Pertemuan Tak Terduga di Pesawat
Pertemuan Tak Terduga di Pesawat
"Ladies and gentlemen, welcome aboard flight CA614 destination Los Angeles from Taipei. We will stop in Hawaii for a few moments to refuel and continue to Los Angeles. The flight to Hawaii will take seven hours. So sit down and enjoy our flight entertainment. Dinner will be served at seven p.m. Taiwan time."
Sekali lagi aku menguap. Perjalanan ini pasti membosankan, pikirku. Aku melirik penumpang yang duduk di sebelahku. Wanita itu cantik sekali — kulitnya putih mulus, mukanya manis, rambutnya dipotong pendek, dan wajahnya mengingatkanku akan sebuah karakter. Mataku mulai berkeliaran. Dadanya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tapi kelihatan kencang dan tidak menunjukkan kekenduran sedikit pun. Bajunya putih ketat, terbuat dari bahan elastis yang menunjukkan lekukan tubuhnya yang sempurna; perutnya datar dan pinggangnya yang melekuk sungguh aduhai.
Tak kusadari dia melihat ke arahku. "Kok ngeliatin kayak gitu sih, Mas?"
Mukaku langsung merah padam menanggung malu. Aku gelagapan. "Maaf, Non — habis kamunya cakep sih."
Di luar dugaan, dia cuma tersenyum kecil sambil mengulurkan tangan. "Nama saya Lita. Nama kamu siapa?"
Aku agak bengong sebentar, tapi kemudian menjabat tangannya. "Eehhh... nama saya Ricky." Tangannya lembut sekali. Pikiranku mulai ngeres. "Kok jabat tangannya nggak lepas-lepas sih?" Aku tersentak lagi dan minta maaf, lalu mengambil majalah dan mulai membacanya untuk menutupi mukaku yang mulai merah.
Aku memang boleh dibilang jarang punya pacar, walaupun penampilanku lumayan. Soal pengalaman, masih belum ada — hanya masturbasi saja pernahnya. Aku sudah ngebet sekali nge-seks dengan cewek, tapi sampai sekarang peruntungan masih belum berpihak. Mungkin ini yang dinamakan nasib apes.
"Eh, kamu pernah sekolah di SMEA Swadaya, bukan?" tanyanya tiba-tiba.
"Kamu kok tahu?"
"Tadi waktu ngeliat kamu, rasanya aku pernah ngeliat kamu — apalagi pas denger nama kamu."
"Aku dulu pernah sekelas sama kamu, tapi rasanya nggak ada yang namanya Lita di kelasku."
"Waktu itu aku belum ganti nama."
Aku seperti tersentak. Lita — itu pacar impianku! Walaupun badannya tidak sempurna, dia cantik sekali. Tapi cewek yang ada di depan mataku ini kelihatannya jauh berbeda, jauh lebih cantik.
"Oohh, kamu toh! Gila, kamu beda banget. Kamu dulu kayak anak kecil saja, sekarang kayak bidadari," timpalku sambil menyanjungnya.
Dia tersipu saja. Kemudian kami mulai menceritakan keadaan masing-masing. Ternyata setelah lulus SMEA ia pergi ke Kanada untuk belajar di sana. Dari Kanada ia sempat jalan-jalan ke Singapura, dan dalam perjalanan balik ke Kanada ia berencana tinggal di LA untuk sementara waktu. Selama di Kanada, katanya tidak ada cowok yang mengejar dia.
Edan, pikirku — cewek secakep ini, dengan body sesolid ini, tidak ada yang mengejar. Akhirnya makan malam pun mulai dihidangkan. Sebagai penumpang First Class kami ditawari bermacam jenis minuman. "Whisky, please," ucapku kepada sang pramugari. Lita memilih Brandy.
Sewaktu makan malam dihidangkan lampu mulai diredupkan. Tiba-tiba saja terbersit rasa ingin mengungkapkan perasaanku kepadanya — perasaan yang tak pernah tersampaikan sewaktu di sekolah dulu.
"Lita, aku mau tanya nih, tapi kamu jangan kaget ya."
Sambil tetap mengunyah, ia menoleh ke arahku dan mengangguk.
"Aku waktu di SMEA dulu sudah mulai suka sama kamu, tapi tidak ada kesempatan dan keberanian," kataku.
"Ricky, kamu mah gombal," jawabnya sambil meminum Brandy-nya.
"Lita, yang mau aku tanyain — kalau misalnya aku ngejar kamu, gimana?"
"Tergantung," jawabnya polos.
Aku tidak banyak tanya lagi. Kata "tergantung" sudah membuatku hilang semangat dan putus asa. Pernah sekali aku menunggu jawaban seorang cewek yang memberi kata "tergantung", ternyata dia sudah punya pacar.
Akhirnya piring kami diambil kembali, waktu sudah agak malam, dan aku sudah ngantuk. Aku minta selimut kepada pramugari — begitu pun Lita. Tapi pramugarinya kembali dan memberitahu bahwa selimut yang tersisa hanya satu, meski ukurannya cukup untuk dua orang. Akhirnya aku dan Lita berbagi selimut itu; sandaran tangan di antara kursi kami kuangkat.
Aku masih tidak bisa tidur, memikirkannya. Kata "tergantung" bagiku adalah penolakan halus yang menyakitkan. Tiba-tiba aku merasakan kepalanya di pundakku — rupanya ia tertidur. Tanpa sengaja aku menatap wajahnya yang manis. Bibir imutnya seakan menggodaku untuk menciumnya, tapi aku berhasil menahan diri dan membetulkan dudukku.
Aku menoleh lagi, masih ingin terus melihatinya. Akhirnya, tanpa peduli risiko, tanganku kutaruh di pinggangnya sementara tangan satunya kuletakkan di belakang kepalanya, lalu kucium bibirnya. Tak terduga, lidahnya mulai menerobos bibirku dan akhirnya lidah kami berduel di dalam mulut kami. Tangannya menarikku lebih dekat.
Akhirnya kami beristirahat sejenak untuk mengambil napas.
"Lita, apa sih maksudmu tergantung?"
"Maksudku tergantung kamu mau nggak ngejar aku. Kalau kamu mau sih, aku terima saja," katanya.
Aku tercengang. Ternyata tadi dia cuma main hard-to-get. Kucium dia sekali lagi, tapi kali ini aku mulai menciumi juga lehernya dan kupingnya. Tanganku mulai masuk ke dalam bajunya yang ketat itu dan menyentuh dasar payudaranya. Dengan satu gerakan mulus, tanganku menggenggam payudaranya yang lentur. Putilnya yang sudah berdiri kumainkan dengan ibu jariku. Ia mendesah kecil. Ia melepas ciuman kami, dan di bawah selimut yang hangat itu ia melepaskan kaos dan BH-nya. Penumpang lain sudah tidur, dan kami duduk di kursi paling belakang sehingga tidak ada yang dapat melihat ataupun menduga apa yang kami lakukan.
Setelah itu kami melanjutkan permainan gila ini. Tanganku meraba masuk ke celananya. Tak kusangka, ternyata ia tidak memakai celana dalam. Tanganku menelusuri hutan kemaluannya dan akhirnya menemukan klitorisnya yang juga telah berdiri. Sewaktu tanganku menyentuh klitorisnya, ia bergetar sedikit. Kubenamkan kepalaku ke bawah selimut dan dengan lahapnya kuhisap serta kujilat putilnya, sementara tanganku sibuk bermain dengan klitoris dan liang kemaluannya.
Desahannya mulai agak cepat. Aku mulai takut ketahuan, jadi kucium dia sambil tanganku tetap bermain di kemaluannya. Akhirnya ia mencapai klimaks, dan jeritan kenikmatan itu hanya terdengar dalam mulutku. Ledakan klimaksnya sangat dahsyat — tanganku dibanjiri oleh cairan klimaksnya seolah seperti bendungan yang pecah. Celananya kini pun basah.
Tanganku yang untuk pertama kalinya bermain dengan kemaluan cewek ini mulai pegal. Akhirnya kubetulkan posisi dudukku dan kupeluk dia. Ia memakai kembali kaosnya dan bersandar di dadaku.
"Ricky, kamu belum puas kan? Aku puasin, ya."
Aku mulai gelagapan. Jangan-jangan Lita mau main di pesawat — aku tidak mau menanggung malu kalau ketahuan. Jadi aku bilang, "Lita, kamu keliatan capek. Istirahat saja dulu. Kalau mau puasin aku, boleh saja — tapi nanti saja."
Akhirnya pesawat kami tiba di Honolulu, Hawaii untuk mengisi bahan bakar. Kami diperbolehkan turun ke ruang tunggu. Aku dan Lita turun pesawat; kami punya dua jam untuk jalan-jalan.
"Lita, kita mau ngapain?" tanyaku sambil menggandeng tangannya bak sepasang kekasih.
"Kamu maunya apa?" jawabnya sambil memberikan senyuman seribu arti.
Waktu masuk ruang tunggu, aku melihat iklan hotel di dalam bandara. Kuajukan saranku untuk beristirahat di kamar hotel. Lita setuju saja. Kami memesan satu kamar. Sesampai di kamar, aku langsung merebahkan diri di ranjang setelah melepas kaos, sepatu, dan kaos kaki. Lita berdiri di depan ranjang dan menyalakan TV; acara yang ditayangkan adalah MTV.
Ia berjalan pelan mendekati ranjang tanpa melepaskan kontak mata — pinggulnya bergerak ke kiri dan kanan dengan seksinya. Dengan gerakan mulus ia mulai berdansa dengan seksinya, satu per satu pakaiannya dilepas hingga tubuhnya tidak terbungkus sehelai kain pun.
Batang kemaluanku sudah tegang dan keras seperti baja. Perlahan-lahan ia naik ke ranjang, menopang badannya dengan kedua lututnya. Ia menunduk dan menyingkapkan selimut ranjang yang kupakai. Sabukku dilepasnya dan celanaku ditarik sampai ke lutut. Batang kemaluanku sudah sangat menonjol, kepalanya keluar dari bagian atas celana dalamku. Kutendang celanaku ke lantai. Celana dalamku dipelorotnya, dan mulutnya yang kecil itu mulai mengulum batang kemaluanku — semua itu dilakukannya tanpa melepaskan kontak mata dari mataku.
Gerakan mulutnya yang naik-turun diiringi sedotannya yang keras sungguh membuat nafsuku meledak. Pinggulku kugerakkan naik-turun seirama dengan gerakan mulutnya. Kepalanya kupegang, dan setiap kali kepalanya turun kudorong sedalam mungkin agar seluruh batang kemaluanku dapat ditelannya. Akhirnya klimaksku mulai menanjak naik dengan tajam; gerakan mulutnya pun semakin cepat dan hisapannya semakin keras.
"Lita, aku mau keluar nih. Kalau kamu nggak lepasin, entar aku bakal nyemprot di mulut kamu."
Ia tidak menggubris peringatanku — bahkan gerakannya semakin dipercepat. "Ohhh yesss... arghhh..." Aku menjerit keras, seolah melayang di dimensi keempat. Kenikmatan yang kudapat tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata sewaktu aku menyemprotkan spermaku di dalam mulutnya. Seluruh spermaku ditelannya dan batang kontolku dijilatinya agar tidak ada setetes pun yang tertinggal.
Ia memandangku dan bertanya, "Gimana — aku hebat nggak?"
"Hebat" saja rasanya kurang untuk melukiskan semua yang dilakukannya. Ia mungkin salah satu yang terbaik dalam hal itu. Aku tidak tahu berapa tahun ia berlatih dan berapa batang kemaluan yang telah ia hisap sebelumnya.
"Lita, aku nggak tahu gimana bilangnya — kamu bukan hebat lagi, kamu the best."
"Ricky, aku tahu kamu cuma basa-basi. Tadi itu sebenarnya pertama kali aku nyoba ngisep kontol orang, loh."
"Yang bener saja — masa aku cowok pertama yang kamu isep?"
"Oke, aku ceritain. Aku dulunya ada banyak cowok, tapi semua tidak cocok. Tiap kali aku sama cowok-cowokku yang dulu, kami sampai petting. Tapi waktu sampai heavy petting, kusuruh mereka ngisep aku — tidak ada yang mau. Jadi satu per satu aku putusin."
"Nah, apa hubungannya sama kamu mau ngisep aku?"
"Aku sayang sama kamu, Ricky. Alasan kedua aku putusin cowok-cowokku yang dulu — aku tidak bisa ngelupain kamu. Aku masih ingat waktu itu aku diganggu orang jahat di dekat Mall The King's, kamu ngebantu aku. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu bakalan gimana. Sejak waktu itu aku mulai suka sama kamu."
Hatiku mulai tersentuh. Kupeluk dia dan kucium bibirnya. Ciumanku mulai menjalar ke pipinya, kupingnya, dagunya, dan lehernya. Tak berapa lama ciumanku sampai ke buah dadanya. Sambil kucium dan kujilat putilnya yang mulai keras dan tegak, tanganku menelusuri perutnya, hutan kemaluannya, dan akhirnya jariku masuk ke dalam liang kemaluannya. Ia mulai mendesah kecil. Tangannya mengelus kepalaku dan rambutku.
Ciumanku mulai menurun ke bawah sampai ke liang kemaluannya. Klitorisnya yang telah berdiri tegak terlihat jelas. Kujilat sekali — efeknya sangat dahsyat. Jeritan-jeritan kenikmatan mulai keluar dari mulutnya. Sambil jariku keluar-masuk lubangnya yang sempit, kujilati klitorisnya dengan penuh semangat. Aroma kewanitaan Lita terasa harum di hidungku dan menambah semangatku. Jilatanku keras dan cepat, irama sodokan jariku kupercepat dan kuperlambat bergantian, membuat Lita menggeliat dan menjerit keenakan.
"Ricky... kontolmu... masukin dong, Ricky."
"Lita, kamu udah pernah belum?"
"Pasti belum lah."
"Lita, pertama kali bakal sakit, loh. Gini saja — aku tiduran di ranjang dan kamu mengangkang di atasku, terus kamu saja yang masukin agar kamu lebih enak. Kalau gitu semua kamu yang ngatur. Kalau sakit, diam — kalau udah biasa, masukin lagi. Suka-suka kamu deh," katanya.
Akhirnya ia mengangkang di atas batang kemaluanku, berat badannya ditopang dengan lututnya. Perlahan-lahan ia menurunkan badannya; tangannya memegang batang kemaluanku dan mengarahkannya ke dalam liang kemaluannya. Liang kemaluannya sempit sekali. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku ditelan lubangnya — kurasakan ada hambatan di depan batang kemaluanku; rupanya ia masih benar-benar perawan.
"Lita, waktu hymen kamu pecah kamu pasti ngerasain sakit. Jadi kamu kerasin saja agar sekali langsung masuk."
Ia menurut, menggunakan seluruh berat badannya dan gravitasi untuk menurunkan badannya. Pada saat yang sama kuangkat lututku untuk menopang. Jeritan kenikmatan dan rasa sakit menggema di dalam kamar yang kecil itu, dan seprei ranjang diremasnya kuat-kuat.
Kami beristirahat sebentar agar liang kemaluannya bisa beradaptasi. Setelah kurang lebih tiga menit, kutidurkan ia di ranjang, kedua kakinya di pundakku.
"Lita, aku mulai ya?"
"Iiya, Ricky — tapi jangan sakiti aku."
"Tenang. Kalau sakit bilang saja, aku pasti stop."
Pinggulku mulai kugerakkan maju-mundur dan jariku bermain dengan klitorisnya. Irama sodokanku dimulai pelan, kadang kupercepat, kadang kuperlambat. Erangan kenikmatan menggema di dalam kamar; Lita telah klimaks dua kali selama irama ini kumainkan. Akhirnya klimaksku pun mulai mendekat.
Iramanya kupercepat dan Lita mengikutinya, menarik tanganku agar batang kemaluanku masuk sedalam mungkin. Pas sebelum aku klimaks, kurasakan dinding lubang memek Lita mengeras dan mencengkeram batang kemaluanku dengan kuatnya — ia mendapatkan klimaksnya sekali lagi. Tidak lebih dari dua detik kemudian, aku menyemprotkan spermaku di dalam liang kemaluannya.
Badan kami penuh keringat. Aku berbaring di sebelahnya. Kami kembali berpakaian dan bergegas menuju pesawat — hanya ada sepuluh menit sebelum boarding. Mungkin hanya itu kenangan yang bisa aku ingat darinya.