Pertemuan Tak Terduga di Senja Jakarta
Pertemuan Tak Terduga di Senja Jakarta
Ini adalah cerita dewasa khayalan dari fans.
Hari masih terasa panas di kawasan Bundaran HI. Hari itu aku sedang ada tugas membenahi jaringan di sebuah mal. Penat rasanya seharian ini, apalagi mengerjakan sendirian membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala. Ketika menginjak senja, pekerjaanku selesai sehingga aku bisa bebas, dan sisa waktu kupakai untuk sekadar putar-putar mal di Indonesia Plaza yang notabene merupakan kawasan elit.
Hari mulai menggelap ketika aku berada di lantai dasar Wisma Nusantara. Saat itu mataku tertumbuk pada tubuh wanita yang selama ini kuidamkan—ya, tubuh seksi Tina Talisa, presenter TVOne itu, memang selalu menggoda kelakianku. Tapi apa daya, lagian jika sedang bertugas, Tina Talisa ketat sekali protokolnya. Jangankan berkenalan, mendekat saja sudah dilarang oleh kru TVOne. Tapi namanya nasib, pastilah tak akan bisa diduga orang.
Balutan khas pakaiannya yang ketat dengan rok pas di lutut menambah keanggunannya, belum lagi ukuran buah dadanya yang besar yang membuat mata lelaki jelalatan. Berbahagialah suaminya yang sudah bisa menikmati kesintalan dan kemolekan tubuh Tina Talisa—wajah Sunda yang putih mulus, dengan bibir yang sensual serta buah dada yang membusung padat.
Aku hanya bisa termangu menonton persiapan acara Selamat Malam Indonesia. Aku berada pada barisan penonton, tiba-tiba tak disangka sebuah palang penyangga lampu shooting ambruk, dan arahnya tepat di bawah Tina Talisa. Sebelah pojok berteriak, "Awas, Tina!" Aku yang sudah sigap langsung melompati dua bangku, lalu menginjak meja dan menubruk Tina Talisa. Kami berdua langsung jatuh terguling dan menjauh dari kejatuhan lampu. Tubuh Tina Talisa menimpa tubuhku, dan tanganku masih memeluknya. Lampu akhirnya jatuh di samping tubuh kami.
"Byaar… trang…." Percikan api membuat aku harus melindungi kepala Tina Talisa. Kutarik kepalanya agar rapat dengan tubuhku lalu menggulingkan ke kanan. Setelah dirasa cukup aman, aku melepaskan Tina Talisa. Mataku tertumbuk dengan mata Tina Talisa—teduh sekali matamu, Tina! Kulepaskan pelukan; Tina berdiri dibantu beberapa kru.
"Terima kasih, Mas!" katanya kepadaku dengan tersipu malu karena aku memeluknya.
Beberapa kru juga mengucapkan terima kasih padaku karena jika aku tidak bertindak cepat, Tina bisa cedera permanen dan itu bisa menjatuhkan pamor TVOne.
"Nyaris saja, Teh! Kalau nggak ada orang ini, kamu dah tewas."
Aku bergiang dalam hati: Jangan mati dulu sebelum tidur denganku, Tina.
Tina Talisa mengajak berkenalan denganku.
"Han… Burhan."
"Kerja di mana, Mas?"
"Freelance aja kok… urusan desain web."
"Oh… begitu. Ntar kalau dah siaran kita bicara yak… aku ingin mengucapkan terima kasih padamu atas pertolongan tadi."
"Tampaknya nggak bisa, Mbak Tina… aku dah capek… sebenernya mau pulang."
"Please! Jangan dulu."
"Baiklah… tapi aku lapar nih."
Tina menyuruh kru untuk membelikan aku makanan.
Setelah acara usai, aku ditemui Tina Talisa. Kami ngobrol berdua di sebuah kafe tak jauh dari tempat siaran tadi. Kudapatkan nomor hapenya. Obrolan seperti biasa saja. Namun setidaknya aku bisa mengorek lebih jauh—tampaknya dia merasa ada beban berat. Wajahnya memang ceria, namun menyimpan segudang beban, apalagi kalau bukan nafsu seksnya yang tidak tersalurkan dengan baik. Suaminya tipe lelaki sibuk sehingga pulang larut, akibatnya aktivitas seksualnya tidak tersalurkan.
Aku pulang malam itu. Kumasukkan mobilku ke garasi. Kuhempaskan tubuhku di sofa.
Belum sempat menyulut rokok, hapeku berdering!
Bujub… ternyata dari Tina Talisa.
"Sedang apa, Mas?"
"Ya lagi santai ria…"
"Belum tidur?"
"Kalonger mana bisa jam segini tidur…"
Tina tertawa merdu.
"Tinggal sama siapa di rumah?"
"Sendirian, Teh…"
"Lho, belum nikah tho?"
"Belum… belum laku…"
"Ganteng-ganteng gitu kok jomblo."
"Cariin donk… yang secantik Mbak Tina…" godaku nakal.
"Idih… Mbak Tina kan sudah ada yang punya."
"Gimana nih, Teh? Guwe kan cariin yang secantik Mbak Tina… bukan Mbak Tina… payah sih."
Tina tertawa keras.
"Ketawanya jangan keras-keras… bisa dibilang nggak nggenah sama orang serumah."
"Aku sendirian kok… suamiku lagi tugas luar kota."
"Kesepian yak, Mbak?" pancingku.
"Iya sih iya… cuma karena kesibukan jadi ya bisa terlupakan…"
"Perlu ditemani malam ini?"
Kembali Tina tertawa.
"Ah… kamu ini nakal dan jahil!" tuduhnya dengan tawa.
"Tapi nggak kurang ajar, kan?" elakku.
"Han…"
"Ya, Teh."
"Terima kasih atas pertolongan tadi… kalau nggak ada dirimu, aku mungkin sudah tewas!"
"Ya… lain kali hati-hati."
Pagi itu aku bangun terlambat, jam sepuluh siang. Padahal aku masih ada job dari seorang teman—temanku berhalangan mengurus kliennya. Namanya Alfan. Kudatangi temanku itu di kantornya.
"Kenapa, Kang?"
"Wah… ternyata orangku lagi mengerang di rumah sakit. Semalam jatuh dari motor."
"Aku ikut prihatin…"
"Kau bisa gantiin nggak? Ada tugas maintenance server di TVOne."
Bagai disambar geledek aku tertegun. "Kenapa? Kok kaget?"
"Tinggi banget ordermu…"
"Ya dah… kalau kamu mau gantiin, aku bikinkan surat tugas. Tugasnya nggak berat kok, cuma memastikan jaringan aman, mencari celah-celah dan menutupnya. Kabarnya banyak celah dimanfaatkan, lagian TVOne sekarang banyak diserang dengan email berantai karena berita suka miring."
"Oke deh… kalau gitu aku sanggup."
"Oke… aku berterima kasih padamu. Walau kau nggak mau gabung dengan kantorku tetapi kau memang kawan yang baik. Padahal bawahanku memintaku untuk merekrutmu… tapi aku harus menghargai prinsipmu karena nggak mau diperintah dengan struktur manajemen."
Aku memang tipe pekerja seperti itu; aku hanya mau diperintah berdasarkan pekerjaan, bukan diperintah suruh buat ini buat itu.
Meluncurlah aku sendirian ke TVOne. Kuparkir mobilku di parkiran TVOne. Pertama yang kudatangi adalah bagian resepsionis.
"Selamat siang, Pak," sapa seorang resepsionis.
"Selamat siang juga, Mbak."
"Bisa saya bantu, Pak?" tanyanya dengan mimik ramah yang kesannya dipaksakan karena kulihat dari layar monitor terlihat web Facebook.
Kuberikan surat tugasku. Sekilas wanita cantik itu kemudian memberikan suratnya kembali.
"Silakan, Bapak ke lantai dua. Temui Pak Hadi."
Aku bergegas masuk lebih ke dalam dan naik menggunakan lift. Ketika lift hendak kututup, seorang wanita membawa map ikut masuk. Aku terkejut karena itu Tina Talisa.
"Lho… ngapain kamu di sini?" tanyanya heran.
"Ya mau nemuin Mbak Tina sih… kangen deh." godaku.
"Halah… mulai lagi…" cubitnya pada tanganku.
"Ya cuma menggantikan tugas temanku yang berhalangan dalam maintenance server kantor ini."
"Wuih! Tipikal hacker nih kamu… ajarin deh…"
"Boleh… tapi harus ada fulusnya." ledekku.
Tina Talisa mengantarkan aku sampai ruang Pak Hadi. Kutemui Pak Hadi dan kuberikan surat tugasku.
"Buset… ternyata yang namanya Burhan ini tho ya. Sungguh kehormatan bagi saya menerima Anda, Pak. Saya suka artikel di web Anda… isinya memang gampang dicerna. Saya banyak belajar dari Anda kok."
Aku hanya tersenyum.
"Tina… ini salah satu hacker. Bisa cocok sebagai narasumber acaramu."
"Boleh, Pak… kalau dia mau." goda Tina Talisa menimpali kata Pak Hadi.
"Saya yang nggak mau, berapapun dibayar."
Langsung saja aku bekerja setelah ditunjukkan komputer server oleh orang IT. Tuning server yang perlu aku kerjakan karena internet di kantor ini melambat beberapa hari terakhir, belum lagi banyaknya worm dan trojan yang masuk di beberapa komputer klien.
Penat rasanya lebih dari tiga jam aku berjibaku. Orang IT yang melihat juga geleng-geleng ketika membantuku. Toh selesai juga. Belum selesai memberesi pekerjaanku, salah seorang IT berkomentar:
"Gila! Internetku lebih cepat tiga kali lipat. Ck ck ck ck… benar-benar makyus tuning Anda…"
"Kamu bisa kok… asal mau belajar."
"Belum mudeng aku dengan script kernel itu… lagian aku pakai Windows. Ini kan Linux."
Belum selesai aku di situ, Tina masuk ruangan.
"Dah selesai?"
"Dah." kataku singkat.
"Ikut aku yuk… kutraktir." ajak Tina Talisa. Tanpa aku mengucapkan ya atau tidak, tanganku sudah ditarik Tina untuk digandeng keluar ruangan IT.
Aku pulang ke rumah. Sesampai di rumah kumatikan hapeku agar aku tidak diganggu—capek bener dua hari ini. Padahal besok pagi kudu laporan ke kantor Alfan.
Seminggu kemudian aku kembali jalan-jalan ke Mal Taman Anggrek. Tak disangka, di sana aku melihat Tina Talisa keluar dari mobil. Entah kenapa tiba-tiba ada sepeda motor berkecepatan tinggi tanpa terkendali mengarah pada sisi kiri mobil, sehingga kalau tak dicegah pasti akan menabrak Tina Talisa. Aku berlari.
"Awas, Tina!" teriakku.
Aku langsung meloncati sedan itu dan kembali menubruk Tina. Motor langsung menabrak pot-pot dan tumbuhan di situ. Orang langsung berkerumun dan menolong.
"Han…" teriak Tina.
Aku hanya tersenyum.
"Kau selamatkan aku dua kali… kok bisa-bisanya kau begini…"
"Kebetulan…" ujarku singkat.
Aku berdiri dan kuangkat tubuh Tina Talisa.
"Nggak apa-apa, Teh?"
"Nggak apa-apa…" ujarnya sambil mengucapkan terima kasih.
"Ya udah… kalau gitu aku mau pergi. Ada urusan pekerjaan di sini."
"Han… terima kasih atas pertolonganmu. Ntar malam ke rumah ya… kutunggu."
"Ya kalau nggak hujan… aku malas kalau hujan keluar rumah."
Aku datang ke rumah Tina malam itu walau hujan gerimis. Kulihat rumahnya yang megah, bak istana—halamannya yang asri namun suasananya sepi. Aku berharap suaminya tidak di rumah.
Kupencet bel di pintu. Tak lama kemudian Tina keluar.
"Ayo, Han… masuk… dingin ya…" ujarnya sambil mengelus pipiku yang dingin.
"Baik…"
"Aku buatkan kopi ya…"
"Jangan… teh tubruk saja…"
Aku diminta duduk di sofa. Tak lama kemudian Tina kembali ke ruang depan membawa teh manis.
Aku tersipu malu karena malam itu Tina sungguh cantik sekali—kemolekan tubuhnya, kesintalan badannya, dan besarnya buah dada yang menggelantung padat.
"Han… terima kasih ya… kau telah menyelamatkan hidupku…"
"Ya… sama-sama."
Kami mengobrol ke sana kemari. Tak disangka, Tina memberikan pilihan padaku:
"Han… kau telah menyelamatkan hidupku. Mintalah apapun, akan kuberi."
"Aku hanya menolong, Mbak… nggak mengharap apa-apa kok. Jadi sodara saja dah cukup."
"Ayolah, Han… please… minta mobil, nanti kubelikan… please…"
"Aku dah punya mobil… ngurus mobil satu saja dah ruwet."
Tina seakan memaksa dan duduknya pun berpindah di sebelahku.
"Please… katakan deh kalau kau punya kemauan. Mintalah apapun, akan kuberikan."
"Sekalipun aku meminta, pastilah juga tidak dikabulkan."
"Ah, masak…" kata Tina jengkel.
"Aku lama mengagumimu, Mbak… aku suka cara Mbak bicara, lancar banget. Aku iri deh… kalau boleh sih…" ujarku ragu-ragu.
"Apa?" tanyanya pelan dengan nada tak paham.
"Kalau aku minta Mbak Tina, boleh nggak?" kataku kurang ajar.
Tina hanya menatapku kosong. Kupegang tangannya dan kuremas; remasanku pun dibalas dengan remasan Tina.
Kupegang pipinya yang cantik, kudekatkan kepalaku.
Akhirnya kucium pipinya, lalu merambat pelan ke bibirnya. Pagutanku dibalas oleh Tina. Kami saling berpagutan penuh cinta. Ketika bibir kami saling melumat, kupeluk Tina, kulingkarkan tanganku memberikan elusan pada punggungnya. Tangan kananku masuk ke dalam bajunya lewat bawah, kemudian naik mencari buah dada sebelah kanannya yang masih tertutup BH. Kuremas buah dadanya dan Tina melenguh. Lumatanku semakin dalam dan kucari lidahnya. Pagutan demi pagutan, wajah kami berdua semakin basah oleh air liur, menambah sensasi hubungan cinta kami.
"Han… kau nakal…" ujarnya genit, mencekal tanganku yang semakin jauh masuk ke dalam cup BH-nya dan meremas gemas buah dadanya serta memelintir putingnya.
"Han… kau yakin?"
"Aku sudah lama merindukanmu, Mbak…"
Tanpa ampun Tina langsung menyerbu bibirku dengan ganas. Aku tak kalah, kembali meladeni lumatan Tina Talisa. Tangan Tina memegang kepalaku agar bisa mengontrol pagutannya. Kami saling melumat dan berguling di sofa itu. Kutindih Tina di sofa itu. Pertempuran lewat adu ciuman dan lumatan semakin membara. Tubuh seksi Tina Talisa dalam jangkauanku untuk kunikmati luar dalam. Kelembutan kulitnya yang mulus menambah nafsuku untuk menyetubuhi presenter ini. Kuelus pahanya yang mulus yang hanya dibalut rok sebatas lutut.
"Han… puasi aku malam ini. Kau bebas berbuat sesukamu. Suamiku jarang memberikan kepuasan." Kata Tina di sela-sela napasnya yang turun naik. Buah dadanya kian membusung padat.
Tina berdiri duluan dari sofa kemudian menarik tanganku.
"Ayo kita ke kamarku agar lebih indah…" ajaknya penuh nafsu.
Sambil menarik tanganku, tangan satunya meremas penisku yang sudah tegang.
"Punyamu kelihatan cukup besar… hm…"
Aku pun tak tinggal diam, meremas buah dadanya yang masih tertutup baju dan BH.
Sesampai di kamar, ditutupnya pintu kamarnya. Satu per satu Tina membuka pakaiannya; roknya pun dilepas juga. Sedang aku terpana melihat kemolekan dan kesintalan tubuh Tina Talisa yang tanpa memakai rok dan baju. Astaga naga—begitu sangat sempurna wanita ini.
Aku membuka bajuku tanpa berkedip memandang tubuh Tina Talisa yang putih mulus tanpa cacat. Wajahnya yang manis, cantik, dan genit membuatku bernafsu untuk menggumulinya. Kuperolotkan celanaku, tersisa celana dalam—sedang Tina Talisa hendak mencopot BH-nya. Tak lama dicopotnya BH-nya dan dilemparkan ke arahku sambil tersenyum.
"Ya… Tuhan…" ujarku terkagum dengan buah dada Tina Talisa yang besar dan padat tanpa cela.
Tina maju ke depanku. Kutarik tangannya dan menindihku.
Pergumulan yang dahsyat itu—aku meremas buah dada Tina Talisa penuh nafsu, kuremas-remas. Mulutku mengulum puting susunya yang semakin tegang berdiri, pertanda birahinya mencapai puncak tertinggi.
"Han… pelan-pelan donk… kau nafsu banget sih."
"Bagaimana nggak bernafsu… aku kadang suka masturbasi membayangkan dirimu, Mbak."
"Sialan kok, Han…" ujarnya dengan genit sambil meremas penisku dan mengeluarkannya dari celana dalamnya.
"Besar sekali punyamu, Han…" ujarnya sambil mengocok penisku.
Kuelus-elus pahanya yang mulus bak pualam, sedang Tina mengocok penisku.
"Mbak… jangan dikocok deh… isap donk…"
Tina langsung saja menjilati penisku dengan nafsu, kemudian pelan-pelan memasukkan penisku ke dalam mulutnya.
"Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di… aah mm… ngmm…" Belum lagi kata-kata isengnya keluar, aku sudah menghunjamkan penisku ke arah mulutnya. Crroop—langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat batang penis itu tegang dan keras.
"Aduuh, enaak, Tina… oohh, enaknya, oohh…" Mulutku mulai mengeluarkan desisan kenikmatan panjang sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang ke sana kemari, sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya, "mm… mm…" hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.
"Crop…" Ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya dan berdiri tegak di hadapanku. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulunya itu kuserubuti dan kusedot cairan yang sepertinya sudah membanjir di bibir vaginanya.
Gantian kini giliranku. Kutarik celana dalamnya. Alamak… jembutnya tertata rapi dan indah; labia mayoranya terlihat indah. Celana dalam yang sudah basah itu kutarik dan Tina membantu meloloskannya dari kakinya.
"Han… puasi aku malam ini… oh… hamili aku… suamiku sepertinya tak bisa memberikan keturunan… oh…"
"Kau rela, Tina?" tanyaku sambil menjilat vaginanya.
"Oh…. suamiku tak pernah melakukan itu, Han… kolot dia orangnya."
"Jangan kau sebut suamimu, Tina. Aku suamimu malam ini. Akan kutanam benihku pada dirimu, Tina."
"Lakukan, Han… lakukan…" ujarnya dengan penuh harap dan senyuman penuh arti.
Kujilati vagina itu. Tina mengerang.
"Oh… Han… ah… ah… uh… enak…" erangnya penuh rintihan, tangannya meremas seprei ranjang menahan sensasi jilatanku pada vaginanya yang semakin becek itu.
Kujilati dan kukuak lubang surganya yang rimbun rambutnya. Tak lebih dari lima menit, pertanda Tina akan orgasme.
"Oh… Han… aku mau sampai… terus… terus…"
Kulakukan jilatan terus. Klentitnya yang sebiji kacang itu kujilati dan sesekali kusentil dengan lidahku. Tina menjerit-jerit.
"Jangan keras-keras, Tina."
"Biar… nggak ada yang dengar kok. Terus, Han…"
Tak lama kemudian Tina melenguh dengan keras. Dari lubang itu keluar cairan menyemprot dengan dahsyat, membasahi ranjang serta mengenai mukaku. Tubuhnya berkelonjotan menahan orgasme yang tak tertahankan. Tina terengah-engah menahan napasnya.
"Terima kasih, Han… beri aku istirahat sebentar ya."
Kubiarkan dia untuk memulihkan stamina, namun belum lima menit aku merasa gatal—ingin kusodoki wanita ini dengan penisku dan merasakan pejuku.
Kuremas buah dadanya dan mengulum putingnya untuk membangkitkan gairahnya. Pelan-pelan Tina bangkit kembali nafsunya—bahkan kian ganas dibanding sebelum orgasme pertama tadi.
"Han… masukin ya. Keluarkan di dalam… hamili aku… please."
Kukocok penisku. Buset—lubang segitu, mana masuk. Kucoba mengarahkan penisku; terasa sangat sesak. Hanya masuk mili demi mili.
"Han… punyamu terlalu besar… nggak bisa masuk kalau begitu…" ujarnya penuh nafsu dan genit.
"Dhuh… betapa genitnya kau, Tina. Aku sungguh berbahagia bisa menikmati tubuhmu, menikmati kesintalan tubuhmu."
"Aku di atas saja, Han… kau duduk…" ujarnya sambil berpegang pada tanganku.
Tina bangun dari posisi tidur kemudian merangkul pundakku dan mengarahkan lubangnya pas di penisku.
"Pelan-pelan ya, Han…"
Tina berjongkok kemudian memegang penisku.
"Penismu benar-benar keras, Han."
"Vaginamu juga sempit… aku suka."
Tina tertawa ketika aku bicara jorok. "Kamu jorok juga kalau lagi begini."
"Kau juga jorok, Tina."
"Masak?"
"Coba bilang: aku suka penismu."
"Ah… jahil juga kau. Tapi aku memang suka sama kontolmu, Han."
Aku tertawa keras tapi Tina membekap mulutku dengan ciuman dahsyat di bibirku dan aku membalasnya tak kalah bernafsu. Kuremas buah dadanya yang menggelantung padat dan keras.
Pelan-pelan Tina menekan ke bawah dan memasukkan penisku ke liang surgawinya. Mili demi mili penisku masuk. Dengan menahan perih dan meringis, Tina sesekali melumat bibirku.
"Dorong, Han… dorong, tapi pelan…"
Aku menurutinya.
"Tak kusangka… wanita seseksi ini dilupakan oleh…" Tina menutup mulutku dengan bibirnya.
"Jangan kau sebut dia lagi. Aku malam ini istrimu, Han."
Dengan sekali sentakan, amblaslah penisku ke dalam vagina Tina Talisa. Pekikan keras bersamaan kami keluarkan.
"Auuuuuuuhhhhhhhh…" pekikku keras. Remasan dinding vaginanya pada penisku serasa mengurut-urut dan terasa sangat panas.
Aku kembali melumat bibir Tina, kemudian tanganku meremas buah dadanya yang menggelantung di depanku.
"Kita genjot bareng ya, Han."
Kami berpacu dengan posisi seperti itu. Memang ini posisi keinginanku sejak awal ingin menyetubuhi Tina Talisa.
Kami lalu saling memompa. Tanganku aktif meremas buah dadanya yang membusung padat. Tina bergoyang di pangkuanku; kakinya kemudian menyilang di pinggangku. Jepitannya pada vagina cukup kuat sekali—penisku serasa diremas-remas dengan keras.
"Tina… vagina keras banget meremas penisku… aku bisa nggak tahan nih."
"Awas kau, Han, kalau keluar duluan…" ujarnya sambil mencari bibirku.
Kami saling memacu penuh berahi dengan bercucuran keringat. Menit demi menit kami saling memompa. Lebih dari lima menit kami saling memadu cinta.
Tina seakan mempercepat goyokan dan aku meladeninya.
"Han… aku kayaknya mau sampai…" ujarnya dengan terengah-engah.
"Genjot terus, Tina, sayang."
"Ya, sayang."
Tina mempercepat genjotannya. Tak lama kemudian dia melenguh sangat keras. Tubuhnya melengkung dan buah dadanya sungguh membusung sangat padat. Kuremas buah dadanya untuk memberikan sensasi orgasme agar lebih optimal. Penisku juga aktif menyodok keras.
"Han… akkkkkkkkuuuuuu… sammmmpaaaaaai… auuuuuuuuuuuu."
Semprotan air maninya benar-benar dahsyat membasahi penisku. Jepitannya yang semakin meremukkan penisku—siraman yang menyejukkan. Namun aku masih bisa mengontrol orgasmeku agar tidak keluar duluan.
Tina lemas dalam pelukanku ketika mencapai puncaknya. Tubuhnya lunglai, napas kami terengah-engah.
Kubiarkan Tina Talisa menikmati orgasmenya. Lalu kuangkat tubuhnya dan kutidurkan tanpa melepaskan penisku pada lubang kenikmatannya yang menjepit keras penisku. Penisku serasa dijepit sambil diremas-remas. Aneh memang—wanita secantik dan semontok Tina Talisa, suaminya malah meninggalkannya hanya demi sebuah pekerjaan. Dinikmati setiap hari pastilah lebih nikmat.
Kutindih wanita itu. Kini Tina di bawah tubuhku. Kedua kakinya menjepit pinggangku walau tidak keras karena masih terpengaruh orgasmenya.
"Han… enak banget. Ntar kita lanjutin ya. Keluarkan manimu dalam vaginaku."
"Kau jorok banget, Tina." timpalku sambil tersenyum.
Tina tertawa.
"Han… andai bisa tiap hari begini, enak ya."
"Aku mau kok tiap hari menyetubuhinya."
"Andai bisa, Han." ujarnya penuh harap.
"Akan kita atur, Teh. Tapi kau janji memegang rahasia kita, Tina."
Aku mulai bergerak menarik pantatku dan mendorongnya pelan. Tina merintih-rintih.
"Oh… enaknya penismu, Han. Terus…"
Kusodok lubangnya dengan penisku dengan kecepatan sedikit lebih cepat. Mulutnya mencari bibirku dan kulumat dengan penuh nafsu. Tangan Tina memelukku dan mengelus-elus punggungku.
Tanganku tak tinggal diam, meremas buah dadanya sambil aku terus menyodok dengan tusukan bervariasi, membuat Tina semakin menggelinjang bak cacing kepanasan. Tubuh kami kembali bercucuran penuh keringat. Pergumulan kami berpacu dengan waktu dan hujan yang turun dengan deras. Erangan kami bersahutan ketika sodokanku mencapai terdalam lubang kenikmatan Tina Talisa. Jepitan kakinya dipererat, menambah sesaknya penisku dalam lubangnya.
"Tina… sayang."
"Ya… sayang."
"Goyanganmu enak sekali, Tina."
Tina malah menarik kepalaku dan kami kembali saling melumat adu bibir. Bokongku tetap bekerja menyodok-nyodok.
"Han… aku nggak tahan nih. Kau memang hebat, Han. Terus, Han, terus."
Aku memacu tubuhku menyetubuhi presenter ini. Kupercepat sodokanku dan Tina semakin menjerit tak karuan.
"Han… aku… aku… ah… oh, enaknya…" ucapnya meracau.
Aku merasa ada yang mendesak dari atas penisku—tampaknya aku akan keluar juga. Kupercepat; buah dada Tina Talisa bergerak turun naik mengikuti irama sodokanku.
"Oh… Tina… presenterku… aku juga mau keluar."
"Kita keluar sama-sama, sayang."
Kami mempercepatkan reaksi kami. Tak lebih dari lima menit, jebolah tanggul Tina, memuncratkan air kewanitaannya, disusul semprotan maniku.
"Oohhhhhhhh… Tinaku… aku keluar."
"Uhhhhhhhh… aku jugaaa… Han…" ujarnya melemas.
Cratttt… cratttttttt… cratt…. Beberapa kali aku menembakkan pejuku ke rahim Tina Talisa.
Kami lemas mencapai orgasme. Tubuh kami masih saling memeluk dan aku menindihnya.
Kami terdiam cukup lama setelah bercinta sejak mulai pukul delapan malam. Jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam; jadi masih banyak waktu yang akan kami habiskan malam itu untuk memadu cinta dan birahi.
Tina mendorong tubuhku dan bangkit dari ranjang, kemudian berdiri dan keluar dari kamar dengan memakai selimut.
Aku hanya diam termangu—tak menyangka bisa menyetubuhi wanita secantik Tina Talisa. Ternyata wanita itu hyperseks juga, hanya saja salah mendapatkan suami. Ketika ditinggal pergi, pastilah dirinya merasa kesepian.
Aku bangkit dari ranjang dan mencari Tina. Ternyata Tina ke dapur dan hendak membuat minuman untuk kami berdua. Aku yang berada di belakang langsung saja memeluknya, dan tanganku menuju ke dadanya dan meremasnya.
"Kau tak tahan juga akan buah dadaku ya, Han."
"Aku suka buah dadamu, Tina."
Tanganku meremas dan memilin kedua putingnya serta memberikan ciuman lewat belakang kepalanya. Kutarik selimutnya agar lepas. Tubuh polos putih mulus itu dan penisku yang terjepit di belahan selangkangannya menambah sensasiku.
Aku ingin menyetubuhi di meja dapur.
"Kita ke kamar, sayang. Kita puaskan sampai pagi sampai kita kelelahan."
"Aku ingin menyetubuhi dirimu di sini, sayang." bujukku penuh nafsu.
Kudorong Tina agar membungkuk, kuangkat satu kakinya ke meja.
"Han… kau mau aku apakan? Ah… kau memang banyak variasi."
Aku berjongkok kemudian langsung menjilati vagina Tina Talisa. Aku bermain di situ sampai benar-benar basah lubang kenikmatan Tina Talisa dan agar merekah biar aku bisa menyodokkan penisku dalam-dalam. Kuremas bokongnya yang semlohei itu—sungguh sintal sekali wanita ini. Sayang kalau hanya dilewatkan sekali.
Aku lalu berdiri dan membasahi penisku dengan ludahku, lalu kutusukkan dari belakang.
Blessss…
"Auh… pelan-pelan, sayang." rintih Tina menerima sodokanku.
"Enak, kan?"
Lalu aku menyodokkan bokongku. Setiap sodokan kusertai dengan remasan pada buah dadanya yang bergoyang seirama dengan goyangan tubuh kami. Menit demi menit sodokanku kian cepat. Tanganku bergerilya ke mana-mana, sedang Tina merintih-rintih.
"Ampun, Han… ampun, sayang. Aku nggak kuat."
"Tahan, Tina. Aku juga mau keluar bareng lagi."
Kami memacu dengan penuh nafsu. Tubuh mengkilap Tina Talisa berpadu dengan temaram lampu dapur membuat semakin indah persetubuhan kami.
"Oh… nikmatnya tubuh cewek ini, walau sudah nggak perawan." batinku berteriak.
Kusodok dari belakang tubuh Tina, dan suara derik meja bergeser menambah enaknya menyetubuhinya.
Lama-lama aku mempercepat sodokanku. Tusukan dari belakang itu membuat aku cepat keluar. Terbukti, aku semakin nggak tahan menyemprotkan maniku ke lubangnya.
"Ayo, Han. Aku nggak tahan."
Kami saling memacu dengan penuh birahi. Remasan, pagutan, dan elusan semakin membuat malam itu semakin indah.
Akhirnya kami keluar bersama-sama. Tubuh Tina lemas terkulai di meja, sedang penisku memuncratkan isinya ke dalam rahimnya.
"Han… terima kasih ya."
"Sama-sama, sayang." ujarku memberi kecupan pada dahinya.
Setelah merasa kuat, kupondong wanita itu dalam tanganku.
"Kita lanjutkan di kamar lagi, sayang." kataku sambil melumat bibirnya.
"Baiklah, sayang. Kayaknya aku dah nggak kuat lagi satu ronde, sayang. Walau kau keluar, tapi masih sanggup untuk bermain."
Kami malam itu saling memacu birahi. Tubuh kami lemas setiap kali mencapai orgasme. Kami bercinta sampai jam tiga dinihari, ketika aku sudah tidak kuat lagi, sedang Tina lemas tak berdaya menindih tubuhku. Berbagai gaya kami lakukan malam itu.
Aku bangun ketika matahari menerpa kepalaku. Kubuka mataku dan kulihat Tina sudah rapi.
"Mau ke mana, Teh?"
"Aku ke kantor dulu. Kamu mandi sana ya. Aku tunggu. Ntar siang kita lanjutin ya."
"Teh… kau cantik sekali."
"Kau ganteng juga, sayang."
Tina memberikanku kecupan manis di bibirku, namun tangannya meremas penisku yang tertutup selimut.
Tina berdiri, namun tanganku nakal meremas bokongnya. Tina malah tersenyum.
"Semua dah aku siapkan ya. Makan tinggal ambil. Yang penting cepat mandi dan makan, dan kita pergi."