Pesta Malam: Striptease untuk Dino
Pesta Malam: Striptease untuk Dino
Aku dan Della menempati kamar di lantai dua, di sebelah kamar Dino dan Vivi. Ketiga wanita lain menempati satu kamar di lantai yang sama, sementara para cowok lainnya menempati dua kamar di bawah. Kamarku tidak terlalu besar — ada penghangat ruangan dan kamar mandi dalam lengkap dengan air panas.
Setelah menurunkan barang dan beristirahat sebentar, aku keluar dengan pakaian santai, begitu pula yang lainnya. Makanan sudah tersedia dan kami makan bersama. Pukul sebelas malam, Vivi mengajak kami semua menuju ruang musik — sebuah ruangan berukuran 8x8 meter, kedap suara, dilengkapi dengan berbagai perangkat sound system, sebuah layar putih di atasnya, proyektor tergantung di tengah langit-langit, dan sebuah bar di pojok yang penuh dengan berbagai botol minuman keras dan wine.
Kami mulai menyetel lagu-lagu karaoke yang disorotkan ke layar putih itu, minuman keras pun masuk ke dalam perut kami di tengah canda tawa bersama. Tampak lima pria yang tak berpasangan berebut menarik perhatian para wanita — tak terkecuali Della, yang pun ikut digoda. Della tak kalah panas; godaan itu disambutnya dengan balik menggoda, tubuhnya diliuk-liukkan di hadapan cowok demi cowok yang digilirnya, sesekali mengelus penis mereka.
Mendekati pukul dua belas, aku berbisik pada Della yang sudah tipsy.
"Dell, striptease buat Dino ya?" ujarku.
"Gua ganti baju dulu ya," bisiknya.
Della mengajak Vivi keluar ruangan dan kembali beberapa saat kemudian. Ia mengenakan rok mini lebar hanya sampai selangkangan dengan potongan pinggul — panjangnya sekitar tiga belas sentimeter saja. Atasannya berupa jaket berbahan kaus dengan resleting dari dada atas hingga perut. Apa pun yang dilakukan Della, berdiri maupun duduk, lekukan bawah pantatnya terlihat jelas membalut G-string tipisnya. Sementara Vivi tetap dengan pakaian semula.
Vivi meredupkan lampu ruangan, mematikan video tetapi membiarkan proyektor menyala sehingga cahaya biru menyorot ke layar. Ia mengganti lagu dengan house music, dan Della mulai bangkit dari sofa sambil menari di tempat, meliuk-liukkan tubuhnya dengan gerakan erotis sambil perlahan mendekati Dino.
"Gua mau striptease buat hadiah ulang tahun lu, sekalian memenuhi janji gua waktu itu," kata Della. Dino tidak menjawab — hanya terpaku.
Della melangkah maju hingga berada tepat di depan layar sehingga cahaya proyektor menyinari seluruh tubuhnya. Para pria terdiam semua, menghentikan apa pun yang mereka lakukan dan duduk menonton. Para wanita pun menutupi mulut masing-masing, tidak menyangka Della akan seberani itu. Tapi itu belum seberapa.
Della membuka resleting jaketnya perlahan-lahan, dengan gerakan yang sangat erotis, hingga terlihatlah apa yang ia kenakan di baliknya: selembar kain sangat tipis dan transparan yang menyilang dari kedua bahunya, menggantung di atas dada, membelit dan terikat di punggung. Bentuk dada beserta putingnya yang menonjol tercetak jelas.
Tangannya dengan lambat merayap, meremas-remas dadanya sendiri, lalu meluncur ke arah roknya. Dengan satu sentakan, rok itu terlepas ke lantai, menyisakan hanya G-string-nya. Aku bangkit mengambil setengah gelas XO murni dan menyerahkannya ke Della. Ia meraih gelas dari tanganku, sementara tangan satunya meremas penisku. Setengah gelas itu diminumnya sekaligus; sebagian meleleh dari bibirnya, mengalir membasahi dadanya, sehingga kain tipis yang basah itu mencetak dadanya dengan sempurna.
Aku memeluk dan mencium Della, membuka ikatan kain di punggungnya, lalu menariknya lepas — dada Della kini terbuka, bergoyang mengikuti setiap gerakan tubuhnya. Della berusaha membuka celanaku, namun aku keburu mundur kembali ke sofa. Della sudah terbakar oleh minuman dan nafsu yang bergolak dari dalam dirinya, dan aku tahu persis bahwa ada satu lelaki yang menjadi sasarannya: Dino.
Della meneruskan tariannya, menarik tali G-string berbentuk pita di samping pinggulnya — dan kini ia benar-benar telanjang. Pinggulnya diputar-putar menyerupai gerakan bersetubuh, lalu ia mendekati Dino.
"Itu hadiah ulang tahun buat lu. Mau bonus?" kata Della.
Tanpa menunggu jawaban, Della berjongkok di hadapan Dino yang sedang merangkul Vivi di sebelahnya. Vivi memahami maksud Della; ia membantu membuka celana Dino, dan langsung terlihat penis Dino yang sudah tegang.
Di sisi lain ruangan, para wanita yang semula malu-malu mulai ikut terbakar — mereka berpelukan dan berciuman dengan para lelaki. Maya bermain dengan Olan dan Tito sekaligus, Ira dijepit oleh Alvin dan Hengky. Di pojok, Ike tampak dekat dengan Steve, meski keduanya masih ingin menyaksikan aksi Della selanjutnya.
Della mengulum penis Dino — ukurannya tidak besar, tak ada kesulitan baginya memasukkan seluruhnya ke dalam mulut. Lalu kaki Dino diangkatnya dan lidahnya mulai menjilati sekaligus menusuk-nusuk anus Dino. Vivi sesekali ikut menjilat penis Dino, namun selalu dicegah oleh Della — saat itu, kata Della, adalah bagiannya.
Della memanjat tubuh Dino dan duduk di pangkuannya, tetapi penis Dino tidak dimasukkan ke dalam vaginanya — melainkan terjepit di antara perut mereka berdua. Tangannya melingkari leher Dino, bibirnya menjelajahi seluruh wajahnya, menciumnya dengan penuh panas, turun ke leher, menjilati bagian-bagian sensitifnya. Pinggulnya terus digoyang membuat seluruh orang di ruangan itu makin membara.
Penisku pun sudah tegang. Kuraih Vivi ke pelukanku dari belakang; ia menyandarkan punggungnya ke dadaku. Kucium bawah telinganya dan kurengkuh dadanya. Kubuka BH Vivi hingga terlepas, merasakan langsung dadanya yang besar dan kenyal. Vivi menolak ketika akan kubuka kausnya. Tiba-tiba kurasakan ada tangan lain menjalar ke penisku — tangan Maya, yang sedang duduk di pangkuan Tito sambil berciuman. Vivi juga mengulurkan tangannya ke belakang, menyusup ke celanaku, mulai meremas penisku yang kian mengeras.
Sekitar sepuluh menit Della mengoral Dino. Setelah itu, Della mengambil sepotong kue ulang tahun dan duduk di atas meja, membuka kakinya. Kue itu diletakkan di permukaan dadanya, lalu ia memanggil Dino untuk memakannya. Awalnya Dino menolak, tapi Vivi membisikkan sesuatu di telinganya sambil sedikit mendorong pundaknya — akhirnya Dino menunduk dan mulai menjilati dada Della. Della menarik kepala Dino agar menekan lebih dalam. Merasa sudah terlanjur, Dino pun mengulum dada Della dan menghisap putingnya. Della mendesah sambil memutar pinggulnya di atas meja, menambah tontonan yang semakin erotis.
Setelah dadanya bersih, Della mengambil sepotong kue lagi dan meletakkannya di permukaan vaginanya hingga belepotan.
"Siapa yang mau makan sekalian bersihin ya? Tapi jangan Virano — gua mau lidah yang lain."
Dino yang sudah terbakar segera berlutut di lantai, mulutnya mengambil kue itu dan memakannya. Lalu lidahnya dikeluarkan untuk menjilati permukaan vagina Della hingga bersih. Della dengan santai membuka liang vaginanya dengan kedua tangannya dan meminta Dino membersihkan yang ada di dalam. Akhirnya Dino memasukkan lidahnya ke dalam vagina Della. Selama tiga menit mereka bermain seperti itu hingga Della mengerang keenakan. Penis Dino sudah tegang sejak tadi.
Della bangkit dari meja dan menghampiri Maya yang masih di pangkuan Tito. Ditariknya Maya untuk menari bersama di samping kursi. Maya yang masih berpakaian lengkap tidak dapat menolak. Mereka menari sambil berpelukan, dan Della mulai menelanjangi Maya — yang semula menolak, namun akhirnya menyerah. Tito dipanggil. Maya yang terus bergoyang menyaksikan Della membuka celana Tito hingga lepas; penis Tito mulai mengeras tapi belum penuh.
"May, kasian Tito — ngacengnya nanggung. Isep tuh," kata Della sambil memegang penis Tito.
Maya yang semula menolak akhirnya menggantikan Della memegang penis Tito setelah tangannya ditarik. Tangan Tito sudah hinggap di dada Maya. Mereka duduk dan melanjutkan percumbuannya; tak berapa lama kepala Tito sudah berada di selangkangan Maya.
Vivi terlihat mengoral Dino dengan penuh semangat. Sementara itu, Della mendatangi para cowok satu per satu dan menelanjangi mereka — penis masing-masing diremas hingga berdiri tegak dan nafsu mereka tersulut. Alvin dan Steve bahkan hampir orgasme; mereka sudah mengerang, berteriak, dan menggoyang-goyangkan pinggul mereka sehingga penis mereka terkocok di tangan Della. Namun Della segera meninggalkan mereka, meninggalkan para lelaki yang tersiksa dengan orgasme yang batal — yang akhirnya beramai-ramai mengerubuti Maya, Ira, dan Ike.
Suasana makin panas. Ira dan Ike sudah tak malu-malu lagi, keduanya pun telanjang. Della mengumpulkan ketiganya dan berbisik-bisik sambil tertawa. Apa lagi rencana Della? Mereka berempat mendatangi Dino yang sedang dioral Vivi. Maya berbisik pada Vivi yang lalu melepaskan penis Dino dari mulutnya.
"Dino, ini tambahan hadiah ulang tahun dari kami," kata Maya.
Maya mendekatkan mulutnya ke penis Dino dan mulai mengulum sekaligus mengocoknya, lidahnya bermain di ujungnya. Dino melotot tak percaya bahwa malam ini ada lima wanita yang mengoral dia. Selama dua hingga tiga menit Maya mengoral Dino, lalu digantikan oleh Ira, kemudian Ike yang mengoral dengan sangat semangat hingga Dino nyaris orgasme — kalau saja tidak dihentikan oleh Della.
Lalu ketiganya kembali ke arena masing-masing, meninggalkan Dino yang terbengong-bengong. Aku dan Della berdiri berdampingan memandangi Dino. Della masih telanjang, sementara aku satu-satunya di ruangan yang masih berpakaian. Kami berdansa slow sambil berciuman, lalu duduk tanpa lagi memperhatikan yang lain.
Begitulah cara Della dengan gayanya sendiri menghangatkan suasana dan menelanjangi semua lelaki. Bagi Della, memegang atau bahkan mengoral penis lelaki adalah suatu seni dan kenikmatan tersendiri — sesuatu yang biasa seperti berciuman. Namun ia hanya akan melakukannya sampai penis lelaki itu berdiri dan mengeras. Della selalu tahu kapan momen orgasme akan tiba, dan pada saat itulah ia akan meninggalkan mereka. Sebaliknya, tak mudah bagi lelaki lain untuk bisa merasakan vagina Della.
"Ada cowok yang tadi siang orgasme tapi spermanya masih di dalam dan sampai sekarang masih kuat ya," bisik Vivi di telingaku, tangannya menyusup ke penisku. Rupanya ia sudah selesai mengoral Dino; tercium aroma sperma dari mulutnya.
"Buat besok," jawabku singkat.
"Gua pengen sekarang. Sperma Dino tanggung — dia udah mabuk berat sih," kata Vivi.
"Vi, kalau kontol Virano bisa masuk semua ke mulut lu sekarang, spermanya dikasih hari ini. Kalau nggak — besok aja," kata Della sambil tersenyum.
"Gua nggak janji ya, tapi gua mau nyoba," kata Vivi sambil tetap meremas-remas penisku yang mulai mengeras kembali.
Vivi membuka celanaku dan duduk di kursi; penisku tepat berhadapan dengan wajahnya. Ia menarik penisku sedikit dan mulai memasukkannya ke dalam mulutnya, membuka mulut selebar-lebarnya. Setengahnya sudah masuk, belum terasa mentok — kudorong sedikit. Vivi merapatkan mulutnya, menjepit penisku; semakin masuk, tinggal tiga sentimeter di luar. Mulai terasa ujung tenggorokan Vivi. Kudorong lagi hingga Vivi tersedak. Vivi mencoba lagi tiga kali — tetap tersedak. Akhirnya ia menyerah dan meneruskan mengocok penisku dengan mulutnya semampu dia.
Della duduk di sebelahku memperhatikan penisku yang keluar masuk dari mulut Vivi yang tengah berjuang keras menaklukkan aku. Vivi menjilati seluruh batang penisku sampai ke bawah kantung zakarku. Kugeser pantatku ke depan sambil menekan sedikit kepala Vivi sehingga jilatannya mengenai ujung anusku, sementara tangannya terus mengocok penisku.
Kembali penisku dimasukkan ke dalam mulutnya dan dikocok sambil lidahnya bermain di kepala. Della mengulurkan tangan dan memasukkan jarinya ke dalam anusku. Kocokan Vivi makin cepat saat mendengar desahanku yang kian keras. Akhirnya aku menyemburkan sperma di dalam mulut Vivi dan ditelannya sampai habis. Tampak wajah Vivi yang puas karena berhasil menaklukkan aku.
"Nggak bisa masuk semua ke dalam mulut lu kan? Ada tekniknya. Emang tadi sore lu belum diajarin Virano di sana?" tanya Della.
"Jahat lu, Della diajarin, kok gua nggak," kata Vivi sambil meremas dan mengocok penisku dengan tangannya.
"Tadi mana sempat — takut ada orang lewat dong," jawabku.
"Emang kalian main di mana tadi sore?" tanya Della.
"Sauna sama jacuzzi," jawab Vivi.
Akhirnya aku naik ke kamar, meninggalkan Della dan Vivi di bawah. Dino sudah tergeletak tertidur karena mabuk, tidak tahu apa yang terjadi di ruangan itu dengan jumlah cowok dan cewek yang seimbang. Aku pun tertidur sebentar.
Bersambung...