18px

Pertemuan Tak Terduga di Hotel G

Pertemuan Tak Terduga di Hotel G

Obrolan kami terhenti. Dari dalam tas tangan milik Listi, dering telepon menghentikan pembicaraan kami. Aku tak tahu siapa yang menelepon Listi. Pastinya bukan seorang pria—ia menyapa si penelepon dengan "siapa ini?"

Aku pun tak memperhatikan Listi. Mataku mengarah kepada satu keluarga yang baru masuk: pasangan suami istri dengan seorang putranya yang kutaksir masih balita. Sang istri dengan jins dan jaket menyedot perhatianku. Bibirnya merah merona, bola matanya memakai lensa kontak berwarna biru gelap. Posturnya tinggi, dan bagian depan jaketnya terbuka. Baju kaos berkerah rendah menambah indah tubuhnya di bagian itu, dengan dada yang sangat proporsional.

"Prakk..." Tangan Listi menjitak kepalaku. "Ntar matamu terkilir," katanya. Siapa sih yang nelpon kamu, lama sekali? Aku juga nggak tahu, kata Listi. Tapi Listi menceritakan bahwa si penelepon minta bertemu dengannya malam ini di Hotel G.

"Temenin aku, ya." Ngapain ke sana, urusan apa? selidikku. Dia hanya ingin ketemu, aku gak tahu. Okelah, aku temenin.

Setibanya di lobi Hotel G, aku dan Listi disambut seorang perempuan. Ia memperkenalkan dirinya: Anna. "Tante Anna, ini temanku, namanya Aby," Listi menatapku. Kusambut uluran tangan Anna. "Aby," ucapku. "Anna," sebutnya.

Lalu Anna meminta kami duduk di lobi karena ingin mengobrol pribadi dengan Listi. Kuturuti saja. Mereka bicara tak lebih dari dua menit, lalu menuju kursi di tempat seorang pria berkemeja putih bermotif liris dengan dasar coklat muda. Badannya bongsor, posturnya mirip para bos di beberapa instansi pemerintah.

Mereka terlibat pembicaraan serius beberapa waktu. Itu membuatku jengkel. Ingin aku meng-sms Listi, tapi sial, pulsa sedang tidak ada.

Listi menatapku, lalu memalingkan wajahnya ke Anna. Listi dan si pria bongsor itu meninggalkan lobi menuju lift. Begitu keduanya menghilang di balik pintu lift, Anna menghampiriku.

"Sorry ya, Dik, bikin kamu menunggu." Hanya senyum yang bisa kuberikan membalas kalimat Anna. "Temannya Listi, bukan pacarnya kan?" Senyumku kembali mengembang di wajahku yang tidak ganteng ini.

"Mereka ke mana, Tante?" balasku. "Biasalah," kata Anna, lalu menyalakan rokok. "Ooo. Kalau begitu saya pamit dulu, Tante. Mulai ngantuk. Mau pulang, apa nggak nunggu temanmu? Paling-paling mereka dua jam kok di atas."

"Sialan si Listi. Aku jadi satpamnya malam ini," batinku.

"Kita ngobrol di bar aja, yuk." Tawaran Anna sangat berat kutolak—bukan karena kesal pada Listi, tapi karena Anna terus memberikan gerak tubuh yang membuatku penasaran: apa maunya?

Kutaksir Anna umurnya masih sekitar 41 tahun, rambutnya pendek, posturnya 153 sentimeter, kulitnya sawo matang. Dengan ciri seperti itu, ia bukanlah perempuan yang menarik.

Namun malam ini, Anna memberikan daya tarik yang membuat aku tak ingin meninggalkannya. Ia mengenakan blazer krim dipadu dengan blus merah jambu, bawahannya rok selutut dengan kaki dibalut sepatu berhak.

Entah kenapa, aku begitu tertarik dengan wanita yang rapi, apalagi yang mengenakan seragam kantoran.

Tak dinyana, Anna langsung mengapit tanganku di bawah ketiaknya. Tentu saja, punggung jemariku tak bisa menghindar dari tumpukan daging di dadanya—lembut, seakan ia tidak mengenakan bra.

Memasuki ruang bar yang menyatu dengan live music, kami disambut alunan musik romantis dari album Celine Dion.

Anna melepas tanganku dan memberi isyarat ke kursi di pojok sebelah kiri pintu masuk. Dia menuju meja bartender, lalu kembali ke meja tempatku sudah duduk.

Anna tak langsung duduk; ia menanggalkan blazernya. Gerak bibirnya mengikuti lirik lagu Celine Dion yang dilantunkan penyanyi live music di tengah ruangan.

"Huh..." Suara Anna melesit dari bibir yang telah disuguh rokok.

Seorang pramuniaga mendekati kami dan menyuguhkan dua gelas koktail. "Aby sudah makan? Mau pesan makanan apa?" tanya Anna. "Udah, Tante, masih kenyang," jawabku.

Dengan sebuah isyarat tangan, pramuniaga berkaos berkerah robek dipadu rok merah sebatas paha itu pun meninggalkan meja kami. "Jangan panggil 'tante'—kesannya negatif banget. Panggil Anna aja, cukup," pintanya.


Koktail di gelas kami nyaris habis. Irama musik beralih dari melodi mellow ke house. Anna menarik tanganku dan mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh daun telingaku. Dengan berbisik, ia minta aku menemaninya menuju panggung live. Di sana sudah ramai beberapa pasangan bergaya tripping.

Ajakan ini tentu tidak kutolak. Kurangkul pinggangnya dan kami cha-cha bersama. Kurang dari lima menit, Anna meminta kembali ke kursi. Belum sempat pantatku duduk di kursi, Anna sudah berujar, "Aby, kita ke kamar aja, yuk. Udah ngantuk nih."

Gerakan tubuh Anna mulai tak seimbang—ia sudah terpengaruh alkohol. Kurangkul pinggangnya menuju lift. Di dalam lift, ia memelukku dan mengecup leherku.

Anna sudah dalam kondisi antara sadar dan tidak. Begitu tiba di kamar, ia langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang. Bibirnya mengeracau. Aku hanya memandangi sosok perempuan di depanku. Ingin aku menyetubuhinya—mengisap putingnya, menjilati lehernya, melucuti pakaiannya.

Akh, aku belum pernah melakukan itu. Bahkan dengan mantan pacarku.

Aku menuju kamar mandi dan merendam diri dalam bathtub. Handphone-ku berdering. Aku keluar dalam keadaan tanpa busana, menuju sisi tempat tidur tempat handphone-ku.

Kulihat, Listi yang menelepon. "Aby, kamu masih sama Tante Anna, kan? Met bersenang-senang ya. Eh, ntar jam 8 kita pulang bareng lagi ya," kata Listi tanpa menunggu ucapanku.

Huh, sial. Kamu yang enakan di sana, aku di sini.

Mataku kembali tertuju pada Anna. Posisinya tetap telentang. Kudekati dan kubisiki agar mau mandi. Anna hanya memelas dan menarik kepalaku. Matanya terbuka, dan melihatku bugil, Anna tersenyum lalu membenamkan kepalaku ke dadanya.

"Puaskan aku, sayang..."

Rada gemetar, tanganku melepaskan kancing yang masih mengait di blusnya. Mode bra yang dikenakan Anna makin menambah nafsuku. Aksi melucuti kini beralih ke roknya. Lagi-lagi underwear yang dikenakannya makin memacu birahiku.

Dengan keberanian nafsu dan fantasi di kepalaku, aku mulai menjilati lutut hingga leher Anna. Ia mengelincak—gerakan tubuhnya menandakan kenikmatan mulai meresapinya. Jilatanku terus kugiatkan di dadanya, bra kubuka, putingnya kukulum dan kugigit ujungnya.

Anna berteriak kecil, menarik rambutku, dan terus merengek memohon disetubuh. Selagi bibirku bermain di payudaranya yang berukuran 34, tangan kananku menyelip di balik underwear-nya.

Memasuki area vaginanya, jemariku menyentuh bulu-bulu yang tampaknya terawat. Jari tengahku merambat masuk di bibir klitorisnya. Anna mengangkat pantatnya.

Lendir dari vagina makin banyak. Dengan mengangkat kepala, Anna meminta vaginanya dijilati. Aku tak mempedulikannya—bibirku langsung menyerang bibirnya. Gigitan kecil kulakukan di ujung bibirnya. Jilatanku kutarik dari bibirnya, turun ke leher, kulit dada, lalu payudaranya.

Jilatanku terhenti di pusarnya, kemudian merambat turun ke vaginanya. Anna menjerit kecil, jeritannya disertai muncratan lendir dari dalam. Kusadari, Anna sudah mencapai orgasme pertamanya.

Kontolku yang menegang dan adrenalin birahiku sudah memuncak. Langsung kukerahkan tenaga, kulesatkan kontolku ke dalam vaginanya. Anna tersentak—tubuhnya terangkat, hanya terkejut sesaat.

Ia tersenyum dan mengecup bibirku. Kurasakan Anna mulai menggoyang pinggulnya. "Kontolmu panjang, sayang. Aku suka," katanya. Aku terus memompa vagina Anna. Rincauannya makin menjadi; ia meremas payudaranya sendiri dan menggigit bibirnya.

Pompaanku makin lama makin mengendur. Kontolku terasa berdenyut-denyut. Eranganku tertahan. Anna dengan cepat mendorongku hingga kontolku terlepas.

"Tarik napas dan tahan, Aby... tahan." Anna memerintahku. "Ayo lakukan lagi, aku nggak ingin kamu orgasme dulu," pintanya. Saran Anna ternyata benar. Denyutan di kontolku mulai berkurang; kurasakan aliran sperma kembali masuk ke dalam kantungnya.

Kunyalakan rokok. Anna tersenyum melihat aksiku. Kudekati dia dan memintanya bergaya doggy style. "Kamu tahu aja," Anna tersenyum meraih kontolku. Dikecupnya dan dijilatinya lendir miliknya di kepala kontolku.

Anna turun dari kasur dan mengambil posisi doggy style. Dengan pelan kumendorong kontolku. Bles... kubiarkan beberapa detik hingga Anna memalingkan wajahnya ke belakang. Ia tersenyum, tangannya mencubit pahaku. "Kamu nakal, bisa aja bikin orang nikmat," katanya.

Pompaanku tidak bertahan lama; Anna terus memintaku bertahan. "Sayang, tahan. Kita sama-sama," pintanya. "Akh... terus, sayang... oh... hhhh." Anna merebahkan tubuhnya, aku pun turut merebahkan tubuhku di atasnya dengan posisi telungkup.

Kelelahan yang baru saja kami capai membuat kami terlupa dan tertidur.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya