18px

Pesta Esek-Esek

Pesta Esek-Esek

Di dekat rumah saya, ada cewek tetangga namanya Sita. Dia anak kuliahan di perguruan tinggi "G". Sudah lama saya memperhatikannya, tapi baru berhasil kenal waktu mobilnya menyerempet mobil saya. Rumah kami memang satu kompleks, paling cuma dipisah lima rumah. Dia orangnya manis; saya suka sekali melihat wajahnya kalau kebetulan berpapasan di jalan.

Semenjak peristiwa itu, saya jadi lumayan akrab sama dia. Kadang dia nebeng kalau mau kuliah karena malas bawa mobil sendiri, dan kebetulan kampus kami tidak berjauhan. Di mobil, dia sering cerita soal keluarga atau teman-temannya. Waktu itu di radio ada topik tentang kebiasaan seks bebas di kalangan anak muda. Akhirnya kami malah saling bercerita soal kehidupan asmara masing-masing. Dia mengaku pernah pacaran dan sudah putus setahun lalu, kecewa berat sama mantan. Saya sempat heran, kenapa orang semanis dia tidak punya pacar. Ternyata dia mengaku trauma sama cowok. Setelah saya desak-desak, dia akhirnya mengaku kalau sekarang dia lesbi. Saya kaget juga, lalu menasihatinya bahwa biseks lebih baik daripada lesbi seutuhnya. Dia bilang teman lesbinya itu teman kuliahnya sendiri, namanya Rina. Akhirnya dia berjanji akan memperkenalkan Rina pada saya sepulang kuliah.

Setelah kuliah selesai sekitar jam dua, saya datang ke rumah Sita. Dia mempersilakan saya masuk. Ternyata rumahnya kosong, hanya ada pembantunya. Sita memperkenalkan saya dengan Rina. Ternyata Rina juga manis, walaupun masih kalah manis dibanding Sita, bodinya luar biasa. Kami bertiga ngobrol ngalor-ngidul sampai tiba-tiba saya merasa pusing dan kantuk yang sangat berat. Tidak sanggup menahan, saya akhirnya ketiduran saat diajak ngobrol. Sita pun menyuruh saya tidur di kamarnya.

Saya tidak tahu berapa lama terlelap. Yang saya tahu, setelah siuman ada sesuatu yang terasa aneh. Waktu membuka mata, saya kaget mendapati diri sudah telanjang. Sita dan Rina pun sudah topless, hanya mengenakan celana pendek. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata penis saya sedang dijilati oleh Sita, sementara Rina menjilati dada Sita.

Tentu saja saya tersentak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kenikmatan yang dihadirkan jilatan Sita terlalu luar biasa untuk dilawan. Mereka berdua sempat kaget melihat saya bangun, tapi tetap cuek. Malah Sita langsung memasukkan penis saya ke mulutnya dan mengisapnya, sementara Rina mencium saya dari mulut ke mulut. Saya pun membalas ciuman Rina. Tangan saya mulai menjelajahi tubuhnya—dada sintal dengan puting kecoklatan. Puas berciuman, saya mengisap buah dadanya bergantian, tangan saya merambat ke selangkangannya. Jari saya bermain di bibir vaginanya yang tersembunyi di balik celana dalam. Dia sendiri yang membuka celananya, memperlihatkan vagina yang terawat rapi dengan bulu-bulu halus tertata indah. Saya mainkan klitorisnya sampai Rina berkelojotan ke kanan-kiri. Kemudian dia menyodorkan vaginanya untuk saya isap. Saya permainkan klitorisnya dengan lidah, bahkan sampai menyedotnya dengan mulut. Rina semakin bergoyang dan mendesah, sementara Sita masih tekun mengisap penis saya dengan memainkan ludahnya. Saya merasa melayang-layang saat Sita menyedot penis saya. Setelah lama mengisap, terlihat nafsu Sita sudah memuncak. Akhirnya dia duduk di selangkangan saya, menghadap ke saya, dan memasukkan penis saya ke dalam vaginanya, lalu mulai bergerak naik-turun.

Wajahnya yang biasanya manis dan lembut tampak garang saat bergoyang. Tangannya meremas-remas dada saya. Semula gerakannya agak kaku karena vaginanya masih kering, tapi lama-kelamaan semakin lancar, bahkan dia mulai memelintir penis saya dengan vaginanya sambil bergoyang. Saya hanya bisa mendesah karena lidah saya sendiri masih sibuk bermain di vagina Rina. Setelah kurang lebih sepuluh menit, Rina tampak hendak orgasme. Saya percepat gerakan lidah dan mulai membantu dengan jari. Rina semakin bergoyang sambil mendesah keras. Dari vaginanya mengalir cairan yang sedikit amis, tapi entah kenapa aromanya justru semakin membakar semangat saya. Tidak lama kemudian Rina mencapai orgasme pertamanya—cairan mengalir deras diakhiri dengan luapan orgasme. Setelah itu dia turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sementara itu Sita semakin giat melancarkan gerakan naik-turunnya. Bunyi gesekan vaginanya dengan penis saya cukup keras, disertai bunyi benturan selangkangan dengan paha saya. Setelah sekitar lima belas menit, terlihat dia hampir orgasme. Saya pun mengambil inisiatif mengganti posisi: saya bangun dan mengajak Sita bercinta dengan posisi doggy style. Sita tampak senang melihat saya yang mulai mengambil alih. Saya mempercepat gerakan maju-mundur, ingin orgasme bersama. Setelah empat menit, akhirnya saya orgasme bersamaan dengan Sita—namun saya keluarkan di luar karena tidak mau ada risiko. Sita terlihat kelelahan dan terkulai di tempat tidur. Saya pun mengecupnya.

Tidak lama kemudian Rina keluar dari kamar mandi dan meminta giliran. Akhirnya saya bercinta dengan Rina pula, tidak ingin dia kecewa. Sore hingga malam itu saya habiskan di rumah Sita, bercinta dengan mereka berdua beberapa ronde lagi, sampai kelelahan dan pulang setelah pukul delapan malam.

Setelah kejadian itu, Sita mengaku bahwa dia sudah lama menyukai saya dan membayangkan untuk bercinta bersama Rina. Sejak saat itu, saya sering datang ke rumah Sita—berdua dengan Sita, atau bertiga bersama Rina. Hubungan ini sudah berlangsung cukup lama dan saya menikmatinya. Kadang kami berdua atau bertiga menyewa tempat di luar kota untuk bersenang-senang bersama.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya