku. Sungguh terasa lain ciumannya dibandingkan sebelum-sebelumnya — ada getaran aneh menyelimuti hatiku. Kembali aku tidak tahu harus berbuat apa.
Ciuman Dibyo sudah menyusur ke leherku. Kurasakan tangannya gemetar saat mulai mengelus buah dadaku. Jantungku semakin berdetak kencang saat tangan gemetar itu menyusup di balik kaosku, terasa dingin ketika menyentuh kulit buah dadaku.
Sesaat aku hanya terdiam saat bibirnya mulai menyentuh bibirku. Dilumatnya dengan lembut bibir merahku sembari menuntun tanganku ke selangkangannya — terasa menegang. Tanpa kusadari, ternyata dia sudah membuka resleting celananya hingga tanganku langsung menyentuh kejantanannya yang masih terbungkus celana dalam.
Aku mulai membalas kulumannya ketika tanganku sudah menyusup di balik celana dalamnya dan mulai meremas-remas kejantanan sobatku ini.
Menit-menit selanjutnya terlupakan sudah siapa Dibyo sebelumnya; terlupakan sudah si Wenny istrinya yang cantik. Aku kembali berada dalam duniaku — seorang gadis panggilan yang sedang bekerja memuaskan tamunya. Meskipun demikian, aku masih tidak tega memandang wajah tampannya. Setiap kali kulihat wajahnya, aku selalu teringat akan istrinya. Jadi aku selalu berusaha memalingkan wajah atau memejamkan mata saat wajah kami berhadapan.
Harus kuakui bahwa Dibyo ternyata seorang yang sabar dan romantis. Kuluman pada bibir dan putingku terasa begitu nikmat dan penuh perasaan. Akupun tanpa malu mulai mendesah nikmat dalam buaian sobatku.
Perlu hampir satu jam bagi kami untuk saling menelanjangi. Tubuh bugil kami sudah beralih ke atas ranjang. Dibyo melanjutkan ciumannya pada sekujur tubuhku, tapi tampaknya masih ada keraguan untuk menjilati selangkanganku. Begitu juga aku — seakan ada penghalang yang mencegahku mengulum penisnya.
Ketika tubuh telanjangnya hendak menindihku, tiba-tiba terdengar bunyi telepon. Dengan agak malas dia mengangkatnya — rupanya teman-temannya telah lama menyelesaikan satu babak, padahal kami baru akan mulai. Mereka menanyakan apakah akan melanjutkan hingga pagi. Dia menanyaiku dan kujawab terserah. Akhirnya diputuskan untuk menginap.
Sebelum kembali ke pelukanku, Dibyo mengambil HP dan menghubungi istrinya untuk memberitahu bahwa dia pulang pagi dengan alasan menemaniku di diskotik. Entah apa dalam benak Wenny karena tidak ada iringan musik di latar belakang. Kami memang sering ke diskotik bersama-sama hingga menjelang pagi, jadi bukan sekali ini Dibyo pulang pagi. Dia memberikan HP-nya kepadaku.
"Hai, Wen, sorry malam ini aku pinjam suamimu tanpa permisi," kataku.
"Ya udah, tolong jaga dia jangan sampai lupa pulang. Yang penting pulang dengan selamat, biar dengan botol kosong," katanya, ditutup dengan tawa ciri khasnya. Kami memang sudah biasa bergurau bebas. Aku jadi semakin merasa bersalah melihat betapa percayanya dia padaku. Tapi ini adalah bisnis, bukan aku berselingkuh dengan suaminya — dia yang mem-booking-ku, hiburku dalam hati.
Dibyo kembali menghampiriku yang masih telentang telanjang di atas ranjang. Kami harus mulai lagi dari awal. Kali ini tiada lagi keraguan di antara kami, meski aku tetap tidak bisa menatap wajahnya. Dengan memejamkan mata, kusambut lumatan bibirnya sembari meremas-remas kejantanannya yang sudah melemas. Dia mulai berani mendesah, aku pun demikian saat bibirnya mendarat di puncak bukitku.
Kujepit pinggangnya dengan kakiku saat sedotannya semakin kuat sambil menyapukan kepala penisnya ke bibir vaginaku. Kubuka sedikit mataku menatapnya — ternyata dia menatapku dengan penuh perasaan. Tak sanggup aku menatapnya lebih lama; kututup kembali mataku rapat-rapat, dan semakin rapat saat penisnya mulai menerobos memasuki liang vaginaku.
Entahlah, tidak seperti pada tamu lainnya, kali ini kurasakan getaran-getaran aneh menyelimuti diriku. Semakin dalam penis itu melesak masuk, semakin keras getaran itu, seiring kerasnya degup jantungku. Aku telah menodai persahabatan yang selama ini kubangun; aku telah menghianati Wenny yang begitu percaya padaku. Tapi perasaan nikmat yang kian membesar perlahan mengusir rasa bersalah dan segala keseganan antara aku dan Dibyo.
Kejantanan Dibyo perlahan penuh perasaan mengocokku, diiringi cumbuan dan lumatan pada bibirku yang kubalas dengan tak kalah gairahnya. Aku pun semakin kelojotan dalam dekapan hangat suami sahabatku ini tatkala ciumannya menyusuri leherku.
Bersambung....