18px

Pertemuan Tak Terduga di Kereta Senja

Pertemuan Tak Terduga di Kereta Senja

Cerita ini bermula di atas Kereta Api Senja Utama II tujuan Yogya-Jakarta. Saat berhenti di Stasiun Purwokerto, aku turun sebentar untuk membeli rokok. Karena terlalu lama di luar, aku hampir ketinggalan kereta — begitu kereta mulai bergerak perlahan, aku naik dari gerbong paling belakang.

Saat berjalan menuju tempat dudukku, aku melihat seorang gadis yang rasanya pernah kukenal. Aku ragu menegurnya karena hanya melihat dari belakang, tapi saat lewat di sampingnya aku memberanikan diri menatap wajahnya — dan kebetulan dia juga melihatku. Aku langsung yakin: dia adalah kekasihku yang hilang lima tahun lalu. Kami berpisah setelah lulus SMA; aku kuliah di Yogya sementara dia mencari kerja di Jakarta tanpa alamat yang jelas. Maka aku memberanikan diri menyapanya.

"Yan!"

Dia sepertinya tidak mengenaliku karena brewokku dan rambutku yang sudah panjang sebahu.

"Yan! Masa kamu nggak kenal sama aku?"

"Mas siapa, ya?" tanyanya.

"Aku Riady."

Dia tersentak kaget begitu mendengar namaku. Tampak di wajahnya, air mata menetes — aku tak tahu apakah itu karena sedih atau gembira.

Aku mengajaknya pindah ke gerbongku; kebetulan aku duduk sendirian. Tanpa menunggu jawabannya, kuambil tasnya dan dia mengikutiku sambil menggandeng tanganku seolah tak ingin berpisah lagi. Kami bercerita saling melepas rindu. Dia mengira aku akan meninggalkannya, sehingga dia menerima lelaki lain. Aku memahami itu dan tidak memaksanya untuk kembali.

Setelah lama bercerita, dia meminta diantarkan ke kamar kecil. Sambil menyalakan sebatang rokok, aku menunggunya di depan pintu WC kereta. Tiba-tiba dia memintaku mengambilkan handuk kecil dari tasnya. Begitu kuberikan, dia langsung menarik tanganku masuk ke dalam WC dan mengunci pintunya. Dia mendekap erat sehingga payudaranya terhimpit di dadaku. Aku menunduk untuk mengecup bibirnya, dan lidah kami bermain dalam kehangatan mulutnya. Begitu nikmat rasanya hingga penisku membengkak oleh rangsangan. Ingin sekali kuelus payudaranya tapi tak bisa karena dekapannya yang erat. Namun dia menggesekkan vaginanya begitu merasakan penisku membengkak.

Aku sangat menikmatinya. Kututunkan tanganku untuk meremas pantatnya. Dia semakin keras menggesekkan vaginanya sampai mengerang kenikmatannya. Kuselipkan tanganku ke balik celana jeans yang dipakainya, menyusuri belahan pantatnya. Dia kembali mengerang seraya mengendurkan dekapannya.

"Oochh, Mas..." erangnya menahan nikmat. "Aahh, Mas... ayo..."

Kutarik tanganku dan membuka ritsleting celananya.

"Cepetan, Mas!" pintanya, sambil menurunkan celananya hingga hanya mengenakan celana dalam.

Kulihat celana dalamnya sudah basah oleh lendir yang keluar dari liang vaginanya. Kuelus sambil kutekan vaginanya yang masih tertutup celana dalam, terlihat bentuknya yang sungguh menggiurkan.

"Ayo dong, Mas! Aku nggak tahan nih... oochh!" erangnya memohon.

Aku merasa kasihan. Kuturunkan celana dalamnya dan kumainkan klitorisnya yang menonjol dan mengeras.

"Yang cepet, Mas! Ooo... aachh, Mas..." erangnya. "Enak! Aahh, cepeet, Mas!"

Aku berjongkok dan menjilati vaginanya yang basah, tertutup lebat bulunya.

"Auch! Diapakan memekku, Mas?" tanyanya. "Oohh, Mas! Enak! Oohh, terus!"

Tiba-tiba dia berkata, "Mas, aku pingin pipis nih."

Tapi aku tak menghiraukannya. Isapanku pada kelentitnya semakin kuat hingga beberapa detik kemudian pahanya merapat, menghimpit kepalaku. Dia mengejang; dari mulutnya terdengar seruan,

"Ouuchh, Mas! Heegh... akhh... aku sudah nggak kuat... heegh... ookh..."

Cairan deras mengalir di sela pahanya yang jenjang, diiringi denyutan-denyutan vaginanya. Setelah mengejang beberapa saat dia tampak lemas oleh orgasme yang baru saja dialaminya.

Karena takut ketahuan penumpang lain, kami tidak melanjutkan permainan. Dia merapikan pakaiannya, lalu aku menggandengnya kembali ke tempat duduk agar tidak jatuh karena badannya masih lemas. Tanpa terasa, kereta sudah memasuki Stasiun Jatinegara. Dia harus turun di sini karena kontrakannya di Bekasi, sedangkan aku turun di Gambir. Sebelum berpisah, aku mengecup keningnya dan meminta alamatnya.

Bersambung . . . .

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya