18px

Pesta Seks Bersama Para Artis

Pesta Seks Bersama Para Artis

Hari hujan dengan sangat derasnya, banjir di Jakarta sangat mengganggu aktivitas orang bekerja, demikian pula denganku yang malas-malasan untuk bekerja. Suasana villa cukup menyegarkan juga. Aku hendak pergi ke villa yang biasa aku pakai untuk bercinta dengan artis-artis lain. Dengan hujan yang mengguyur itu, aku berangkat juga. Namun tak disangka, di villa itu aku berpesta seks dengan para artis papan atas.

Aku datang ke villa itu ketika sudah menginjak malam, sekitar jam 21.00. Pas aku leyeh-leyeh, mendadak ada mobil membunyikan klakson. Aku ogah banget, namun bunyi klakson yang bertalu-talu membuatku membukakan gerbang. Dengan payung yang kubuka, dari kaca jendela seseorang mengeluarkan kepalanya.

"Haloo, sayaaang," sapanya.

Aku menjadi gregetan. Niat mau santai justru malah diganggu Alice Norin. Bahkan aku tak tahu kalau di dalam mobil juga ada wanita lain — Tina Talisa.

Aku berjalan tanpa menutup gerbang dan masuk ke teras untuk menunggu mereka berdua. Setelah mereka memasukkan mobil ke garasi, mereka berjalan menuju teras tempatku duduk merokok sambil menyeruput kopi. Alice Norin datang langsung saja duduk di pangkuanku sambil merangkulkan tangannya, memegang kepalaku, dan melumat gemas bibirku.

"Gimana kabarmu? Nih, aku bawain istrimu — Tina Talisa."

"Baik. Hmm, kok lama dia?"

"Bentar. Tuh, muncul. Bodynya makin yahut, kan? Lama kamu nggak bercinta dengan dia setelah kelahiran anak pertama hasil benihmu."

Aku memandang dengan senyum pada Tina Talisa. Tina Talisa langsung duduk di sampingku.

"Halooo, sayang," sapaku sambil merangkulkannya. Tina Talisa memelukku; besaran buah dadanya makin besar saja.

"Baik. Makasih ya. Anak kita ganteng, mirip seperti kamu," sapa Tina Talisa sembari melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Tangan Tina Talisa meremas penisku dengan gemas. Sudah begitu, Alice Norin tak kalah nakal — ia membuka bajunya.

"Aaah, jangan di sini dong. Di dalam, yuk," ajakku dengan bernafsu.

Alice Norin langsung beranjak dari pangkuanku dan menarik tanganku. Kugandeng Tina Talisa dan langsung meremas buah dadanya yang masih terbungkus blazer dari kantor.

"Kami berdua mau nagih sperma ya. Layani kami berdua, please," ujar Alice Norin sambil meremas penisku dengan keras hingga membuatku menjambak rambutnya.

"Pelan, ah. Sakit tahu. Kalian berdua telanjang saja," godaku sambil tersenyum.

Kami masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Di sana, Tina Talisa dan Alice Norin langsung melucuti pakaian mereka tanpa tersisa. Aku sampai berdegup kencang ketika Tina Talisa membuka BH-nya — buah dadanya semakin montok saja, demikian pula dengan Alice Norin. Mereka menarikku yang sedang bengong. Tina Talisa langsung membuka celanaku dan menariknya, sementara Alice Norin membuka kaosku.

Mereka berdua sangat lapar dan haus seks. Tina Talisa setelah melahirkan lama sekali tak kusetubuhi, sementara Alice Norin setiap minggu sudah kusodori sperma sampai menggelepar.

"Ganteng yaaa, ck ck ck. Makin besar saja nih penis," timpal Tina Talisa dengan tersenyum, lalu menarikku ke ranjang dan langsung memeluk serta menindihku. Tina Talisa langsung melumat bibirku dengan rakus, sementara Alice Norin menjilati buah zakar dan batangku dengan perlahan, membuatku geli.

"Kita keroyok, yuk. Semoga kita yang kalah," seloroh Alice Norin sambil semakin bersemangat menjilati, lalu akhirnya mengulum penisku dengan rakus. Aku masih saling melumat dengan Tina Talisa.

Pergumulan threesome itu semakin panas. Aku semakin suka dengan tingkah binal mereka berdua. Tina Talisa sering melakukan pagutan yang sangat lama. Tanganku semakin nakal meremas buah dadanya hingga Tina Talisa melenguh dan melepaskan lumatan pada bibirku.

"Aaaauh, nikmatnya. Lama kamu nggak menyetubuhiku," timpal Tina Talisa sambil tersenyum dan menahan tanganku.

Tina Talisa menindihku dengan menduduki perutku, sementara Alice Norin terus mengerjai penisku. Lalu Tina Talisa berbalik, berhadapan dengan Alice Norin.

"Bagi dong," pinta Tina Talisa sambil mengelus kepala Alice Norin. Tina Talisa lalu mengangkat pantatnya dan meletakkannya tepat di mukaku, sehingga aku langsung melakukan seks oral. Vagina Tina Talisa masih sempit karena lama tidak dipakai — walau sudah melahirkan anak dari benihku, tetap sempit juga.

"Aaaaaauh!" aku mengaduh kesakitan ketika dengan gemas mulut Tina Talisa mengulum penisku dan menyedotnya, membuatku hanya bisa meremas pantatnya.

Pemandangan yang panas itu membuat kami berkeringat. Kami tidak tahu ada mobil masuk karena hujan sangat deras — hanya lenguhan, rintihan, dan erangan kami yang bersahutan. Ternyata mobil itu milik Nafa Urbach yang tiba-tiba datang — dan gilanya, Nafa Urbach datang bersama Titi Kamal. Mereka berdua kasak-kusuk membicarakan urusan seks dan ternyata memang punya hubungan denganku.

"Kita masuk saja. Tumben ada dua mobil. Jangan-jangan... aku lama nggak disetubuhi oleh dia," ungkap Nafa Urbach kepada Titi Kamal.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah, namun hanya mendengar suara erangan dan lenguhan.

"Gila, ternyata dia bercinta dengan wanita lain," bisik Titi Kamal.

"Hmm, dasar suka makan perempuan," ucap Nafa Urbach sambil membuka pintu kamar di mana aku, Tina Talisa, dan Alice Norin sedang bergumul dengan sangat panas — saling melumat, melakukan oral, dan meremas. Nafa Urbach membuka pintu kamar dan sampai tergidik melihat keliaran kami. Mukaku menjadi merah ketika tiba-tiba menjilati vagina Tina Talisa dengan ada cahaya masuk dari pintu, dan aku hampir copot jantungku.

Melihatku berhenti, Alice Norin yang sedang mengulum penisku juga berhenti. Demikian pula dengan Tina Talisa yang tiba-tiba menarik selimut untuk menutupi buah dadanya.

"Gila, sial, payah!" semprot Tina Talisa dengan was-was. Alice Norin langsung bersembunyi di balik tubuh Tina Talisa.

"Rupanya kalian sedang berpesta ya, nggak ngajak-ngajak," ujar Nafa Urbach sambil melangkah masuk.

"Mau apa kalian?" ujar Tina Talisa dengan sombong, merasa berhak atas kenikmatannya bersamaku dan Alice Norin.

"Kami sudah terbiasa bercinta dengan dia — lelaki brengsek, suka meniduri istri orang dan janda artis," semprot Titi Kamal sambil ikut melangkah maju.

Kukuasai keadaan dengan bangkit dan duduk memandang mereka berdua.

"Kenapa kita tidak sekalian main berlima? Ayo, copot baju kalian — giliran aku dihajar kalian berempat."

Titi Kamal hanya memalingkan muka karena aku memandangnya dengan penuh nafsu.

"Kamu nggak pernah berubah, selalu bernafsu saja mandang aku," semprot Titi Kamal, namun dicegah Nafa Urbach.

"Kita ikutan saja, yuk. Kalau nggak ikut, kita malah berabe — Tina Talisa dan Alice Norin tahu kita juga. Sudah basah nih."

Alice Norin yang diam kemudian menyahut, "Iyaaa, mari kita pesta seks dan mabuk! Aku bawa bir di mobil." Selorohnya sambil turun dari ranjang dan langsung menarik tangan Titi Kamal. Sementara itu, Tina Talisa juga turun dan menarik tangan Nafa Urbach — Tina Talisa melucuti pakaian Nafa Urbach, sementara Alice Norin melucuti pakaian Titi Kamal.

"Kita lakukan sajalah, nggak usah dipikir. Tuh, penisnya makin besar saja. Ayo, nanti kita berbaris disodoki sampai muncrat," seloroh Alice Norin dengan tersenyum, lalu langsung menjilati buah dada Titi Kamal.

Mereka berempat memiliki buah dada yang montok-montok. Mereka maju ke depan. Nafa Urbach langsung menindihku dan melumat bibirku, sementara Titi Kamal dan Tina Talisa berada di selangkanganku bergantian menjilati penisku. Alice Norin tak kalah nakal — ia menjilati vagina Tina Talisa.

Kami berlima melakukan pesta seks. Malam semakin dingin, namun di kamar itu semakin panas. Alice Norin mengoral Tina Talisa, sementara Titi Kamal mengoral Nafa Urbach, serta vagina Titi Kamal aku sendiri yang mengoral. Vagina mereka semua sudah basah.

Belum kami orgasme, mendadak pintu terbuka. Seorang wanita tanpa pakaian masuk.

"Baaah, Vivi Rachmawati! Oh, mati aku!" teriakku cemas.

Semua mata memandang ke arah wanita yang dengan nakal memamerkan kesintalan tubuhnya.

"Benar-benar murah tuh dia," maki Titi Kamal yang sedang mengulum penisku bergantian dengan Tina Talisa.

"Boleh aku gabung?" tanya Vivi Rachmawati.

"Hmm, boleh. Tapi nanti pulang masing-masing bayar dua juta ke dia."

"Nggak masalah. Aku traktir kalian semua menikmati pemuda itu," jawab Vivi Rachmawati dengan tersenyum dan maju bergabung.

"Please, gimana kalau kalian aku gilir satu-satu?" ajakku.

"Enak saja! Itu ronde kedua, sayang. Ronde pertama, kami akan membuatmu muncrat. Rasain, suka menyantroni vagina istri orang, mainin janda," ejek Tina Talisa sambil tertawa, disambut tawa semua artis papan atas ini.

Berlima, mereka mau mengeroyokku. Aku lebih suka berthreesome atau berdua saja. Tapi kali ini nasib baik tidak berpihak padaku — aku harus melayani lima artis yang haus seks.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya