18px

Pertemuan Tak Terduga di Toko Buku

Pertemuan Tak Terduga di Toko Buku

Pada suatu siang sekitar jam 12-an, aku berada di sebuah toko buku di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus yang katanya terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos T-shirt putih dan celana katun abu-abu.

Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja — tinggi 170 cm, berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar: agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal, dan jidatku cukup pas. Jadi tidak ada yang istimewa dariku.

Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai meskipun saat itu adalah jam makan siang — hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut, ada tangan lain yang juga hendak mengambilnya. Kami sempat saling merebut sesaat dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah itu jatuh ke lantai.

"Maaf," kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut — yang ternyata adalah seorang wanita berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam bahkan agak berani, tingginya sama denganku memakai sepatu hak tinggi, dan dadanya cukup membusung. "Busyet, molek juga nih ibu-ibu," pikirku.

"Nggak pa-pa kok. Nyari majalah X juga yah? Saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapat," katanya sambil tersenyum manis.

"Yah, edisi ini katanya terbatas, Mbak."

"Kamu suka juga fotografi yah?"

"Nggak kok, cuma buat koleksi saja."

Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya, "Mah, Mamah! Ira sudah dapat komiknya, beli dua ya Mah," potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.

"Sudah dapat, Ra? Oh ya, maaf ya Dik, Mbak duluan," katanya sambil menggandeng anaknya.

Ya sudah, tidak dapat majalah ya tidak apa-apa, aku lihat-lihat buku terbitan baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.

"Hi, asyik amat baca bukunya." Ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanya dia balik lagi tanpa membawa anaknya.

"Ada yang kelupaan, Mbak?"

"Oh, tidak."

"Putrinya mana, Mbak?"

"Les piano di daerah Tebet."

"Nggak dianter?"

"Oh, supir yang nganter."

Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi. Cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku. Aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya — tidak keras dan kasar, tapi sehalus mungkin. Kemudian kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah, dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

"Ke mana?" tanyaku.

"Terserah kamu saja," balasnya mesra.

"Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol?" kataku memberanikan diri. Terus terang saja — maksudku sih motel.

"Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol," katanya sambil tersenyum.

Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri. Lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas, kutaruh tanganku di atas pahanya dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam — aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk atau nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standar. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Maya yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan kemaluanku ke pantat Mbak Maya — Mbak Maya pun memberi respons dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku.

Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kupeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung, dan kucium tengkuknya.

"Mmhh, kamu nakal sekali deh dari tadi. Hhm, aku sudah tidak tahan nih." Dengan cepat dia membuka bajunya, dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari ritsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batang kemaluanku.

Dia segera membalikkan tubuhnya. Payudaranya yang berada di balik BH-nya telah membusung. "Buka dong bajumu," pintanya dengan penuh kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak ketika melihat batang kemaluanku yang sudah keluar dari celana dalamku — kepala batangku cuma setengah sentimeter dari pusar.

Aku sih tidak mau ambil pusing. Segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat. Segera terjadi pertempuran lidah yang cukup dahsyat sampai napasku ngos-ngosan dibuatnya.

Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas — ini adalah cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya. Dan bleggh, payudaranya sangat besar dan bulat, dengan puting yang kecil berwarna coklat dan terlihat urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan celana dalamnya. Ketika celana dalamnya sudah mendekati lutut, segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkannya lebih jauh, dan bibirku terus turun melalui lehernya yang cukup jenjang. Napas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas pantatku sambil kadang-kadang memencetnya.

Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali — ampun deh. Kurasa BH-nya diimpor secara khusus. Kudorong tubuhnya secara perlahan hingga kami akhirnya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan menggunakan tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan. Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah. Ketika ciumanku mencapai bagian iga, Mbak Maya menggeliat-geliat — aku tidak tahu apakah ini karena efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan semakin ke bawah, terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi. Wangi khas wanita yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya beberapa kali.

Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika aku memainkan klitorisnya. Sekarang terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang maju-mundur dengan cepat sehingga sasaran jilatanku tidak begitu tepat — segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat. Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya luar biasa kuatnya. Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar.

Kuhisap-hisap klitorisnya. Aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku — segera kujepit di antara gigi atasku dan bibir bawahku, lalu kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi — aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya. Terasa liang kewanitaannya sangat basah oleh cairan kenikmatannya.

Dengan segera kupersiapkan kemaluanku, kuarahkan ke liang senggamanya, dan "Slebb..." tidak masuk — hanya ujungnya saja yang menempel dan Mbak Maya merintih kesakitan.

"Pelan-pelan, Ndi," pintanya lemah.

"Ya deh, Mbak." Dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet, sudah punya anak tapi masih seperti perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan tapi pasti kudorong lagi. "Aarrghh, pelan, Ndi..." Busyet, padahal baru kepalanya saja sudah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. "Arrhhghh..." Mbak Maya menjerit. Terlihat air matanya meleleh di sisi matanya.

"Kenapa, Mbak? Mau udahan dulu?" bisikku padda Mbak Maya setelah melihatnya kesakitan.

"Jangan, Ndi. Terus aja," balasnya manja.

Kemudian kumainkan maju-mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah, sakit juga — habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan saja: bulu kemaluan kan kasar, lalu menempel di batang kemaluanku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.

Dengan usaha tiga hitungan tersebut, akhirnya batang kemaluanku mentok juga di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terang saja, usaha ini sangat menguras tenaga — hal ini bisa dilihat dari keringatku yang mengalir sangat deras.

Setelah Mbak Maya tenang, segera kemaluanku kugerakkan maju-mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Dia mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bersama genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit akibat kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang. Bagiku ini sangat nikmat.

Baru sekitar 12 menitan menggenjot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan "Auuwww!" jeritannya sangat keras. Beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.

"Istirahat dulu, Mbak?" tanyaku.

"Ya, Ndi. Aku ingin istirahat. Abis capek banget sih... Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas, Ndi," bisiknya dengan nada manja.

"Oke deh, Mbak. Kita lanjutkan nanti aja," balasku tak kalah mesranya.

"Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain?" pancing Mbak Maya.

"Ah, nggak kok, Mbak. Baru kali ini," jawabku berbohong.

"Tapi dari caramu tadi terlihat profesional, Ndi. Kamu hebat. Sungguh perkasa," puji Mbak Maya.

"Mbak juga hebat. Lubang surga Mbak sempit banget, padahal kan Mbak udah punya anak," balasku balik memuji.

"Ah, kamu bisa aja. Kalau itu sih rahasia dapur," balasnya manja.

Kami pun tertawa berdua sambil berpelukan.

Tak terasa karena lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan. Kami kaget saat terbangun — rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar — kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembirakan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang berarti, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi. Mungkin karena sudah ditembus sebelumnya sehingga kini lancarlah kemaluanku memasuki liang sorganya.

Tapi permainan ini tidak berlangsung lama karena Mbak Maya harus cepat-cepat pulang menemui anaknya yang sudah pulang dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling memberikan alamat dan nomor telepon sehingga kami bisa bercinta lagi di lain saat dengan tenang dan damai.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya